HIDAYAH

HIDAYAH
8. Taubat



Kasih Love nya aja dulu biar g lupa.


( Biar kayak author kece JUSKELAPA)


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕


Dua minggu berlalu setelah tragedi Rexona, yang menggemparkan. Tapi tidak tidak ada satu gurupun yang menyinggung, mungkin masalah ini tidak sampai keatas, hanya dipermukaan saja.


Jam pertama adalah pelajaran agama, Pak Rosyad adalah guru yang mengisi pelajaran ini. Sudah dua kali mata pelajaran ini berlangsung, dan setiap mengawalinya selalu beliau berucap maaf kepadaku. Dan juga memintaku menunggu diluar selama jam mata pelajaran. Dan sudah menjadi kesepakatan bahwa tiap ujian agama, aku akan diberi pertanyaan khusus, untuk mengisi nilai raportku nanti.


Aku paham maksud dari kata maaf Pak Rosyad, tapi kali ini aku menjawab


"Toleransi terhadap sesama manusia adalah cara kita menghargai diri sendiri. Saya tidak keberatan dengan pendidikan agama selama saya disekolah. Saya hanya menghargai perbedaan kita saja pak."


Kali ini membahas tentang Taubat, dimana sebelum matahari terbit dari timur pintu taubat itu masih terbuka.


"Ada sebuah cerita dari Andalusia, dan jadikan ini sebuah perkara yang bisa kalian ambil hikmahnya. " Mulailah beliau berdakwah melalui sebuah cerita.


Suatu sore pada tahun 1525, penjara tempat orang tahanan terasa hening mencengkam. Jenderal Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan.


Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika algojo penjara itu berlalu di hadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu 'jenggel' milik tuan Roberto yang fanatik itu akan mendarat di wajah mereka.


Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara ayat Suci yang amat ia benci.


"Hai... Hentikan suara jelekmu! Hentikan!!!" teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakkan mata.


Namun apa yang terjadi? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu'annya. Roberto tambah berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk 1 orang.


Dengan congkak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala.


Sungguh ajaib, tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata kepatuhan pada sang algojo, bibir keringnya hanya berkata lirih, "Rabbi, wa-ana 'abduka."


Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, "Bersabarlah wahai ustadz... Insyaa Allah tempatmu di syurga."


Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, 'algojo penjara' itu bertambah memuncak amarahnya. Ia perintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-keras hingga terjerembab di lantai.


"Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa jelekmu itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu!"


Sang Ustadz lalu berucap, "Sungguh... Aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah Subhanahu wa ta'ala... Karena kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemui-Nya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh!"


Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu laras Roberto sudah mendarat di wajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah bersimbah darah.


Ketika itulah, dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah 'buku kecil'. Adolf Roberto bermaksud memungutnya. Namun tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat.


"Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!" bentak Roberto.


"Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!" ucap sang ustadz dengan tatapan menghina pada Roberto.


Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu. Sepatu laras berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati.


Namun tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan 'algojo penjara' itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.


Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung.


"Ah... sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah mengenal buku ini," suara hati Roberto bertanya-tanya. Perlahan Roberto membuka lembaran pertama buku itu.


Pemuda berumur tiga puluh tahunan itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan "aneh" dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu.


Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol. Akhirnya Roberto duduk di samping sang ustadz yang telah melepas nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam.


Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak. Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini.


Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia.


Di ujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara.


Sementara itu, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.


Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua.


Bocah mungil itu mencucurkan air matanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan. Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi (ibu) yang sudah tak bernyawa, sembari menggayuti abayanya.


Sang bocah berkata dengan suara parau, "Ummi ... ummi ... mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa ....? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi ..."


Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah.


Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya, "Abi ... Abi ... Abi ..."


Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.


"Hai... Siapa kamu?!" teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah.


"Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi," jawab sang bocah memohon belas kasih.


"Hah... Siapa namamu bocah? Coba ulangi!" bentak salah seorang dari mereka.


"Saya Ahmad Izzah...," sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi.


Tiba-tiba, "plak!”. Sebuah tamparan mendarat di pipi sang bocah.


"Hai bocah...! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu. Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus. Namamu sekarang 'Adolf Roberto' ... Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!" ancam laki-laki itu.


Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.


Roberto sadar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah 'tanda hitam' ia berteriak histeris, "Abi ... Abi ... Abi ..."


Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu.


Pikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapaknya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya.


Ia juga ingat betul ayahnya mempunyai 'tanda hitam' pada bagian pusar.


Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini. Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, "Abi ... aku masih ingat alif, ba, ta, tsa ..."


Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.


Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya.


Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan, kini tengah memeluknya. "Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuh Abi, tunjukkan aku pada jalan itu ..." terdengar suara Roberto memelas.


Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.


Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah, "Asyhadu an-laa Ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasullullah ...'.


Beliau pergi menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang di bumi yang fana ini.


Kemudian..


Ahmad Izzah mendalami Islam dengan sungguh-sungguh, hingga akhirnya ia menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru dunia berguru dengannya. Dialah ... "Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy".


"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Ar Rum {30}:30)


(Dikutip dari sebuah laman yang tidak asing bagi kalian) 🤗🤗●●


Dengan mengusap air mata, beliau mengakhiri ceritanya. Siswa siswi yang lainpun ikut hanyut, bahkan hampir semua siswi menangis termasuk aku. Seperti aku berada dalam  cerita itu. Aku seperti ikut merasakan kesedihan anak kecil itu.


"Nah anak anak, dari cerita ini bukan berarti kalian boleh berbuat semena mena, lalu kalian berencana bertaubat nanti. Jangan. Karena apa? Karena kita tidak tau berapa lama lagi usia kita. " Diiringi bunyi bel istirahat, Pak Rosyadpun menutup kelasnya dengan doa.


Setelah jam pelajaran berakhir, kamipun bergegas pulang kerumah masing masing. Hari ini aku berboncengan dengan Susi, karena ban sepedaku bocor.


Tapi sampai pertengahan jalan Doni yang memboncengku, karena Susi hendak pergi ketoko bahan bangunan. Dia baru ingat ibunya menyuruhnya membeli semen ecer.


"Gimana pelajaran agamamu, ada kendala gak." Tanya Doni memecah suasana.


"Selama aku bisa ikuti ya aku ikuti. Tapi dari awal masuk, aku sudah diminta nunggu diluar takut menyinggung katanya."


"Ya kalau kamu merasa kurang nyaman ya tunggu aja diluar, lagian kamu dapat dispensai nilaikan.?"


"Selama ini masih oke oke aja kok, bahkan aku tersentuh dengan cerita yang beliau bawakan. Apalagi pelajaran tadi pagi, aku sampek nangis lo mas. Bayangin cerita itu. Bahkan dalam cerita itu bawa bawa Rahib loo. Waktu itu agama yang dibawa adalah Budda kalau tidak salah."


Sesampainya dirumah, aku minta Doni mampir dulu tapi dia menolak, karena dia belum shalat dzuhur. Diapun bergegas pulang.


"Lo kok sepi pintu juga dikunci pada kemana semua orang." Gumanku lirih. Lalu aku duduk diteras rumah. Tak lama kemudian ada Mbak Isa menyodorkan kunci rumah dan bilang kalau semua kerumah sakit karena Kak Yunar udah pecah ketuban


" Kamu gak usah panik, tunggu aja dirumah sampai mereka datang yaa." Nasehat Mbak Isa tetangga depan rumahku.


Aku ucapkan terima kasih sebelum Mbak Isa berlalu pergi. Kurebahkan tubuhku disofa empuk ruang tamu.


"Nin bangun, udah sore. Kamu belum ganti baju." Kudengar suara Bang Tito membangunkanku.


"Gimana Bang, udah lair, cowok apa cewek, lo mana kok Abang sendirian." Rentetan pertanyaanku.


"Cowok Nin, besok baru boleh pulang. Abang mau nyusul kamu. Buat gantian jaga, kasian Mama. Abang tugas malam. Kamu mandi dan siap siap ya. Bawa baju ganti sekalian. Besok abang minta ijin kesekolahmu. Buat bantuin dirumah, Mama mau langsung Brokoan."


Brokoan adalah ucapan syukur dengan membagikan nasi kepada tetangga terdekat. Biasanya hanya berisi nasi, kulup urap urap, lauk sesuai kantong.


Sesampainya dirumah bersalin, kulihat ada orang tua Bang Tito yang sudah duduk manis diruang perawatan. Sambil menggendng bayi mungil merah.


"To, anakmu sudah diadzani."


"Sudah Ma, tadi  setelah dimandiin." Jawabnya singkat. Mamaku sedang merapikan pakian kotor bekas bersalin Ka Yunar. Lalu mamaku memanggil Abang "To, ini semua harus kamu bersihkan sendiri lalu dikubur yaa, jangan lupa dibacain doa, terus dikasi tulisan biar anakmu pandai."


Mamaku penganut ilmu kejawen yang kental, dan Bang Tito hanya mengangguk angguk saja. Sering aku tahu Bang Tito tidak pernah melakukan perintah mama. Mungkin itu tidak sesuai dengan keyakinannya, tapi Bang Tito tidak pernah berkomentar ataupun membantah segala ucapan Mamaku.


"Cie yang sudah jadi ibu, sakit gak Kak.?" Godaku. Kak Yunar tak menjawab, dia malah meringis kesakitan waktu sang bayi mungil mulai menyusu.


"Lo Kak, ngapain nangis." Serentak semua menoleh karena teriakanku.


"Ini sakit, lidahnya tajam banget rasanya." Jawabnya sambil terisak.


"Sabar lama lama nanti terbiasa, ini lidahnya memang masih tajam. Nanti kalau luka , minta obat saleb yang aman yaa." Ibu Bang Tito menjelaskan.


Sedangkan Bang Tito hanya mengusap pucuk kepala istrinya menenangkan.


"Aku pulang antar Mama dulu ya. Sekalian bersihin ari ari. Nanti sebelum aku dinas aku mampir. Aku beliin martabak telur kesukaanmu nanti. Sekalian aku bawain susu kurma yaa buat mood booster asi, mau ?" Hanya anggukan yang Kak Yunar lakukan.


"Nduk nanti mau langsung diaqiqah " Tanya mertua Kak Yunar


"Belum tahu Ma, kita belum bahas . Mungkin iya , kata Abang gak mau nanggung hutang. Mumpung ada rejeki, gak mau nunda nunda."


"Oh ya udah, lebih baik disegerakan "


••••••••••••••••••••••••••••••


Keesokan harinya, aku benar benar bolos tapi berijin hahaha. Kunikmati hari sabtu ini tanpa mata pelajaran. Jam 8 lebih ada visit dokter, dan sore nanti semua sudah pulang kerumah. Karena Kak Yunar harus menghabiskan sisa infus .


Dedek bayi sudah tidak dipisah lagi. Tapi selalu berada dikamar perawatan dalam box .


Wajah imutnya mirip almarhum ayah jika lamat lamat aku perhatikan. Dadaku menbuncah merasaka  rindu padanya. Tak terasa air mataku menetes. Segera ku halus agar Kak Yunar tidak tertular.


Sore menjelang, kita semua bergegas pulang setelah urusan adminitrasi selesai. Kita semua menaiki mobil mertua Kak Yunar. Aku sibuk membawa tas dan perintilannya. Kak Yunar juga sibuk berjalan tertatih tatih dengan stagen dan gurita yang melilit perutnya.


Dirumah sudah ramai para tetangga berkumpul untuk menyambut kedatangan angota baru keluargaku.


Sesampainya dalam rumah aku langasung masuk kamar dan kudapati Carens tengah duduk dimeja belajarku sambil melihat album foto masa kecilku.


"Ngapain Kakak dikamarku, g sopan tahu. Lagian aku gaksuka kamarku dimasuki orang asing." Tegasku dengan dada bergemuruh melihat barangku disentuh tanpa ijin.


"Jadi selama ini kamu menganggap aku orang asing, Nin."


"Lah kalau buka orang asing apa, saudara bukan sanak juga bukan."


"Tapi kita ini dijodohkan dari kecil Nin. "


"Itu hanya candaan orang tua kita, dimana kita masih imut imut dulu, sekarang aku minta Kaka keluar dari kamarku, aku mau ganti baju." Perintahku denga suara halus.


"Oh iya Kak, lain kali jangan pernah masuk dalam ranah pribadiku, aku g suka." Dengan suara pelan  kuucapkan waktu Carens berada diambang pintu hendak keluar.


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


"Dosa yang membuatmu sedih dan menyesal itu lebih disukai oleh Allah daripada perbuatan baik yang membuatmu sombong."


Ali bin Abi Thalib


Jangan lupa like koment dan rate yaa


Aku tunggu lo.. hehehehehee


Semoga bermanfaat.


Happy membaca