HIDAYAH

HIDAYAH
10. Singa Betina



Tolong diobral dong novel ini, aku ihklas 😂😂


Sepi senyap suasana perkemahan, saat semuanya telah masuk dalam tenda, hanya bisik bisik halus tapi masih jelas terdengar.


Para pengurus senior berkumpul dalam tenda khusus. Mereka sedang dalam mode musyawarah.


"Gimana Tik, udah dapat ijin dari pemilik rumah." Tanya Teguh kepada Tika yang ditugasakan mencari rumah sebagai tempat membuat drama kolokan mereka.


"Udahlah, cuma pake numpang tidur ajakan . Gak pake alasan langsung dapat ijin. Satu siswa junior cewek saja, gak ada tambahan? Aku cuma ijin buat seorang aja."


"Iyalah seorang aja, entar kalau banyak banyak ribet. Nanti kamu jemput Tik, jam sebelasan. Ajak seorang buat boncengin. Jangan berdua aja. Entar dia gelundung, takut masih ngantuk ."


"Iya beres, pake motormu yaaa Guh?"


Teguh pun mengangguk


"Eh dodol, siapa targetnya ?" Tanya Tika.


"Itu anak 1A regu Melati, Ayunina. Diakan non muslim jadi g perlu mengikuti acara sholat subuh, bener gak Guh." Kata Yono


"Oh oke, sejam lagi aku lihat-lihat ketendanya."


"Senior kelas tiga yang bukan pengurus gak perlu tau. Entar ribet masalahnya " Sarkas Teguh


Semua hanya mengangguk paham. Memang ada beberapa siswa kelas tiga yang ikut acara ini. Gank 6 terutama semua ikut. bahkan Husna, dia yang bawa bekal makan paling banyak.


Tika POV


"Anin, ayo bangun, ikut kami" Ajakku kepadanya, dengan matanya yang sedikit terpejam karena masih  mengantuk, dia pun menurut saja. Lalu aku bawa dia naik motor, kubonceng dia ditengah, diapit Dini dibelakang. Kita pergi  kesebuah rumah yang sedikit agak jauh dari perkemahan. Sesampainya dirumah itu aku bawa dia masuk kamar dan menturuhnya untuk melanjutkan tidur kembali.


"Kamu tidur disini ya Nin, jangan kemana mana. Kita sedang buat drama." Ucapku sambil berlalu meninggalkannya.


Sekembalinya kami ketenda, Teguh langsung bertanya "Udah kamu amankan dia."


"Udah." Jawabku singkat dan masuk ketenda para pengurus, untuk tidur nyenyak..


"Baguslah, kita tinggal lihat reaksi kelompok regunya." Jawab Yono. Dan Teguh pun mengangguk setuju.


Baru tidur beberapa jam, aku sudah dibisingkan dengan peluit darurat. Lalu ku berjalan ketenda pengurus, dari kejahuan kulihat ada salah seorang dari kelompok Regu Melati yang sedang duduk dlaam keadaan cemas. Sepertinya dia datang untuk melapor. Hanya ada Yono  yang menjawab, kulihat semua pengurus keluar tenda. Kulihat mereka ingin tertawa, tapi aku malah merasa iba melihat tampang siswi itu.


"Sudah dari tadi anak itu." Tunjukkku pada Hasim yang baru keluar dari tenda. Hasim hanya mengangguk lalu pergi.


Dan aku mengurungkan niatku masuk tenda pengurus, aku pergi berpatroli keliling bersama yang lain.


Dua jam berlalu, aku masih melihatnya duduk dikursi yang sama dalam tenda pengurus kami yang besarnya 2 kali dari tenda tenda regu. Lalu kudatangi Iqbal.


"Bal, bilangin ma cewek itu, kalau temennya udah aman, kasian aku liatnya. Lagian sudah pada heboh loo. Semua regu pada curiga yang aneh aneh." Tanpa menjawab, Iqbal  pergi menghampirinya.


Dan kulihat Iqbal berbicara lembut padanya, dia hanya mengangguk. Lalu kulihat dia kembali ketendanya.


Drama kecil  ini  dibuat hanya untuk membangunkan para anggota. Dan untuk menyuruh mereka Shalat Tahajud secara tidak langsung. Tapi dari pengamatanku, mereka malah asik bergosip, malah ada yang kembali pulas.


Kehebohan ini hanya dianggap angin lalu, tapi banyak juga yang takut.


"Tik, besok aku aja yang jemput, kamu urus acara sholat jamaah shubuh yaa." Suara Teguh mengagetkanku, lalu kuberikan kunci motor miliknya yang masih ada disaku celanaku. Dan aku pergi bergegas meninggalkannya, karena aku masih mengantuk.


Anin POV


Kuterbangun tapi masih dalam keadaan masih mata terpejam, kulihat samar samar jam dipegelangan tanganku, masih jam empat pagi, kuraba raba mencari selimut tapi yang kudapati sebuah jarik, bukan selimut kesayanganku yang aku bawa dari rumah.


Aku terus meraba raba dan aku mulai merasakan keanehan, aku tidak berada ditenda. Lalu kubuka mataku lebar lebar, untuk melihat sekelilingku.


Kucoba bangkit untuk duduk, aku lihat disekelilingku. Aku berada dalam sebuah kamar yang rapi dan bersih, wangi lagi.


Ku coba mengingat ingat kejadian semalam. Sekelebat aku teringat, dibonceng motor bertiga dan aku berada ditengah. Dan kuingat semua sampai kata kata "Jangan kemana mana kita sedang buat drama."


Ingin aku rebahkan kembali tubuhku, tapi kuurungkan karena aku mendengar suara motor datang. "Mungkin itu yang akan menjemputku" gumanku lirih. Kurapikan rambutku yang acak acakkan, kusentuh dua ujung mataku untuk membersihan sesuatu disana.


Saat kubuka pintu kamar, aku kaget melihat sosok Teguh memakai jaket bulu angsa "G salah nih aku dijemput ma dia." Suara dalam hatiku.


"Cuci muka dulu, disana kamar mandinya." Ucapnya kepadaku sambil menujukkan arah kamar mandi.


"Ah kebetulan sekali aku juga kebelet pipis." Batinku


Aku bergegas masuk kamar mandi. Aku teringat, kalau kemarin kita antri mandi dengan air yang minim.


"Kenapa aku g mandi sekalian aja, g usah pake anduk g papa . Dari pada nanti mandi bebek diperkemahan." Muncul ide cemerlang dari otakku.


Sabun mandi tersedia. Shampo pun, ada. Tapi tidak mungkin keramas, karena tidak ada handuk untuk mengeringkan rambutku.


Akhirnya aku putuskan mandi kilat nan bersih dan wangi sabun. Kuusap usap tubuhku dari atas kebawah, agar air sisa mandi turun. Aku loncat loncat sebentar. Lalu kupakai lagi baju ku.


"Lama banget sih dalam kamar mandi, sini duduk dulu. Ini diminum teh angetnya, dibuatin sama nenek yang punya rumah ini."


"Sebenarnya kenapa saya harus tidur terpisah dari kelompokku." Tanyaku langsung tanpa basa basi.


"Buat seru seruan aja. Nanti kalo ditanya bilang aja kamu lupa semalam ngapain aja.  Sudalah, cepet abisin tehnya . Dan ayo kita pamit." Ajaknya. Lalu kami pun berpamitan dan tak lupa mengucap terima kasih lalu pergi meninggalkan sang nenek pemilik ruumah.


Saat sudah menjauh dari rumah nenek, aku berkata


"Aku turun dikelurahan aja Kak, aku g mau cari masalah dengan turun dilapangan. Nanti ada yang lapor lapor. Aku males gaduh. Dan sebenarnya kalau aku tau dimana lapangan itu. Aku juga g mau boncengan gini. Jalan kaki lebih aman sentosa." Teguh tak menjawab ocehanku, malah dia bawa tangan kirinya kebelakang punggungku, seperti merangkul. Sontak aku hempaskan tangannya. Bukannya marah karena penolakannku tapi dia malah dia terkekeh.


Aku terus berjalan cepat menuju arah lapangan yang sudah terlihat. Aku mendengar suara motor mengikuti aku dari belakang. Aku hentikan langkahku dan aku menoleh sambil berkata "Gak usah ikutin aku. Aku sudah tau harus kemana."


"Hati hati loo, disini kalo masih gelap gelap remang gini ada monyet yang berkeliaran, g takut digigit."


"Ya kamu itu monyetnya." Bentakku kepadanya, dia malah tertawa.


Sesampainya di tenda, aku langsung mengganti pakaianku dengan seragam pramuka. Kurapikan semua barang barangku. Termasuk barang barang Susi. Tak berapa lama kemudian anggota reguku masuk dan langsung memberondongku dengan berjuta pertanyaan. Sampai Susi datang, tapi aku tak  menjawab jujur  pada Susi karena banyak anak anak lain.


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Aku sudah sampai rumah jam  tiga sore tadi. Setelah membersikan barang barang bawaanku. Aku mengecek PR dan untungnya sudah selesai kukerjakan.


Lalu aku mencari bayi imut yang selalu buat aki rindu. Kuangkat dia dari tempat tidur lalu kutimang timang Bima sebentar, melepas rinduku pada bayi yang belum genap satu bulan ini. Iya namanya Bimantara Adi Baskoro. Kulitnya belum pulih masih keriput, tapi dia sungguh tampan. Perpaduan dari wajah kedua orang tuanya.


Selepas magrib aku rebahkan tubuhku, dan aku pun terlelap dalam mimpi indah. Badanku terasa remuk, aku belum pernah melakukan kegiatan seperti ini sebelumya.


●●●●●●●●●●●●●


I Hate Monday.


Slogan para pekerja dan siswa yang malas ucapara bendera. Bagaimana tidak, panas terik matahari membakar sekujur tubuh. Posisi berdiri tegak, dan agak berdempet dempetan menambah seret tenggorokan.


(Aku dulu juga sering pura pura pingsan pas upacara jaman SMP😂😂)


Setelah acara pengibaran Sang Saka Merah Putih selesai. Semua siswa bergegas mengikuti mata pelajaran. Dan dua mata pelajaran untuk jam pertama sebelum istirahat .


Saat bel berbunyi, kita semua bergegas menuju kantin. Susi sudah menungguku didepan kelas, dia benar benar tidak mau aku berkeliaran sendirian. Tujuan utama kami adalah warung bakso. Susi selalu makan tahu baso aja, katanya kalau pake pentol bakso kurang kenyang. Dan Susi selalu pake soas banyak banyak, beda dengan aku yang hanya pakai sambal saja.


Selesai makan kita masih bawa 6 tahu isi untuk dimakan dibelakang kelas. Dari kejahuan aku melihat Teguh dan Anis berdebat. Tapi kenapa mereka ada disamping kelasku.


Lalu dengan cepat Anis mendatangiku saat aku sudah hampir mendekati kelasku. Dia menarik paksa tanganku. Aku yang sudah merasa gelagat kurang enak. Langsung saja aku tolak genggaman tangannya.  Anis yang tidak menyangka aku akan melawan, seketika genggaman tangannya terlepas.


Sontak dia kaget dan berusaha mendorongku, aku yang sudah tau dengan garak geriknya otomatis aku menghindar. Dan susi yang masih berada disampingku pun ikut menghindar.


"Kamu masih belum kapok yaa, mengganggu pacarku. Enak ya boncengan pake motor. G punya motor apa kamu dirumah. Kegatelan banget jadi cewek." Banyak mata yang melihat kejadian ini. Aku malu, aku merasa seperti aku yang mengejar ngejar pacarnya.


Tanpa tendeng aleng aleng, aku langsung maju menghampirinya. Tinggi badan kita hampir sama, dia lebih tinggi sekepalan tanganku. Kusenggol bahunya sedikit, mencoba memprovikasinya. Dan benar saja dia langsung emosi dan mendorongku. Namun bisa kutahan lalu aku dorong balik bahunya dengan kedua tanganku hingga dia terjerembab kebelakang lantai paving. Lalu Tegung membantunya berdiri. Seketika itu aku langsung menunjuk nunjuk mukanya dengan telujukku.


"Bagiku hanya cewek murahan yang menyia nyiakan waktu sekolah hanya untuk berpacaran. Apalagi pasanganmu g begitu respeck dengan perhatianmu. Keliatan bangetkan siapa yang kegatelan. Aku tidak pernah mengusik milikmu, kamu aja yang ke ge'eran. Terlalu merasa kalau dia milikmu. G ada niatan aku naruh hatiku pada laki laki yang jelas jelas dalam sangkar. Yang jomblo dari lahir banyak. Yang lebih ganteng dari lahir banyak. Dan yang jelas DIA BUKAN LEVEL AKU ." Dengan tekanan penuh aku ucapkan untuk empat kata terakhir. Sakit hatiku seperti menjadi semangat buat aku luruskan masalah ini. Dan tentu saja banyak mata yang memandangku.


Anis hanya terdiam mendengar ucapanku.


" Mestinya kamu bersyukur, gara gara aku maki maki kamu , sekarang kamu disentuh dengan dibantuin berdiri sama pacarmu. Coba kalau kamu gak aku dorong gak mungkin dia mau sentuh kamu. Dia memperlakukanmu seperti itu hanya untuk menjatuhkan aku, karena aku sudah menolaknya. Semua yang dia lakukan itu agar yang melihat disini mengira kalau aku yang menggoda lakimu." Lirikku sinis.


"Benerkan, lagian kalian buat apa datang kesini kalau bukan untuk mencari gara gara. Disini bukan  lahan kalian." Tambahku.


Kulihat Teguh malu dengan apa yang aku lontarkan, dia melepas pegangan tangannya pada Anis, lalu pergi meninggalkanya.


Sedangkan Anis masih ingin membalasku. Tapi urung karena para penonton berteriak serempak "Uuuuuhhhhh" saat Teguh sudah menjauh.


"Hebat ini baru temanku, tapi nanti kalau kamu dipanggil kesiswaan gimana Nin. "


"Ya biarin aja, mereka yang datang mencariku buktinya kan mereka ada diwilayahku. Bukan aku yang berada diwilayah kelas 3." Jawabku


"Nih minum dulu kamu aus pasti, kan abis mengaum." Doni menyodorkan es teh anget kepadaku. Yah bener es teh anget karena bagian bawah belum dingin.


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••○•••••••••••


WANITA YANG BERFIKIR


AKAN MAMPU MENGUBAH


PADANG PASIR


MENJADI KEBUN YANG INDAH


 “Wanita seharusnya tidak seperti bulan yang setiap orang bisa melihatnya tanpa tertutupi apa pun, tapi wanita seharusnya menjadi seperti matahari yang membuat mata tertunduk sebelum melihatnya.” – Anonim




Author bercerita


Jaman dulu siswa siswi kebanyakan lebih dewasa dari umurnya. Beda dengan siswa siswi ditahun 2010 keatas. Jaman dulu tidak ada bucin karena rasa malu lebih mendominasi. Tapi bukan berarti 2010 keatas malu maluin yaa. Dulu banyak anak anak gadis yang jarang berdekatan dengan laki laki tapi tau tahu hamil, karena dulu jarang muda mudi pacaran terang terangam seperti sekarang. Kalau sekarang berboncengan dengan pacar bangga sekali. Kalau dulu malu malu, karena dulu itu muda mudinya lebih menjaga sopan santun, meskipun urakan.



Jadi jangan heran kalau dicerita ini anak kecil udah pandai berargumentasi. Karena saya (author) sendiri dulu juga selalu berpendapat beda. Kadang orang tuaku heran dengam mulutku. 😂😂😂😂



Happy membaca 💕💕💕💕💕



Jan lupa tinggalin jejak like ,koment dan rate.