
Terinspirasi dari Novel Kupeluk Hatimu. By kak Skivivi_selfish
💕💕💕💕💕💕
Pagi yang sangat cerah, membuat para Kakak OSIS mulai memerintah kami murid baru berbaris dihalaman. Setelah acara baris berbaris selesai, kita semua masuk dalam kelas masing masing.
"Sand, kamu tahu anak 1A yang giginya gingsul. Kemarin dia lari 2 putaran lapangan. G bisa jawab pertanyaanku ." Tanya Rendi sambil berjalan diteras kelas menuju toilet.
"Kasian Rend, dia kan cewek. Kamu buat ngos ngossan tadi pagi! Hahaha." Jawabnya
"Aku suka liat anak itu, manis kayak le mineral. Aku mau deketin ah.. sapa tahu dapet balesan." Sambung Rendi
"Jangan nyerocos aja kamu, pikirin entar lagi kita udah sibuk buat hadapi segala macam ujian. Kamu tahu siapa namanya ? " Kilah Iqbal mengingatkan.
"Taulah, masak aku g tau." Sembur Rendi
"Siapa emang ?" Tanya Sandi dan Iqbal bersamaan.
"Ayunina Priscanara, sebentar aku mau ketoilet sekalian. Kamu duluan masuk kelas. Tar lagi kususul." Dengan langkah cepat Rendi masuk toilet cowok.
Sesampainya dikelas Rendi langsung melihat Anin diberi pertanyaan oleh Teguh Ketua OSIS. Sebuah pertanyaan jahil karena Anin tidak membawa buah yang diharuskan hari inu.
"Kamu ini udah masuk terlambat, tidak membawa buah yang dibedaki. Terus kamu seenaknya aja nyelonong masuk dan duduk." Omelan sang Ketua OSIS.
Dan aku hanya menundukkan kepala, terlambat masuk kelas karena mampir toilet dulu dan buah yang belum musim dimana aku mesti dapatkan. Tapi aku diam tak menjawab, takut tambah panjang urusannya.
"Karena kamu tidak bisa menjawab dan membawa buah Kesemek. Hukumanmu tulis surat cinta, intinya kamu nembak dia. Dan memohon agar diterima. Paham kamu. Besok kasih kesaya."
"Tujukan surat itu untukku." Tambahnya sambil berbisik pelan dengan senyum smirk.
Rendi menghampiri Teguh yang terlihat sumringah didepan pintu kelas 1A.
"Ngapain sih kamu nyuruh nyuruh dia nulis surat cinta, gak takut kena tampol Anis."
"Bukan urusanmu, lagian ini cuma hukuman. Bukan realita." Dengan cibiran sinis Teguh
"Temperamen Anis yang buat aku khawatir, dia itu salah satu wanita gila yang jadi pacarmu." Sungut Rendi berapi api.
"Hillih." Jawab Teguh sambil berlalu karena guru pembimbing kelasm mendekat.
Teguh memang laki laki terkeren disekolah ini. Otaknya yang encer dan kekayaan orang tua juga mendukung. Banyak murid perempuan tergila gila padanya. Tapi hanya Anis yang bisa merontokkan keplay boy-annya.
Tapi Anis memang terlihat sangat tergila gila sama Teguh. Entah alasan apa sampai sampai Teguh mau menjadi gandengan Anis.
Ayunina POV
Hari hampir menjelang sore, adzan ashar telah berkumandang saat aku memasuki pelataran rumah. Kulangkahkan kakiku menuju kamar, kuhempaskan tubuh lelahku.
Sejam berlalu, mama membangunkanku dan menyuruhku mandi membersihkan diri. Kulihat didapur penuh dengan aneka makanan. Dan ada kudapan manis menggugah nafsu makanku.
"Ambil satu saja kuenya, mama g bikin banyak. Takut nanti tamu yang datang lebih dari perkiraan." Mama bersuara saat aku akan mengambil sepotong brownies lagi.
Aku mencebik, "Memangnya siapa yang mau datang sih ma. Segitunya sama anak sendiri."
"Keluarga besan Nin, nanti abangmu juga datang. Sana siap siap dulu, terus bantu tata dipiring iji semua."
Tak perlu waktu lama untuk aku membasahi tubuhku. Kukenakan dress pink dibawah lutut. Mama selalu mengajarkan kami berpakain sopan. Karena pakaian adalag cerminan diri kita. Rambut kuikat ekor kuda, kupupuri mukaku dengan bedak marsk tabur.
Kulangkahkan kakiku menuju ruang tengah. Menata kudapan diatas piring saji. Keluarga dari Abang Tito semua muslim, tapi setiap kita berkumpul sepeeti sekarang ini, mereka tidak pernah menyinggung perbedaan agama kami.
Senja datang dan segera pergi, Kak Yunar memanggilku "Nin panggilin Mama, tamunya udah sampai." Aku mengangguk dan berlalu mencari Mama dikamar yang sedang merias diri.
"Ma, tamunya udah sampai. Ayo kedepan." Ucapku sambil berlalu, untuk menyalami tamu tamu yang datang.
Para besan wanita udah cipika cipiki, senyum sumingrah dari semua para tamu. Bang Tito mencium punggung tangan Mama. "Mama sehat ?" Tanyanya dan Mama mengangguk tersenyum
"Gimana kabarnya Bu Indar, lama tidak berkumpul. Terahkir pas acara 40 hari Bapak." Sapa Bu Ajeng pada Mama.
"Baik Bu Ajeng, ini sudah sibuk sama urusan perkandangan. Ayam ayam sudah mulai produktif bertelur. Kalau sawah sudah diurus sama yang Maro ( sebutan untuk orang yang mengurus sawah )
"Alhamdulillah Bu, ini Anin yaa. Udah besar sekolah dimana nduk. Udah SMP too.?"
"Iya Bu, SMP Negeri sini. Senin nanti udah mulai aktif belajar."
"Baik baik sekolahnya, jangan suka bolos." Nasihatnya dan aku hanya tersenyum.
Para tamu saling mengobrol. Dan setelag mahgrib semua berada diruang makan. Walau meja tak cukup menampung semua tamu yang datang. Yang muda muda makan diruang tamu bersama anak anak kecil.
Jam sembilan malam keluarga besan pamit undur diri. Kami semua berkemas kemas, yang paling capek adalah aku. Karena aku kebagian cuci piring, dan semua sisa alat dapur yang masih kotor.
•••••••••••••••••••••••••••••••
Minggu pagi ini aku pergi kegereja, jam sepuluh pagi acara kebaktian minggu telah selasai. Aku lihat Caren menungguku diteras depan, sudah jadi kebiasaanku menyapu ruangan yang telah kita pakai beribadah.
"Anin aku mau mau ngomong."
"Ya, ngomong aja. Ada apa, penting yaa?"
"Nanti malam aku kerumahmu yaa, main."
"Oh iyaa silahkan ajaa. Bawa buah ya hehehehee." Canda garingku
"Ih , mau ngapain nih anak kerumah. Hemmmm Aku panggil para gankku aja ah. Hihihihih" Seruku dalam hati.
Sesampainya dirumah, kulangsung tancap gas meluncur kerumah Susi, setelah meletakkan tas Alkitabku dimeja kamar.
"Permisi Bude, Susi ada.?" Sapaku riang pada Ibu Susi sambil kucium punggung tangannya.
"Ada nduk dikamarnya, masuk aja." Wus, aku melasat secepat kilat masuk kamar, kulihat Susi sedang menyampul buku bukunya.
"Sus, nanti malam kumpul ya dirumahku. Ada Carens mau main, tapi kamu pura pura kebetulan aja yaa."
"Oh, okee. Nanti aku bawa anak anak kesana. Bikin ote ote lagi yaa. Enak Nin, g serik kayak yang dijual digerobak hahahahaha."
"Kalau sempet ya, aku belum beli sampul Sus, ayo beli. Aku bawa motor, sekalian kita nyari angin."
Kita beli ditoko deket SD . Sapa tahu Anjas jaga es dawetnya, kita icip icip." Ajaknya tanpa malu.
Sampul coklat 3 bendel sudah kubeli, lalu kami tetap memarkir motor Vespa Congku didepan toko. Kami berjalan mendekati gerobak es Dawet Kendil milik orang tua Anjas. Tapi sayang tidak ada Anjas disana, berbaliklah kami menuju motor dan pulang.
Tetapi dalam perjalanan kami bertemu Husna yang akan pergi kesungai. Kita tidak melewati jalan besar, kita melawati jalan kampung.
"Mau cuci baju Na, sendirian aja.?" Tanya Susi kepo, melihat banyaknya pakaian kotor yang dibawa Husna.
"Sama Ibuk, entar lagi nyusul. Darimana kalian, bawa bawa motor segala."
"Dari beli sampul, ya udah kami pulang yaa. " Jawabku mengakhiri.
"Sus, kamu liat gak laki laki yang dari sungai pas kita pamit pulang tadi." Aku sekilas melihat laki laki yang pernah meludahi aku sepulang dari beli jamu dulu.
"Oh itu, anaknya Pak Haji Ansori. Namanya Jamal, Jamaludin. Kenapa naksir kamu ?"
"Edan, gaklah . Cuma pingin tau aja. Gak boleh yaa ?" Jawabku bersungut2, sambil kublayer blayer gas motorku. Membuat Susi marah marah, karena terpental pental tubuhnya.
Sesampainya dirumah, Susi masih saja bertanya padaku.
"Ada apa sih kok kamu tanya tanya Jamal tadi ?"
"G papa Sus, tanya ajaa. Udah ah balik dulu aku. Nanti malam jangan lupa, aku tunggu." Selonongku dan berlalu.
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Pukul tujuh kurang, Carens sudah memarkirkan motornya didepan rumahku. Kusambut dan kuajak duduk keteras samping. Dia membawakan aku apel dan jeruk, sesuai permintaanku. Hahahhaaaaa bersorak aku dalam hati "My Gank pasti suka sama buah buah ini."
Tak berselang lama Gank 6 datang, kusambut mereka dengan senyum. Tapi tidak dengan Carens, dibetul betul tidak suka dengan teman temanku. Terlihat jelas dari wajahnya tmyang cemberut dan langsung melengos saat aku mendekati mereka "Tumben kalian kesini, ada apa?" Aku pura pura bertanya pada mereka.
"Udah lama kita g ngumpul, mama dimana. Kita mau sapa dulu" Semua masuk kedalam mencari mama, sudah hal biasa setiap mereka datang orang pertaman yang dicari pasti Mamaku.
Jam sembilan lebih, semua membubarkan diri. Carens, jangan ditanya Carens udah pulang duluan. Setelah makan 5 Ote Ote buatanku.
"Besok kita ketemu dilampu merah yaa. Kita jalan bareng dari sana." Ucap Doni mengomando kamu. Serentak kami mengangguk.
•••••••••••••••••••••••••••••••••
Jalanan pagi yang ramai dengan anak anak berseragam. Hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang.
Aku jalan mengayuh sepeda bersisian dengan Doni, Susi dan Bram sendangkan Husna berbocengan dengan Anjas. Kami sudah seperti pasangan aja.
Sesampai disekolah, parkiran sepeda terlihat penuh berjejer jejer sepeda siswa yang lain.
Bel berbunyi kita semua berlari menuju lapangan untuk upacara Bendera. Dengan khidmat upacara berjalan dengan lancar. Dan jam pelajaran pertama adalah Akutansi. Mata pelajaran baru bagi kami karena di Sekolah Dasar tidak ada pelajaran ini.
Pak Murtafin adalah pengajar MP Akutansi. Setelah perkenalan beliau mulai membagikan ilmunya. Bel pelajaran berbunyi tanda bergantinya mata pelajaran. Dan selanjutnya adalah Geografi, Bu Citra adalah guru yang cantik masih muda dengan warna kulit yang putih bersih.
Teman sebangkuku bernama Sumiati, anaknya gendut dengan rambut panjang bergelombang. Selesai jam pelajaran kedua, bel berbunyi tanda jam istirahat.
Setelah keadaan kelas sedikit lenggang, aku mulai melangkah keluar kelas. Aku malas berdesak desakkan keluar pintu.
Sesampai aku didepan pintu tanpa kusadari kalau ada beberapa orang menungguku. "Auww.." Aku menjerit kesakitan, seseorang menarik kencang rambutku, dan menyeretku kebelakang kelas. Sekolah kami berada ditengah tengah persawahan, ada lahan kosong dibelakang kelas yang ditumbuhi rumput rumput liar.
Tubuhku dilemparkan dipadang rumput yang tak begitu luas tapi memanjang. Ada tiga perempuan cantik dengan rok sedikit ketat dan agak pendek sedikit, bukan dibawah lutut tapi pas diatas lutut.
"Sepertinya, mereka ini para seniorku." Gumanku dalam hati.
Salah seorang dari mereka menarik kerahku, membuat tubuhku tertarik keatas.
"Aku peringatkan jangan dekat dekat lagi sama pacarku, jangan jadi besar kepala karena surat cinta palsumu sudah diterimanya. Jangan berharap lebih, kamu akan berurusan denganku." Ucapnya sinis, lalu melepas cengkraman tangannya.
Aku berdiri, sambil mematap punggung mereka yang sudah menghilang. Kulihat disekitarku, ternyata dibelakangku banyak anak anak kelas 1 lain yang menonton.
"Kamu gak papa Nin, siapa yang buat kamu berantakan gini. Apa tiga kakak kelas yang barusan lewat." Susi terus bertanya, sedangkan aku acuh, sambil mengibas ngibaskan rokku yang kotor dengam tangaku.
Tak lama kemudian Doni dan Bram datang, menghampiri kami.
"Ayo kita keruang kesiswaan, kita lapor kalau kamu dibully oleh kakak kelas. Anis tadi yang seret kamu. Dia cemburu kamu kirim surat kepada Teguh. Teguhkan pacarnya." Ucap Doni beruntun.
"G usah Mas, biarin aja. Tapi kalau nanti dia giniin aku lagi, aku pasti lawan. Beneran deh. Apa dia sekelas ma kalian Mas ?" Aku berucap kepada Doni.
"Dia sekelas sama Bram 3C. Aku 3A. Ayo kekantin aja, kalau emang kamu gak mau lapor gak papa. "
Kami berempat pergi kekantin bersama, karena aku masih penasaran akupun bertanya "Kok kalian bisa tahu kalau aku dikroyok dibelakang kelas ?"
"Aku tadi dikasi tahu temen sekelasku Nin., katanya kamu dijambak terus dibawa kebelakang." Jawab Susi dan disusul Bram berkata
"Tadi dikantin pada rame bilang kalau anak kelas 1A yang giginya gingsul diseret Anis kesawah, Doni langsung seret aku."
"Makanya kalian cepet banget datangnya." Kataku.
Banyak mata menatapku aneh, berita langsung tersebar disekolah. Ditambah lagi bajuku kotor tanah. Aku hanya menghela nafas, dan terus berjalan.
"Aku mau makan bakso Sus, aku lapar."
"Iya , ayo tadi aku juga sudah order bakso tapi belum dibuat aku udah lari dulu"
"Makanya jangan buat ulah kalau gak mau kena masalah" herdik seseorang dibelakangku. Kupandangi wajahnya dari atas kebawah, dengan tatapan jijik. Entah aku dapat keberanian dari mana. Mungkin otakku sedikit keseleo setelah rambutku dijambak tadi.
"Makanya. Makanya aja.
Makanya suruh dia pake Rexona, biar setia setiap saat. " Jawabku spontan.
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Baru bisa up lagi.. hihhihi macet.
Jangan lupa likenya yaaaa
Koment jugaaa
Happy membaca