
" Ibu belum tidur?" Anindita mengetuk pintu kamar Mama Arya dan masuk setelah mendapat jawaban dari nenek dari Arka itu.
" Belum, Anin. Ada apa, Nak?" tanya Mama Arya yang duduk di tepi tempat tidur.
" Nggak ada apa-apa, Ma. Hanya ingin mengecek saja. Vitaminnya sudah diminum belum, Ma?" Anindita melihat tempat obat di atas nakas.
" Sudah tadi sebelum sholat Isya, Nak." sahut Mama Arya.
Anindita menatap Mama Arya, dia teringat akan kedua adik Arya. Walau tidak pernah disampaikan, namun Anindita bisa merasakan jika Mama Arya sesungguhnya memikirkan kedua anaknya itu.
Bagaimanapun perlakuan anak kepada orang tuanya, tidak membuat orang tua serta merta membenci anaknya. Mungkin itu juga yang dirasakan Mama Arya saat ini.
" Ada apa, Anin?" tanya Mama Arya menyadari Anindita menatapnya dengan begitu lekat.
" Ah, nggak apa-apa, Ma. Sebaiknya Mama istirahat saja." Anindita membantu Mama Arya berbaring. Dia lalu menyelimuti Mama Arya dengan selimut tebal hingga menutupi leher Mama dari mantan suami pertamanya yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri itu.
Setelah memasang lampu tidur, Anindita pun keluar dari ruangan Mama Arya untuk kembali ke apartemen bawah tempatnya bersama Ricky dan kedua anaknya tinggal.
***
Anindita membawakan kopi dan brownies buatannya untuk Ricky yang masih menyelesaikan pekerjaan di ruangan kerjanya. Anindita membuat sendiri brownies itu, karena dia memang sangat menyukai memasak dan membuat kue.
" Masih belum selesai, Mas?" tanya Anindita meletakan kopi dan brownies di meja kerja sang suami.
" Belum, banyak sekali pekerjaan selama aku tinggal cuti. Aku harus mengejar menyelesaikannya, karena itu aku bawa ke rumah agar cepat selesai," ucap Ricky.
Anindita melihat suaminya itu tengah sibuk dengan pekerjaan yang dibawa dari kantor. Sebenarnya dia ingin berbicara dengan Ricky soal kedua adik Arya yang mencarinya. Namun melihat Ricky begitu sibuk memuat dirinya mengurungkan niatnya itu.
" Ada apa, Anin?" Tampaknya Ricky menyadari jika istrinya itu seperti ingin mengatakan sesuatu kepadanya.
" Hmmm, nggak ada apa-apa, Mas. Mas lanjutkan pekerjaan Mas saja." Anindita menepis jika dia sebenarnya ingin bernyampaikan sesuatu.
" Ada apa memangnya? Bicara saja, nggak apa-apa." Ricky menghentikan aktivitasnya merevisi laporan di laptopnya.
" Nanti saja, Mas. Aku nggak mau mengganggu pekerjaan Mas Ricky." Anindita tetap tidak ingin mengatakan masalah yang sedang dia pikirkan.
" Katakan saja nggak apa-apa, kok. Apa kamu rindu suasana bulan madu kita?" Ricky menyeringai menggoda Anindita.
" Ya ampun, Mas. Kenapa mikirnya ke arah itu, sih!?" Anindita memutar bola matanya.
" Ya sudah, sekarang kamu bilang saja, apa yang mengganggu pikiran kamu sekarang ini?" tanya Ricky kemudian.
" Hmmm, begini, Mas. Tadi siang Mbak Mita cerita, katanya waktu kita pergi liburan, Mbak Ria dan Mbak Lanny datang ke tokonya Ci Lucy. Mereka menanyakan nomer telepon aku dan alamat tempat tinggal aku. Tapi Ci Lucy nggak kasih, Mas. Menurut Mas Ricky. Ada apa ya mereka mencari aku? Apa mereka mau bertemu dengan Mama? Tapi, sayangnya Ci Lucy nggak mau kasih nomerku dan alamat ini. Ci Lucy malah mengusir mereka berdua." Anindita menyesali sikap keras Lucy kepada kedua mantan adik iparnya.
" Baguslah kalau Ibu Lucy mengusir mereka. Memangnya mau apa lagi mereka cari kamu? Sebenarnya mereka juga mencari aku di kantor ingin bertemu. Minta nomer teleponku dan juga alamat tempat tinggal kita." Ricky teringat informasi yang disampaikan oleh Lisna, sekretaris Dirga soal orang yang mengaku sebagai Tante dari Arka datang ke kantor Angkasa Raya Group.
" Mbak Ria sama Mbak Lanny ke kantor Mas juga? Lalu mereka dapat nomer HP sama alamat kita nggak, Mas?" Anindita terkesiap ketika mengetahui jika kedua adik Arya itu ternyata mendatangi kantor suaminya.
" Nggak ada pegawai yang berani memberikan informasi yang bersifat privacy, baik punyaku, Pak Dirga atau petinggi perusahaan lainnya tanpa seijin kami masing-masing," ucap Ricky.
" Aku nggak tahu. Lagipula untuk apa juga kita menyimpan nomer telepon mereka?" Ricky terlihat acuh dan malas jika membicarakan soal kedua adik Arya.
" Mas, bagaimanapun juga mereka itu anak-anak Mama. Naudzubillahimin dzalik, jika terjadi sesuatu dengan Mama, mereka sebagai anaknya wajib tahu, Mas. Kalau kita tidak mempunyai nomer HP nya, bagaimana kita bisa menghubungi mereka?" Anindita berseberangan pendapat dengan sang suami.
" Memangnya mereka itu perduli pada Ibu Fatma? Mereka menitipkan Ibu di panti jompo, lalu nggak hadir ketika kita undang makan malam. Kamu pikir dia masih perduli pada Ibu?" Ricky mencoba menasehati istrinya, agar istrinya bisa terbuka jalan pikirannya, tidak mudah percaya dan terlalu baik kepada orang lain, apalagi orang itu jelas-jelas tidak bersikap baik terhadap istrinya itu.
" Tapi kita tidak boleh menyimpan dendam seperti itu, Mas. Kalau kita selalu dipengaruhi rasa dendam, dendam itu akan terus ada tertanam selamanya di hati kita. Aku nggak suka seperti itu, Mas." Anindita menentang pendapat Ricky.
" Aku nggak menyuruhmu untuk menyimpan dendam, Anin. Aku hanya meminta kamu lebih hati-hati apalagi terhadap mereka yang selama ini bersikap buruk terhadap kamu. Apa kamu lupa bagaimana saat mereka menghinamu dan memgusirmu dari rumah Pak Arya?" Menanggapi sikap keras kepala istrinya, membuat Ricky sedikit agak kesal.
" Ck, sudahlah, Mas! Lanjutkan saja pekerjaan, Mas. Aku malas berdebat soal ini dengan Mas!" Anindita berlalu meninggalkan Ricky.
" Anin ...!! Anindita ...!!" Bahkan Anindita tidak menggubris Ricky yang memanggil namanya.
***
Anindita berdiri di tepi pagar balkon kamar seraya menatap langit-langit kamarnya. Perdebatan dengan suaminya tadi membuat hatinya tiba-tiba bergolak.
Ricky memang baik, penuh perhatian dan penuh .tanggung jawab. Namun, kadang sikap Ricky yang memusuhi mantan adik iparnya membuat hatinya tidak nyaman.
Anindita tidak ingin memusuhi Ria dan Lanny, karena bagaimanapun mereka adalah anak dari Ibu Fatma. Dia pun merasa bersalah kepada Arya jika dia mengacuhkan adik-adik mantan suaminya dulu. Apalagi jika adik-adik Arya itu sedang dalam kesulitan.
Mengingat sosok mantan suaminya dulu, tiba-tiba rasa rindu hadir di hati Anidita. Sosok tegas namun bijaksana Arya begitu membuat hatinya tenang. Bahkan sosok Arya lah yang sanggup membuat dirinya bisa jatuh cinta kepada seorang pria, setelah masa lalunya yang buruk.
Anindita memejamkan matanya hingga tanpa terasa air matanya menetes di pipinya. Sepertinya rasa rindu terhadap sosok mantan suami pertamanya itu belum hilang di hatinya, apalagi jika dia sedang berdebat dengan Ricky seperti saat ini.
Namun, Anindita tiba-tiba tersentak kaget saat merasakan sebuah tangan yang menyentuh pinggangnya lalu melingkar memeluknya penuh kehangatan.
" Mas Arya?" Entah mengapa Anindita seperti merasakan kehadiran Arya saat ini di sisinya.
" Arya?" Tapi suara Ricky yang terdengar jelas di telinga Anindita membuat wanita itu terkesiap saat menyadari jika Ricky lah yang sedang memeluknya saat ini.
*
*
*
Bersambung ....
Mohon maaf kalau di novel ini slow update ya, mungkin hanya seminggu 2x updatenya. Soalnya masih fokus menyelesaikan kisahnya Kayra dan mengejar update novelnya Grace.
Yang belum mampir di novelnya Grace, silahkan bergabung di sini 👇ya, makasih
Happy Reading❤️