
Apa pun kata-kata yang kita ucapkan, kata-kata tersebut harus dipilih dengan hati-hati karena orang lain akan mendengar kata-kata tersebut dan terpengaruh oleh kata tersebut demi kebaikan atau keburukan.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
"Minggu pagi yang cerah, cuitan suara burung dari dahan pohon mangga terdengar merdu. Membangunkan gadis remaja yang sedang bergelung dengan nikmat dunia perkasuran.
Pukul enam kurang, Anin bergegas membersihkan diri. Memakai pakaian terbaiknya, mengikat tinggi -tinggi rambutnya. Jam tujuh tepat Anin dan Mama sudah siap pergi ke Gereja.
Khitmad acara ibadah minggu ini, semua khusyuk berdoa safaat yang mana doa ini adalah doa akhir dari ibadah minggu. Lantunan pujian dengan iringan gitar jemaah lain dan piano yang Anin mainkan, menambah damai suasana. Koor lagu juga terdengar merdu saliang bersautan satu dengan yang lainnya.
Anin keluar bersama dengan teman-teman lainnya. Berbincang-bincang sedikit sembari menunggu mama keluar dari gereja induk.
Carens menghampiri Anin sesaat setelah Christin lawan bicara Anin meninggalkannya.
"Nanti main kerumah ya, aku jemput. Mama berharap kamu mau datang," pinta Carens yang sudah duduk disamping Anin.
"Aku nggak bisa Kak, aku latihan. Lusa aku pentas perpisahan sekolah," jawab Anin tanpa melihat lawan bicaranya.
"Lihat aku dong Nin! Jangan game aja! Jam berapa acara sekolahnya?" ungkapnya tak sabar.
"Mau apa?" Toleh Anin dengan membelalakkan matanya.
"Mau liat kamu mentaslah, mau apa lagi," ketus Carens.
"Pagi," jawab Anin singkat.
"Kamu bawaain lagu apa?"
"Brisik ih, sampek kalah aku!" Anin pun berajak dari duduknya dan masuk keruangan dimana acara ibadah sudah menyanyikan pujian penutup.
Anin duduk dibangku paling belakang sendirian. Semua penatua lain yang memakai stola leher sudah berada didekat pintu untuk menutup acara dengan sedikit berdoa lalu mereka berbaris rapi disamping pintu utama.
Mama, masih berbincang- bincang dengan jemaat lain. Anin menghampirinya dan mengajaknya pulang. Wajah cemberut Anin sepanjang perjalanan pulang.
"Kenapa kamu?" tanya Mama sambil menatap jalanan dibalik kemudi.
"Males aku lama- lama sama Carens, aku nggak seneng Ma! Dia kejar -kejar terus, aku tambah males. Ngapain coba semalam kerumah bawa Emaknya juga," sungut Anin.
"Semalam kerumah membicarakan acara Rayon, meskipun Ayahmu sudah pensiun tapi masih tercatat karyawan terbaik. Lusa kita mau sama-sama ke kantor pusat cabang yang ada di kota." jelas Mama.
"Nggak usah bareng dari rumah ya Ma! Mama berangkat sendiri dari rumah. Jangan mau dijemput, nggak usah merepotkan orang lain." Ucap Anin sambil mengemasi barang bawaannya.
"Bijaksana apa bijaksini anak Mama ini," candanya.
Sesampainya dirumah, Tito sudah menunggu kedatangan mereka.
"Ma, kita mau kepantai. Mama ikut ya?" ajak Yunar sesaat melihat mereka masuk.
"Ayo, tapi Mama ganti baju dulu," jawabnya.
Anin langsung meluncur masuk kamar, mengganti pakaiannya tanpa bertanya.
"Sapa yang ngajak kamu Nin, jaga rumah.!" ucap Yunar sesaat Anin keluar dari kamarnya.
"Ogah, pokoknya aku ikut ." Sambil mengangkat bayi kecil yang sedang belajar berdiri dengan bantuan kaki meja.
Canda tawa dan suara celoteh Bima menjadi penghibur perjalanan menuju pantai. Selama satu jam lebih semua terhibur oleh gelak tawa Bima.
Tapi sayang, setelah sampai tempat tujuan bayi kecil itu tidur pulas dalam dekapan ibunya.
Matahari semakin tinggi, tapi tak menyurutkan para pengunjung pantai. Semakin siang semakin banyak orang, suara riuh membuat Bima terbangun.
Mereka memasuki restoran ikan bakar, menu makan siang kali ini adalah makanan sehat pikir Anin. Segala ikan segar frozen tersedia, mereka memilih tiga jenis lauk. Ikan bakar kecap, Udang Cereal dan Kepiting Saos Telur.
Dengan perut kenyangnya Anin masih mampu menghabiskan satu buah kelapa mudah.
"Perewanganya dilepas, ya gini jadinya. Makan seabrek nggak kenyang kenyang," canda Tito yang melihat Anin masih menggarap kepiting sisa Mama dipiring.
"Ma, besok lusa acara ke kota biar diantar ayah Bima aja. Kita semua ikut, acaranya malam jam berapa?" tanya Yunar.
"Jam 7 malam diundanganya," jawab mama singkat.
"Aku nggak ikut Kak, abis pentas seni pasti capek!" sarkas Anin.
"Ikut aja tidur dimobil kalo capek, jangan sendirian dirumah," pinta Tito.
"Males ketemu Carens, dia pasti ikut!" seloroh Anin dengan muka murung.
Setelah perdebatan kecil karena Anin masih kekeh tidak mau ikut, tapi tetap berakhir dengan keputusan Tito. Anin hanya bisa menurut setelah ancaman tak boleh bawa mobil terlontar.
Keesokan harinya.
Anin telah siap dengan baju seragam putih birunya. Dengan mengendarai sepeda kayuh Anin berangkat ke rumah Susi. Disana telah menunggu para sahabat Anin.
Mereka pergi kesekolah dengan mengendarai sepeda kayuh saling berboncengan dengan berpasangan.
"Ayunina, kamu tidak mau latiham sekalian lagu solomu?" tanya Pak Lukman guru kesenian yang bertanggung jawab untuk pentas seni perpisahan disetiap tahunnya.
"Tidak Pak, biar jadi kejutan saja besok," jawabnya sopan.
Banyak mata menatap heran dan juga benci, tapi Anin tidak perduli. Itu semua juga karena Anin selama ini dekat dengan kepala sekolah.
Karena Anin yang berbeda keyakinan, kepala sekolah sering memanggilnya untuk menanyakan pelajaran agama yang dia diikuti.
Apalagi setiap ujian catur wulan tiba, pasti bapak kepala sekolah itu bertanya dengan pertanyaan yang sama seperti empat bulan yang lalu.
"Apakah kamu tidak keberatan mengikuti ujian Agama islam kali ini" inilah pertanyaan itu.
Dan ujung dari pertemuan itu selalu diakhiri dengan pertanyaan yang sama juga.
"Jika Ayu mau mendalami ilmu agama islam, Ayu boleh datang kerumah Bapak. Dengan senang hati anak Bapak akan mengajari Ayu."
Hanya anggukan yang Anin selalu berikan sebagai jawaban.
Karena hal inilah Anin terkenal dikawasan sekolah. Dia berbeda agama, cantik dam sopan standart IQnya juga tidak rendah bisa dibilang diatas rata-rata.
Dia cakap dan tindak tanduknya juga bukan seperti anak yang urakan. Apalagi disisi lain Anin tergolong anak yang lebih dari cukup.
Dan itu bisa dilihat dari apa yang Anin bawa mulai dari gawai, motor sampai mobil pun dia bisa kuasai tapi belum semua mengetahuinya.
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
Hari pentas perpisahan pun tiba. Anin berangkat dari rumah pukul tujuh pagi dengan mengendarai mobil. Anin sudah bermake up dari rumah, memakai pakaian terbaik yang sangat sopan.
Polesan natural diwajahnya, memberikan kesan dewasa. Dengan badan yang lumayan tinggi 155cm, Anin hanya memakai flat shoes saat ini.
Sesampainya disekolah, Anin langsung menuju kelas 3A yang diubah menjadi ruang untuk para pemain pentas.
Acara akan dimulai pada pukul 8 tapi biasanya akan molor sampai pukul 9, karena para tamu wali murid yang tidak tepat waktu.
Acara dibuka dengan sambutan-sumbutan dari petinggi sekolah. Lalu berlanjut dengan drama pendek kelulusan.
Satu persatu sudah tampil diatas panggung. Giliran Anin dan Band unjuk kebolehan.
Begitu hebohnya Brahim diatas panggung. Menambah semarak suasana. Lagu slow yang mereka bawakan juga mampu menghipnotis para tamu.
Berlajut acara penyerahan tanda mata bagi murid yang berprestasi. Ada tiga murid mereka semua mendapat beasiswa masuk sekolah negeri dengan dua pilihan. SMA dan SMEA, dua pilihan buat mereka.
"Nin, entar lagi gilaranmu. Sebagai penutup acara," ucap Susi seraya mengambil kudapan manis yang tersaji dihadapannya.
"Ayunina, diharap datang keruang kepala sekolah sekarang." Teguh berkata kepadanya dengan nada tegas.
Setelah merapikan rambut dan make upnya. Anin beranjak menuju ruang kepala sekolah.
Sesampainya diruangan yang dimaksud, Anin langsung berhadapan dengan kepala sekolah.
"Ada apa ya, Pak?" Tanya Anin lirih.
"Bisa iringi Bapak dengan piano lagu Dan Byrd – Boulevard?" Tanya kepala sekolah.
"Oh bisa sekali Pak, nada sedang ,"
"Oke kalau bisa chord minornya sebentar lagi kita naik,"
Tak selang beberapa lama, petinggi sekolah dan siswi itu sudah berada dipanggung. Dengan sedikit cuap cuap dari MC
Anin mulai menekan tuts keyboard pianonya, suara merdu dari petinggi sekolah pun mewarnai suasana siang yang terik itu.
Para tamu juga menikmati acara pentas seni perpisahan itu. Bukan suatu hal yang luar biasa yang Anin lakukan. Baginya memainkan gitar dan piano sudah menjadi santapanya setiap hari.
Dan lagi lagu Dan Byrd – Boulevard ini biasa dia mainkan bersama Tito dirumah.
Semua mata fokus menatap dua beda generasi diatas panggung itu.
"Biasalah kalau anak kristen itu kebanyakan pandai bermain musik, karena biasa nyanyi -nyanyi kalau digereja," celetuk salah satu siswa gerombolan Anis.
"Itu suatu keahlian yang tidak semua orang bisa, bukan karena dia beragama kristen. Tapi memang karena punya bakat," balas Husna yang saat itu sedang berada didekat mereka.
Tatapan sinis dari gerombolan Anis melihat sosok gadis yang menjawab tadi.
"Kenapa kamu liat aku seperti, iri bilang bos!!"
Jawab Husna sambil berlalu menjauhi mereka.
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
Seseorang yang melihat kebaikan dalam berbagai hal berarti memiliki pikiran yang baik. Dan seseorang yang memiliki pikiran yang baik mendapatkan kenikmatan dari hidup."