HIDAYAH

HIDAYAH
9. Pindah Tidur



Perjuangan seorang ibu yang melahirkan, memang sungguh luar biasa. Tapi semua sebanding dengan apa yang didapat. Melihat wajah bayi mungil yang baru saja diperjuangkan, membuat semua kesakitan yang dirasakan sirna dalam sekejap.


Tamu tamu terus berdatangan, hingga menjelang pukul sepuluh malam baru sepi rumahku. Kebanyakan dari teman teman Kak Yunar yang seprofesi. Kak Yunar perawat disebuah rumah sakit negeri dikota ini, dan baru mengabdi tiga tahunan. Sebenarnya Kak Yunar enggan masuk negeri, pendapatannya tidak sesuai. Tapi kalau sudah jadi PNS ya lumayalah, tapi itu juga butuh waktu yang tidak sebentar, namanya juga pengabdian.


Kamarku jadi tempat penyimpanan kado kado bayi Kak Yunar, lalu Mama membantuku menata dipojok kamar agar aku bisa istirahat diatas kasur empukku dengan guling busuk kesayanganku.


"Ma, tadi Mama ngasih ijin buat Carens masuk kamarku yaa.?" Tanyaku tanpa basa basi, karena rasa jengkelku masih belum sirna.


"Gak itu, cuma tadi dia bilang mau nungguin kamu, itu aja. Emang dia masuk kamarmu. Ngapain dia ?"


"Gak ngapain sih Maa, aku masuk pas dia lagi duduk dimeja belajar sambil buka buka album. Mungkin kalau kasur ini gak ada kado kado ini, pasti dia udah duduk mungkin rebahan juga disini. Aku gak seneng Ma, ada orang asing masuk. Apalagi tadi dia bilang... ee..ee." Aku enggan mengatakan tapi aku tidak mau menambah beban pikiranku.


"Bilang apa," Mama membuyarkan lamunanku


"Bilang gini ma. Kalau aku sama dia itu dijodohkan dari kecil. Terus aku jawab kalau itu cuma candaan waktu kita masih imut. Lalu aku usir dia keluar Ma, aku mau ganti baju kok."


"Mama, gak tau pasti masalah perjodohan itu. Tapi yang Mama tahu keluarga Carens itu emang maksa waktu Ayahmu dulu baru pindah kesini. Tapi Ayahmu cuma bilang mau dibicarakan dulu sama Mama. Emang udah dibicarakan tapi Mama gak tertarik. Wong kamu aja masih puupuk bawang. "


"Terus nanti kalau Carens ngungkit lagi gimana Ma, aku jawab apa"


"Ya bilang aja, kalau itu rencana Ayah dan Mama belun tahu jelasnya. Jadi belum ada keputusan perjodohan. Bereskan ." Ucap tegas Mama.


"Ya udah, nanti Anin jawab gitu. Biar kita bisa samaan Ma jawabnya. Aku gak suka  Ma, kalau Carens ngejar ngejar aku. Aku risih, males aku dikejar kejar gitu."


"Ya kamu juga sebisa mungkin menghindari tapi jangan mencolok, nanti dia sakit hati." Ucap mama sambil berlalu dan menutup pintu kamarku.


Kutatap langit langit kamarku, lalu aku ingat handphone yang akan diberikan padaku. Wuzzz


Aku melompat dari pembaringan, dan meluncur kekamar Kak Yunar.


Pintu terbuka sedikit lalu kuketuk dan suara Kak Yunar terdengar menyuruhku masuk.


Tanpa basa basi aku langsung bilang "Kak, hp yang buat aku mana, gak jadi dikasi aku yaa .?


"Oh iya lupa, ambil dilaci lemari. Udah ada kartunya pake telkomsel yaa. Kalau urusan pulsa kamu beli sendiri. Kamu bisa kan pakenya."


"Belum fasih Kak, karena belum punya sendiri. Nanti juga aku bisa. Makasi yaa." Kuciup pipinya sekilas lalu aku berlalu kembali kekamarku.


Ku utak atik hp merk Siemens A55 ini, senangnya hatiku sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.23 . Ini sudah dini hari, aku cas hp ku. Lalu kuberanjak tidur.


Pagi hari aku kesiangan dan untungnya lagi, ini hari minggu. Aku kaget bukan main, Susi tiba tiba masuk, aku yang masih muka bantal dan masih enggan bangun, membuat Susi ikut menjatuhkan tubuhnya.


"Kok kamu g bilang sih kalau MbakYu lairan."


"Aku aja gak tahu, sorenya aku baru tau kalau udah lahir."


"Eh Nin, kamu kemarin gak ikut pramuka yaa. Minggu depan kita ada Persami, semua diwajibkan ikut."


"Oh iyaa, ada surat ijinnya gak dari sekolahan buat orang tua. Mamaku gak percaya kalau gak ada selebaran ijin.?"


"Ada kok. Kalau g ada kamu kan bisa minta sama guru kesenian. Diakan pembimbing utama kepramukaan." Usul Susi.


"Wow kereen Nin, kamu punya hp sekarang. Wah gaya kamu. Mungkin disekolah baru kamu aja yang bawa ginian."


"Ih mana ada, kayaknya ada kok kakak kelas kita yang bawa hp." Sergahku.


"Iya ada, hp nya besar ada antenanya. Gak kayak punya kamu gini . Imut kecil cocok buat kamu."


"Pasti ciwi ciwi bakal tambah sebel Nin sama kamu. Besok aku yang pegang yaa. Buat aku pamerin. Hahahahahaha " Kelakar Susi


"Aku mau mandi dulu yaa. Kamu tunggu disini. Tuh ada nastar ditoples. Jangan makan yang ada cengkehnya. Makan yang gundul aja kamu "


"Kayak gak ihklas aja kamu nyuruh makan tapi jangan dimakan."


"Iya emang g ikhlas karena yang cengkeh itu enak hahahahaha." Kataku sambil aku keluar kamar.


Hari minggu ini kami semua masih disibukkan dengan tamu tamu jenguk bayi. Dan giliran tamu Abang yang mendominasi. Nanti sore akan ada kebaktian dirumah acara doa bersama, seperti ucapan syukur.


Katering nasi kotak sudah siap satu jam sebelum acara kebaktian ibu ibu, tapi masih dipimpin dengan satu pendeta laki laki.


Aku dan Susi disibukkan membungkus bingkisan untuk para tamu. Karena bingkisan yang sudah tersedia ternyata kurang. Dari siang sampai magrib, kami berada dikamar sibuk dengan plastik kresek.


Pukul delapan malam Susi pamit pulang, acara sudah selesai dan juga tamu tamu lain sudah pulang.


Dikamarku malah tambah penuh dengan kado kado. Kamar Kak Yunar juga masih berantakan.


Art dirumah juga kewalahan, akhirnya aku turun tangan cuci piring lagi. Selalu kebagian yang basah basah jemek.


•••••••••••••••○••••••••••••


Hari hari berlalu seperti biasa, anak anak yang tidak suka denganku disekolah malah tambah menjadi jadi karena tingkah laku Susi yang pamer Hp. Ada aja kelakuannya, buat kita semua tertawa.


Hari sabtu ini kita pulang lebih awal. Karena nanti pukul dua kita akan berkumpul disekolah untuk bernagkat bersama menuju lapangan kelurahan untuk acara PERSAMI.


Semua pada heboh, terutama buat anak kelas satu yang akan merasakan tidur dalam tenda barang semalam saja.


Aku bisa ikut acara ini karena ada surat ijin orang tua dari sekolah. Mama tidak akan dengan mudah melapaskanku, seperti acara rekreasi bersana kelas enam dulu, aku tak dapat ijin. Kalaupun aku nekat, aku berangkat tanpa uang saku. Akhirnya aku mengalah, duduk manis dan rebahan dirumah.


Acara baris berbaris pun dimulai, diawali dengan pembukaan kemudian kita semua bergegas masuk ketenda  meletakkan barang barang bawaan kami. Tenda tenda telah dipersiapkan oleh para senior, setiap tenda berisi 12 orang regu per kelompoknya.


Setelah sholat ashar, kita semua baris berbaris lagi dengan notulen yang berbeda. Pembacaan susunan acara pun sudah dibacakan, nanti setelah isya akan ada acara api unggun yang notabane nya adalah acara utama.


Acara berjalan lancar sampai pada puncaknya yaitu penyalaan api unggun. Pukul 10 malam semua dibebaskan kembali ketenda. Kita semua bercengkrama sampai pada akhirnya kita tertidur pulas.


"Anin, ayo bangun, ikut kami" Ajak seorang  senior wanita kepadaku. Karena rasa kantukku, aku menurut saja. Lalu aku dibawa naik motor , aku berada ditengah. Aku dibawa kesebuah rumah yang sedikit agak jauh dari perkemahan. Sesampainya dirumah itu mereka membawaku kesebuah kamar dan menyuruhku untuk melanjutkan tidur kembali.


"Kamu tidur disini ya Nin, jangan kemana mana. Kita sedang buat drama." Aku pun mengangguk dan naik diatas kasur empuk.


Susi POV


Tengah malam aku terbangun, karena hasrat alamiku memanggil. Kucoba meraba sebelah kiriku membangunkan Anin. Tapi yang kulihat hanya sebuah selimut saja. Lalu aku bangun mencoba melihat satu persatu wajaah temanku. Aku kira Anin berpindah tempat, tapi aku tak menemukannya. Lalu aku melapor untuk menanyakan keberadaanya. Malah kakak senior yang sedang jaga juga terlihat kaget. Karena tidak ada siapapun yang melapor untuk keluar.


Aku resah, takut, dan khawatir tentu saja. Peluit ditiup tanda darurat. Semua anak anak yang tertidur pun terjaga secara spontan, karena bisingnya suara anak anak lain membangunkan.


"Kamu gak usah cerita kalau satu temanmu ilang pada teman teman regumu, biar kami yang urus."


Aku pun mengangguk paham, pengabsenan tiap regu pun sudah selesai. Tapi aku masih belum tahu Anin dimana. Bahkan sudah beredar gosip Anin dibawa mahkluk halus.


Tengah malam yang mencekam, suasana dingin menusuk sampai ketulang. Aku sudah tak bisa kembali tidur, aku duduk ditenda kakak pengurus. Para senior semua berpatroli dan mencari Anin.


Dua jam berlalu, belum ada kabar dari para kakak pengurus. Aku sudah tidak sanggup menunggu lagi, aku beranikan diri bertanya


"Apakah sudah ada kabar Kak, dimana temanku.?"


"Belum, kamu tenang saja. Tidak akan terjadi apa apa."


Lalu ada salah seorang pengurus yang datang dan berkata kepadaku.


"Kamu balik aja ketendamu. Temanmu sudah aman."


Aku menghelana nafas lega, setidaknya mengurangi rasa khawatirku. Sesampainya ditenda, teman teman sereguku memberondong pertanyaan kepadaku.


"Aku gak tahu dimana Anin. Tapi katanya sih udah aman." Lalu kami melanjutkan tidur. Tapi ada yang yang masih mengobrol. Aku tak dapat menahan kantukku lagi. Pergilah aku kealam mimpi.


Peluit subuh terdengar. Banyak dari kami yang tidak tidur karena takut ada anggota yang  hilang lagi. Suasana tenda yang remang remang karena minimnya pencahayaan, membuat semuanya was was.


Apalagi Anin belum kembali, semua berkumpul untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah. Kemudian ada Kuliah tujuh menit dan tilawah. Dengan khusyuk kami semua mendengarakan ceramah singkat,  dan mendengarkan alunan bacaan dengan tartil yang menengkan jiwa, sungguh awal pagi yang indah.


Setelah acara selesai, kita semua kembali ketenda untuk siap siap acara selanjutnya. Sekalian membereskan peralatan tidur, agar nanti tidak kelabakan.


Mataku melotot saat sampai ditenda, Anin sudah dikerumini oleh anggota regu tenda kami.


"Kamu kemana aja, Nin. Semalam kamu menghilang."


"Aku g tau aku dimana, tadi pagi aku dijemput Kakak pengurus senior disebuah rumah. Aku g tau rumah siapa."


"Lah, kok kamu bisa ada dirumah itu ?"


"Aku g tau, saat aku bangun, aku ada diatas kasur. Mana aku g pake selimutku. Belum sempat aku keluar kamar, aku sudah dijemput balik kesini."


"Kamu ngigau Nin.?"


"Entah, tapi rumah itu jauh lo kalau ditempuh dengan berjalan  kaki ." Jelasku


"Terus kamu tadi dijemput siapa."


"Kak Teguh."


Seketika semua melongo, dan Susi menggeleng kepala jengah.


"Awas aja Nin nanti jadi masalah lagi. Kamu kudu jaga diri baik baik. Entar kamu diterkam emaknya grandong. Jangan pernah sendirian, harus selalu bareng bareng sama yang lain."


"Siap bos." Jawabku menenangkannya.


Pukul delapan kita semua berkumpul dilapangan, dengan duduk bersila secara berkelompok. Suara guru pembimbing  pramuka mulai mengintruksi. Sekarang adalah waktu untuk cerdas cermat ala pramuka.


Memecahkan sandi morse.


Sandi morse dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa media yaitu :


a. Suara, menggunakan peluit


b. Sinar, menggunakan senter


c. Tulisan, menggunakan simbol titik ( . ) dan garis ( – )


d. Bendera, menggunakan bendera morse


Setiap regu diberi 2 pilihan, dan regu kami memilih A dan D. Sandi morse yang secara umum sering kita pakai.


Acara berlangsung seru sekali, semua bergiliran. Ada guru dan kakak pramuka yang mengintruksi. Dan kita hanya melihat dan mendengarkan, lalu mencatat jawaban dilembar jawaban.


Melihat sandi dibuku paduan, boleh boleh saja. Tapi waktu yang mengahalangi. Belum ketemu sandinya malah sandi selanjutnya sudah diperagakan.


Acara ini selesai sampai pukul sebelas lebih. Dan langsung ditentukan pemenangnya karena penjuriannya saat itu juga. Dan sayang sekali regu kita kalah poin, tapi bukan hal besar karena kami bersenang senang sekali.


Acara ditutup dengan, baris berbaris usai penerimaan hadiah. Kami dibubarkan dan kami harus merapikan tenda juga membersihkan lapangan ini bersama sama.


Semua material dan peralatan yang sudah tidak terpakai lagi kita kumpulkan jadi satu.


Bersama saling bergotong royong.


Mobil jemputan sudah tiba untuk membawa kami semua kembali kesekolah. Mobil besar dengan bak terbuka, ya mobil terbuka itua adalah truck. Danada 2 truck  yang akan mengakut kami kembali.


Banyak anak anak yang membawa sepeda dan memarkirkan sepedanya di sekolah. Kakak kelas kami sudah berebut untuk naik. Sedangkan aku dan Susi memilih  naik belakangan.


Ramai riuh suara anak yang menirukan suara sapi, kerbau dan juga hewan besar lainnya , saat mobil sudah berjalan keluar dari lapangan. Bahkan ada diantara mereka yang memakai kaca mata hitam bergaya. Laki laki dan perempuan berbaur jadi satu. Kami Gank 6 pun berada saling berdekatan. Dan Kak Doni tidak pernah jauh dariku, bahkan


Kak Doni yang membantu kita mengemasi tenda.


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


“Pada malam pertama bulan Ramadan syetan-syetan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satupun pintu yang terbuka dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satu pun pintu yang tertutup, serta seorang penyeru menyeru: “Wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah”. Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadan”.


(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).


"Satu tahun tak terasa, Ramadhan pun telah kembali. Semoga yang dilalui dan dilakukan menjadi kebaikan di bulan suci ini. Marhaban ya Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa."


Jangan lupa like yaa.


Koment juga yaa.


Happy reading 💕💕💕💕💕💕