HIDAYAH

HIDAYAH
18. Flash Back Part 2.



Bissmillah


Sabar yaa masih mengenang masa lalu. banyak episode disini.


Minta likenya dulu boleh.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Setelah mendengarkan semua wejangan dan petuah dari orang tua dan saudaraku. Aku berwudhu dan melaksanakan Sholat hajat dua rakaat. Memohon petunjuk kepadaNya, menyerahkan diri serendah rendahnya kepadaNya.


..."Ya Allah berilah aku tambahan ilmu. Luaskanlah rezekiku. Dan berkahilah harta yang Engkau berikukan padaku. Jadikan aku disenangi di hati hamba-hambu-Mu. Dan mulia di mata mereka. Jadikan aku di dunia dan akhirat termasuk orang-orang yang dekat kepada Allah...


...Ya Allah, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku."...


Kututup doaku dengan usapan air mata yang entah kenapa bisa keluar dari kelopak mataku. Mungkin seperti inilah rasanya mencintai kerena Allah.


Beberapa minggu berlalu, aku berpisah dengan Yunar. Bukan rasa rindu yang aku rasakan tapi rasa ingin segera menghalalkannya.


Dengan tekad kuat aku akan


datangi lagi rumah orang tua Yunar dan menyampaikan maksud hatiku. Lusa aku libur, pagi pagi buta aku akan berangkat kepegunungan. Berbekal dengan motor Trail pinjaman. Aku tukar motorku dengan motor teman kantor. Niatku hanya mengunjungi bukan menjemput Yunar, tapi kalaupun aku mengajaknya turun, mungkin tidak akan diijinkan.


β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’


Yunar POV.


Sambil menatap malam dengan jendela terbuka, aku merenungi semua kejadian yang selama ini menghampiriku. Bahagia baru sekejap kurasakan. Saat hati ingin melangkah lebih, sandungan batu kerikil menghadang jalanku.


"Hffft." Desahku.


Aku rindu suaramu, aku rindu senyumanmu, dan aku rindu dengan sifatmu yang dewasa tapi kekanak-kanakan itu. Aku ingin memelukmu lagi. Seperti dulu saat kita masih bersama. Entah sampai kapan rindu ini akan tertahan dan bagaimana caranya agar terlepas dari perasaan menyakitkan ini. Semoga nanti kita bisa bertemu lagi walau hanya sebentar.


Sayup sayup terdengar suara alunan lagu dari radio yang kuputar, liriknya sedikit menyentil hatiku.


Di sudut jendela


'Ku menatap hampa


Lembaran cerita


Tentang kita berdua


Kutunggu kau datang malam ini


Sampai hampir pagi


Galau rasa hati


Tak sadar kubernyanyi


Aku cinta padamu


Kau yang buat kurindu


Canda tawamu, gerak langkahmu


Membuat hati jadi biru


'Ku cinta kepadamu


Mungkinkah engkau tahu?


Bagaimana harus kubilang


'Ku cinta kamu?


Kutunggu kau datang malam ini


Sampai hampir pagi


Galau rasa hati


Tak sadar kubernyanyi


Aku cinta padamu


Kau yang buat kurindu


Canda tawamu, gerak langkahmu


Membuat hati jadi biru


'Ku cinta kepadamu


Mungkinkah engkau tahu?


Bagaimana harus kubilang


(Aku cinta padamu?)


Lagu bertajuk Disudut Jendela, sedikit menggambarkan kegalauan hatiku.


Saat pagi menyapa, aku terbangun mendengar suara Anin yang berisik dari kamar sebelah. Pagi pagi buta dia sudah terbangun. Entah apa yang terjadi, benar benar gaduh sekali. Ternyata dia jatuh dari dipan kayu tempat dia tidur.


"Udah cup, mana yang sakit, sini dipijet sebentar." Rayu Ayah, karena Anin terus merengek kesakitan.


Beberapa saat kemudian, Anin sudah rapi dengan seragam sekolahnya.Aku antar Anin kesekolah, tapi aku tak langsung pulang.


Aku jalan jalan kekomplek rumah karyawan yang paling tinggi letaknya, Kampung Baru namanya. Hanya ada ibu ibu dengan segala kesibukannya.


Tiap rumah dikomplek rumah karyawan ini, diberi sepetak lahan kecil didepan rumah, untuk bercocok tanam, dan biasanya dibuat sebagai ajang perlombaan tanaman tersubur.


Kulewati Kampung Baru lalu aku menaiki jalan sempit seperti lereng. Ini adalah jalan tembusan tapi dengan medan yang berbeda. Kami masih tinggal dikawasan perkopian. Kalau kawasan perkebunan teh naik keatas lagi sekitar 2 km. Jalan yang naik memicu andrenalin lalu saat jalan turun aku mematikan mesin dan motor tetap berjalan, untuk mengirit bahan bakar.


Rumah kami berada dikawasan tersendiri tanpa tetangga, dari pos pintu gerbang. Jalan kearah rumahku turun lalu ada anak tangga tanah. Tapi jika memakai motor harus melingkari rumah melewati bagian belakang poliklinik dan rumah dinas tempat tinggal kami.


Aku terkejut melihat ada motor trail warna hijau terparkir dekat kolam ikanΒ  yang hanya berisi air, kadang hanya seekor katakΒ  yang menjadi penghuni saat hujan. Kolam yang tak pernah awet ikannya karena selalu diajak mandi bersama Anin.


Mataku berkaca kaca saat melihat punggung laki laki yang aku rindukan. Aku melihat sekilas dari teras rumah saat aku hendak memakirkan motorku.


"Sudah dari tadi Bang." Sapaku ketika aku masuk kedalam rumah. Abang ditemani Mama diruang tamu. Mama sudah rapi dengan pakaian PKK. Waktu menunjukkan pukul delapan kurang. Dan Mama akan bergegas ke Afdeling ADM karena ada acara ibu ibu PKK.


"Mama tinggal dulu ya nak, jangan pulang dulu sebelum Ayah Yunar datang. Karena keputusan ada ditangan beliau."


"Nar, ajak sarapan kebelakang. Mama mau kekantor dulu. Adekmu jangan lupa dijemput, sekarang pulang cepat dia."


"Iya Ma. Ayo Bang, aku belum sarapan, abis piknik barusan aku."


"Hah, piknik kemana, pakainmu aja berlumpur ?"


"Dari jalan atas, nanti aku ajak kesana. Ayo." Ajakku. Sebenarnya ingin sekali akuΒ  memeluknya, melepas rindu.Tapi apa daya nyaliku ciut masih ada Mama disini.


Sesampainya dimeja makan, aku mendengar suara motor Mama melaju melewati arah dapur. Menandakan Mama telah pergi meninggalkan rumah. Aku langsung memeluk Bang Ito melepas rindu, aku terisak isak dalam dekapannya.


"Eh." Bang Ito kaget dengan perilakuku yang tak biasa.


"Mama ingin kita udahan, aku menolak Bang, aku enggak mau!"


"Sabar yaa, nanti Abang akan mintaΒ  lagi kepada Ayah. Tadi Mama tidak memberikan jawaban. Abang sudah mengutarakan maksud kedatangan Abang kemari."


Diusapnya air mata dipipiku, lalu dituntunnya aku duduk dikursi. Kami mulai sarapan kami dalam hening. Lalu kuajak Bang Ito pergi menjemput Anin kesekolah.


Ternyata Anin sudah menunggu dibangku semen dekat gapura sekolah.


"Kak ayo keair terjun belakang sekolah, cari bunga asam."


Kita berjalan dengan motorku, Anin aku apit ditengah, menuruni jalan menuju air terjun kecil. Menyusuri aliran sungai yang bening.


Jalanan yang sempit tidak menyurutkan niat kami untuk terus mendekati air terjun. Jalan setapak ini sudah biasa dilewati walau agak licin karena kelembapan sekitar.


"Sesungguhnya perjuangan terberatku itu membawamu kesisi Tuhanku Cay, apakah aku mampu membimbingmu, apakah aku layak."


"Apakah Abang akan menyerah sampai disini ?" Tanyaku.


Kulihat Anin tengah sibuk memetik buah beri hutan. Bahkan dia sudah menggenggam pucuk pakis yang dia dapat.


"Anin, jangan bawa pulang pucuk pakis itu, nanti Mama marah." Ucapku melarang.


"Ini enak dimasak Kak, aku suka."


"Terserah kamu, siap siap aja Mama ngamuk." Seperti mendapat mainan baru, Anin benar benar tak menghiraukan ucapanku. Bahkan dia sudah membuka sepatunya, meletakkannya bersama tas dan topi sekolahnya.


"Aku tidak menyerah Cay, selama kamu juga mau berjuang bersamaku, siniin tangannya." Diraihnya tangan kananku lalu, diselipkannya cincin bermata satu dijariku.


"Maukah kamu menjadi pendampingku dan mengikuti keyakinanku."


Hening hening hening, untuk beberapa saat hening.


"Iya aku mau ." Jawabku singkat.Β  Dikecupnya lembut punggung tanganku. Lalu kita berjalan menghampiri Anin yang tengah sibuk memetik pucuk pucuk pucuk.


"Ayo pulang, kita lewat jalan atas Kampung Baru." Ajaku kepada Anin.


"Lewat rumah Bu Toyo ya Kak, lewat aja." Aku mengangguk mengiyakan.


"Apa kamu mau berhenti dirumah bu Toyo, Nin?"


"Gak, aku mau dirumah aja. Bu Toyo enggak ada, lagi turun."


Aku ber O ria.


Hari sudah siang, aku lihat Ayah pulang berboncengan dengan Mama.


"Motor AyahΒ  mana ?"


"Dipake bu Toyo turun tadi pagi."


"Pantesan Anin tau kalau bu Toyo turun."


Bang Ito menyalami Ayah.


"Gimana kabarmu nak, sudah dari tadi kah ?"


"Alhamdulilah baik pak, jam delapan tadi sampai."


"Gimana, kabar keluarga dirumah." Sambil duduk Ayah bertanya.


'"Alhamdulillah juga, semua sehat"


Aku dan Mama meninggalkan dua laki laki kesayanganku, aku kedapur dan Mama mengganti pakaiannya. Aku siapkan makan siang yang tadi pagi sudah dimasak.


"Udah siap Nar, itu krupuknya masukkan toples."


Tak berapa lama semua menuju meja makan, dan mengambil tempat masing masing. Sayur sop, perkedel kentang dan sambal kecap sudah siap tersaji. Makanan sederhana yang tersaji dimeja pun menjadi santapan nikmat siang ini.


"Anin, abis makan cuci kaki terus kerjakan PR lalu tidur siang ya." Perintah Ayah dan Anin hanya mengangguk bersamaan rentetan suara renyah kerupuk.


Ayah beranjak dari ruang makan, Ayah mengajak Abang keteras samping.


Orang tuaku sudah duduk didepan. Dan aku memberesakan dapur.


Kubawakan teh dan buah potong keteras, untuk aku sajikan.


"Bukan kami tidak merestui tapi biarkan Yunar menyelesaikan dulu kuliahnya" kudengar ucapan Ayah.


"Duduk Nar, kita semua mau membahas masalah penting." Ajak Mama sambil menepuk kursi single.


"Kami menerima niat baik nak Tito, tapi kami juga belum bisa melepas Yunar untuk saat ini. Selain beda keyakinan, Yunar juga masih berstatus mahasiswi ." Alasan yang Ayah lemparkan membuatku menciut mendengarnya.Lalu Ayah dengan bijak mengatakan ini,


"Kalian jalani dulu hubungan ini, Ayah tidak melarang kalian berhubungan. Tapi Ayah mohon terutama kepada Yunar, untuk mampu menjaga diri." Aku bernafas lega.


Lampu hijau sudah kita kantongi, tapi raut wajah Mama seperti tak bersahabat. Menjelang sore Bang Tito pamit, kuantar dia sampai depan.


"Sabar ya, tidak sampai satu tahun kita pasti bisa bersama dalam sebuah pernikahan. Nanti kalau turunΒ  kabari, aku jemput dirayon bawah."


Kulambaikan tanganku, lalu aku berjalan menaiki tangga halaman, sedangkan Abang memutar jalan kebelakang. Sampai diatas kucium punggung tangannya dan dia mencium keningku.


"La tahzan, uhibbuka habibi." Ucapnya mesra.


"Mahal din kita." Kujawab dengan bahasa Filipina. Lalu kita pun tertawa bersama, kupandangi punggungnya yang semakin menjauh. Tak ada air mata dari perpisahan ini.


Rinduku terobati, lampu hijau sudah kudapatkan, walau waktu masih belum bersahabat. Tapi biarlah, bagiku ini juga bukan waktu yang lama.


"Mama tidak melarang kamu berhubungan Nar tapi..." Mama berkata ketika aku hendak masuk ruang tamu. Aku menoleh saat Mama menjeda dan kulihat Mama menghembuskan nafas dalam dalam.


"Mama tidak ihklas kamu mangganti Juru Selamat kita dengan yang lain. Mama cuma mau kamu tetap dalam genggaman Yesus Kristus."


DEG


●●●●●●●●●●●●●●●●


Manusia sejatinya tidak bisa menentukan benar dan salah, semuanya hanya tentang sudut pandang.




Dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan



Karena hati hanya rela memberi bukan menguasai , jangan penah ragu memilih dengan hati.



πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•



Minta votenya boleh.


Happy membaca



Buah Berri Hutan



![](contribute/fiction/1701578/markdown/7194417/1619449645035.jpg)



Jalanan yang mau menuju air terjun. Ini pict asli bukan hasil copas.



![](contribute/fiction/1701578/markdown/7194417/1619449645038.jpg)



![](contribute/fiction/1701578/markdown/7194417/1619449645041.jpg)