HIDAYAH

HIDAYAH
28. Tebu



Hai readers


Maaf ya telat up, sibuk pindah rumah.




Build your own dreams, or someone else will hire you to build theirs" - Farrah Gray



πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•



Tanpa beranjak dari panggung Anin langsung meneruskan dengan instrumen Beethoven Fur Elis. Permainan tuts ini adalah hal pertama yang Anin kuasi dulu. Alunan cepat dan mendayu menguras emosi dalam setiap jiwa.



Hanya tiga menit Anin memainkan karya yang melegenda itu. Lalu Anin medekatkan mic yang ada dihadapannya dengan satu tangan masih bermain santai diatas tuts.



Dengan suara merdunya Anin mulai menyanyikan lagu yang baru rilis pada tahunnya.



EMILIA ~BIG BIG GIRL



I'm a big big girl


In a big big world


It's not a big big thing if you leave me


But I do do feel that


I do do will miss you much


Miss you much...



I can see the first leaf falling


It's all yellow and nice


It's so very cold outside


Like the way I'm feeling inside



I'm a big big girl


In a big big world


It's not a big big thing if you leave me


But I do do feel that


I do do will miss you much


Miss you much...



Outside it's now raining


And tears are falling from my eyes


Why did it have to happen?


Why did it all have to end?



I'm a big big girl


In a big big world


It's not a big big thing if you leave me


But I do do feel that


I do do will miss you much


Miss you much...



I have your arms around me warm like fire


But when… I open my ayes


Your gone.



Aku adalah seorang gadis besar (kuat)


Dalam dunia yang besar


Bukan masalah besar jika kau meninggalkanku


Tapi aku benar-benar merasa bahwa


Aku akan sangat merindukanmu


Sangat merindukanmu...


Aku bisa melihat daun pertama yang gugur


Warnanya kuning dan indah


Di luar sangat dingin


Seperti yang kurasakan di dalam hatiku


Saat ini di luar hujan turun


Dan air mata jatuh dari mataku


Mengapa ini harus terjadi?


Mengapa semuanya harus berakhir?


Tanganmu berada disekitarku, hangat seperti api


Tapi ketika aku membuka mata


Kau telah pergi...



Lagu sedih yang Anin lantunkan membuat semua terpana takjub.. Sajak lagu yang diaΒ  persembahkan untuk sang Ayah yang telah tiada.



Tepuk tangan riuh dari para wali murid dan juga semua guru, mengakhiri acara pentas seni tahun ini.



"Hebat Nin, bangga kita jadi temanmu," ucap Brahim saat Anin sudah berada bersama mereka.



Tiba-tiba Rendi sudah berada disamping kiri Anin. Sambil menyodorkan beberapa coklat batang berisi kacang mete.



"Buat kamu, biar mood bahagianya bertahan lama," tuturnya dengan senyum merekah saat Anin menatapnya.



"Terima aja, kita siap menampung," bisik Susi pelan ditelinga kanan Anin.



"Makasi yaa... lain kali nggak usah repot-repot. Kita permisi dulu, mau isi perut." Jawab Anin lalu bergegas pergi meninggalkan Rendi yang sedang senang.



"Gila, tiap ketemu disodori ginian. Banyak lagi, jangan sia siakan Nin. Rejeki kita ini," papar Brahim sambil terkekeh.



"Ayo mbakso, aku yang traktir. Ajak si Malik sekalian. Liat dia lagi ngelamun dipojokkan," tunjuk Doni dengan mengangkat dagunya.



Mereka bertujuh semua berkumpul di kantin bakso. Anin yang nampak cantik dengan dress dibawah lutut, terlihat banyak senyum dengan candaan yang saling bersahutan dari Brahim dan Malik.



"Suaramu merdu Nin, kapan-kapan ikut aku ngamen. Pasti panen receh aku," canda Malik tanpa malu.



"Enak aja kalau ngomong, cantik-cantik gini cocoknya diajak kondangan. Jangan mau Nin kalau diajak Malik, entar ujung-ujungnya kamu diajak melayat," sarkas Brahim.



"Lah kok bisa," celetuk Husna.



"Bisalah, bakalan banyak orang kaget kalau Anin keluar berdua sama Malik. Sangking kagetnya sampai mati,"Β  ungkap Brahim.



Dan semua terkekeh.



Malam harinya, semua anggota keluarga Anin sudah rapi dengan pakaian batik dan kebaya.


Yunar memakai songket dengan baju brokat warna senada dengan suaminya. Anin juga memakai dress warna maroon.



Mamanya juga tak kalah modisnya, meskipun usia sudah tidak muda lagi. Tapi bila mengenakan pakaian kebaya seperti


sekarang, sungguh pemandangan yang luar biasa.



Guratan keriput diwajah tak mengurangi aura kecantikannya. Wanita tua itu selalu bersyukur masih diberi umur panjang. Masih diberi waktu melihat cucunya besar. Dia selalu berdoa agar Anin, mendapatkan jodoh yang terbaik dan tentunya seiman.



Walau dalam hati kecilnya dia masih menyesali keputusan Yunar. Tapi dengan seiring waktu dia menyadari bahwa semua adalah kehendakNya.



Sesampainya di gedung serba guna, mata Anin langsung bersitatap denga Carens yang juga menatapnya. Anin mengeratkan pelukan pada lengan sang mama.



"Carens ada disana ma, diujung kanan mama. Ayo cepet masuk, mamanya Carens masih sibuk ngobrol," ajak Anin.



Mereka semua sudah meengambil kursi masing-masing. Dan benar saja kursi barisan Anin langsung penuh, lega dan senang Anin bisa jauh dari Carens.


Anin masih mengamati kursi dibelakangnya yang juga sudah mulai terisi.



Dengam berjalannya waktu, acara pun mencapai puncaknya. Sebuah penggilan bergetar dari gawai yang berada dalam tas kecil.



Dengan malas Anin mengangkat panggilan dengan nama Doni.



"Ada apa?"



"Ayah Anjas meninggal barusan, tapi masih di rumah sakit. Besok pagi dikuburkan," ucapanya dari seberang sana.



"Oke oke sebentar lagi kami pulang. Kami akan meluncur kesana." Jawab Anin sambil menutup panggilan.



Setelah acara selesai mereka pun bergegas pulang dan langsung menuju kediaman Anjas.



Sudah banyak orang disana, walau waktu sudah tengah malam. Tapi Anin kekeh mint0a diantar kesana.




Anin pun menurut dan berpamitan kepada semua sahabatnya. Dengan langkah gontai dia pun melangkah menuju mobil.



Keesokan harinya.



Pagi pagi buta Anin sudah bangun dan memakai pakaian casual. Hari ini adalah hari pengambilan raport, nanti siang dia akan mengantar mamanya ke sekolah.



Sesampainnya di rumah Anjas, Anin langsung berkumpul dengan para sahabatnya yang juga sedang menunggu jenazah datang.



"Jam berapa jenazahnya diantar?" tanya Anin pada mereka.



"Katanya udah jalan. Tadi jam lima sudah dimandikan disana. Tinggal disholati saja," jawab Doni.



"Jadi ambil raportkan?" tanya Susi



"Jadilah, kenapa?" ungkap Anin.



"Nanti minta tolong mama buat ambilin raport anjas sama Husna sekalian!"


Anin hanya mengangguk angguk saja.



Tak lama terlihat mama Anin datang sebagai pelayat dengan membawa bakas mangkuk plastik.



"Mama, sama siapa datang?" tanya Anin.



"Sama bu Toyo" jawabnya singkat.



Mama Anin masuk kedalam mencari pemilik rumah ucap belasungkawa. Dan tak lupa juga ibu Anjas meminta tolong untuk ambilkan raport.



πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•



Seminggu telah berlalu dari kejadian menyedihkan itu. Semua murid naik kelas dan Anin mendapat nilai terbaik ketiga.



Libur kenaikan kelas pun telah tiba, selama 28 hari yang aktif mereka semua belajar dirumah. Kesibukan sekolah akan dimulai dengan kelas baru bagi Anin dan kawan-kawannya.



Doni dan Brahim juga sibuk mendaftar sekolah. Brahim mendaftar di sekolah menengah atas sedangkan Doni memilih sekolah kejuruan.



Seperti pagi ini Anin heboh dengan kongo vespanya. Dia sudah janjian bertemu Susi di lapangan bola. Susi ingin belajar mengendarai vespa antiknya.



Sesampainya di lapangan ternyata bukan cuma Susi yang hadir tapi ada Doni, Brahim dan Anjas.



"Pada nungguin ya," sapa Anin sambil terkekeh.



"Ayo aku yang ajari Sus," cetus Brahim bersemangat.



"Aku percayakan nyawaku padamu," cibir Susi.



"Kursus gratis aja minta slamet, ayo cepet naik. Nggak usah belajar ngidupin mesin dulu. Belajar masukin gigi tangan aja,"Β  papar Brahim dengan semangat 45.



Susi pun belajar dengan Brahim, baru empat putaran keliling lapangan si kongo ngadat.



Mereka berdua datang dengan peluh penuh didahi. Susi menuntun kongo dan Brahim yang mendorong dari belakang.



"Bensinnya abis, tega kamu Nin nggak bilang dulu. Mana tadi matinya pas diujung sana," keluh Brahim sambil mendaratkan tubuhnya direrumputan.



Susi jangan ditanya dia langsung berlari ketoko yang menjual bensin, setelah memarkirkan motor Anin.



Matahari sudah tinggi dan mereka pun beranjak pergi ke warung nasi pecel andalan. Nasi pecel desa dengan lauk tahu tempe peyek. Harga sesuai kantong Brahim yang selalu ngajak gaduh.



Mereka berempat pun makan dengan candaan lempar tempe. Doni yang tak suka tempe lebih memilih menukarnya dengan tahu milik Anin.



Sedangkan Anin sibuk membagi separo nasinya kepada Brahim. Dan lempar tempe pun terjadi karena Anin tak mau makan dua tempe. Susi pun menolak tempe itu, dan berakhir pada tumpukan nasi Brahim.



Segelas Es teh telah tandas dihadapan Anin. Tapi mereka belum ada rasa untuk beranjak dari tempat duduk mereka. Apalagi Anin juga merasa bengah setelah menghabiskan es tehnya.



Tak lama berselang ada satu truk tebu parkir tidak jauh dari warung pecel yang mereka singgahi.



"Ayo ambil tebu itu, lama nggak ada truck parkir," ajak Brahim memberikan ide koyol.



"Kamu belum pernah kan makan gula langsung dari bahan mentahnya," timpal Susi menunjuk Anin. Dan dia pun menggeleng tanpa belum pernah tau penampakan tebu.



"Pak, minta tebunya," teriak Brahim kepada sang supir yang sedang duduk menunggu pesanannya.



Tak perlu menunggu jawaban sang supir, Brahim sudah berlari memanjat bak belakang truck yang sudah terisi penuh batang tebu.



Doni dan Anjas pun tak mau kalah, mereka menarik beberapa tebu dari belakang.



Anin hanya menonton dan Susi sebagai mandor pemilih yang hanya menunjuk nunjuk tebu mana yang dia inginkan.



Setiap orang sudah mendapat buruannya. Dan Anin pun memiliki 2 batang tebu yang siap dikuliti.



"Him, punyamu dapat yang besar nggak? Aku dapat narik tapi kecil-kecil semua," ucap Doni saat Brahim merayap pelan turun dari bak samping.



"Nggak tahu, aku main comot aja. Liat tuh disana," jawab Brahim sambil cilingukan mencari sendalnya.



"Ini makannya gimana? Nggak perlu dicuci?" teriak Anin dalam kebingunan.



Semua berkumpul ditepi gubuk gorengan pinggir jalan, menjauh dari truck tebu.



Mereka mengajarkan cara makan cepat dan tanpa alat pemotong.



"Gini caranya," ajar Brahim dengan mempraktekan bagaimana mengupas kulit tebu dengan cara menariknya dengan gigi.



"Kamu bawa pulang aja, kalau jijik liat cara Brahim makan. Tangan aja masih kena oli campur debu, abis pegang-pegang bodi truck," sindir Susi yang juga memakan tebu ala Brahim, tapi dia telah mengelap tebu dan tangannya dengan ujung roknya.



Tin tin



Suara klakson motor membuyarkan percakapan mereka. Semua kaget dan ketakutan melihat sosok yang mengganggu kesenangan mereka.



"Ngapain disini, kayak gelandangan aja makan tebu dipinggir jalan. Pulang!!" Seru Tito kepada Anin didepan mereka.



"Aku pulang dulu yaa," ucap Anin gugup.



"Bawa itu tebunya, belum pernah makankan? Kalian udah ijin sama yang punya truck," tanya Tito kepada mereka yang masih berjongkok.



"Sudah..." jawab mereka serempak.



Lalu Anin bergegas menjalankan kendaraannya dan mengekor mengikuti Tito pulang.



Sesampainya dirumah, bukannya masuk Tito malah menceramahi Anin di garasi tempat mereka memarkirkan sepedanya.



"Lain kali kalau mau apa-apa bilang sama Abang, ambil kayak gitu nggak baik karena itu bukan pemilik pak supir. Beliau cuma mengantarkan barang itu kepada pembeli. Kalau Anin mau tebu lagi nanti Abang ambilkan, dikantor ada tebu merah bisa dimakan," ucap Tito panjang lebar.



"Bisa nggak kupas tebunya, sini Γ€bang ajari," Tito mengeluarkan pisau lipatnya dari dalam tas kecilnya. Lalu mengupas bersih tebu dan mengkeratnya agar mudah dipatahkan saat akan memakannya.



Dengan hati riang Anin menghabiskan sebatang tebu yang dia bawa tadi. Tito hanya menggeleng saat melihat Anin masih digarasi padahal dia sudah selesai mandi.



πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•



Segini dulu yaa gaes.



πŸ€—πŸ€—



Bangun dan wujudkan mimpi Anda atau orang lain akan memperkerjakan Anda untuk membangun mimpi mereka" - Farrah Gray



Tip:Β Apabila Anda memiliki mimpi berusahalah untuk selalu menggapainya. Sekecil apapun mimpi tersebut, tentu akan memberikan makna tersendiri dalam kehidupan. Maka jangan pernah menyerah untuk memperjuangkan mimpi Anda.



Sadari kekuatan, talenta, dan minat dalam dirimu dan jangan tergoda untuk mengurusi kelebihan dan kekuatan orang lain. Fokuskan energi untuk menjadi yang terbaik di bidangmu. Telusuri minat dan lakukan hal-hal yang kamu sukai dengan ikhlas dan terus belajar. Bila perlu tanyakan pendapat orang-orang terdekatmu karena mungkin mereka mengetahui kekuatan yang mungkin tidak kamu sadari.