
Dirga mendengarkan apa yang diceritakan Ricky kepadanya soal Anindita, yang Ricky pikir masih belum bisa menerima dirinya seutuhnya sebagai suami. Karena sampai saat ini Anindita masih belum bisa menghilangkan rasa cinta pada mantan suami pertamanya itu.
" Kau ini bagaimana sih, Rick? Kau menikah hampir dua tahun, tapi masih belum bisa juga menaklukkan hati Anin. Percuma kau aku kasih liburan seminggu kemarin untuk menikmati bulan madu kedua, jika Anin masih saja mengingat mantan suaminya itu! Atau jangan-jangan, saat bercinta denganmu pun sebenarnya Anin itu membayangkan Arya yang sedang menyentuh dan menyetu buhinya." Bukannya memberikan solusi, Dirga justru terlihat seperti memprovokasi asistennya itu.
" Tapi, memang bagi wanita, cinta pertama itu mungkin sulit untuk bisa dilupakan. Contohnya saja istriku. Sudah enam tahun berpisah, tidak bertemu, nyatanya dia masih saja mencintaiku. Nadia pun sama. Mungkin Anin pun akan sulit melupakan mantan suaminya dulu."
" Atau, mungkin juga karena waktu menikah, Anin terpaksa melakukannya karena tidak enak menolakmu. Wajar saja, sih. Ketika rasa cinta Anin kepada Arya sedang dalam-dalamnya, tiba-tiba suaminya itu meninggal. Dan ketika luka hatinya belum pulih, kau malah memaksa ingin menikahinya. Tidak heran jika Anin masih membayangkan mantan suaminya dulu." Dirga terus saja melancarkan kalimat provokasi. Apa yang diucapkan bos Angkasa Raya Group itu, tidak ada satupun yang terdengar enak di telinga Ricky.
Niat Ricky ingin bertukar pikiran, justru malah semakin kacau setelah mendengarkan kalimat-kalimat yang diucapkan oleh bosnya itu.
" Sebaiknya kau diamkan dia untuk beberapa waktu, Rick. Acuhkan dia, bicara seperlunya saja. Tunjukan jika kau kecewa kepadanya sampai dia merasa benar-benar bersalah." Dirga mulai memberikan nasehatnya.
" Untuk hal itu, tanpa Anda arahkan pun, sudah saya lakukan, Pak." Sejak mendengar Anindita menyebut nama Arya, Ricky sudah menunjukkan rasa kecewa dan marah kepada Anindita. Dia yang selalu bersikap tenang memang tidak menunjukkan emosinya dengan kemarahan yang meletup-letup.
" Hmmm, kalau begitu tinggalkan dia sementara waktu ini." Dirga memberikan saran lainnya.
" Maksud Anda, Pak?" Rizky menyipitkan matanya menanggapi usulan Dirga.
" Sementara waktu pindah saja kau ke apartemenmu yang lain." Sebagai salah satu petinggi dari perusahaan yang bergerak di bidang properti, tentu saja Ricky tidak hanya memiliki satu tempah tinggal saja, sehingga Dirga menyarankan agar Ricky pindah ke apartemen lainnya.
" Tidak, saya tidak ingin berpisah dari anak-anak, Pak!" Ricky menolak saran yang diusulkan oleh Dirga.
" Kau hanya berpisah sementara, Rick. Lagipula kau masih bisa berkomunikasi dengan mereka melalui ART mu tanpa ketahuan Anin, kan?"
Sepertinya ide yang disarankan oleh Dirga bukanlah ide yang baik menurut Ricky. Karena dia merasa hal itu akan semakin memperburuk keadaan.
" Saya tidak ingin mengambil resiko hubungan saya dan Anin semakin runyam, Pak. Anin pasti akan beranggapan jika saya tidak pengertian. Tidak seperti Pak Arya dulu yang selalu mengerti dia," keluh Ricky. Sebenarnya selama ini, jarang sekali, Ricky mengeluh dalam hal apapun.
" Payah kau, Rick! Masa kau kalah dengan orang yang sudah tidak ada? Kau masih hidup, sehat wal alfiat. Banyak cara yang bisa kamu perbuat untuk membuat Anin jatuh cinta padamu. Tapi, kamu tidak bisa melakukannya. Berapa lama waktu yang dibutukan Arya untuk meluluhkan hati Anin? Aku rasa tidak lebih lama dari umur pernikahanmu dengan Anin, kan?"' Ucapan yang dilontarkan Dirga bukannya meredakan justru semakin membuat hati Ricky memanas.
" Saya rasa, Anda tidak memberikan solusi apa-apa, Pak." Ricky bangkit ingin menghentikan obrolannya dengan Dirga dan keluar dari ruangan Dirga.
" Hei, kau sama sekali tidak menghargai bantuan bos mu ini, Rick!" Dirga menyeringai melihat asistennya itu menjadi kesal, karena kalimat provikasi yang diucapkannya.
Sementara Rizky tak memperdulikan perkataan bosnya terus berjalan meninggalkan ruangan kerja bos perusahaan properti tersebut.
***
Anindita menoleh ke arah jam dinding di kamarnya. Saat ini sudah lewat jam delapan malam. Namun, Ricky tidak juga sampai di rumahnya. Dia mencoba menghubungi Ricky dengan ponselnya. Pria itu hanya menjawab masih lembur di kantor.
Anindita mende sah. Dia sungguh merasa bersalah. Kejadian semalam sepertinya benar-benar melukai perasaan Ricky, hingga pria itu kini seolah menghindar darinya.
Selama berumah tangga, setiap kali lembur, Ricky biasanya mengerjakan tugasnya di rumah. Lebih baik menyibukkan diri di lingkungan keluarganya daripada di kantor yang sudah tidak akan karyawan di sana.
Namun, kali ini Ricky justru lebih memilih menghabiskan waktunya di kantor daripada bersama keluarganya.
Anindita menaiki anak tangga. Dia berniat menemui Mama Arya. Sepertinya dia butuh seseorang untuk menyampaikan keluh kesahnya.
" Sus, apa Mama sudah tidur?" Anindita bertanya pada Sus Amy, parawat yang dipekerjakan oleh Ricky untuk merawat Mama Arya. Sus Amy terlihat bersiap untuk pulang dan akan kembali Shubuh nanti. Karena rumah Sus Amy berada di gang belakang apartemen Ricky.
" Tadi sih belum, Bu. Kenapa memangnya, Bu?" tanya Sus Amy.
" Iya, Bu. Saya permisi pulang dulu ya, Bu. Assalamualaikum ..." Sus Amy berpamitan kepada Anindita.
" Ya sudah, hati-hati, Sus. Waalaikumsalam ..." jawab Anindita.
Setelah Sus Amy keluar dari apartemen, Anindita melangkah ke arah kamar Ibu Fatma. Sebenarnya Anindita ingin mempekerjakan suster yang merawat Mama Arya bisa menginap di tempat mereka, agar Mama Arya dapat perawatan yang maksimal. Namun, Mama Arya menolaknya. Ibu Fatma selalu merasa jika dirinya tidak sakit, hanya lumpuh saja sementara bagian tubuh lainnya dirasa masih sehat dan normal.
Tok tok tok
" Ma, apa Mama sudah tidur?" Anindita mengetuk pelan pintu kamar Mama Arya.
" Mama belum tidur?" tanya Anindita saat dia membuka pintu, Mama Arya masih terlihat menonton acara di televisi.
" Belum, Nin." Mama Arya mematikan channel televisi.
" Kenapa dimatikan, Ma? Biarkan saja kalau sedang Mama tonton," ujar Anindita saat Mama Arya mematikan televisi.
" Nggak apa-apa, Nin. Ada apa, Nin? Kamu belum tidur?" tanya Mama Arya.
" Belum, Ma. Aku masih menunggu Mas Ricky pulang," jawab Anindita lirih.
" Suami kamu belum pulang? Kok, tumben? Kamu sudah telepon dia?" Mama Arya ikut cemas saat mengetahui Ricky belum pulang.
" Mas Ricky sedang lembur, Ma." sahut Anindita.
" Lembur? Kok tumben lembur sampai malam, Nin? Biasanya selalu menyelesaikan pekerjaan di rumah." Mama Arya merasa heran.
" Sepertinya Mas Ricky marah sama Anin, Ma." lirih Anindita.
" Marah? Memangnya kenapa, Nin? Ada masalah?" Mama Arya terkesiap mendengar Anidita mengatakan jika Ricky sedang marah pada Anindita. Rasanya aneh saja, karena mereka baru saja pulang dari bulan madu kedua.
" Karena ..." Anindita terlihat ragu mengatakannya. " Karena Anin salah menyebut nama Mas Ricky, Ma." Anindita tertunduk malu.
" Salah menyebut?"
" Anin menyebut Mas Ricky dengan sebutan Mas Arya saat Mas Ricky memeluk Anin, Ma." Sungguh rasanya malu sekali harus menceritakan hal tersebut kepada Mama Arya.
" Ya ampun, Anin ...."
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️