
Pagi menjelang, aku langsung bergegas mengambil handuk yang bersandar dikurai meja belajarku.
Kulihat baru jam 5.25. "Masih ada waktu buat bauntu mama bikin sarapan"
Batinku
Setelah mandi dan memakai seragam , kuhampiri mama yang tengah sibuk menyiapkan sarapan dimeja makan.
"Ma, aku apa langsung mengikuti pelajaran hari ini ya..?"
"Mama gak tau dek, kenapa emang?"
"Ya kalau langsung belajar ya aku bawa tas maa,"
"Eh dek, kamu kan udah pake seragam, ya bawa tas sekalian lah. Biasanya juga langsung ikut masuk kelas," sahut kak Yunar.
"Oh iya Nar, persyaratan adekmu udah kamu siapkan?" Tanya Mama pada kak Yunar
"Udah ma, udah siap dalam map merah. Aku taruh diatas meja tamu depan. Tapi untuk surat keterangan dari kelurahan belum, yang itu menyusul ya dek. Nanti kamu aja yang kasi kesekolah."
"Hmm, oke," jawabku sambil menyendok nasi goreng ternikmat buatan Mamaku.
Ayahpun datang dan duduk dikursi. Lalu Mama mengambilkan sarapan, ayah pun menikmati kopi pahitnya.
"Mama nggak makan ma? Mama diet?" tanyaku, karena sedari tadi Mama hanya sibuk ini itu tapi belum mengambil sarapan.
"Mama lagi radang. Mama sudah makan roti tadi," imbuh Mama sambil menyentuh lehernya.
Kami hanya ber O ria.
"Nanti kamu bareng Ayah naik motor. Besok kalau sudah aktif ayah anterin kalau pagi tapi kalau siang pulang jalan kaki ya?" ayah berucap santai
"Yunar, barang barangmu dikost sudah beres semua, kalau belum nanti kita bereskan bersama?" tanya mama.
"Sudah Ma, sudah nggak ada barang lagi. Semua sudah diberesin sama Bang Ito!" Kak Yunar menjawab dengan suara lembut .
"Ayo berangkat udah jam 7 kurang. Nar, kamu hati hati dijalan. Ingat kandunganmu. Jangan banyak duduk, bisa bengkak kakimu," titah Ayah .
Ya, kak Yunar tengah mengandung 5 bulan. Suaminya seorang Polisi berpangkat Bhayangkara Satu. Dinas diluar kota yang tak jauh dari kota kami.
Mungkin dalam waktu dekat Abang Tito sudah pindah dinas lagi dikota ini. Karena masa jabatanya disana tinggal menghitung hari.
Pas banget dengan momentnya, dimana Kak Yunar akan melahirkan dan suami berada didekatnya.
Jalanan menuju sekolah kita tempuh 10 menit saja. Sebetulnya karena susah menyebrang dijalan raya, jalannya penuh berlalu lalang kendaraan untuk beraktifitas.
"Nanti kamu kalau nyebrang, dari sekolah aja ya! Kan ada penjaga sekolahnya. Jangan nyebrang deket gang rumah. Paham?" Kata Ayah menasehati.
"YES!" jawabku padat singkat dan jelas.
Sesampainya dihalaman sekolah, Ayahku langsung memarkirkan sepeda motornya.
Lalu berjalan masuk keruang guru , dan aku mengikuti dari belakang seperti ekor kuda.
Kami dipersilahkan masuk dan langsung diantar keruang kepala sekolah setelah tahu, apa tujuan kami.
Setelah melakukan regestrasi pendaftraan, pak Noto selaku kepala sekolah memanggil wali kelas 5.
"Kamu langsung mengikuti pelajaran hari ini ya. Sebentar lagi wali kelasmu datang," aku mengangguk paham.
"Untung tadi bawa tas lengkap dengan isinya," gumanku dalam hati.
Aku berjalan beriringan dengan wali kelasku, bu Naning namanya.
Sesampai dikelas, kuikuti bu Naning masuk lalu aku berdiri ditepi meja guru.
"Perhatian semua, ini ada siswa pindahan dari sekolah negeri perkebunan X . Sekarang sudah menjadi siswi disekolah kita. Silahkan perkenalkan dirimu!" suara tegas bu Naning.
" Pagi semua perkenalkan nama Ayunina Priscanara Wignya."
"Kalian bisa panggil aku apa aja hehehe" Dengan senyum manis menampakkan gigi gingsulku.
Semua murid nampak tercenang entah karena apa.
Tanpa basi basi lagi wali kelasku menempatkanku duduk dibangku tengah tepi kedua setelah pintu masuk.
Teman sebangkuku anak yang pendiam dengan lesung pipi yang menarik dikedua sisinya.
"Aku Tamami, silahkan duduk"
"Hai aku Ayunina, makasi ya!" rasa canggung masih menyelimutiku.
Kulirik buku yang ada diatas meja miliknya
Lalu Tamami memberiku kertas bertuliskan DAFTAR MATA PELAJARAN
" Ini kamu salin, ini daftar pelajaran kita. " ucapnya datar.
Bel berbunyi menyunjukkan jam istirahat , semua berhamburan keluar sebagian besar siswa siswi menuju kantin sekolah.
Disini aku berbekal uang saku kalau dulu aku tinggal minta dikantin dan seminggu sekali Ayahku membayar dikanti sekolah.
Semua berbeda aku tidak bisa sesuka hati mengambil makanan dan minuman karena, aku harus cukup puas dengan uang saku yang aku bawa.
"Ayu, sini!" panggil salah satu temanku yang aku sendiri belum tau namanya.
"Ah iya, sebentar" jawabku
"Sini duduk sini!" katanya sambil menepuk nepuk tempat kosong disebelahnya.
"Namaku Susi, aku duduk dibelakangmu hehehe" katanya lagi sambil tertawa menunjukkan deretan giginya yang rapi.
Kulihat Susi makan 2 tahu Isi dengan sambal terbungkus daun, dan terlihat sangat pedas.
l
"Rumah kamu dimana, kalau searah kita bisa pulang bersama, apakah kamu bawa sepeda kayuh?"
Aku menggeleng ,sambil mengunyah makanan ditanganku ditemani minuman gelas instan.
"Rumahku dijalan Anggrek"
"Wah kebetulan sekali kita searah, nanti kita pulang besama ya! Tapi rumahmu lebih jauh dari rumahku," aku tak menjawab lagi ucapannya, hanya anggukan sebagai isyarat aku menyetujuinya.
Bel kelas berbunyi tanda berakhirny jam pelajaran .Dengan rapi siswa dikelasku keluar sambil membawa tasnya masing masing.
Lalu Susipun menggàndeng tanganku untuk keluar bersama.Tapi sebelumnya aku sudah say good bye dengan Tamami dan dia menjawab hanya dengan senyuman .
"Irit banget ya ngomongnya!" gerutuku dalam hati, karena sedari tadi Tamami hanya senyum mengangguk atau menggeleng, setelah memberiku Daftar Mata Pelajaran.
Sepanjang perjalanan pulang kita banyak bercerita, sampai pada akhirnya Susi terperangah.
"Oh jadi kamu warga baru yang beragama kristen itu?"
Deg. Jantungku berdebar, takut kalau Susi akan membenciku seperti mereka.
" Iy ... iya!" jawabku gugup sambil menunduk dengan perasaan bercampur aduk.
"Kenapa kamu, maaf bukan maksudku menghinamu. Apakah kamu tersinggung dengan ucapanku! " Tanyanya kembali dengan raut muka bersalah. Aku hanya mampu menggelengkan kepala
"Lalu kenapa kamu sedih? Apakah ada yang menghinamu sebelumnya?" seketika aku mendongak menantap wajah susi disampingku.
Anggukan pasrahku menjawab pertanyaannya.
"Dan kamu diam saja "
Ku angguki lagi pertanyaannya.
"Kenapa kamu diam saja saat mereka menghinamu, apakah kamu takut?"
"Bukan bukan, aku bukannya takut tapi dalam agamaku mengajarkan :
Dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat." (petrus 3:9) jawabku untuk mengakhiri rasa penasaran Susi.
"Kamu terlalu baik jadi orang , dijaman seperti ini banyak orang suka memaki tanpa mampu melihat kekurangan diri sendiri. Bahkan anak anak dibawah usia kita sudah mampu menjadi bubuk deterjen jika dia melihat sesuatu didepan matanya. Entah orang tua mereka tahu attau tidak perbuatan anak anak mereka. Menurutku mungkin sama aja karena buah jatuh tidak jauh dari pohonnya!" papar Susi.
"Stttt jangan berbicara seperti itu kita belum tau pastikan? Lagian untuk apa kita membahas mereka yang tak menyukaiku, hanya menambah kebencian dalam hati"
"Nah itu rumahku , rumahmu masih jauhkan. tidak apa apa jika kau berjalan sendiri sampai rumahmu. Atau aku antar sam..."
"Ah,,, tidak perlu kamu antar, merepotkanmu saja lagian! ini masih terang benderang apa yang aku takutkan!" jawabku memotong ucapannya
"Susi kenapa kamu mau jalan dengan anak kristen itu, kamu nggak jijik apa? " seorang anak perempuan berdiri didepan rumah susi sambil bertolak pinggang dan menajamkan matanya memandangku jijik
______________________
Tidak perlu menjelaskan siapa dirimu kepada orang lain, karena yang membencimu tak mempercayainya dan yang menyukaimu tak perlu itu.
(umar bin abi thalib)
Ini menjadi pengingat kita agar selalu bersikap rendah diri dengan apa yang kita punya. Kita tidak perlu jemawa, sombong, dan ingin diakui. Sebab, menjelaskan kepada orang lain siapa diri kita hanya akan membuat orang lain tidak peduli. Cukuplah berlaku sebaik mungkin, dan serahkan penilaian kepada orang lain.
Maafnya kalau ceritanya kurang berkenan. Silahkan koment like dan rate yaa.
Love you pembacaku