HIDAYAH

HIDAYAH
21. Flash Back Part 5



Dengan semangat juang yang tinggi. Kita akan bersama mancapai puncak bersama.


Kasih like dulu ya.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Hari yang ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa yaitu hari ini. Hari dimana semua pakai pakaian terbaiknya, dengan memakai Toga.


Setelah penerimaan ijazah, kami semua bersua foto ria. Mengabadikan moment indah ini, bersama keluarga, kekasih , sahabat dan para pembimbing juga bertemu.


Bang Ito datang dengan membawa rangkaian bunga mawar putih. Kaget dan juga terharu, aku dibuatnya.


Orang tuaku terlihat sedang berbicara serius dengan orang tua Bang Ito, iya Bang Ito membawa kedua orang tuanya juga.


"Ayo, kita rayakan hari bahagia ini bersama. Kita makan di restoran yang sudah Abang pesan," ucap Bang Ito.


Kita semua masuk dalam satu mobil yang Bang Ito bawa. Dan mobil yang Ayah pakai, dikendarai Mas Irsyad.


Sesampainya di restoran, aku terperanjat . Melihat dekorasi dimeja yang Abang booking. Ada banyak hadiah, Anin sampai berteriak saat melihat boneka panda memakai toga. Dan dia langsung mengklaim itu miliknya.


"Hufft!!! Aku bisa apa!" bathinku meronta-ronta.


Acara makan diselingi dengan candaan dan obrolan kecil. Dan aku hanya bisa melihat ekpresi dari setiap orang dimeja ini. Hanya Mamaku yang menampakkan kekakuan dari gerak tubuhnya.


"Maaf semua, bolehkah saya meminta waktunya sebentar. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan." Ucap Pak  Bagus  tiba-tiba.


"Maaf sekali lagi, sebelumnya saya juga tidak menyangka, bahwa kita bisa berkumpul disini. Bersama dengan keluar dari Yunar. Yang bagaimana sudah kami kenal hampir 2 tahun." Pak Bagus menghela nafasnya sebentar.


"Saya selaku orang tua dari Tito, ingin melamar Yunar sebagai menantu dikeluarga kami. Dan ini juga permintaan Tito beberapa hari lalu," lanjut Pak Bagus.


Ayah mengambil nafas dan membuangnya pelan. "Sebenarnya kami selaku orang tua, juga merasa ingin meluruskan, kemana hubungan ini akan dibawa. Karena Tito juga kerap sekali datang kerumah, dan para tetangga juga mengetahuinya. Dan sebenarnya Tito sudah melamar beberapa waktu lalu. Tapi kami masih ingin melihat putri kami memakai toga ini," jawab ayah dengan melempar senyum penuh kepuasan.


"Tapi kami juga tidak menyangka, kalau disaat ini juga nak Tito melamar lagi. Bahkan lebih serius dari sebelumnya."


"Maaf Pak Johanes, jika membuat Bapak kaget dan tidak nyaman. Niat baik bagi kami in, harus disegerakan," tutur Pak Bagus.


"Sebetulnya kami setuju menyerahkan putri kami, jika dilihat dari sikap Nak Tito selama ini, kami tidak pernah kecewa. Tapi ada satu hal yang membuat kami keberatan." Hembusan nafas berat terdengar.


"Kami belum siap jika Yunar berpindah keyakinan!"


Duarrr


Sesak di dadaku, seketika aku merasakan hawa dingin di sekitarku. Aku memandang wajah Bang Ito yang masih tenang, bahkan dia tersenyum menguatkanku.


"Maaf Ayah sebelumnya, saya tidak akan memaksa Yunar untuk menyakini keyakinan kami. Biarlah waktu yang menjawab ke mana Yunar akan membawa hatinya berlabuh. Tapi saya mohon berilah restu untuk saya menghalalkannya," ungkap Bang Ito.


"Bisakah kalian menikah secara sipil?" ucap Ayah menyuarakan pikirannya.


"Bisa Ayah. Tapi saya juga akan menikahi Yunar dengan cara agama saya. Karena saya tidak mau disebut zina, jika saya hanya menikah secara sipil," jawab Bang Ito dengan tenang.


"Baik. Saya setuju. Tapi semua kembali kepada Yunar. Kami di sini hanya selaku orang tua. Dan Yunar yang akan menjalani pernikahan ini. Apakah kamu bersedia mendampingi Nak Tito?"


Aku mendongakkan kepala dengan genangan air mata yang telah kutahan sejak tadi. Air mata kesedihan, karena dari makna yang tersirat, Mama seperti kurang legowo melepaskanku.


Aku hanya mengangguk, mengiyakan saja.


"Setelah menikah, kamu bukan tanggung jawab Ayah, bahkan kamu sudah bukan hak kami lagi. Walau kami adalah orang tuamu. Apakah kamu benar-benar bersedia?"


"Yunar bersedia Yah," jawabku pelan, tapi masih bisa terdengar jelas.


"Alhamdulillah, makasi ya Cay !" aku menatap Bang Ito yang duduk tepat dihadapanku.


"Baiklah, insyaalloh kalau tidak ada halangan yang memberatkan, 2 minggu lagi kami sekeluarga, akan berkunjung ke perkebunan. Bagaimana Pak?" tanya Pak Bagus.


"Baik Pak, kami tunggu kedatangan keluarga besar Pak Bagus digubuk kami" jawab Ayah serius.


Tak lama kemudian, kami sekeluarga pamit. Aku langsung ikut pulang bersama orang tuaku, sejenak aku teringat barang-barangku dimess.


"Ma, aku pulang besok aja yaa! Aku belum membereskan barangku. Aku naik bis aja. Sekalian aku bawa balik barang yang sudah tidak diperlukan lagi. Nanti kalau sudah ada panggilan dari rumah sakit, aku balik mess." Ucapku.


"Kamu sudah masukkan lamaran ke rs PTP, kapan?" tanya Ayah yang  duduk didepan samping sopie.


"Sudah Yah, seminggu lalu. Besok aku mau masukkan ijazah ini juga. Kemarin baru lampiran surat keterangan lulus aja. Mudah-mudahan diterima," ucapku penuh harap.


"Ya Udah, kita antar Yunar kemess" sambung Mama.


"Ma, aku ikut Kak Yunar yaa, aku besok kan libur Ma," pinta Anin memelas.


"Ajak adikmu juga Nar, besok kamu cuma antar legalisir ijazah, sajakan?"


"Iya Ma, pokoknya jangan rewel minta pulang, kalau malam!" sahutku.


"Iya, aku enggak rewel, beneran!" ucapnya dengan memperlihatkan gigi depannya yang baru tanggal.


Malam harinya, Bang Ito datang ke Mess.


"Loh Cay, kirain ikut pulang . Abang tadi iseng-iseng lewat, kata satpam didepan, ada Anin!" sapa Abang saat berada didepan pintu kamar.


"Iya Bang, tapi besok siang aku udah balik kebun lagi. Abang baru balik dinas?"


"Iya, udah makan kalian? Anin ayo cari makan!" ajak Abang tanpa mendengar jawaban dari kami.


"Tanggal 20 nanti, Abang bakal datang untuk resmi melamar. Untuk seserahannya mau dibawakan apa aja Cay? Sekalian untuk menentukan tanggal," ucap Abang, saat melihat aku sudah menghabiskan seporsi ayam penyet di warung lesehan.


Sedangkan Anin? Jangan ditanya. Dia sudah pergi bermain di lapangan, karena tempat kami mencari makan adalah di sekitar alun alun kota.


"Cay, ada sesuatu yang Abang harus sampaikan. Sebelum ijab qabul nanti, Abang harap..."  Kulihat Abang menghela nafas kasar.


"Kuharap, sebelum ijab nanti, kamu sudah baca kalimat Syahadat!" sambungnya lagi.


"Tapi Bang, aku takut mama curiga. Bukannya setelah ijab, aku harus melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim?"


"Nggak usah bilang Mama Cay... Dan nanti kalau di rumah jangan sholat, kalau ada Mama. Sebisa mungkin nanti ikrar mendekati tanggal ijab. Karena syarat ijab itu harus muslim. Maaf Cay, Abang egois karena abang tidak sanggup melepaskanmu. Makanya tadi Abang diam saja waktu di restoran. Intinya Abang mau mendapat restu dulu," ucapnya seraya menggenggam erat tanganku dan meletakkan di atas pahanya.


"Ya sudah, Abang atur saja bagaimana baiknya. Aku ikut apa kata Abang," sahutku pelan.


"Makasi ya sudah mau menerima Abang. Berkorban demi Abang. Abang sayang kamu Cay,"  ungkapnya bahagia dengan meremas lembut tanganku.


"Setelah acara lamaran nanti, aku usahakan turun. Dan aku mau ikrar disaksikan Ummi Laila ya Bang !" ucapku berharap.


"Iya pasti Abang akan bawa ke Ndalem. Apa sih yang nggak buat kamu. Abang minta setelah kita menikah nanti, Cayang harus jujur dalam segala hal. Apapun itu. Sekecil apapun, Abang harus tahu."


"Iya Bang." Aku mengangguk lalu menyeruput tuntas es jerukku.


"Terkadang aku mendapati diriku tersenyum karena aku memikirkanmu.


Aku telah jatuh cinta, sejak saat aku bertemu denganmu, dan aku akan terus mencintaimu tanpa akhir."  ungkapnya. Seketika membuat dadaku membuncah karena bahagia.


"Anin, ayo pulang"  teriakku.


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕


Setelah perbincangan bersama ayam penyet malam itu. Esoknya Abang tidak mengijinkanku pulang sendiri, Abang mengantarku sampai kerumah.


Bahkan abang bertukar jam kerja, hanya untuk bisa memgantarku pulang. Dalam perjalanan, Abang banyak bertanya tentang seserahan apa saja yang aku mau.


Dan hari ini semua itu terwujud.


Acara berjalan dengan lancar, bahkan Mama tidak menunjukkan sikap seperti di restoran. Mama lebih santai. Apalagi Bang Ito sudah bilang kalau untuk catatan sipil sudah siap. Tinggal memasukkan berkas dan menentukan  tanggal saja.


Tidak ada satu pun dari keluarga Bang Ito yang menyinggung keyakinanku. Sepertinya semua sudah diatur, dengan baik. Sampai pada penghujung acara, semua tamu berpamitan.


"Tanggal sepuluh nanti bisa turun Nar, Mama mau ajak fitting baju buat ijabnya.,"  ucap Mama Ajeng tiba-tiba.


"Cayang turun aja, tunggu abang di rayon bawah yaa seperti biasa," timpal Bang Ito.


"Iya, nanti juga sekalian mau beres-beres sisa barang. Karena sudah tahu lulus. Kantor menarik fasiltasnya," jawabku sedikit tersenyum.


"Belum ada panggilan dari lamaran yang kamu kirim Nar ?" tanya Papa Bagus.


"Doain aja ya Pa!" pintaku.


Setelah semua pulang, kami sibuk membereskan sisa-sisa acar, bersama para ibu-ibu yang datang membantu acara lamaran ini.


Sedangkan Anin sibuk menata semua kado pemberian dari keluarga calon suamiku. Bergetar rasa hatiku saat membatin kata "Suamiku"


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Hari ini aku turun ke kota, untuk fitting baju. Pernikahan kami tinggal menghitung hari. Tanggalnya dipercepat dan dimajukan, orang tuaku pun menyetujuinya.


Acara resepsi akan digelar dirumahku, tapi ijab qabul akan dilaksanakan dimasjid perkebunan.


Oh iyaa acara sidang BP4R  akan kami laksanakan esok. Hari ini sebenarnya Mama ingin mendampingiku, tapi karena jadwal Ayah yang padat, qakhirnya Mama memasrahkan kepada Bang Ito.


Sidang BP4R sendiri merupakan syarat utama menikah bagi anggota POLRI. Kami hanya sidang pra nikah, setelah itu kami hanya menggelar acara resepsi biasa dirumah, untuk pernikahan kami nanti.


Semua sudah diatur oleh bang Ito. Dan kemarin Bang Ito datang menjemputku dan tak lupa Anin pun ikut beserta kami.


"Bang, Anin gimana? Apa kita bawa saja ke Pondok," tanyaku pelan.


"G usah, Anin biar dirumah Abang aja. Ada keponakan Papa datang. Semua keluargaku ingin menyaksikan ikrarmu Cay,"


"Semua sudah menunggu disana, karena arah yang berlawanan. Nanti Anin kita drop di alun alun. Biar dijemput Edo sepupuku.,"


"Anin, nanti Anin dijemput Mas Edo, Kak Yunar langsung kekantor Bang Ito. Anin tunggu dirumah Mama Ajeng yaa.." rayuku.


"Mas Edo itu siapa?"


"Adeknya Abang, nanti Anin pake motor diajak jalan-jalan dulu beli bakso katanya! Anin mau?" Bang Ito juga ikut merayu.


"Iya mau, aku mau pentolnya yang banyak!"


celotehnya.


"Iya boleh, tapi Anin nggak boleh rewel kalau Kak Yunar belum pulang. Kalau bobok pinjam selimut yang ada aja yaa." Kebiasaan Anin yang tak bisa lepas dengan selimut.


"Selimut busuk, aku bawa," jawabnya sambil terkekeh.


Semua sudah menunggu di Pondok. Jam baru menunjukkan pukul 9 pagi, dan acara akan dilaksanakan jam 10. Ternyata semua antusias menyambut hari ini.


Sebelum sampai pondok, Bang Ito  singgah di pom bensin. Aku mengganti bajuku dengan gamis yang Abang siapkan. Gamis dengan model A line berwarna Mocca. Dipadukan dengan kerudung  hitam segi  empat.


"Maasyaaalloh, calon istriku. Bidadari keluar dari toilet SPBU," candanya. Lalu membukakan pintu untukku.


Banyak lontaran kata kata memuja yang Abang Ito lemparkan, dalam perjalanan. Aku hanya tersenyum malu.


Acara digelar di ruang aula pondok putri, ini adalah jam istirahat santri pondok, setelah shalat dzuha. Tapi masih banyak santri  yang masih duduk bersila di aula ini untuk menyaksikan kesaksianku.


Acara dipimpin oleh Nyai sepuh yang tak lain adalah Ummi Laila. Beliau yang mendampingiku mengucapkan kalimat sakral ini.


Ada beberapa laki-laki yang memdampingiku. Mereka tak lain Papa, Bang Ito, Mas Irsyad dan Om Bayu adik Papa. Dan untuk imam, dipimpin oleh Kyai Mahfud, beliau adalah kakak tertua Ummi. Selebihnya adalah wanita.


Hawa syahdu dan damai, tanganku digenggam erat  oleh ummi dan Kyai Mahfud menuntunku membaca Dua Kalimat Syahadad.


Dengan suara tegas dan lantang aku mengikuti setiap ucapan Kyai Mahfud.


"Ayshadu An-la ilaha illallah"


"Ayshadu An-la ilaha illallah"


"Wa Ayshadu Anna"


"Wa Ayshadu Anna"


"Muhammada Rasulullah"


"Muhammada Rasulullah"


"Yang artinya saya bersaksi tiada tuhan selain Allah,"


"Yang artinya saya bersaksi tiada tuhan selain Allah,"


"Dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah"


"Dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah"


"Alhamdulillah" ucap Ummi Laila yang sudah berlinangan air mata. Semua menangisi moment sakral ini.


Bahkan Bang Ito pun, kulihat menekan kedua matanya dengan kedua jarinya. Lalu menatapku dengan teesenyum.


""Terbukti kebesaran Allah pada hari ini, Allah SWT tahu apa yang terbaik bagi umat-Nya," kata  Kyai Mahfud.


"Pada akhirnya selamat kepadamu Nak, yang telah memutuskan satu hal penting. Sebentar lagi kamu akan menyadari manfaat yang lebih besar dari ketidaknyamanan yang kamu dapatkan dari sebelum hari ini. Berdoalah, dan kamu akan menyadari betapa indahnya Islam," tutur Kyai Mahmud.


Mama Ajeng memelukku dengan isak tangis hingga membuat tubuhnya bergetar. Dan Papa Bagus mengusap lembut pucuk kepalaku.


"Segala yang kamu dapatkan hari ini bukan karena anakku tapi, karena Allah telah memilih anakku untuk menjadi perantaraNya. Ingat nak ini karena Allah," ucap Papa.


Sedangkan Bang Ito hanya menahan gejolaknya. Aku tau dia ingin memelukku, mencium keningku. Tapi semua tertahan karena keadaan.


•••••••••••••••••••••••••••••••••••


Temukan pasangan hidup yang bisa membimbingmu, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat.


...Semoga bermanfaat...


...Ini Visual Yunara Paramita Wigya....