
Bissmillah.
Semoga ada hikmah dalam tulisan ini. Karena sebaik baiknya manusia adalah dia yang bermanfaat.
Happy membaca
đź’•đź’•đź’•đź’•đź’•đź’•đź’•đź’•đź’•đź’•đź’•
Menyesakkan sekali, banyak pihak yang akan kecewa padaku. Dalam diam aku berfikir untuk mencoba mencari seseorang yang mampu membawaku keluar dari kegelisahanku.
Tiga hari setelah kedatangan Bang Ito, aku turun untuk kembali kekampus. Menyerahkan judul skiripsiku. Sesuai janjinya, Abang menjemputku dirayon bawah tempat Bus perkebunan parkir.
Satu jam setengah perjalanan untuk sampai kemess rumah sakit, dan kampusku juga masih dalam lingkup sekitaan rumah sakit.
Sebagai anak karyawan kelas 1A, aku mendapat tempat tinggal dari rumah sakit pemerintah sebagai tunjangan dari dana belajar yang Ayah dapatkan.
"Apa judul skripsimu Cay? sini liat" Bang Ito menengadahkan tanganya meminta skripsiku. Aku menyerahkan map plastik beresleting, semua sudah aku print tapi untuk isi pokok penjabarannya belum, karena judul belum diserahkan.
"Pengaruh pemberian ASI exclusive terhadap status gizi bayi usia 0-6 bulan di desa Cakra kabupaten sumberjaya." Bang Ito membaca judul skripsiku
"Bagus Cay, mudah mudahan langsung disetujui yaa. Ini inti dari pokok pembahasan, nanti tak bantu menjabarkan." Bang Ito membuka lembar print yang lain.
"Emang Abang paham tentang ASI."
"Enggak, tapi Abang kepo Cay sama tempatnya ASI."
"Ihhh, nyebelin." Jawabku sambil melengos.
"Asi eksklusif adalah air susu ibu yang diberikan dari awal kelahiran bayi atau bayi usia 0 hingga 6 bulan, asi eksklusif mempunyai peran penting dan tinggi nutrisi yang dibutuhkan oleh bayi usia 0-6 bulan, pemberian asi ekslusif juga memiliki manfaat melindungi bayi dari serangan berbagai penyakit, namun tidak sedikit juga bayi yang tidak bisa mendapatkan asi eksklusif di karenakan beberapa hal diantaranya masalah penyakit sang ibu atau status sosial sang ibu pekerja yang mengaharuskan anaknya diberikan susu formula, namun ternyata banyak sekali penelitian mengatakan bahwasanya tumbuh kembang bayi asi eksklusif dengan non ekslusif sangat lah berbeda baik dari segi kecerdasan,tumbuh kembang maupun daya tahan tubuh. Yang dimana beberapa nutrisi dari asi eksklusif tidak di temukan di susu formula." Suara Abang membaca sekilas isi skripsiku.
"Wah, ini bagus Cay. Untuk kurfa beberapa persentasenya antara bayi asi eksklusif dan non d indonesia udah dapat." Tanyanya lagi.
"Belum lah Bang, ini judulnya aja belum pasti. Tapi kalau ini nanti diterima, aku nggak pusing pusing cari judul baru. Otakku blank Bang, enggak punya judul cadangan lain aku."
"Abang doain langsung lulus ketok palu, biar cepet kita menikah." Ucapnya sambil tersenyum bercanda.
"Bang, mama eee...." Aku ragu ragu melanjutkan ucapanku.
"Ada apa, jujur aja, Abang gak akan marah."
"Tolong bawa aku kepada orang yang bisa memberiku ketenangan Bang."
"Ada apa Cay, bicaralah kita musyawarahkan bersama."
Kututup mukaku dengan kedua telapak tanganku dengan tubuh bergetar aku bersimpuh dilantai teras ruang para pengunjung.
Kurasakan tangan Bang Ito mendekapku membawaku naik duduk dikursi yang aku sandari.
"Berhenti menagis aku akan bawa kamu kesebuah tempat, insyaalloh tempat ini bisa buatmu tenang, ayo." Dengan sabar Bang Ito mengusap pucuk kepalaku.
Kukemas semua map dan alat tulisku, lalu kumasukkan dalam kamarku. Kuambil tas selempang Eiger kecilku.
Setelah kita keluar mess, Bang Ito mengajakku makan karena jam maka siang juga tidak lama lagi, aku tak bertanya akan dibawa kemana kali ini.
"Cay, kapan judul skripsinya kamu serahkan ?"
"Hari rabu lusa Bang, sore, kenapa ?"
"G papa, nanti Chayang nginep aja disana. Entar malam Abang bawakan baju ganti yaa. Sekarang abiskan makannya."
Perjalanan yang kami tempuh tidak jauh. Masih dipinggir kota, tapi jalan utama ini untuk lalu lintas mobil mobil besar.
Sampailah kami disebuah tempat, saat digapura tadi aku sempat membaca.
Pondok Pesantren Putra dan Putri Wali Songo
Kami memasuki sebuah rumah kecil setelah kami melewati aula besar, yang kata Bang Ito aula itu adalah tempat berkunjung para wali santri yang mondok disini.
Rumah yang sejuk, walau ditengah panas yang terik ini tapi suasana disekitar rumah ini berbeda. Mungkin karena banyaknya pohon pohon yang melindungi seluruh bagian rumah.
"Assalammualaikum."
Ucap Bang Ito sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumussalam." Ada jawaban dari dalam setelah Abang mengetuk pintu dua kali.
Seorang wanita paruh baya berusia diatas Mamaku kira kira, mempersilahkan kami masuk dan duduk lesehan diruang tamu.
Ruang dengan model lesehan berkarpet tebal tapi tidak kaku.
"Rumah ini model rumah diarab Cay." Bang Ito berkata saat melihatku kagum dengan desain ruang tamu yang baru aku masuki. Pemilik rumah masih didalam. Ternyata yang tadi membukakan pintu adalah putri dari pemilik rumah ini.
"Assaalammualaikum, nak Tito. Lama tidak berkunjung." Sapa seorang wanita yang aku tebak usianya sudah 50 bahkan lebih.
"Apa ini calon yang kamu ceritakan kemarin, cantik." Bang Ito hanya mengangguk dan tersenyum sedangkan aku menundukkan kepala karena malu mendengar kata kata beliau.
"Ummi, saya titip Yunar disini barang dua hari saja, banyak kegelisahan yang menerpa hatinya. Sebenarnya saya bisa saja membawa kerumah. Tapi rasanya tidak adil, saya mau Anin bisa menentukan pilihannya bukan karena dekat dengan keluarga saya. Tapi karena hatinya yang memilih."
Aku benar benar tidak mengerti, mengapa aku dibawa kesini.
"Ummi paham, biarkan dia tenang disini. Yunar biar tidur sama mbak mbak dibelakang. Nanti setelah sholat isya kita ngobrol ngobrol dikit, yaa.." Ajak beliau yang belum aku tahu namanya.
"Kalau begitu saya pamit umm, nanti malam insyaalloh saya datang kemari antar baju untuk Yunar."
"Bang ini kunci messnya." Aku menyerahkan kunci dan Bang Ito pun menerimanya.
Aku dibiarkan sendiri diruang tamu, sedangkan Ummi mengantar Bang Ito kedepan, sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu.
"Ayo Ummi antar kekamar mbak mbak, biar kamu bisa istirahat." Ditepuknya pundakku dan aku merasakan beliau mengelus lengan tanganku. Ada gelayaran aneh yang aku rasakan. Mataku sudah berkaca kaca saat aku menoleh menatap wajahnya.
"Ada apa kok nangis, hem." Ucapnya lembut mendamaikan.
Aku hanya menggeleng kemudian terisak kembali. Beliau membawaku diruangan yang sepertinya bukan ruang istirahat tapi semacam ruang baca atau mushola. Tapi tak aku dapati tempat imam. Dipenuhi rak buku mengelilingi tembok. Dan ada sajadah ukuran sedang yang tebal dan meja kecil.
Beliau mendudukkanku disajadah itu. Sedangkan beliau sendiri duduk dikursi rendah.
"Maaf yaa Nar, Ummi g bisa lama2 duduk dibawah. Nanti susah pas bangunnya. Sekarang kalau kamu mau nangis, menangislah. Ruang ini tempat Ummi mencurahkan isi hati Ummi dimalam hari kepada sang khalik.
Aku hanya menunduk seketika aku speechless, dengan keadaan.
"Perjalanan spiritual itu sebetulnya urusan sangat pribadi. Jadi, mungkin memang harus sepi rasanya."
Setelah hening beberapa saat, Ummi mengucapkan kata kata yang membuatku mendongakkan wajahku, kulihat beliau tersenyum.
"Ummi belum sholat dzuhur. Yunar tunggu sini yaa, Ummi mau ambil wudhu dulu." Lalu beliau keluar dan tak berapa lama beliau kembali dan melaksanakan kewajibannya. Dan aku hanya sebagai penonton.
"Ummi maaf kalau kedatangan saya disini mengganggu waktu luang Ummi." Kuberanika diri, Ummi melipat mukenanya dan kemudia menggatungkannya ditempat semula.
"Nak Tito sudah menceritakan semuanya pada Ummi, dan minta pendapat Ummi. Semua keputusan ada ditangan Yunar. Sebenarnya apa yang buatmu begitu gelisah ?"
Kuhirup udara kuat kuat lalu kuhembuskan, kemudian aku mulai bercerita. " Mama tidak mengihklaskan saya jika saya berpindah keyakinan, disisi lain pernikahan yang Bang Ito inginkan adalah pernikahan satu keyakinan."
Aku kembali terisak.
"Apakah saya salah Ummi mencintai makhluk Tuhan yang berbeda keyakinan. Saya saya... juga harus berbakti kepada kedua orang tua. Saya tidak mencintai Bang Ito tapi saya merasakan kemantapan hati bersanding dengannya."
Ummi tidak menjawab, beliau hanya mengelus elus kepalaku. Sampai aku tenang dan berhenti menangis.
Hingga sore menjelang, aku sudah berada didapur membantu mbak mbak pondok menyiapkan sajian makan malam untuk Ndalem, sebutan ini untuk rumah atau saya. Tapi dalam peran ini cenderung lebih merujuk kepada keluarga kiai.
Saat waktu menunjukkan hampir pukul tujuh, aku mendengar suara mobil masuk. Dan saat kulihat ternyata Bang Ito yang datang tapi tidak menemuiku. Ada sebuah tas kecil yang dititipkannya pada mbak Ndalem.
Saat kubuka tas dari Bang Ito aku terperanjat, isinya bukan bajuku. Didalamnya ada baju baju gamis entah baru atau sudah terpakai
Tapi yang jelas sudah dicuci karena bau dari pewangi pakain masih tercium jelas.
Kupakai salah satu dari tiga baju yang dibawa Bang ito. Kupadukan dengan kerudung segi empat. Aku bingung memakainya, lalu ada mbak yang membantu dan memberiku peniti sebagai pengait.
Aku yang tak pernah memakai pakain tertutup seperti ini, merasa canggung sekali. Saat kulihat bayanganku dicermin, aku seperti tak mengenali wajahku sendiri.
Aku biasa memakai pakaian tertutup casual, celana jeans dan hem lengan panjang. Dengan rambut tergerai. Namun sekarang semua tertutup, sampai tak ada sehelai rambutku pun yang nampak.
Aku mengikuti segala macam kegiatan dipondok malam ini. Aku duduk dimushola besar bersama dengan 200 santriwati yang lain. Mendengarkan ceramah ustad muda lulusan Yaman.
Pukul sembilan malam, acara berahkir. Para santriwati masuk dalam pondok kamar masing masing. Tapi ada sebagian yang tidur dimushola dengan beralaskan tikar. Bantal dan selimut juga mereka bawa.
Lalu ada seseorang yang menepuk bahuku
"Ditunggu ibu Nyai sepuh di Ndalem. Mari saya antar." Kuikuti langkahnya masuk keruangan tempat dimana tadi aku menangis.
Ternyata aku sudah ditunggu oleh beliau. dengan tersenyum beliau menyapaku.
"Duduk sini dekat Ummi."
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Kesendirian memberikan kamu ruang untuk bebas menentukan tujuan berdasarkan apa yang kamu inginkan.
Namun, ada orang yang melalui kesendiriannya dengan kesedihan sehingga sulit untuk berkembang dan bangkit dari masalah yang mungkin sedang dihadapi. Padahal, kesendirian juga bisa berarti kamu bebas untuk bangkit.
“Apa yang kita pikirkan menentukan apa yang akan terjadi pada kita. Jadi jika kita ingin mengubah hidup kita, kita perlu sedikit mengubah pikiran kita.” - Wayne Dyer.
Jan lupa likenya yaaa..