HIDAYAH

HIDAYAH
24. Sedikit Warisan



Setelah menjalani ibadah puasa selama 30 hari. Sekarang tiba saatnya kita meraih kemenangan. Disuasana yang fitri ini, saya Author receh mengucapkan.


Taqabbalallahu minna wa minkum. Taqabbal yaa kaarim. Selamat Idul Fitri 1442 H. Mohon maaf lahir dan batin.


Semoga amal ibadah puasa dan ibadah yang lainnya diterima Allah. Dan jadi tabungan para reader kelak. 😘😘


Aamiin alohumma aamiin


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Matahari sudah beranjak tinggi, tapi Anin masih bergelung dengan selimutnya. Terdengar sayup sayup suara rintik hujan, menambah nikmatnya bergumul dengan bantal peluk.


Setelah semalaman mendengar cerita dengan ujung yang menggantung. Menyisakan sedikit rasa penasaran, tapiΒ  dalam pikiran Anin ada satu hal yang buat dia lebih penasaran. Pengakuan Iman Rasuli yang Yunar debatkan, yang terucap saat ingin mencari pembenaran.


"Ah sudahlah, kapan kapan aku tanya lagi," gumannya dalam selimut.


Setelah bergelut dengan pikirannya sendiri, Anin beranjak meninggalkan tempat tidur nyamannya. Karena masih suasana liburan sekolah, hawa hawa malas pun masih terasa.


"Ma, dapat penghargaan apa saja dari PTP?" tanya Yunar yang sedang duduk dimeja makan.


"Dapat medali 25 tahun, Piagam, sama bingkisan. Nanti bingkisan penghargaannya buat kalian berdua. Dapat uang penghargaan juga, langsung diberikan kemarin. Lumayan buat beli mobil bekas, buat dipake Mama ke gereja,"


"Mama berani bawa mobil sendiri? musuhnya banyak lo Ma, beda ma dikebun musuhnya g ada,"


"Gak papa, sekalian Mama ajari Anin bawa mobil. Nanti kalau kemana mana enak. Pake motor terus panas dijalan,"


"Anin masih kecil Ma, bahaya belum stabil emosinya. Tapi nggak papa juga sih kalau kita ajari dulu. Tapi jangan kasih lepas sendiri ya Ma," ujar Yunar.


"Asek, aku diajari nyetir. Tapi mana Ma, mobilnya?"


"Nanti! masih dilihat lihat sama Ayah Bima. Beli mobil kecil aja, Toyota Starlet atau Daihatsu Feroza, lihat dulu harganya. Cari yang nomboknya nggak banyak,"


"Feroza aja Ma, gagah!"


"Iya Ma, kalau buat belajar juga enak, dia tinggi. Bisa langsung lihat jalan," jelas Yunar.


"Ayo, ikut Mama ke kamar!" ajak Mama seketika pada mereka


Sesampainya dikamar, Mama menunjukkan hasil kerja keras Almarhum Ayah selama 24 tahun ini. Sebuah medali dari kuningan dengan bertuliskan 25 tahun Berkarya Bersama.


Ada rasa bahagia dalam hati Anin melihat medali penghargaan itu. Sebuah jenjang pengabdian yang tak semua orang mampu lewati dan dapatkan.


"Ini cinderamatanya dibagi berdua buat kalian. Pas dapet dua dan beratnya sama."Β  Mama menyerahkan 2 kepingan emas batangan seberat 2.5gram.


"Simpan baik-baik ini peninggalan buat kalian dari hasil jerih payah Ayah selama ini,"


Anin menatap haru kepingan kecil emas mulia ditangannya. Terharu dan merasa disamakan, memang benar adanya mereka tidak pernah membeda-bedakan antara Anin dan Yunar. Semua sama!


"Makasi Maa, aku akan jaga ini baik-baik," senyum merekah dari bibir Anin seraya memeluk Mama dan Yunar pun ikut memeluk mereka.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Liburan telah usai, masa belajar dimulai lagi. Tak ada hal istimewa yang terjadi dicatur wulan kedua ini. Semua berlalu dengan normal, tidak ada surat cinta dan sejenisnya.


Anin juga sudah lebih akrab dengan teman sekelasnya. Bahkan Malik selalu mengekori Anin dan Susi.


Memasuki catur wulan ketiga, banyak libur untuk kelas satu dan dua. Karena kegiatan kelas tiga yang sudah memasuki ujian ahkir.


Doni dan Brahim sibuk dengan mengikuti LES yang disediakan oleh sekolah, untuk membantu mereka memudahkan menjawab ujian nanti.


Dan untuk kebaikan sekolah juga, jika salah satu murid sekolah ini mendapat nilai tinggi. Setidaknya nama baik sekolah juga terangkat.


Setelah Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional atau EBTANAS sudah terlewati. Giliran kelas satu dan dua yang akan menghadapi ujian kenaikan kelas.


Seperti ujian catur wulan biasanya, tapi ujian kali ini tidak ada murid kelas tiga. Sekolah lebih legang karena 4 kelas berkurang.


Yang bikin nikmat lagi adalah keramaian di kantin juga tak sepadat biasanya. Sejak ujian akhir nasional selesai, murid kelas tiga hanya datang untuk absensi saja.


"Nin, pulang nanti kita makan-makan yaa. Aku traktir di rumah makan elite," ucap Susi sambil terkekeh.


"Heleh, paling juga mie kopyok tepi sawah!" jawabku.


"Ya iya lah, Doni dan Brahim ajak datang! kamu sms Doni yaa! Ayo! kita kasi tau Anjas dan Husna!" ajak Susi sambil menarik lengan Anin.


Setelah ujian berlalu mereka pun bergegas pulang bersama sama menuju tempat tujuan.


Disana sudah menunggu dua laki laki keren dengan sepeda kayuhnya juga.


Kebetulan Malik lewat dan Susipun mengajaknya makan bersama. Malik yang belum pernah makan ditempat itu, langsung terkagum kagum. Padahal hanya semilir angin sawah yang membuatnya istimewa.


"Dalam rangka apa Sus, ajak kita makan-makan begini?" Doni bertanya penasaran.


"Abis dikasi uang Abah, sawahnya laku disewa untuk tanam tembakau."


Drttt drttt


Gawai Anin bergetar tanda ada masuk pesan singkat.


"Nin, aku dirumahmu. Jam berapa kamu pulang" isi pesan dari Carens.


Anin tak membalas, dia masukkan kembali gawainya kedalam saku roknya.


"Kalian semua ikut kerumahku mau gak?"


"Ada apa Nin ?" Susi bertanya.


"Ada Carens nungguin. Kok tau ya dia kalau hari ini ujian akhir aku. Pasti dia mau ngajak aku jalan-jalan. Dia punya mobil baru, kemarin dia pakai ke gereja!"


"Kan enak Nin, diajak jalan pake mobil baru. Daripada sama Doni pake motor. Masuk angin yang ada!" celoteh Brahim.


"Masih mending sama Kak Doni, nggak rese. Ini yang diomongin itu itu aja, bosen aku!"


"Itu- itu aja apa! Yang jelas dong! Biar kita paham!" Sarkas Anjas yang ingin tahu.


"Ngomongi masalah perjodohan aja! Benci aku. Sapa juga yang dijodohin sama dia!"


"Kamu dijodohin sama Carens? Sejak kapan?" tanya Doni cepat.


"Itu cuma omongan Ayah kita dulu. Dan itu dianggap serius. Aku udah tanya Mama, katanya itu cuma keinginan dari keluarga besar Carens. Dan Ayah dulu juga nggak mengiyakan kok!" jelasku kepada mereka.


Mereka semua mengangguk angguk paham dengan setuasi yang sedikit merusak mood makanku.


Sesampainya dirumah, Carens sudah menungguku diteras samping. Dia pun nampak jengah melihat para pengikutku. Minus Husna yang tak ikut karena sibuk dengan urusan ayamnya.


"Kamu nggakΒ  baca SmSku Nin !" belum juga aku memarkirkan sepedaku, Carens sudah melontarkan uneg unegnya.


"Kemana?" tanya Carens yang sebenarnya sudah kecewa.


"Kerumah teman, kamu liatkan ada satu temanku yang tidak ikut," alasan Anin sekenanya.


"Acara apa sih? Dimana? Aku mau ajak kamu makan?"


Sambil duduk Anin menjawab "Aku sudah makan tadi sebelum pulang sekolah, masih kenyang. Dan kami sudah janjian,"


"Ya sudahlah, malam minggu aku kesini lagi. Aku mau ajak kamu kesuatu tempat. Nanti aku minta ijin sama Mama,"


"Maaf Kak, bukan aku menolak. Sudah ada seseorang yang akan mengajakku keluar!"


"Siapa?"


"Bang Tito, akan mengajakku kerumahnya.Β  Kenapa kok keliatan emosi?"


"Oh, aku kira kamu mau keluar dengan siapa," jawabnya sambil cengengesan malu.


"Emangnya kalau aku keluarΒ  dengan orang lain kenapa? Kakak tidak ada hak melarang aku keluar dengan siapapun!"


"Kamu gak ngerti perasaanku Nin ?" Carens berucap dengan lirih.


"Tidak ada apa apa diantara kita. Perasaan itu cuma Kakak yang rasakan. Aku tidak mau terikat. Maaf Kak, aku gerah. Mau ganti baju dulu!" Anin berdiri dan meninggalkannya. Berharap Carens akan pergi setelah itu.


Setelah berganti baju Anin meraih kunci mobil dan berpamitan


"Mama, aku mau kerumah Husna sebentar. Aku bawa mobil, sepeda sepeda nanti diparkir digarasi biar aman,"


Anin berkedip kedip memberi kode kepada empat orang yang sedang asik minum es teh dimeja belakang.


Bersamaan keluar dari dalam rumah, Anin bergegas mengeluarkan mobil dari garasi. Semua mata kaget melihat Anin sudah fasih memundurkan mobil.


Sedangkan mobil Carens berada ditepi jalan depan rumah. Dan dia belum juga beranjak dari tempat duduknya.


"Maaf Kak, kami tinggal dulu yaa. Udah ditungguin. Kami mau beliΒ  pakan ayam."


Tanpa menghiraukan raut wajah Carens, aku berlalu meninggalkan dia, setelah semua sepeda kayuh masuk berjejer rapi digarasi.


Susi duduk dikursi depan bersamaku. Yang lain berdesakan dibelakang.


"Sejak kapan kamu bisa bawa mobil Nin?" Brahim tak sabar untuk bertanya.


"Sudah dari orok!" seloroh Susi.


"Sekarang kita mau kemana, beneran beli pakan ayam," celetuk Anjas.


"Kita jalan jalan aja, yuk!" tanggap Anin bersemangat.


"Tapi nggak bisa ke kota lo yaa, SIM aja aku belum punya," Anin menambahkan.


Setelah berjalan keliling pelosok kampung beraspal, dan juga singgah diwarung kopi tepi jalan. Meraka beranjak pulang saat waktu hampir gelap.


Sesampainya rumah Anin, serempak mereka semua mengayuh sepeda dan pulang kerumah masing masing.


Saat malam tiba, melihat sang Mama tengah menonton acara televisi, Anin mendekatinya.


"Ma, aku mau ikut acara pentas seni perpisahan sekolah. Boleh ya? Aku nyanyi solo pake gitar,"


"Hemm, boleh! Tapi g usah latihan diluar. Dirumah aja,"


"Siap bos!" jawabnya bahagia.


BERSAMBUNG


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Mungkin cerita ini telah sering terdengar di telingan kita, tetapi tidak apa-apa.


Yaitu tentang kisah seorang wanita yang menentang kemauan ibunya. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah nyata dibawah ini.


Cerita ini disampaikan oleh seorang Syaikh Abdul Muhsin


Cerita ini terjadi di saat pernikahan seorang wanita yang sangat kepada Allah dalam setiap keadaan.Tepatnya setelah sholat maghrib, karena untuk memeriahkan acara pernikahannya dia menghiasi dirinya, memakai gaun, jilbab besar, make-up guna menyambut para tamu yang hadir di acara pernikahannya.


Namun saat akan keluar menyambut para tamu yang hadir, terdengarlah lantunan adzan isya’ β€œAllaahu akbar, Allaahu akbar”


Dengan ucapan yang sangat sopan wanita ini meminta izin kepada ibunya untuk mengerjakan sholat isya’ terlebih dahulu.


Karena telah berhias dengan memakai make-up ibu wanita tersebut berkata, "Apa kamu sudah gila? Para tamu sudah datang dan menunggumu, jika engkau sholat dan berwudhu maka akan luntur make-up mu."


Wanita tersebut berkata dengan santun pada ibunya, β€œIbu tahu kan jika Sholat adalah perintah Allah, yang tidak dapat ditawar lagi”


"Iya tapikan kamu bisa sholat seusai kamu menemui tamu," saut ibu kepada wanita tersebut.


"Demi Allah jika engkau sholat dan berwudhu saat ini ibu akan marah kepadamu."


"Demi Allah, sholat adalah ibadah yang tidak boleh ditawar lagi bu, dan tidak ada ketaatan kepada makhluk selama itu bermaksiat kepada Allah," jawab wanita itu kepada ibunya.


"Tapi bagaimana dengan acara kita nak? Para tamu sudah menunggu, mereka pasti akan mentertawakanmu jika engkau datang kepada mereka tanpa memakai make-up. Pasti engkau akan terlihat jelek." Jawab ibu kepada wanita tersebut.


"Wahai ibuku, jika engkau menyukai aku terlihat cantik di hadapan manusia, tidakkah engkau senang melihat aku cantik di hadapan Allah. Dengan melakukan wudhu dan sholat tepat waktu maka aku akan terlihat cantik dihadapan Allah."


Sang ibupun tidak bisa lagi mencegah kemauan putrinya untuk segera melaksanakan sholat. Wanita tersebut segera berwudhu kemudian masuk ke dalam ruangan untuk mendirikan sholat isya.


Setelah cukup lama, sang ibu mulai curiga dengan anaknya, kenapa dia sholat lama sekali? Karena para tamu sudah menunggu, sang ibupun menghampirinya.


Betapa terkejutnya saat ia membuka ruangan itu, ia melihat putri tercintanya meninggal dunia dalam keadaan sujud.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Apakah kalian dapat mengambil hikmah dari cerita diatas?


Banyak sekali hikmah yang terkandung.


Semoga bermanfaat.


ETSSS jangan bilang suruh wanita itu pake make up water proof yaa.


Santai dikit, jangan tegang.


Kasi like yaaa.. Kalau ada sisa vote voucher bolehlah bagi buat Anin.


Love You All