
Kata bu othor Juskelapa, Chida dan Galllon
kudu sabar. SABAR TEROS. Minta likenya kudi dengan sabar 🤗🤗
Sore hari yang cerah. Congoku macet entah kenapa, mungkin dia lelah. Akhirnya aku beranikan diri pinjam motor bebek Kak Yunar. Dan Kak yunar memberikan ijin dan bahkan dia memberiku uang bensin.
"Makasi ya Kak, Kakak baik deh"
"Kutu kupret kau dek."
Aku langsung cus kepangkalan, disana meraka sudah menungguku.
"Maaf, vespaku macet, g mau distater. Untung aku dikasi pinjam motor ini."
"Ya udah ayo jalan. Kita udah janji sama Pak Bambang. Nanti kita jadi seksi air minum." Ucap Doni
"G mau aku jadi seksi air, aku mau jadi seksi sekali hahahaha" Candaku pada mereka.
"Sus, kamu sama Bram sana, aku sama Anin. Aku pingin nyoba bawa motor bebek. Sana ,sana." Usir Doni sambil menarik lengan Susi agar turun dari motor.
Sesampainya di Lapangan Bola, kita langsung menghampiri Pak Bambang. Lalu beliau memberikan kunci mobilnya kepada Doni, untuk mengambil air minum kemasan.
"Gini nih kalau jadi seksi air, malah angkat angkat air mana berat." Rengek Susi
"Ya udah entar lagi gak usah bantu, biar mereka bertiga aja. Kita duduk manis menonton. Lagian masih pemansan, kita beli gorengan dulu aja." Ajakku dengan semangat 45.
"Ayo kita urunan!" Husna menimpali
"Gak usah aku aja yang beli, tadi dikasi uang buat beli bensin. Tapi Kak Yunar gak tau kalau bensinnya masih penuh hihihihiiiii." Jawabku
"Asek. Makan enak kitah hahahaha." Cerocos Susi sambil digetok kepalanya oleh Husna.
"Wih banyak banget ini gorengan, sapa yang beli." Tanya Brahim sambil menyomot pisang goreng yang masih anget.
Susi menunjuk padaku sebagai isyarat karena mulutnya penuh masih penuh dengan tahu isi.
"Apa itu Don." Tanya Husna saat melihat Doni membawa bungkusan plastik.
"Ini jatah roti buat kalian dari Pak Bambang, nih aku beli es Orson kopi, sapa yang mau."
Aku langsung merebut satu plastik minuman bersoda rasa kopi itu.
Doni hanya tersenyum menatapku.
Para suporter sudah mengeluarkan yel yel terbaik mereka. Sedangkan aku malah asik makan bakso bersama anak anak yang lain.
"Tumben makanmu banyak Nin." Husna heran melihatku makan bakso setelah makan banyak gorengan.
"Ga tahu kenapa bakso ini menggoda sekali baunya sedep, enak lo, coba deh. Aku yang bayarin. Sana minta." Perintahku kepada Husna.
Susi sudah tak peduli lagi dia sedang menyuarakan yel yel andalannya untuk menyemangati tim andalannya, tim kelas 3A bersama Doni.
"Berapa bu, 2 mangkok bakso, tambah lontong satu. Sama minumnya estehnya satu." Tanyaku .
"Sudah dibayar nduk, sama masnya yang pake kaos putih itu lo, yang pegang telepon."
Kutoleh arah tangan yang ditunjukkan si ibu penjual. Ternyata Rendi yang sudah bayar makanan kami.
"Oh iya udah buu, makasi." Jawabku kemudian berlalu.
"Tau gitu aku nambah Nin, hahahha." Seloroh Husna.
Kuhampiri Rendi yang sedang memainkan hand phonenya. "Makasi ya Kak, udah dibayari. Lain kali bilang dulu kalau mau bayar." Saat hendak berlalu, Rendi menarik lenganku.
"Berapa no teleponmu ?"
"Buat apa Kak, maaf Kak ini nomor dipake bersama Kakakku. Aku g enak kalau ngasih ngasih. Apalagi laki laki. Takut suami Kakakku salah paham." Belum sempat Rendi menjawab, aku sudah memberondong dia dengan uraian uraian penolakanku yang secara halus.
Terlihat jelas raut wajah kekecewaan yang tergambar jelas diwajahnya. Namun aku juga tidak mau menjadi masalah dikemudian hari.
Setelah aku berlalu, aku melihat Rendi berbicara dengan seorang wanita dewasa. Lalu kulihat mereka pulang bersama.
"Oh dia dijemput Kakaknya "Gumanku dalam hati.
Ramai suasana lapangan yang tumpah ruah, penonton bukan dari para siswa tapi masyarakat sekitar juga ikut menonton, sebagai hiburan gratis sore hari.
Hingga peluit panjang terdengar, menandakan permainan telah berahkir.
Dan 3A sebagai pemenang, tepuk tangan dari para suporter 3A dan juga teriakan kabahagian memenuhi ruang terbuka ini.
Acara ditutup dengan penyerahan piala bergilir, sang kapten mewakili menerima piala. Lalu turun kebawah untuk berfoto bersama tim mereka.
Tak lupa aku pun diseret Doni untuk ikut berfoto bersama, entah sadar atau tidak Doni merangkul pundakku, dan aku pun diam saja seperti menerima dengan ikhlas perlakuannya.
••••••••••••••••••••••••
Liburan telah tiba, waktunya bersantai santai sejenak. Setelah empat bulan kita melalui acara belajar, kemarin aku sudah menerima raport. Walau hanya ranking 10 besar tapi sudah buat aku puas.
"Nin, Mama mau ke Rayon Pusat, ada acara penghargaan buat karyawan. Ayah dapet penghargaan 25 tahun pengabdian." Kata Mama .
"Wah, dapet hadiah dong Ma. Pergi sama siapa ?"
"Dianter Papa Bima, ijin 1 hari . Selasa sore besok kita berangkat ."
"Oh, naik mobil apa bis, Ma?"
"Mobil, pinjam mobilnya besan." Jawab singkat Mama.
Aku hanya ber O ria.
Sambil mengambil raport yang sudah Mama tanda tangani.
Susi datang membawa bungkusan plastik dan memberikannya kepada Mama.
"Ma, ini dari ibu acara slametannya buyut." Ucapnya.
"Nin hari selasa malam ikut yuk, ada acara pengajian akbar, ada sholawatannya juga dilapangan pasar deket rumah." Ajak Susi saat kami sudah berada dalam kamar.
"Nanti aku ijin Kak Yunar ya, selasa sore besok Mama pergi ke Ibukota, ada acara penghargaan untuk pengabdian karyawan."
"Oh iya sudah, sebelum magrib esok aku kemari, sekalian aku bicara sama Kak Yunar."
"Kak, aku ajak Anin mengunjungi Pengajian Akbar yaa. Dilapangan pasar nanti abis isya mulai. Pengisi acaranya Guru Besar dari Pondok Pesantren Besar Jawa Tengah." Pinta Susi.
"Iya boleh, tapi jangan malam malam ya pulangnya. Dan gak usah cerita ke Mama Nin, kalau pergi keacara begini begini. Soalnya kamu itu masih tanggung jawab Mama."
"Iya Kak, paham. Aku bawa kunci pintu samping yaa. Nanti paling lambat jam 10 aku udah pulang."
Setelah magrib aku pergi kerumah Susi, aku boncengan sepeda. Susi melarangku membawa motor karena nanti akan diantar Doni atau Anjas.
Aku hanya memakai pakaian casual, celana jeans biru dongker, sandal jepit , kaos oblong dilapisi pake jaket Levis andalan. Sesampainya dirumah Susi, aku disuruh memilih satu dari sekian banyak kain persegi panjang dengan aneka warna.
"Pake ini sebagai kerudung. G usah pake kerudung kayak aku. Cukup kamu tutupi rambutmu dengan menyilangkan kain ini kekanan dan kekiri. Ini namanya kerudung pasmina. Kamu pilih satu warna yang cocok sama bajumu."
"...."
"Kelamaan, yang ini aja, pink salem cocok sama warna jeansmu."
"..."
"Sudah cantik, pakainya gini aja. Kamu g perlu susah susah pake peniti kayak aku. Kalau pake Bergo kamu nanti kayak emak emak. Hihihihihiiì."
Setelah sholat isya, Susi mengajakku makan.
"Makan seadanya daripada nanti kamu pingsan disana. Nanti dapat roti sama minuman gelas. Kita bawa air sendiri sebagai jaga jaga. Kalau sudah duduk disana, kita susah kalau mau keluar. Gak enak sama yang dibelakang kita." Susi menjelaskan padaku.
Aku belum pernah pergi keacara acara seperti ini. Melihat dari televisi pun hanya sekadar melihat lalu memindahkan chanelnya.
Sesampainya kami di tengah lapangan, kulihat Gank 6 ku berkumpul duduk disebuah galaran bambu. Kami pun mengampiri mereka, betapa terkejutnya mereka melihat kedatanganku dengan pakaian casual tapi memakai hijab ala kadarnya.
Tidak ada yang menertawakanku, bahkan mereka terlihat takjub. Mungkin karena aku tidak pernah memakai seperti i i.
"Calon ustadzah Anin Khotijah, hehehehee." Brahim menggodaku dan langsung terkena tonyoran kepala oleh Anjas dan Doni.
"Nin, aku mau duduk disana kalau kamu mau disini sama mereka juga gak papa." Ucap Susi.
"Kamu mau disini atau mau duduk disana Na' ." Tanyaku pada Husna
"Aku temenin kamu aja. Kamu mau duduk dimana ?"
"Ya udah kalau kamu mau nemenin aku disini. Aku jam 10 harus sudah harus pulang, Kak Yunar dirumah sendirian."
"Pantesan kamu bisa ngelayap malam malam, Mama kemana.?" Tanya Anjas padaku
"Mama, ke Ibukota ada acara penting dari PTP. Kalian jangan cerita ya kalau aku ikutan menghadiri acara ginian. Nanti Mama marah."
"Ah siyapp" Jawab mereka serempak. Susi sudah tak terlihat batang hidungnya. Dia sudah duduk bersila di bagian kiri tempat berkumpulnya para ibu ibu dan wanita dewasa lainnya. Dan sebelah kanan dengan dibatasi sebuah pembatas tertutup adalah para pria. Semua terpisah, tapi dibagian belakang yang tidak duduk dibawah. Banyak orang yang berdiri dan menggelar tikar dudjk bersama keluarganya
Acara dibuka dengan pujian pujian yang katanya adalah Sholawat Nabi.
"Aku suka dengar lantunan pujian seperti ini. Hatiku adem rasanya. Makanya pas Susi cerita ada sholawatan aku langsung mau diajak." Celotehku kepada Husna dan didengar oleh Doni yang tepat berada dibelakangku
Ada beberapa sholawat yang dilantunkan, dan aku tak tau sama sekali. Bahkan belum pernah mendengarnya.
"Ini judulnya Innal Habbiba Mustofa. Kalau yang awal tadi bukan sholawat tapi Asmaul Husna. Itu lantunan untuk mengungkapkan sifat sifat Allah yang mulai." Aku mengangguk angguk saat Doni menjelaskan, walau aku kurang paham.
"Nah kalau ini Isfaklana judulnya. Biasanya setelah ini Ya Nabi Sallam. Lalu ceramah." Jelasnya lagi.
Dan ternyata benar setelah Ya Sallam, semua bubar dan berganti dengan satu meja dan kursi yang diisi dengan aneka minuman.
Lalu duduklah salah seorang memakai sorban dikepala dan dengan pakaian putih bersih. Terlihat jelas sekali aura cerah diwajahnya. Aura yang bersinar yang belum pernah aku temui.
Beliau mulai berceramah....
"Kunci Kebahagiaan adalah Sujud."
"Lembar kebahagiaan pertama dalam bukuagenda harian dan kartu pertama dalam jadwal kegiatan sehari hari adalah Sholat Subuh."
"Maka, mulailah hari harimu dengan Shalat Subuh dan awalilah semu kegiatanmu dalam setiap hari dengan Shalat Subuh.
Dengan begitu, kalian akan selalu berada dalam jaminan Allah, ikatan perjanjian denganNya, perlindunganNya, pangawasan dan penganmanNya, perlindunganNya. Allah pun akan senantiasa memeliharamu dari segala keburukan, menuntunmu pada kebaikan dan membawamu pada keutamaan.
Sungguh, berkah Allah tidak akan turun pada hari hari yang tidak diawali dengam Shalat Subuh dan Allah tidak akan menghidupkan sebuah hari yang tidak dimulai dengan Shalat Subuh."
"Shalat Subuh merupakan tanda pertama diterimanya sesorang hamba di sisi Allah, judul pembuka buku keberhasilan dan sisi penting dari sebuah kemenangan, kemuliaan, kemapanan, dan keberhasilan. Maka, selamat bagi mereka yang senantiasa meaksanakan Shalat Subuh dan celakalah mereka yang tidak memulai hari harinya dengan Shalat Subuh."
"Bukankah kalian telah melihat, bahwa setelah malam puas dengan gelap gulitanya, maka fajar pagi pun pasti datang dengan sinar cahayanya."
"Semoga Allah menjadikan sesuatu yang menyenangkan setelah itu."
(Dr. Aidh Al- Qarni)
"Makanya Kak Yunar selalu bangun pagi saat suara masjid berbunyi. Padahal kulihat dia masih sangat mengantuk." Gumanku dalam hati, setelah tahu tentang pentingnya Shalat Subuh.
Saat kulihat pergelangan tanganku, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang. Aku meminta Anjas untuk mengantarku pulang. Tapi Doni malah sudah menyeretku lebih dahulu.
"Aku aja yang antar, aku pake sepedamu Njas."
Diboncengnya aku dengan sepeda kayuh, aku berceloteh kesana kemari.
"Kak, kenapa dimeja tadi ada banyak minuman, emang nanti itu diminum semua."
"Ya gak lah, itu kan cuma buat beliau memilih minuman mana yang beliau suka. Gak mungkin kan kita tanya. Mau minum apa ustad ? Kan lucu yaa.. "
"Oh iya yaa. Hahhahaahaa." Tertawalah kita bersama dalam perjalanan pulang.
●●●●●●●●●●●●●●●●●●●
Senyuman itu tidak memberatkan dan banyak memberi manfaat. Maka dari itu sering seringlah tersenyum 😊😊😊
“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil”
Inilah kaidah kehidupan, bahwa jika kita tidak mengisi kehidupan kita dengan kegiatan positif, kita tidak mencari kegiatan positif, maka pasti kita isi dengan kegiatan yang negatif atau minimal sia-sia dan kurang bermanfaat. Apalagi bagi seorang pemuda yang jiwanya masih bergelora.
Semoga Allah menjaga pemuda muslim dan muslimah
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
Happy membaca.