
Ini kisahku, seorang gadis kecil yang tinggal bersama orang tua angkat dan 1 kakak angkat. Kami tinggal diperkebunan BUMN dibawah kaki pegunungan A.
Ayah angkatku bekerja sebagai Mantri suntik di perkebunan teh dan kopi. Dia menghabiskan 24 jam waktunya di poliklinik yang tersedia di sana.
Akses jalan yang sulit, jarak antar rumah yang berjauhan, menjadi kendala warga sekitar untuk berobat. Hampir semua penduduk di tempat tinggalku adalah pekerja di perkebunan.
NamunΒ akses kesehatan memang hanya ada satu jadi mau tidak mau ayah angkatku bekerja 24 jam meskipun rumah dalam keadaan gelap jika datang pasien ayah pasti akan membuka rumah polikliniknya.
Orang tua kandungku sendiri mereka sudah bercerai sejak aku belum genap berusia 40 hari, miris. Ya mungkin kata kata itu yang cocok buatku.
Tapi takdir membawaku kepelukan hangat keluarga ini.
Orang tuaku sudah berkeluarga sendiri sendiri bahkan ayah kandungku sudah menikah terlebih dulu dan memiliki anak. Sebetulnya talak itu jatuh pada saat aku berusia 3minggu. Lalu ibuku pergi membawaku kerumah keluarga ini yang notabanenya masih keluarga ibu kandungku beliau adalah bibi dari ibuku.
Disini ibuku ditampung ,lalu genap usiaku 3 bulan ibuku menerima surat cerai pengadilan negeri setempat. Entah dari mana asal muasalanya tapi amplop coklat sudah diterima padahal ibuku tidak pernah ada panggilan dari pengadilan.
Dengan berat hati ibuku menerima dengan ihklas lapang dada. Tak lama kemudian ibuku pergi kenegeri seberang untuk mengais rejeki dan untuk melanjutkan hidupnya.
Dan ibu menitipkan aku pada bibinya , ibu berkata jika sudah mendapat pekerjaan, beliau akan mengirim uang untuk memenuhi segala keperluanku.
Namun, bulan berganti dan tahun tahun berlalu, kabarpun tak pernah terdengar sampai aku menginjak usia 9 tahun, ibuku datang dengan seorang anak laki laki.
Ibu angkatku mengenalkannya dan menjelaskan, bahwa beliau adalah ibu kandungku. Tapi aku tak mampu memanggilnya ibu bukan, karena aku tak mau tapi lebih tepatnya aku tidak kenal !!
Walau sebelum-sebelumnya beliau selalu menjelaskan siapa orang tua kandungku tanpa mereka tutupi.
Kisahku berlanjut, ayah angkatku pensiun dan beliau pindah dari rumah dinas kerumah pribadi yang telah beliau bangun selama menjabat. Aku mutasi sekolah, dari sekolah gunung ke sekolah kota yang panas. Memiliki teman baru dan aku mulai beradaptasi.
Lingkungan baruku,sungguh berbeda disini para tetangga berdekatan hanya berjarak 10 meter dari rumahku. Menyebrang jalan juga sudah aku dapati tetangga berderet deret. Rumahku berdekatan dengan masjid boleh dibilang setembok dengan masjid.
Bagaimana tidak mereka menatapku seakan tidak pernah melihat manusia bergama kristen. Bahkan kasak kusuk anak anak seusiaku terdengar jelas.
"Ini loo anak kristen itu"
"Anaknya aneh ya... liat kulitnya"
"Mukanya imut tapi kok pucet ya"
"Mungkin orang kristen kayak gitu semua"
"Ih.. aku gak mau deket-deket ah, najis!"
Dan masih banyak lagi pembicaraan yang semestinya tak perlu diucapkan. Apakah aku seburuk itu, dengan tatapan nanar aku melihat mereka setiap kali aku keluar rumah.
ππππππππππ
Tidak semua yang terlihat itu
sesuai dengan apa yang kita pikirkan
Selalulah berpikir positif karena
Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku
(Muttafaqun 'Alaih)
Ini cerita perdanaku semoga kalian suka. Jangan lupa tinggalin jejak ya. Like Koment Dan Rate ya