HIDAYAH

HIDAYAH
23. Flash Back Last



Bissmillah.


Semoga tulisan ini menjadi karomah bagi siapa saja yang membacanya.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Jangan berduka, apa pun yang hilang darimu akan kembali lagi dalam wujud lain. - Jalaludin Rumi


Jangan hanya berterima kasih kepada Allah ketika semuanya berjalan baik, berterima kasihlah kepada-Nya bahkan ketika segala sesuatunya terasa sulit.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸŒ


Hening hanya isak tangis yang terdengar, dan suara deru kendaraan yang mereka tumpangi. Bukan tidak ada hal yang perlu dibahas, banyak! Banyak hal yang perlu dibahas. Tapi laki-laki itu memilih diam, memberikan waktu pada sang istri meluapkan emosinya.


Kanyataan pahit sedang mereka telan, dimana acara resepsi akan digelar dirumah sang mempelai pria. Dalam pikiran mereka berkecambuk memikirkan satu hal, apa yang akan mereka katakan pada orang tua Tito.


"Cay!"


"Bang!"


Seru mereka bersamaan, lalu Tito menepikan mobilnya. Kemudian meraih lengan wanita yang baru beberapa hari menjadi istrinya.


"Maafin Abang! Abang terlalu memaksakan semua ini. Abang sudah memisahkan anak dan orang tuanya. Maaf sayang maaf !" ucapnya dengan bahu bergetar.


"Mungkin ini sudah jalan kita Bang, mungkin ini yang dinamakan ujian berkorban. Abang nggak salah, nggak ada yang salah disini. Semua tinggal menunggu waktu, semua akan kembali seperti semula!" Yunar berkata dengan berat. Suara yang keluar pun tersendat karena isak tangis yang belum reda.


"Aku tidak dapat berjanji untuk memperbaiki semua masalahmu, tetapi aku bisa berjanji kamu tidak akan menghadapi semuanya sendirian," ucap Tito menenangkan.


Waktu masih tengah malam saat mereka sampai rumah Papa. Mama Ajeng terkejut saat melihat anak dan menantunya berdiri didepan pintu, dengan isak halus yang masih tersisa.


"Masuk dulu ayo, bawa semua barang-barangnya," ajak Mama Ajeng


Dua cangkir teh hangat tersaji untuk mereka, lalu berceritalah Tito tentang kejadian yang mereka alami. Tak kuasa menahan tangis, Mama Ajeng pun ikut merasakan kesedihan mereka.


"Kalian yang sabar ya! Tidak usah risau masalah resepsi, biar kami yang atur, sekarang pergilah tidur. Istirahatkan tubuh kalian, besok pagi kita bahas masalah ini." tutur Papa Bagus.


"Serahkan semua kepada sang Khalik, Insyaalloh hari esok akan lebih baik," tambah Mama Ajeng.


Dalam kamar mereka berdua bergantian membersihkan diri. Barang bawaan semua mereka letakkan disatu titik, terlalu penat untuk menatanya sekarang, pikir Yunar.


Dia merebahkan dirinya, kasur single telah berganti dengan ukuran yang lebih besar.


Dengan baju berbahan satin lembut yang Yunar pakai untuk membalut tubuhnya. Tak lama kemudian Tito keluar kamar mandi dengan wajah segar.


"Mandi Bang?"


"Nggak cuma cuci muka, bajunya besok biar dibantu tata sama mbok Mah ya. Jangan dikerjakan sendiri," pinta Tito kepada istrinya. Dengan sebuah anggukan dan senyuman sebagai jawaban tanpa kata yang Yunar lemparkan.


Hanya dengan memakai boxer dan kaos oblong tipis, Tito pun merebahkan dirinya. Memeluk sang istri yang sedang membelakanginya, mengecup sekilas tengkuk lehernya dan menarik tubuh Yunar agar saling menempel.


"Abang tidak meminta untuk melupakan kejadian tadi, Abang hanya ingin jangan pendam kesedihanmu sendiri. Berbagilah bersamaku,"


"Jika sesuatu di hadapanmu membuatmu takut dan sesuatu di belakangmu membuatmu sakit, maka lihatlah ke atas. Allah tidak pernah gagal untuk menolongmu." tambah Tito.


Yunar tak menjawab, hanya isak tangis yang sudah hampi tak terdengar. Wajah sembab itu bersembunyi diceruk leher suaminya. Mencium feromon tubuh orang yang dicintainya, membuat ketenangan sendiri dalam diri Yunar.


Pelukan semakin erat, Tito mencium pucuk kepala sang istri. Mentransfer kekuatan bathin, meskipun ada gejolak yang tertahan dibawah sana.


Tak ada yang sanggup Tito lakukan selain menenangkan sang istri. Kesedihan yang mendalam, diusir pada saat hari hari bahagia menjadi pasangan halal.


Merasa menjadi anak durhaka? itu pasti.


Merasa menjadi anak tak berbakti? sudah jelas.


Inilah yang dirasakan Yunar dan Tito juga ambil dalam tragedi ini.


Suara nafas teratur sudah terdengar oleh Tito, membiarkan istrinya tidur saat ini adalah hal paling baik. Ditatapnya mata yang sedang terpejam itu, diusapnya bibir bawah istrinya. Pipi yang masih basah dari sisa-sisa air mata.


Melihat lelapnya sang istri, Tito menghela nafasnya kemudian memeluk erat bahu Yunar. Perasaan bersalah sudah menjalar merasuki hati.


Melihat wajah polos yang berkorban untuknya, yang diajak pun sedang mencari ketenangan bathin dengan mengikuti ajaran hidup seseorang yang dicintainya


"Ya Allah, bantu hambamu ini membawanya kepadaMu dalam kebaikan.


Alhamdulillahil ladzi anqadzahu minan nar,


Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan dia dari api neraka,"Β  dengan suara berat Tito berdoa lirih, lalu meniup ubu-ubun istrinya.


€€€€€€€€€€€€€€


Pagi menjelang, setelah shalat subuh berjamaah. Mereka membahas acara resepsi yang akan digelar dirumah ini tiga hari kedepan.


Pukul enam nanti bakal banyak tetangga datang untuk merabot atau rewang. Dan pengantinnya ada dirumah, apa kata para tetangga nanti. Itulah yang jadi uneg-uneg Yunar, memikirkan hal-hal sedetail itu.


Mama yang mendengar cerita Tito pun, tak kuasa menahan tangisnya lagi. Sebegini cepatnya Allah membuka tabir Yunar, namun bukannya berkecil hati. Tapi kedua orang tua itu tahu, ini adalah jalan kebaikan yang Allah telah siapkan untuk mereka.


"Jika nanti keluarga Yunar terutama orang tuamu tidak datang. Kami akan berkunjung kekebun, membahas masalah ini. Kalian tidak perlu ikut, agar tidak menambah emosi mereka. Biarkan ini menjadi urusan kami, sebagai orang tua!


Yunnar yang tenang didalam kamar, tidak perlu ikut bantu masak untuk acara dibelakang! Agar tidak jadi gunjingan," tutur papa.


"Sebenarnya juga tidak apa kalau mereka tahu Yunnar disini, hanya saja Mama capek kalau harus jelasin. Jadi Yunar dikamar saja, bulan madu sama suamimu, sekalian tenangkan pikiranmu nak," tambah Mama menghiburku.


Seharian ini dilalui Yunar dengan mengolah kamar suaminya menjadi kamar bersama. Tito juga sibuk membantu, bahkan Tito menambah perabot kamarnya.


Meja rias untuk sang istri, rencana awalnya mereka ingin membuat khusus meja rias kayu jati. Tapi rencana tinggal rencana, beli jadi ditoko mebel adalah alternatif tercepat.


Yunar sama sekali tak keluar kamar, dia sibuk menata ulang almari baju. Makan pun Mama yang antar. Tito menambahkan lemari plastik untuk baju harian mereka.


"Bang, nanti acara resepsi aku mau pake hijab ?"


"Hah! Nanti masalah Cay kalau ada keluarga besar Ayah datang !"


"Tapi aku ingin Bang, sudah kepalang basah. Aku tak mau tanggung-tanggung lagi! Gak pakai hijab pun mereka juga marah sama aku!"


"Itu aja Bang, gaun pilihanku juga bisa kok dijadikan pakaian hijab,"


Tito langsung mencari Mamanya, sebenarnya Tito keberatan tapi juga bahagia. Setidaknya ini adalah keinginannya. Mama pun menyetujui permintaan Yunar, dan langsung menelepon pihak MUA.


Malam menjelang, selasai jamaah isya. YunaΕ• keluar kamar untuk mengisi perutnya bersama Tito. Hanya segelintir tetangga yang masih belum pulang. Dan mereka masih termasuk kerabat dekat keluarga Tito.


Kesedihan Yunar berkurang karena aktifitasnya seharian ini. Begitu lelah tubuh mereka setelah mengisi perut, merekaΒ  membersihkan diri dan bersiap melepaskan penat mereka.


Tak perlu menunggi lama, mereka pun terlelap dengan saling berpelukan satu dengan yang lainnya.


€€€€€€€€€€€€€


Pagi buta setelah subuh Yunar sudah siap dimake over. Gemuruh dalam hatinya, membayangkan jika orang tuanya datang dan melihatny memakai hijab layaknya seorang muslimah. Yunar ingin menjukkan kesungguhan hatinya, dia yakin dengan pilihannya. Berharap orang tuanya luluh melihay betapa teduhnya dia dalam balutan pakaian tertutup.


Tapi semua sirna, hingga dipenghujung acara tak ada satu pun dari kerabat Yunar yang datang. Yunar pasrah menerima nasibnya, dan mencoba tegar.


Orang tua Tito memberikan alasan jika keluarga besan sudah menyerahkan masalah resepsi ini sepenuhnya. Dan memang waktu kita datang malam itu tidak ada orang yang tau.


Tok tok tok


"Nar, Anin buka pintu!" suara Mama mengetuk pintu depan.


"Ceritanya kapan -kapan lagi Nin! Mama datang. Kalau ditanya? kita menunggu kedatangan mereka! Paham kamu" perintah Yunar.


"Terus kapan, Mama memaafkan Kakak?" Anin bertanya cepat karena masih sedikit penasaran.


"Pas hamil pertama, yang keguguran itu, udah ah cepet buka! Iya Ma tunggu!" herdik Yunar kepada Anin sambil menjawab Mama.


"Loh! kalian belum tidur, ngapain aja


semaleman?"


"Nungguin Mamalah!" jawab mereka serempak.


Setelah membukakan pintu Anin masuk kekamarnya dan Mama pun berlalu kebelakang. Tito membereskan bawaan dari dalam mobil.


Dalam kamar Tito bertanya "Kenapa belum tidur? Hemm?" sebuah kecupan lembut mendarat dikening dan sekilas dibibir.


"Aku menceritakan kisah kita Bang," jawab Yunar saat berada dalam pelukan suaminya.


"Hati-hati jangan sampai Mama tahu, Abang tidak mau gara-gara masalah ini, kita bersusah hati lagi"


" Aku bercerita agar Anin juga bisa membawa diri dikemudian hari,"


"Ya ya ya, sudah sana tidur, Abang bersih-bersih badan dulu. Entar Abang peluk, kangen!" bisikan mesra yang biasa Tito berikan untuk kekasih halalnya.


Tak perlu menunggu lama, setelah membersihkan diri, Tito berjalan melihat buah hatinya yang beberapa waktu tak dilihatnya. Mencium lembut pipi gembilnya, kemudian menutup bedrail sebagai pengaman lalu berbalik berjalan kesisi sebelah merebahkan tubuhnya disamping Yunar.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


"Selamat Pagi..." ucap Tito saat Yunar membuka matanya.


Yunar mengerjapkan mata, memandang Tito yang berbaring menumpukan sebelah tangan di dekatnya.


"Udah bangun dari tadi?" tanya Yunar.


"Nungguin kamu..." gumam Tito mengusap pipi Yunar perlahan.


"Aku belum sikat gigi," ujar Yunar menarik selimutnya menutupi wajah.


"Kamu tetep cantik kapan aja." Tito mendekati isterinya dan menunduk mengecup puncak kepala wanita itu.


"Bisa aja," balas Yunar. Ia masih meletakkan selimut di wajahnya.


"Gimana? Nyaman tinggal di sini?" tanya Tito seraya menarik selimut dari wajah isterinya. "Aku mau liat wajah kamu sayang..."


"Di mana aja, yang penting sama kamu Bang..." balas Yunar.


Tito menatap wajah isterinya dan tersenyum. Hatinya membenarkan perkataan Yunar barusan. Di mana saja, asal mereka bersama memang harusnya tak menjadi masalah.


Kemudian Tito melingkarkan satu tangannya yang terbebas di sekeliling tubuh isterinya. Ia semakin yakin dengan segala keputusan yang diambilnya saat menikahi wanita itu.


Kemesaraan yang selalu tercipta dipagi hari sebelum mereka memulai hari. Menjadikan mood booster buat ibu menyusui.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 187, Allah SWT berfirman:Β "


Hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna,".


Yang artinya:Β "Mereka (istrimu) adalah pakaian untukmu, dan kamu (suami) pun pakaian untuk mereka,".


Deskripsi ayat tersebut merupakan penegasan mengenai kesalingan antara keduanya dalam segala sisi kehidupan berumah-tangga.


Terutama kesalingan untuk mencintai, menyayangi, melayani, melindungi, menyenangkan, dan membahagiakan antara satu dengan yang lain. Dengan prinsip ini, teks hadis yang diriwayatkan Abu Dawud di atas bisa dipahami sebagai timbal-balik (mubadalah). Yakni, istri pun berhak memperoleh layanan hubungan pribadi sesuai seleranya dari suami.


...Hadist diatas tidak berlaku untuk yang masih JOMBLO. ...


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


...Selamat membaca...


...Jangan lupa like dan komentnyaRitp...


visual Tito



visual Yunar