
"Jadi nilai agamamu minus, karena nilai ujian prakteknya nol," ucap Pak Noto Kepala Sekolahku.
Kaget bercampur gugup,tapi aku berusaha tenang.
"Tapi kamu jangan khawatir, sebab ini bukan sepenuhnya kesalahanmu. Kita akan bantu kamu dengan ujian tertulis untuk mengganti nilaimu,"
"Terima kasih banyak, pak " senyum kelegaan tergambar jelas diwajahku.
"Setelah ujian ini usai, kamu bisa melaksanakan ujian tertulisnya."
Dengan anggukan pasti aku, lalu aku melangkah keluar ruangan.
Dengan senyum merekah aku hampiri Susi.
"Nih aku orderin bihun goreng."
"Wih makasi ya! anda sungguh luar biasa," sahutku semangat karena lapar.
Jam terus bergulir, ujian ke 2 telah kita lewati. Sambil mengayuh sepeda , aku bercerita masalah ujian tertulisku.
Susi hanya mengangguk angguk paham. Memang bukan mata pelajaran utama tapi, sungguh menyakitkan jika nilainya harus minus.
_________●●●●
Tiga hari terlewati tanpa kendala. Siang ini kita akan merayakannnya dengan gank Enam.
Yaitu makan mie kopyok murah meriah tepi sawah. Menurutku rasanya biasa saja. Tapi ramai yang datang .
Dan banyak dari mereka adalah para pekerja Bank Cicil keliling. Dan pegawai gudang Tembakau.
Mungkin suasana sawah yang menjadi penambah rasanya.
Gelak tawa dari kami berenam menambah riuh gubuk mie kopyok ini. Apalagi Brahim sampai mampu menghabiskan dua mangkok .
Sedangakan aku cuma makan separo, sebelum kumakan , aku berikan separo mieku kepada Doni.
Doni selalu paham dengan tingkahku. Kadang dia lebih sering menjadi pelindungku , disaat ada seorang yang mengejekku.
"Ayo ah balik, kasian Husna masih mau ngasih makan ayam," ajak anjas.
♡♡♡♡♡
Sesampainya dirumah, Mama memintaku membelikan jamu ditoko arab Jalan Besar dekat sekolahanku.
Jam empat sore toko jamu baru buka. Dan aku sudah stanby didepan gerbang toko.
Setelah jamu siap, aku pun bergegas pulang. Baru berapa meter aku mengayuh sepeda. Ada suara teriakan dari arah depanku.
Tanpa aku sadari , anak laki laki yang meneriakiku meludah didepanku.
Karena jarak yang dekat , memudahkan dia meludah dan tepat mengenai pipi kiriku.
Kuusap pipiku dengan nelangsa. Anak laki laki itu tersenyum sinis sambil berkata, "Dasar orang Kristen!! "
"Hah... apa salahku ?" batinku.
"Dia sepertinya habis makan kerupuk Obar Abir," aku berguman sambil melihat ludah yang menempel ditelapak tanganku, lembek dan berwarna merah.
Kuusap telapak tanganku dengan kain rok bagian bawah.
Sambil aku mengayuh sepedaku dengan pelan , dalam perjalan aku berfikir dan membatin.
"Anak itu sepertinya mau kemasjid, kalau dilihat dari pakaiannya dan memang waktu shalat magrib sudah dekat. "
Sesampaiku dirumah, aku diam tak mengucapkan sepatah katapun. Setelah menyerahkan jamu kepada mama.
Pukul tujuh malam, kulihat Mamaku sedang memijit punggung ayah. Sepertinya ayah kecapean setelah pulang dari sawah.
Usaha baru ayah setelah pensiun, beliau beli beberapa petak sawah. Dan ditanami sesuai musimnya.
Namun ayah hanya mengawasi , karena sudah ada yang bertanggung jawab dalam pengerjaannya. Dengan sistem bagi hasil.
Kudekati mereka " Ma, aku tidur dulu yaa. Aku capek . " tanpa basi basi lalu aku berlalu , menuju kamarku.
Aku mencari pelarian , dan tidur adalah pelarian paling sempurna.
°°°°°°°°°°°°°°°°
Pagi ini aku berangkat kesekolah dengan riang. Kejadian semalam sudah berlalu ditelan gelapnya malam.
Hari ini adalah ujian agama tertulis, hanya ada dua orang didalam kelas , aku dengan wali kelasku .
Aku heran kenapa hanya satu soal.
"Bu , apa hanya ini soalnya," tanyaku memberanikan diri. Dan hanya dijawab dengan anggukan .
"Tapi saya tidak bisa menulis arab Bu,"
"Tulis pake pake bahasa latin. Kamu bisa kan..?"
"Iya bu, bisa," Memang hanya 1 pertanyaan dalam ujian tertulis ini.
1.TULISLAH BACAAN AL FATIHAH
Walau aku bukan seorang muslim. Tapi aku hapal bacaan itu, karena setiap pagi selalu melafaskan bersama didalam kelas.
Apakah ini bentuk kemudahan yang aku dapatkan. Sungguh beruntung aku, karena tak perlu banyak berfikir untuk ujian kali ini.
Kutulis surah Al fatihah dalam bentuk bahasa latin, entah itu benar atau salah. Tapi inilah yang aku dengar setiap harinya
Karena tak ada pelajaran, setelah ujian agama kami semua diijinkan pulang.
💕💕💕💕💕💕
Baru masuk rumah, aku mendengar teriakan mama dari belakang. Dengan kaget aku berlari mendekat. Tubuh ayahku sudah tergeletak diatas lantai.
Dengan susah payah kami bertiga menyeret tubuh besar bapak ke atas ranjang. Kakaku menjerit histeris waktu meraba detak urat nadi. Lalu terisak tanpa suara seperti orang syock.
Banyak tetangga berdatangan. Setelah tubuh ayah terangkat disebuah dipan. Mama pergi keluar mencari bantuan, membawa ayah ke Rumah Sakit.
Namun semua terlambat ,ayah sudah menghadap Tuhannya.
Derasnya air mata kami, ditinggal laki laki tertampan dalam rumah ini. Laki laki yang selalu kami puja. Kami hormati, kami sayangi sepenuh hati.
Mama seperti tidak menerima kepergian ayah. Mama membuka tali yang mengikat kaki ayah, agar menyatu rapat . Membuka tangan yang sudah di sendekapkan , dibagian dada.
Dengan masih berlinang air mata, kak Yunar menelepon sanak saudara dan kerabat jauh. Mengabarkan berita kehilangan ini.
Sampai menjelang sore, banyak jemaat gereja datang. Mereka melakukan sesi pembersihan mayat.
Perawatan jenazah dalam agama kristiani adalah dimulai dari dimandikan, dirias , dibajukan, didoakan, dimasukan ke dalam peti.
Lalu masuk ke acara kebaktian, sebelum dimakamkan.
Pemandian dilakukan oleh satu atau dua orang tergantung kondisi jenazah.
Proses pegawetan jenazah juga sudah siap ketika jenazah telah selesai dimandikan.
Pengawetan jenazah ini diperlukan untuk mencegah pembusukan dan penyebaran kuman dari jenazah ke lingkungan.
Dikarenakan menunggu keluarga jenazah yang tinggal di tempat berbeda-beda sehingga perlu menunggu kedatangannya.
Dan pada saat ini telah berhasil dibuat pengawetan jenazah yang tidak mengubah warna kulit, tekstur tidak keras, tidak meleleh dan tidak perih, malahan dilengkapi dengan bau wangi yang dapat dipilih jenisnya
Semua dikerjakan dirumah, pihak gereja sudah mengaturnya. Karena setiap jemaat sudah memiliki tabungan kematian yang disetorkan setian bulannya digereja.
Maka kami hanya menunggu untuk semua proses itu.
Memakaikan Pakaian Jenazah . Jika jenazah seorang gadis dipakaikan baju pengantin, jika perempuan atau laki-laki yang sudah menikah dipakaikan dress atau blazer.
Jenazah Ayah yang telah dimandikan dan dipakaikan sebuah blazer biru dongker kesayanganya, agar ia tetap terlihat tampan menghadap Tuhannya. Wajahnyapucat , dengan bibir yang tertutup sapu tangan.
Tangannya yang mengait satu sama lain di atas dadanya terlihat begitu meyayat dihatiku.
Ayahku telah siap ditengah tengah ruang tamu , matanya terpejam rapat ditutupi oleh kacamata, yang biasa dia kenakan.
Sarung tangan putih juga sudah menutupi jari jari besarnya.
Kutatap wajahnya lekat lekat. Karena sudah tidak akan ada lagi waktu dimasa depan untuk melihatnya.
Tak ada air mata yang keluar, hanya sesak didada yang kurasakan.
Kelima sohibku dengan sabar duduk diteras depan, sambil membantu jika ada pelayat yang datang.
Esok sore setelah semua kerabat datang, ayah akan dikebumikan dimakam kristen.
Empat kamar penuh terisi saudara saudaraku yang telah datang. Banyak dari mereka yang masih mengobrol. Sudah jadi keharusan untuk menunggui mayat.
Mereka bergantian tidur. Bahkan banyak tetangga duduk didepan sambil bermain domino. Untuk menghilangkan kantuk.
Inilah bentuk kebersamaan dikampung kami.
Sudah hampir dua tahun kami tinggal disini.
Dan sudah banyak pandangan para tetangga yang berubah terhadap kami. Hanya saja masih ada anak anak sebayaku yang tidak suka padaku, entah karena apa.
Pagi menjelang, matahari masih malu malu. Aku hanya tidur dua jam. Itupun berdempet dempetan dengan kelima sahabatku.
Aku pergi mandi dirumah Husna, karena dirumahku penuh orang. Dan bagian dapur sibuk menyiapkan makan untuk para tamu.
"Ma, ayo makan dulu. Biar ada tenaga ,acara kita masih lama," Rayuku .
Kusuapi dengan banyak bercerita tentang keadaan rumah, yang tengah penuh dengan saudara yang datang.
Matanya sudah menyipit menandakan banyaknya menangis.
Kak Yunar dan suami juga sibuk, menyiapkan segalanya. Bahkan kami tak sempat berbicara sejak malam tadi.
"Bang, ajak kak Yunar makan dulu. Kata bude kalian belum sarapan," ucapku pada suami kak Yunar. Dan dijawab dengan anggukan halus.
Siang hari Ambulance Jenazah sudah terparkir didepan rumah. Tapi belum masuk pekarangan.
Acara kebaktian akan digelar sebentar lagi. Sudah berjejer rapi kursi kursi untuk para jemaat.
Seperti sebuah acara hiburan, kebaktian dirumah menjadi tontonan para tetangga.
Semua orang berkerumun didepan pagar rumahku , melihat khidmatnya para jemaat benyanyi dan berdoa.
Mungkin ini sesuatu hal yang luar biasa , karena mereka belum pernah melihat bagaimana umat kristiani beribadah.
Setelah kebaktian selesai dan doa syafaat sudah diamini.
Sekarang saat yang paling menyakitkan , dimana semua keluarga terdekat berkumpul didekat peti.
Mama dan kak Yunar berada tepat dikaki ayah. Aku derdiri disamping peti tepat dibagian kanan ayah.
Pendeta membacakan doa untuk ayah dan semua keluarga yang ditinggalkan.. Dengan mengangkat kedua tangan keatas. Sebagai simbol untuk sebuah berkat.
Berkat untuk mereka yang hidup.
Penutup peti telah diangkat , lalu disatukan. Ratapan tangis menyayat hati dan raungan kesedihan terdengar jelas.
Saat peti dikunci pada setiap ujungnya, tangisan mama pecah. Lemah dan terkulai tak berdaya, itulah yang kulihat.
Sedangkan aku sudah didekap erat bude Windari. Dibaliknya badanku mendesak dadanya, untuk meluapkan kesedihanku.
Inilah terahkir kalinya aku menatap wajah tertampan milikku.
Setelah terkunci rapat , peti diangkat dan dimasukkan kedalam mobil jenazah.
Dengan beriring iringan , mobil meluncur kearea pemakaman kristen. Jarak yang jauh kita tempuh , tiga puluh menit perjalanan.
Belum banyak gundukan tanah , ini makam baru dan belum banyak penghuninya.
Lubang dengan ukuran 2.5m x 1.5m dengan kedalaman 1.5m telah siap. Berbondong bondong sanak saudara dan para jemaat mengambil peti untuk dipindahkan.
Seperti inilah tempat peristirahatan terakhir umat manusia. Siapkah kita untuk ini. Ajal akan datang menjemput.
Karena setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Sepenggal Qs Ali Imron : 185
~~ Kematian bukanlah bencana terbesar dalam hidup ini. Bencana terbesar dalam hidup adalah ketika ketakutan kita kepada Allah sudah mati saat kita masih hidup ~~
Jan lupa tinggalin jejak yaa. Koment like dan rate. Kalau punya receh juga boleh lah .
Happy membaca.
Stay produktif ya gaesss 😘😘😘😘🌬🌬🌬