
Ibu Fatma mendengus cukup kencang di telinga Anindita saat Mama Arya itu mendengarkan permasalahan yang sedang dihadapi oleh mantan menantunya itu. Bahkan Mama Arya sampai menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya Anindita masih saja membayangkan Arya sampai salah menyebut nama suaminya sendiri.
" Anin, Anin ... Mama tanya sama kamu, sebenarnya kamu itu mencintai Nak Ricky atau tidak, Nin? Kalian sudah menikah hampir dua tahun. Nak Ricky begitu baik, perhatian terhadap kamu, terhadap Arka bahkan terhadap Mama. Apa kamu menganggap Ricky suami kamu itu hanya sebagai status saja?" Dari nada bicaranya, Mama Arya terdengar kecewa dengan sikap Anindita. Bahkan Ibu Fatma yang notabene adalah orang tua Arya saja merasa kecewa Anindita seolah tidak juga bisa mengikhlaskan kepergian Arya.
" Nggak, Ma. Aku nggak beranggapan seperti itu, kok!" sanggah Anindita cepat. " Kemarin itu aku hanya ... hanya berdebat saja dengan Mas Ricky. Aku kesal sama Mas Ricky. Dan tiba-tiba teringat Mas Arya. Mas Arya selama ini selalu mengerti aku, Ma." Anindita melakukan pembelaan diri.
" Teringat Arya? Apa kamu juga merindukan Arya? Anin, Arya itu sudah tidak ada. Hubungan pernikahan kamu dengan Arya sudah terputus saat jasad Arya dimakamkan. Sekarang ini kamu istri Ricky. Wajar jika suami kamu itu marah dan kecewa terhadap kamu, Anin." Mama Arya mengungkapkan rasa kecewanya terhadap Anindita.
Anindita terdiam, dia tidak sanggup membantah apa yang diucapkan nenek dari Arka itu.
" Atau, apa keberadaan Mama di sini yang tidak bisa membuat kamu melupakan Arya? Jika memang itu masalahnya, biarkan Mama kembali ke panti jompo saja, Anin. Mama tidak ingin merusak rumah tangga kamu dengan Nak Ricky." Mama Arya sampai berpikiran jika Anindita merasa tidak enak hati kepadanya hingga tidak bisa melupakan Arya.
Anindita terkesiap mendengar ucapan Mama Arya, sama sekali dia tidak memikirkan apa yang diduga mantan Mama mertuanya itu.
" Ma, Mama kenapa bicara seperti itu? Anin nggak pernah merasa jika Mama lah yang membuat Anin belum bisa melupakan Mas Arya." Anindita terisak lalu memeluk tubuh Mama Arya. " Anin akan merasa berdosa jika Anin membiarkan Mama kembali ke panti itu, Ma." Anindita terus menangis tersedu. Dia tentu tidak ingin melihat orang tua mantan suaminya itu dititipkan di tempat yang tidak disukai Arya. Karena saat Arya masih hidup, Arya pun merasakan kesedihan saat mengetahui guru saat SMA nya kini menjadi salah satu penghuni Panti Wreda.
***
" Bu, Ibu mau ke mana?" Saat Anindita membuka pintu apartemen, Tita yang baru keluar dari kamar Ramadhan dan Arka menegur Anindita. Karena majikannya itu mengenakan sweater yang membalut tubuhnya.
" Saya mau ke kantornya Mas Ricky, Mbak." ucap Anindita.
" Lho, memangnya Pak Ricky kenapa? Kok, Ibu yang ke kantornya Bapak?" Tita menoleh ke arah jam dinding di ruangan tamu.
" Sudah jam sembilan lebih lho, Bu." lanjutnya kemudian.
" Nggak apa-apa, Mbak. Saya nanti diantar sama pak Syaeful," ucap Anindita meyakinkan Tita jika dia akan baik-baik saja. " Titip anak-anak dulu ya, Mbak." lanjutnya kemudian.
" Ibu nggak hubungi Pak Ricky dulu?" tanya Tita khawatir.
" Nomernya nggak bisa dihubungi, Mbak. Nggak apa-apa kok, Mbak. Saya pergi dulu ya! Assalamualaikum ..." Anindita berpamitan pada Tita.
" Waalaikumsalam, hati-hati ya, Bu." balas Tita kemudian sebelum Anindita keluar dari apartemennya.
***
" Pak, nanti tolong antar saya sampai masuk ke kantornya, ya! Saya nggak enak kalau harus masuk ke sana bukan waktu jam kerja." Saat dalam perjalanan menuju kantor Angkasa Raya, Anindita minta agar Pak Syaeful menemaninya hingga masuk ke dalam kantor Ricky.
" Baik, Bu." sahut Pak Syaeful. " Hmmm, Ibu nggak mencoba menghubungi Bapak dulu?" tanya Syaeful kemudian.
" Saya nggak mau suami saya tahu saya datang ke sana, Pak." Walau akan dipandang aneh oleh orang karena datang ke kantor suaminya kerja di waktu malam hari. Namun, Anindita nekat datang ke sana.
Kurang dari lima belas menit kemudian mobil yang dikendarai oleh Syaeful sudah sampai di kantor Angkasa Raya karena jalan agak lengang. Dan seperti permintaan Anindita, Syaeful mengantar istri dari bosnya itu sampai di lantai ruangan kantor Angkasa Raya.
" Pak Syaeful pulang saja, nggak usah menunggu! Nanti saya akan ikut suami saya pulangnya." Saat melihat lampu di ruangaan kerja menyala, Anindita menyuruh supir pribadinya itu untuk pulang lebih dahulu.
" Baik, Bu. Saya permisi kalau begitu." Syaeful berpamitan lalu kembali turun menggunakan lift.
Anindita menoleh ke arah kamar kerja sang suami yang lampunya terlihat menyala, berbeda dengan ruangan di seberangnya, ruang kerja sang bos Angkasa Raya yang lampunya terlihat redup, menandakan tidak ada orang ruang kerja Dirga saat itu.
" Mas ..." Anindita memanggil suaminya yang dia lihat sedang serius dengan laptop di hadapannya.
Ricky sontak menolehkan wajahnya ke arah pintu saat dia mendengar suara yang sangat dia kenal.
" Anin?" Ricky terperanjat mendapati Anindita di ruangan kerjanya. Pria itu bahkan langsung bangkit dan mendekati Anindita.
" Mas ..." Anindita berlari dan memeluk Ricky lalu terisak dalam pelukan suaminya itu.
" Ada apa kamu kemari? Dengan siapa kamu kemari?" tanya Ricky yang masih bingung dengan kedatangan Anindita di kantornya.
" Maafkan aku, Mas. Hiks ..." Anindita tidak mampu berucap apa-apa, hanya sanggup terus terisak karena rasa bersalahnya.
" Hei, kenapa kamu menangis, Anin? Ada apa?" Ricky lalu membawa Anindita untuk duduk di sofa dan menenangkan Anindita yang masih menangis.
" Mas pasti marah sama aku. Mas nggak pulang ke rumah, Mas menghindari aku, Mas mendiamkan aku." Setelah cukup tenang, Anindita mengatakan apa yang membuat hatinya tidak tenang.
" Aku ada pekerjaan yang harus selesaikan malam ini. Dan pekerjaan ini nggak bisa aku bawa pulang ke rumah, makanya aku kerjakan di sini." Ricky menjelasan alasannya tidak pulang cepat ke rumah. Dan dia tidak menyangka hal itu membuat istrinya sampai datang ke kantornya malam-malam, padahal dia sudah mengabari sebelumnya jika dia akan lembur.
" Benar Mas nggak menghindari aku?" Dengan bola mata tertutup cairan bening Anindita menatap sang suami.
Ricky membelai kepala dan menyeka air mata yang membanjiri pipi istrinya. Dia lalu menggelengkan kepala seraya memberikan kecupan di bibir Anindita.
" Kamu dengan siapa kemari?" tanyanya setelah memberi kecupan di bibir Anindita.
" Aku tadi ke sini dengan Pak Syaeful, Mas. Tapi, sudah aku suruh pulang. Aku ingin menemani Mas Ricky di sini," ujar Anindita yang berniat menemani Ricky sampai menyelesaikan pekerjaannya.
" Tapi pekerjaan aku belum selesai, Anin."
" Biar aku tunggu di sini. Mas lanjutkan saja pekerjaan Mas." Sambil menyeka air matanya, Anindita menyuruh Ricky kembali bekerja.
" Ya sudah, kau tidurlah di sofa. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku segera mungkin." Setelah menyusun cushion sofa untuk sang istri, Ricky pun akhirnya kembali ke mejanya untuk menuntaskan pekerjaannya.
*
*
*
Bersambung ....
Yang belum mampir di novelnya Grace & Rizal, yuk dukung novel mereka. Makasih🙏
Happy Reading❤️