HIDAYAH

HIDAYAH
22. Flash Back Part 6



Bissmillah.


Maaf ya kalau tidak bisa crazy up. Menulis cerita ini tidak semudah menulis cerita lainnya. Terima kasih buat para nara sumber cerita. Dan para author senior yang selalu mendukungku, dan mengkritik tulisanku.


Juskelapa


Gallon


Chida


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕


"Menangisi suatu kesalahan dapat menggugurkan banyak kesalahan (dosa) sebagaimana angin dapat menggugurkan dedaunan yang kering."


"Namun dikesempatan kali ini kita menangis bukan karena dosa, melainkan karena sebuah kebesaran Allah. Yaitu seonggok hati yang telah Allah persiapkan untuk memuliakan islam."


Sepenggal tauziyah dari Kyai Sepuh, yang begitu menusuk kedalam relung hati.


Dan acara pun diakhiri dengan Alhamdulillah. Lalu kita semua berpamitan, aku dan Bang Ito langsung pergi menuju kantor sidang pra nikah dikantor yang sudah terdaftar.


Ada tiga pasangan muda yang juga akan menikah. Dan kami semua disidang bersama sama.


Sidang pun sampai sore, rasa lelah menjalar. Rasa berdebar debar saat sidang pun masih belum hilang. Sebuah pertanyaan yang mudah tapi sulit menjabarkan jawabannya. Sungguh membuat penat pikiran dan hati.


Tapi semua sudah kami lalui, sekarang kami pun berjalan menuju rumah. Tapi sebelumnya Abang Ito sudah mengajakku shalat Ashar untuk pertama kalinya disebuah masjid, pinggir jala yang kita lewati.


"Nanti kalau Anin belum tidur, sholat magribnya sama Mama aja ya! Abang nanti bawa Anin keluar sebentar !" ucap Abang dan aku hanya tersenyum.


Sesampainya dirumah Abang, aku melihat Anin sedang bermain dengan dengan para keponakan Mama Ajeng. Mereka berenam sedang bermain Patok Lele.


"Nin, ayo pasang. Awas kalah lagi," kulihat Bayu keponakan Mama Ajeng berseru.


Semua tertawa riang, terutama Anin yang jarang bermain dengan sebayanya jika di perkebunan. Minimnya penduduk dan jarak yang berjauhan, membuat Anin susah bermain bersama kecuali bertemu di sekolah.


¤¤¤¤¤¤¤¤¤


Saat malam tiba, kami semua berkumpul di ruang keluarga bersama dengan cemilan kacang rebus dan pisang goreng. Anin sudah terlelap karena penatnya, sedangkan Abang Ito bersiap siap untuk berangkat dinas malam. Malam ini aku dan Anin tidur di kamar Abang, dan Anin kulihat sudah menguasai kasur single itu.


"Ayo sholat isya, kamarnya ditutup aja! Anin sudah lelapkan?" tanya Papa, dan aku hanya mengangguk.


Ini adalah sholat pertamaku bersama calon keluarga suamiku. Jika tadi adalah sholat pertamaku bersama calon presiden rumahku


Hari ini adalah hari dimana semua menjadi shalat pertamaku.


"Yunar, nggak perlu baca apa apa niat aja pake bahasa indonesia dalam hati. Aku berniat sholat isya empat rakaat berjamaah karena Allah. Cukup itu aja. Belajar pelan pelan yaa. Besok kita bisa sholat subuh juga berjamaah," tutur Papa lembut.


Saat sholat berlangsung, tak terasa air mataku terus menetes sampai akhir shalat yaitu salam. Entah ada pemicu apa yang membuat hati ini bergetar hebat.


Semua tersenyum melihatku, apalagi Bang Ito. Dia mengusap air mataku yang semakin deres.


"Ini namanya Iman Cay, tadi nangisnya nggak sehebat ini. Semua kejadian ini hanya kamu yang bisa merasakannya. Dan semua ini langsung dari Allah ,"  ungkap Bang Ito bahagia.


Tiba-tiba Mama Ajeng memelukku, aku rasakan tubuhnya bergetar hebat. Aku yang merasakannya pun ikut menangis.


"Bersabarlah nak, kami akan membimbingmu bersama-sama menuju kepadaNya. Dua minggu lagi kamu menjadi anak kami dalam keluarga ini," isak Mama Ajeng.


☆☆☆☆☆☆☆☆


Setelah acara fiting baju bersama Mama Ajeng, kami pergi mengambil cincin pernikahan. Cincin polos dengan ukiran nama kami didalamnya.


"Yunar, dalam agama islam laki-laki dilarang memakai emas, cincin ini hanya sebagai lambang saja sesuai permintaanmu. Nanti cincin Tito kamu simpan saja atau kamu pake keduanya. Mama belikan kamu kalung ya? Nanti kamu bisa buat cincin itu sebagai mainan kalung saja !"


"Nggak usah Ma, pake kalung ini saja!" sergahku cepat


"Sudahlah! anggap ini kado dari Mama, jangan menolak. Kamu suka yang model mana? Pilih aja? Ato Mama yang pilih?"


Aku pasrah, ditolak pun Mama Ajeng pasti tambah memaksa.


"Coba yang ini, pas tidak dilehermu?"


"Ma, ini mahal. Kalung emas biasa aja yang UBS,"


"Sudahlah jangan membantah, biar sama dengan Shanti!"


Setelah memilih ukuran kalung yang pas, dan Mama pun menyelesaikan pembayarannya.


"Ini kalungnya Yunar bawa, cincinnya mama yang bawa!"


Sesampainya dirumah ternyata Bang Ito telah rapi. Padahal aku mengira dia masih tidur, karena baru sampai rumah jam enam tadi pagi.


"Udah selesai semua, balik sekarang apa besok?"


"Sekarang aja ya! Kan cuma pamit 2 hari,"


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤


Dua minggu sudah berlalu,  acara pingitan pun tak terelak'an. Tidak ada komunikasi seperti biasa. Aku sibuk dengan urusan souvernir, aku memilih gantungan kunci kayu bergambar cat spet kompresor sebagai kenang-kenangan pernikahan kami.


Sedangkan Mama sudah sibuk dengan urusan kue-kue yang mana kue juga melimpah ruah. Selain sebagai hidangan dimeja tamu. Kue kue ini juga dibungkus untuk dibawakan pulang kepada pengunjung. Tapi beda untuk tamu yang notabanenya adalah atasan atau petinggi, selain kue juga ada sekotak nasi.


Tapi tamu-tamu seperti itu datangnya dijam yang sudah ditentukan. Dan untuk tamu-tamu dari keluarga mempelai lelaki hanya sampai acara ijabnya saja.


Dengan memakai kebaya putih dengan payet penuh dengan tmrambut tersanggul rapi, sudah siap. Kulihat diriku dari pantulan cermin, aku merasa ada yang kurang. Aku tidak menutup kepalaku.


Sebenarnya keluarga Abang ingin aku menggunakan hijab, tapi keadaan tidak mendukung. Jadi kami memilih baju kebaya dengan bagian atas yang hampir tertutup.


Dan tak kurang akal, dengan pura-pura masa bodoh Abang Ito mengalungkan selendang panjang yang tadi kami pakai sebagai penutup kepala bersama diacara ijab.


Acara pun terus berjalan sampai malam tiba, semua tamu dari segala pelosok datang. Beginilah hidup didesa, apalagi dipegunungan. Walau jauh mereka semua berbondong bondong datang, dalam acara bahagia ini.


Saat ini kaami berdua sudah berada dalam kamar, aku membersihkan sisa make up. Dan Abang Ito melepas pakaiannya, berganti dengan celana traning dan kaos oblong. Lalu keluar sambil membawa handuk.


Kamar mandi berada dibelakang dekat dengan dapur. Ini rumah dinas jadi tidak ada kamar tidur yang berkamar mandi.


Abang Ito seminggu berada dirumahku. Setelahnya kita turun kekota bersama sama. dengan keluarga besar dan para tetangga dekat. Dirumah Papa juga akan digelar acara resepsi, walau Abang anak laki laki, Mama Ajeng tidak  mau kehilangan moment ini.


°°°°°°°°°°°~~~~°°°°°°°°


Dua hari lagi kita semua akan turun. Dan aku akan diserahkan kepada pihak laki laki. Karena dari awal Abang akan membawaku bersama kemana pun Abang bertugas.


Malam ini aku bersiap-siap sholat isya,  selama kita menikah Abang selalu mangajak ku berjamaah. Walau sembunyi sembunyi, ada rasa was was saat akan menjalani sholat. Tapi berubah rasa lega dan damai setelah menjalaninya.


Selapas mengambil wudhu, aku masuk kamar dengan mengunakan sandal dari kamar mandi. Kulihat Mama dan Ayah diruang tengah, sedang menonton tivi.


"Ma, Pa! Yunar sama Abang istirahat dulu ya," ucapku, lalu aku pergi meninggalkan mereka.


Kami pun siap sholat berjamaah.


Brakkk


Pintu terbuka, Mama berdiri disana bersama Ayah, dengan tatapan tidak percaya. Mereka melihatku memakai mukena terusan.


"Jadi selama ini kamu sudah melangkahi ucapan kita sebagai orang tuamu Nar. Apakah ini yang kami ajarkan padamu?"


"Maaf Ma, ini semua salah saya. Saya yang memaksa Yunar. Say..." jawab Abang yang langsung dipotong oleh Mama


"Biarkan Yunar yang menjawab, bagaimana pun saya tidak akan menyalahkan orang lain sebelum saya tau jawaban dari anak saya sendiri," sarkas Mama. Dan Abang seperti tertusuk karena ucapan Mama yang menganggap Abang sebagai orang lain, begitu terlihat jelas diwajahnya.


"Ma, maaf Yunar salah. Ini semua keinginan Yunar dan Abang cuma memenuhi semua. Yun..."


"Berikan Mama alasan yang masuk akal, kenapa kamu membelot dari Sang Juru Selamatmu!!" tuntut Mama.


"Ma, Yunar lebih merasakan tenang saat berada dalam lingkungan pondok. Tapi Yunar selalu resah jika pergi kegereja. Yunar tidak nyaman disana, Yunar juga bingung dengan Pengakuan Iman Rasuli yang selalu kita ikrarkan. Tuhan itu satu tapi kenapa Tuhan yang kita elu elukan mati lalu duduk disebelah kanan Allah Bapa. Bahkan Yunar mencari jawaban kepada para pendeta. Jawaban mereka semua menggantung Ma! Maafkan Yun.." aku bersimpuh, tapi tak bisa meneruskan ucapanku.


"Bawa istrimu keluar dari rumah ini sekarang, dia adalah hak dan kewajibanmu. Kami tidak minta balas budi dari semua yang sudah kami berikan. Semua memang sudah tanggung jawab kami sebagai orang tua. Tapi dengan melangkahi kami seperti ini, itu sudah menunjukkan bagaimana dia menunjukkan sikapnya,"  tegas Mama.


Aku masih bersimpuh dilantai, memohon maaf tapi Mama benar-benar  marah.


"Pergilah nak, Ayah akan menenangkan Mamamu disini. Ayah tidak menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini. Ayah tau pilihanmu juga karena ada cinta dalam hatimu."


"Ini bawa semua hasil belajarmu, kamu lebih memilih orang lain  dari pada kami orang tuamu. Kamu bahkan sudah mendatangi pondok, selama kamu masih menjadi tanggung jawabku," ucap Mama dengan menyodorkan map hijau berisi semua ijazah sekolahku.


"Ma , maafkan Yunar. Yunar salah Ma," ucapku terisak.


"Pergilah, maaf pun tidak akan mengembalikan semua seperti semula," seloroh Mama sambil berlalu meninggalkan kami.


Malam iti juga kami pun meninggalkan rumah. Dengan derai air mata kami masuk kedalam mobil yang sengaja ditinggal oleh Papa untuk acara serah manten, tapi semua berubah menjadi acara boyongan.


Meski tak banyak yang kami bawa, tapi kepergian ini pasti akan lama. Dan perlu perjuangan ekstra lagi merayu Mama.


●●●●●●●□□●●●●●●


Orang yg terkuat bukanlah orang yg selalu menang dalam segala hal, Tetapi mereka yang tetap tegar ketika yang lain jatuh.


ketika kita istiqamah...


bukan berarti kita nggak boleh lelah..


istiqamah mengajarkan bahwa kita nggak boleh menyerah...


☆☆☆☆☆☆☆☆☆


...“Dan tidak ada bekal yang layak bagi umat dalam meniti jalan yang keras dan mengerikan ini kecuali jiwa yang beriman, tekad kuat nan jujur, kegemaran berkorban dan berani menanggung resiko. Dan tanpa ini semua gerakanmu akan dikalahkan dan kegagalan menjadi sahabat dalam dirimu yang sedang berhijrah”...


(Risalah Hal Nahnu Qoumun Amaliyun)