HIDAYAH

HIDAYAH
12. Lelucon Garing



Esok hari pasti menerbitkan angin segar, mengusir semua kesedihan, dan menggantinya dengan keceriaan


(Dr. 'Aidh al-Qarni)


🌬🌬🌬🌬🌬🌬🌬🌬🌬🌬🌬🌬🌬🌬🌬🌬🌬


Kata Susi ini adalan lantunan Sholawat Nabi.


Entah ada apa denganku, hatiku berdebar bedar bahkan aku berlinang air mata. Sendi sendi tulangku lemas tak berdaya.


Aku usap tetes air mata dipipiku, aku masih mencoba menghayati alunan suara sekitarku. Dan entah atas dasar apa, hatiku terenyuh seperti tersiram air es yang teramat sangat dingin.


Pikiranku masih mengambang dengan lantunan pujian yang semalam aku dengarkan. Acara pengajian aqiqah yang dihadiri bapak bapak dan sebagian ibu ibu berjalan lancar. Banyak doa terlempar untuk sang bayi. Banyak harapan digantungkan padanya.


Rumah sudah rapi, semalam setelah acara selesai para tetangga bergotong royong kembali membongkar tenda terop. Dan ibu ibu yang rewangpun sudah tidak banyak. Tinggal ibu ibu yang dipanggil secara khusus untuk membantu acara yang belum pulang.


Aku sudah siap dengan seragam biru putihku, aku membawa sedikit bekal kesekolah. Banyak kue dirumah, Mama Bang Tito juga membawa banyak aneka kue semalam.


Aku ambil yang paling sedap dimataku, mataku tertuju pada Black Forest lalu aku potong menjadi beberapa bagian, aku masukkan tepak kotak bukan bekal makan yang biasa aku pakai dan aku cuzzz mengayuh sepeda kring kringku. Tak lupa aku membawa 7 botol minuman kemasan. Plus Botol minum khusus hari senin.


Bukan beban hidup saja yang berat, beban sepada miniku juga berat, kalau dia mampu mengeluh. Kranjang sepeda depanku penuh dengan makanan, yang akan aku bagikan nanti saat jam istirahat.


"Aku bonceng dong, aku masih capek." Rengekku pada teman teman saat bertemu dilampu merah tempat kita "ngetem" (istilah dari sopir angkutan sebagai tempat berhenti untuk menunggu penumpang)


Ahkirnya Husna yang bawa sepedaku, dan aku berboncengan dengan Doni tapi pakai sepeda Anjas yang ada boncengannya. Entah kenapa Doni kekeh yang bonceng. Padahal Husna gak akan cemburu aku diboceng kakak sepupunya. Ya Husna dan Anjas sepupuan .


"Ngapain bawa makanan banyak kesekolah ?" Tanya Doni


"Oh ituh, nanti kita makan bersama dibelakang kelas ya. Aku bawa lengkap sama minumnya, biar lancar acara makannya. Terus nanti siang aku traktir mie kopyok disawah. Aku menang banyak kemarin, hahhahaaa." Candaku dengan riang  karena dompetku dalam kondisi berlemak .


"Menang apa korupsi kamu "


"Hahahaaaa serupa tapi tak sama Kak. Tapi yang ini halal kok. Aku kembalikan tapi kata Bang Tito bawa aja buat jajan. Tanpa Kak Tito melihat jumlahnya, yahh langsung masuk kantongkulah."


"Hemmmm  kalau gitu aku mau makan sama minumnya es campur yaaa. Jangan lupa siBram kudu dua mangkok. Entar dia mimpi kalau cuma semangkok." Canda Doni sambil melirik Bram yang berjejer disebelah.


Tanpa malu si Bram pun menjawab "Oh harus itu, kalau ada traktiran gini pawangku, aku lepas semua hahahahahahaaa."


•••••••••••••••••••••••••••••••••


Sudah jadi kebiasaanku saat hari senin  begini, aku membawa botol air minum yang sudah aku masukkan freezer. Pas upacara selesai aku dan Susi langsung menengak air es yang masih sangat menyegarkan. Walau sudah mencair tapi belum semua menjadi air.


Dua mata pelajaran sudah lewat, para maniak makanan gratis sudah berkumpul dibelakang kelasku. Hanya belakang kelas satu saja yang kosong. Belakang kelas dua ada pohon kepeteng besar dan ada kantin bakso. Sedangkan belakang kelas tiga digunakan sebagai lahan parkir sepeda.


Entah dapat dari mana, anjas membawa tikar plastik ukuran 2 x 2. Kita berenam duduk santai kayak dipantai. Membuka tepak bekal yang aku bawa. Susi datang dengan 2 gelas plastik berisi es batu. Benar benar piknik  ala anak SMP.


"Eh, Malik sini." Aku panggil salah satu teman sekelasku. Dia laki laki tapi agak sedikit melambai. Sering aku lihat dia hanya makan sepotong tahu isi atau ote ote. Minum dia selalu bawa sendiri. Sepertinya dia selalu berhemat atau memang uang jajannya sedikit.


"Ini buat aku ." Tanyanya saat Kusodorkan kue BF padanya.


"Iyalah buat sapa lagi, ini minumnya tapi kongsi yaaa. Yang dibotol buat kamu. Aku ambil separo aku sudah masukkan gelas. Aku gak minum dari botolnya, ini masih bersih." Jelasku dan Malik pun menerimanya.


Malik makan tak jauh dari kami sampi sesekali Bram menggoda Malik yang sedikit latah. Membuat kami semua terbahak bahak melihat tingkah Malik yang aneh bin ajaib.


Lalu terjadilah percakapan antara si Bram dengan Malik ala ala bencong.


Malik berkata “Kayaknye mulai besok eike tobat deh nek.”


“Wah hebat dwong. Berarti mulai besok eike mangkal sendiri di sindang.”


Malik menjawab "Ah syapa bilang chynnnn.”


“Lahh truss?” Sahut Brahim


“Yaa mulai besok eike tetep mangkal disini tapi make JILBAB!”


"HAHAHAHHAAHAA" Serempak kami tertawa. Tapi ekspresi dua bencong palsu itu semua datar.


Lalu meraka mulai membuat cerita lagi.


“Permisi, maaf ganggu, eke mau tanya nih.” Ucap Malik lagi.


“Nanya apa ?”


“Gini, kalau wanita mati kan disebut ALMARHUMMAH, kalo laki-laki mati disebut ALMARHUM, nah kalo banci mati ntar dipanggil apa dong?”


"(Brahim mikir sejenak) Hmm, mungkin disebut ALUMUNIUM kali.” Jawab Brahim datar sambil menyomot sisa kue kue.


Sepulang sekolah, kami singgah kewarung mie kopyok langganan. Nasib baik sekolah bubar sebelum jam dua belas. Menyisakan satu mata pelajaran yang kami tinggalkan karena para guru akan ada rapat dadakan.


Perutku masih kenyang dengan  kudapan yang aku makan jam sembilan tadi. Tapi tidak mambuat surut semangat makan teman temanku yang lain. Sesuai janjiku pada Brahilm, dia makan dua mangkok mie kopyok dan semangkok es campur.


"Kue tadi kamu taruh dimana Bram, sekarang kamu bawa masuk dua mangkok mie. Belum lagi es campur. Meledak tar perutmu." Ocehan Susi


Tapi yang diocehin santai ajaa, malah dia menjawab "Kue tadi cuma numpang lewat, belum sampai lambung udah abis." Dengan santainya Bram menghabiskan es campurnya.


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Hari hari berlalu tibalab waktunya catur wulan, ujian yang diadakan setelah melewati empat bulan belajar bersama. Selama ujian berlangsung kita akan berada dikelas kelas berbeda, alias diacak. Selama seminggu kita akan menghadapi ujian ini. Setelah itu akan ada pertandingan antar kelas, yang diisi dengan lomba lomba kebugaran.


Seminggu yang menengangkan sudah kita lalui bersama. Senin depan kita sudah akan lomba antar kelas atau classmeeting. Banyak lomba yang akan ditandingkan. Ada Sepak takrow, Bola Voli, Lari Jauh, Lari Estafet dan Sepak Bola.


Tiap kelas akan mengajukan perwakilan untuk mengikuti paling sedikit dua perlombaan. Tapi untuk Sepak Bola diwakilkan untuk tiap tingkatan kelas. Dan dibuat dua kelompok. Tiap tingkatan kelas diambil 24 anak dan dibagi menjadi dua tim.


"Nin, kamu mau ikut lomba apa ?" Tanya Susi padaku, saat kita sedang duduk duduk diters depan kelas. Sambil menunggu bunyi bel pulang dari toa besar sekolah


"Lari Estafet aja, kalau lari jauh aku takut pingsan hahahaha." Candaku.


"Anin ini ada titipan surat untukmu dari anak kelas 3B, dibaca yaa." Ucap Liana siswa kelas 1C kawan sekelas Susi.


"Eh dari siapa ?"


"Baca aja dulu nanti kamu tau dari siapa." Jawabnya sambil berlalu


Lalu ku buka surat beramplop jingga, kubaca bersama Susi.


"Aku tau aku tak mampu untuk menyembunyikan perasaanku lagi ke kamu,


setiap aku ketemu kamu hatiku tak menentu, senang jika bersama kamu, senang jika melihatmu, bahkan lewat depan rumahmu saja hatiku sudah bahagia.


Saat ini ku beranikan diri untuk mengatakan bahwa aku cinta dan sayang sama kamu, oh ya sellamat ulang tahun ya semoga umurnya tambah barokah. Bersama surat ini saya kirimkan kado yang tak berharga yang kuminta untuk selalu kau jaga."


Rendi


Ada sebuah kalung perak dengan Bandul Love dan bermata akik merah kecil.


"Sus, emang aku ulang tahun yaa sekarang. Perasaan baru bulan depan."


Seketika Susi tertawa lepas, dan aku pun ikut tertawa dengan isi surat sok tau ini.


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Malam hari , aku melihat Kak Yunar menimang nimang Bima sambil bersholawat. Tapi sholawat ini berbeda dari yang aku dengar kemarin. Aku intip dari balik pintu yang tak tertutup rapat. Aku ingin mendekat tapi aku tak berani karena Bima masih diayun.


"Allahumma sholli 'alaa Sayyidinaa Muhammadin thibbil qulubi wa dawa ihaa wa'aafiyatil abdaani wa shifaa ihaa wa nuuril abshoori wa dhiyaa ihaa wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa sallim."


Lantunan bacaan ini terus terngiang, dan Lak Yunar masih terus melantunkan dengan pelan. Karena rasa penasaranku, aku beranikan masuk setelah Bima ditidurkan.


"Apa yang Kakak baca barusan, kenapa hatiku terasa damai ya Kak."


"Oh itu Sholawat Tibbil Qulub. Kenapa ?"


"Aku merasa ada yang aneh aja sih Kak. Sebenarnya apa sih Sholawat Tibbil Qulub itu?"


" Ini salah satu sholawat nabi yang biasa dikumandnagkan.Kamu tau Sholawat Tibbil Qulub memiliki arti obat atau penyembuh hati .


Sholawat ini juga sering disebut juga dengan nama sholawat Nurul Abshar yang berarti cahaya mata hati. Oleh karena itu, sholawat Tibbil Qulub ini mampu menjaga kesehatan tubuh dan menjadi obat dari segala penyakit." Jelasnya panjang lebar, sambil membenarkan posisi Bima.


"Selain itu, keutamaan membaca sholawat Thibbil Qulub juga untuk menentramkan hati dan menjaga kesehatan mental. Makanya bikin hati tenang. Lihat aja Bima  cepet pulas kalau denger showalat ini." Tambah Kak Yunar lagi.


"Oh gitu, ya udah Kak aku kekamar dulu ya . Ngantuk." Aku berlalu dalam kamar setelah kututup pintu, aku rebahkan tubuhku.


Didalam kamar aku merenung kembali. "Kemarin aku tersedu sedu sekarang aku merasa damai. Sebenarnya ini perasaan apa." Gumanku lirih.


•••••••••••••••••••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡


"Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yang salah dan teruslah melangkah."


Stay produktif yaa. Maaf masih belum bisa memberikan yang terbaik. Tapi akan selalu menjadi yang terbaik  yang bisa aku persembahkan 🤗🤗🤗🤗


Happy membaca. Jan lupa like dan koment. Vote nya juga 😘😘