
Setelah melewati empat hari menginap di sebuah resort yang ada di kawasan Bunaken, hari ini Ricky dan Anindita berencana kembali ke Jakarta. Kepulangan mereka tentu saja disambut antusias oleh Anindita, karena dia memang sudah sangat merindukan kedua anaknya, Ramadhan dan juga Arka.
Anindita duduk menunggu di sofa lobby, sementara Ricky sedang berbicara dengan petugas di meja resepsionis untuk check out dan menyerahkan kunci kamar.
" Hai, cantik. Akhirnya kita bertemu kembali ...."
Anindita menolehkan pandangannya saat mendengar suara seseorang mengajaknya rbicara kepadanya. Mata indah Anindita seketika terbelalak mendapati sosok Johan kini sudah berdiri menjulang di hadapannya.
Merasa tidak nyaman dengan kemunculan Johan, Anindita segera bangkit. Tangannya meraih dua buah handle koper untuk menjauh dari Johan, adik sepupu Koh Leo, mantan bos Anindita dulu.
" Hei, mau ke mana?" Tangan Johan mencekal lengan Anindita, membuat Anindita tersentak kaget.
" Lepaskan!" hardik Anindita dengan menepis tangan Johan yang mencengkram tangannya.
Bentakan yang diucapkan Anindita sontak membuat beberapa orang yang berada di sana membolehkan pandangan ke arah Anindita termasuk Ricky.
Ricky bergegas menghampiri Anindita saat melihat istrinya kembali diganggu oleh Johan. Dengan geram Ricky mencengkram pundak Johan lalu menghantamkan sebuah bogem mentah di wajah pria itu.
Buugghh
Braaakkk
Tubuh Johan yang baru saja menerima pukulan di wajahnya terhuyung hingga menabrak kursi di belakangnya.
" Astaghfirullahal adzim ...! Mas, jangan ...!" Melihat suaminya murka hingga sampai berbuat kasar terhadap orang lain, Anindita langsung menarik tubuh Ricky agar tidak terus menyerang Johan.
" Masih berani saja kau bersikap kurang ajar terhadap istriku!" Ricky terlihat sangat emosi dengan sikap Johan yang dia anggap mele cehkan istrinya.
" Mas, sudah! Jangan membuat keributan! Malu dilihat orang!" Anindita menahan tubuh Ricky yang hendak menyerang Johan kembali.
" Ada apa ribut-ribut, Tuan?" Petugas resort mendekati Ricky dan Anindita.
" Kenapa orang ini masih saja ada di sini?! Dia ini orang licik! Keberadaannya sangat mengganggu di sini. Saya sudah laporkan kepada pihak hotel agar mengawasi dia. Kanapa dia masih bisa bebas berada di sini dan mengganggu istri saya?!" Ricky merasa kesal karena Johan masih berkeliaran di sekitar tempatnya menginap.
" Maaf atas ketidaknyamanannya, Pak. Sebentar saya panggilkan petugas keamanan untuk membawa pria ini." Petugas resort segera menyuruh rekannya untuk memanggilkan pihak keamanan.
***
" Mama ..." Arka berlari ke arah Mamanya ketika Anindita membuka pintu kamar tempat Ramadhan dan Arka selama menginap di rumah Dessy.
" Arka, Sayang ..." Anindita merentangkan tangannya siap menerima tubuh Arka dengan membungkukkan sedikit tubuhnya.
" Mama kangen sekali sama Arka ..." Anindita segera mengangkat tubuh Arka dan menciumi pipi Arka. Beberapa tidak bertemu langsung dengan Arka maupun Ramadhan. membuat dirinya dilanda rasa rindu yang membuncah.
" Arka kangen sama Mama nggak?" tanya Anindita masih menghujani ciuman di pipi tomat Arka.
" Papa ..." Tak menghiraukan pertanyaan Anindita, Arka justru merentangkan tangannya kepada Ricky yang baru menyusul Anindita ke kamar anak-anak. Arka meminta agar Ricky segera menggendongnya.
" Arka kangen sama Papa, ya?" Ricky langsung mengambil tubuh Arka dari tangan Anindita. Kali ini giliran pipi bulat Arka terkena serangan ciuman dari Ricky beberapa kali.
" Aka tangen Papa ..." celoteh Arka dengan merangkulkan tangan mungilnya ke leher Ricky.
" Kok Arka kangennya sama Papa saja, sih? Memangnya Arka nggak kangen sama Mama juga?" Anindita memprotes sikap putranya yang lebih memilih digendong oleh Ricky ketimbang dirinya.
" Arka kangen sama Papa sama Mama juga dong, Ma." Melihat istrinya mengeluh, Ricky mencoba menjelaskan agar Anindita tidak merasa cemburu dengan sikap bayi berusia dua tahun itu.
" Eh, Kak Ricky dan Mbak Anin sudah datang rupanya. Gimana bulan madunya? Sukses nggak, Mbak?" Dessy yang baru tiba di kamar menyembulkan kepalanya di pintu.
" Sudah pasti sukses, sampai-sampai Mbakmu ini selama bulan madu maunya di kamar saja nggak mau keluar ke mana-mana " Ricky mengerlingkan matanya ke Anindita dengan senyuman terkulum di sudut bibirnya.
" Wah, wah, wah, bisa-bisa Rama sama Arka akan cepat punya adik lagi, nih." celetuk Dessy membuka lebar daun pintu kamar anak-anak.
" Kau doakan saja semoga itu benar terjadi," sahut Ricky menanggapi ucapan Dessy.
" Eh, tapi, Mbak Anin belum lepas KB, kan?" Tiba-tiba Dessy teringat jika Anindita belum lepas menggunakan alat kontrasepsi.
" Iya, Mbak." sahut Anindita seraya melirik ke arah suaminya yang sedang memperhatikannya..
" Dua Minggu lagi, Mbak." jawab Anindita kembali.
" Ya sudah, sebaiknya Mbak Anin nggak usah pasang KB lagi. Arka 'kan sudah lepas ASI Mbak Anin. Jadi nggak masalah kalau Mbak Anin mau hamil lagi." Dessy memberikan sarannya.
" Kalau pakai memang tidak mungkin hamil, Des?" tanya Ricky penasaran.
" Nggak menjamin seratus persen, Kak. Tapi memang banyak yang berhasil menunda kehamilan. Ya, kalau memang sama Allah nya dikasih anak, biarpun pasang KB tetap saja bisa hamil. Siapa yang bisa menentang kehendak Allah?" Dessy menjelaskan bagaimana peran alat kontrasepsi sebagai alat penunda kehamilan, tapi tetap takdir dari Allah SWT lah yang menentukan.
" Arka kita ke bawah, yuk! Papa beli oleh-oleh mainan untuk Arka." Ricky kemudian berjalan keluar meninggalkan kamar membawa Arka
Anindita mende sah. Dia merasa jika suaminya itu pasti kecewa dengan sikapnya yang masih menunda kehamilan.
" Sebaiknya Mbak ikutin saran saya, deh. Kak Ricky itu kayaknya kepingin banget Mbak Anin hamil lagi. Kelihatan sekali wajahnya sepertinya kecewa banget." Dessy seolah memprovokasi membuat Anidita semakin merasa bersalah.
" Iya, Mbak." Anindita hanya mengiyakan apa yang diucapkan oleh Dessy kepadanya.
Malam harinya setelah mereka kembali ke rumah mereka. Anindita menemani Arka dan Ramadhan tidur terlebih dahulu sebelum kembali ke kamarnya.
Ricky menoleh ke arah pintu saat Anindita masuk ke dalam kamar. Ricky yang tadi sedang membaca buku langsung menutup buku di tangannya lalu menaruh di atas nakas. Kemudian dia merebahkan tubuhnya dan menarik selimut hingga batas lehernya.
Sikap Ricky yang seperti itu membuat Anindita berpikir jika suaminya itu memang benar marah terhadapnya. Dia bahkan memperhatikan Ricky yang tidur memunggunginya.
Anindita menghela nafas panjang lalu ikut merebahkan tubuhnya menghadap ke arah punggung Ricky. Dia ingin berkata, namun terasa ragu untuk diucapkannya.
" Mas marah ya sama aku?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Anindita setelah sejak tadi tertahankan untuk dia lontarkan.
" Untuk?" Tak menolehkan pandangan ke arahnya, namun Ricky membalas apa yang ditanyakan Anindita kepadanya.
" Aku masih pakai KB," lirih Anindita.
" Menurut kamu?" Ricky masih tidak mengubah posisi tidurnya.
" Sepertinya memang begitu," jawab Anindita.
" Lalu?"
" Aku akan berhenti memakai alat kontrasepsi, Mas. Kalau Mas ingin punya anak lagi dalam waktu dekat." Anindita memutuskan menghentikan penggunaan alat kontrasepsinya yang dia pakai sejak menikah dengan Ricky.
" Yakin?"
" Iya, Mas."
Ricky langsung membalikkan tubuhnya dengan mengembangkan senyuman.
" Nah, gitu, dong! Itu baru namanya istri idaman ..." Ricky mengakhiri perkataannya dengan kekehan.
Melihat wajah sumringah Ricky membuat Anindita seketika curiga.
" Mas pura-pura marah ya tadi?" tanya Anindita curiga.
" Iya, dong! Kalau aku benar-benar marah, nanti aku nggak dikasih jatah sama kamu. Kan aku sendiri yang rugi." Ricky tertawa kencang karena berhasil menjebak istrinya sendiri.
" Mas Ricky curang!" Anindita langsung memberikan pukulan ke tubuh Ricky, namun hal itu tidak berlangsung lama karena Ricky sudah berhasil melumpuhkan Anindita hingga membuat istrinya itu tidak berdaya dalam kungngkungannya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️