HIDAYAH

HIDAYAH
25. Bukan Siswi Biasa



Bissmilllaah


Hallo ketemu lagi πŸ€—πŸ€—πŸ€—.


Tinggalkan jempolnya yaa 😘😘


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Sabtu pagi Anin tergopoh gopoh karena bangun kesiangan, meskipun tak ada jam mata pelajaran lantas tak membuatnya berleha leha.


Karena waktu yang mepet dan dengan terpaksa Anin bawa motor kesekolah. Sungguh apes sang congo tak bisa diajak kompromi.


Peluh sudah menetes karena mendongkak stater bawah. Terdengar suara bantingan pintu, membuat Tito datang membantu saat Anin sudah jengkel.


"Nanti copot engsel pintunya, terus daun pintunya bisa melayang lo Nin," canda Tito.


"Aku bisa telat Bang, ini kurang 15 menit lagi bel berbunyi. Hari ini aku mau latihan nyanyi bersama. Anterin yaa?" rayunya .


"G bisa, Abang apel pagi. Ada laporan yang belum diselesaikan kemarin," jawab Tito sambil mencoba menghidupkan mesin.


"Bilang Mama, bawa mobil. Bang Tito yang suruh, motornya minta diganti busi ini, jam 11 udah harus ada dirumah ya! Gak lebih,"


"Lah kalau lebih Bang?"


"Gak mau tau jam 11.30 paling lambat kudu sampai rumah, dah sana cepet ijin Mama!"


Anin pun berlari masuk kedalam, bukannya ijin terlebih dahulu. Tapi dia mencari kunci kontak mobil. Dengan embel-embel disuruh Tito, ijin membawa mobil pun didapatkan dengan mudah.


Jam tujuh lebih 5 menit Anin sampai di sekolah. Dia parkirkan mobilnya didepan gerbang utama sekolah. Jika ada guru yang lewat mungkin akan mengira itu mobil salah satu wali murid meraka.


Aturan sekolah melarang para siswanya membawa kendaraan bermotor. Selain belum cukup usia, usia muda juga berpotensi pada emosi.


Balapan liar misalnya, apalagi akses masuk sekolah yang jauh dari keramaian juga bisa mengundang bahaya. Sedikit sekali rumah penduduk disekitar sekolah yang selebihnya adalah sawah.


Sesampainya didalam area sekolah Anin langsung menuju tempat nongkrong meraka jika jam istirahat. Halaman belakang kelas 1A, disana sudah berkumpul para sohib- sohibnya.


"Aku kira kamu nggak masuk sayang!" tegur Brahim saat melihat Anin.


"Congoku bengek, cuma bisa batuk. Aku bawa mobil akhirnya. Ayolah kita ke Aula latihan!" ajaknya karena takut kesiangan saat pulang nanti.


Ternyata di Aula yang luas ini ada siswa siswi kelas tiga yang sedang gladi bersih theater. Saat kelompok gank Anin masuk, semua mata memandang kearah mereka.


Tapii karena tingkat kepedean yang tinggi membuat Brahim berjalan dengan membusungkan dada. Tanpa basi basi Anin dan Susi merangkul lengan Brahim.


Bukannya malah terlihat gagah, tapi terlihat lucu. Semua menertawakan tingkah mereka, dan acara mereka terjeda untuk melihat kelakua absrud Brahim.


Anin membawakan dua lagu, yang pertama dia nyanyikan duet bersama Anjar. Dan lagu solo yang Anin bawakan dengan organ tunggal, yang akan dia mainkan sendiri.


Belum ada yang tau Anin akan menyanyikan lagu solo berjudul apa. Tapi untuk yang duetnya Anin selalu latihan bersama di aula ini, mereka membawakan lagu Iwan Fals Kemesraan.


Doni sebagai Basis, Brahim Ritem dan Maulana sebagai drummer. Anin pun merangkap dengan memegang piano. Susi dan Husna seksi konsumsi, dan sebagai penyemangat Brahim yang sering salah alur.


"Nin, nanti malam aku apelin kamu ya? Kamu mau aku bawakan apa?"Β  cakap Brahim setelah acara latihan selesai.


"Kamu punya apa?" jawab Anin, Susi dan Husna bersamaan.


"Aku punya Doni yang bisa aku persembahkan," tutur Brahim sambil mengarahkan kedua tangannya menunjuk Doni.


"Laki laki nggak punya modal kamu!" Susi menjawab sambil terkekeh.


"Ayolah nanti malam kita kumpul dirumah Anin, katanya kan Carens mau datang" ajak Anjas bersemangat.


"Lama kita g ngumpul sambil bakar singkong," tambah Brahim


"Makanan aja isi otakmu, yang lain g ada?" balas Doni.


"Nanti aku bawa jagung muda, tapi anterin ambil dikebon Him?" ujar Husna.


"Ah siyap bebih," sambut Brahim bersemangat.


"Aku siapin mentega pedas asin manis deh kalau gitu. Eh aku pulang dulu ya. Jam sebelas aku sudah harus ada dirumah. Makanya kenapa aku diijinin bawa mobil," ungkap Anin kepada mereka.


"Aku ikut ya Nin! Husna bawa sepedaku ya, kasian Anin kalau nyetir sendiri. Takut diculik!" cerocos Susi.


Tanpa menunggu jawabanΒ  Husna, Susi langsung menggandeng tangan Anin dan membawanya keluar sekolah.


"Nin ! Tunggu!"Β  teriak Rendi dari halaman kelas paling ujung.


"Ada apa kak, aku mau pulang! Mamaku menunggu!" jawabnya tak sabar.


"Nanti malam aku kerumahmu ya?" ungkap Rendi.


"Aku ada acara keluarga kak, lain kali aja ya," tolak Anin cepat.


"Oke, lain kali tak ada penolakan." jawabnya sambil tersenyum smirk.


Tanpa menjawab ucapan Rendi, Anin langsung menarik Susi pergi menjauh.


"Wah masih kekeh ngejar kamu Ren! Padahal kan udah ditolak," ucap Anis sambil terkekeh.


"Ih gila dia bawa mobil Rend, baru tau aku,"Β  tunjuk Anis dan Rendi pun terkaget melihat Anin masuk dari pintu pemandu. Namun Rendi segera menetralkan kekagetannya.


"G usah iri Nis, dia nolak Teguh itu bukan karena takut sama kamu. Tapi karena Teguh bukan levelnya!" sahut Rendi sambil berbalik meninggalkannya.


Rendi memang terkenal kaya, anak dari saudagar sapi dan kambing. Ibunya juga penjual daging sapi segar dipasar sekitar.


Dengan wajah yang tak kalah tampan dari Teguh, Rendi juga memiliki dompet yang isinya lebih tebat daripada milik Teguh.


Dengan bersungut sungut karena iri, Anis pun berlalu setelah mobil Anin sudah tak terlihat.


"Nin, tadi Anis tahu lo kamu bawa mobil, pasti tambah iri?" celetuk Susi memecahkan keheningan.


"Biarin aja, EGP!" Anin dengan ketus menjawabnya, sambil tetap memandang lurus kejalanan.


Sesampainya dirumah Anin disambut senyum ceria balita imut berusia sepuluh bulan. Sebentar berdiri jika ada pegangan lalu merangkak lagi mengejar apa yang dia incar.


Bima sudah mengenali Anin, mereka terlihat dekat sekali. Setiap hari hanya bergelut dengan Uti dan Anin, juga tak mau dekat dengan oramg asing.


Sambil menggendong Bima, Anin melangkah masuk kamar berganti pakaian. Bima dia letakkan dikarpet empuk kamarnya. Bima yang sudah aktif dengan rasa penasaran yang tinggi, selalu mengacau barang barang Anin.


Tak berapa lama Bima menangis, mungkin dia lelah dan mengantuk. Anin menidurkannya dengan sebotol ASI perah yang sudah siap dalam botol.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Acara perpisahan sekolah dilaksakan pada pukul sembilan hari selasa nanti. Semua siswa menyandang predikat LULUS.


Acara pentas seni pun, adalah acara tahunan yang diselenggarakan sekolah.


Setiap sore selama seminggu ini, Anin latihan organ tunggal dirumahnya untuk lagu kedua yang akan dia bawakan.


Sebagai remaja gereja yang aktif, tak dipungkiri Anin pandai bermain gitar dan juga piano yang bahkan dia sudah kuasai sejak kelas 3 sekolah dasar.


Suaranya yang indah dan kelincahan jari jarinya menekan tuts piano, menambah nilai plus tersendiri.Β 


Wajah manis dengan kulit kuning langsat pucat, rambut hitam dibawah bahu juga sedikit bergelombang dan ditambah gigi gingsul disebelah kanan.


Tidur siang yang tak terlewatkan kali ini membuat Anin sedikit linglung pada saat bangun. Dia seperti kelabakan mencari seragam sekolahnya lalu dengan segera dia memakai seragam itu.


"Mau kemana kamu?" tanya Mama saat Anini keluar dari kamarnya.


"Mau sekolah Ma, aku kesiangan ini,"


balas Anin sambil mengikat naik rambutnya.


"Eh!! Lo Ma kok jam lima?" ucap Anin kaget saat melihat jam.


"Makanya kalau tidur itu jangan lama lama jadi ngga kena confusional arousal " jawab Yunar yang baru saja tiba.


"Apa itu Kak?" tanyanya lemas sambil duduk dikursi ruang tamu.


"confusional arousal adalah suatu gangguan tidur yang dapat menyebabkan kamu bertingkah/berperilaku 'aneh' atau merasa kebingungan ketika kamu sudah bangun tidur atau baru saja bangun tidur. Ya kayak kamu ini. Gak mandi tapi langsung pake baju berangkat sekolah dikira telat," jelas Yunar sambil berlalu meninggalkannya.


Anin menghela nafas, malu dan juga bercampur bingung.


Apakah ada diantara kalian yang pernah mengalami ini. Aku pernah sekali dulu dan ini kasus kisah nyataku. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Selamat membacaa