
"Susi kenapa kamu mau jalan dengan anak kristen itu kamu gak jijik apa? " seorang anak perempuan berdiri didepan rumah susi, sambil bertolak pinggang dan menajamkan matanya memandangku jijik
Dengan santainya aku terus lurus berjalan mengabaikan terikan tak berguna.
Sambutan manis dari mama sepulang dari sekolah.
"Cepet ganti baju, cuci kaki dan makan"
Dengan langkah gontai karena penat dan terik matahari yang menyengat, membuatku mampu menghabiskan 1gelas air dalam beberapa kali teguk, lalu berlalu menuju kamar untuk beristirahat.
Kuabaikan perintah makan dari mama. Kurebahkan tubuh lelahku. Dalam hitungan detik aku sudah terlelap.
Sore hari aku mendengar suara orang mengetuk pintu , kulihat dari balik pintu kamarku yang tak sepenuhnya tertutup. Ternyata perangkat desa yang datang untuk mendata ulang , karena ayah akan membuat KK baru.
Malam hari diteras depan kita berempat berkumpul.
Mama dan ayah bertanya padaku tentang hari pertamaku disekolah.
"Biasa aja ma, mereka semua ramah ramah, sama seperti anak anak disekitar kita"
Aku tak menceritakan hal yang menimpaku.
Tak mau membuat mereka khawatir.
Hari hari berlalu seminggu sudah aku bersekolah. Dan hari ini adalah hari libur sekolah.
"Ma... Aku mau main sama Susi ya? keliling kampung"
"Jalan kaki nak?"
"Pake sepeda kayuh ma! boleh ya ma?"
"Memangnya kamu bisa?"
"Susi yang kayuh"
"Ya sudah hati hati dijalan, tengah hari sudah harus dirumah, sore kita pergi Kebaktian di Gereja," kujawab dengan anggukan lalu bergegas kekamar mandi membersihkan diri.
"Kita mau kemana Sus?" tanyaku sambil duduk ala ala cewek manis. Berboncengan seperti dengan pacar, pegang perut dan menyilangkan kaki sambil tertawa tawa bersama
Sampailah kita ditanah lapang yang luas, ya ini adalah Lapangan Sepak Bola kampung kami.
Banyak anak kecil bermain dipagi ini, ditemani matahari yang masih malu malu menyinari bumi.
Bau embun masih terasa dengan masih basahnya rumput yang kami pijak.
"Ayo sini aku ajari kamu mengayuh sepeda, masak usia udah banyak ora iso mancal pit!" candanya.
Ya aku memang tidak bisa mengayuh sepeda, karena waktu dipegunungan tidak ada satu orangpun yang memiliki sepeda kayuh. Kondisi jalan berbatu , menanjak kemudian turunan membuat sepeda kayuh tak laku.
Bagaimana tidak, jika lebih aman adalah berjalan kaki, mungkin jika bawa sepeda kayuh pas jalan naik tajam lalu turunan. Sepeda itu tidak akan berfungsi sebagai mana mestinya karena yang terjadi pasti kita akan menuntunnya.
Tapi jangan salah dengan badanku yang kecil ini aku sudah bisa menaiki sepeda motor. Karena diperkebunan hampir semua orang punya motor-motor yang dimodifikasi terutama dibagian ban motor. Yang rata-rata semua dibuat besar dengan gigi karet kotak kotak, agar mudah melewati jalanan yang becek.
"Ayo naik, malah melamun"
"Kamu pegangin ya! jangan dilepas kalau aku belum siap."
"Iya iya ah.. cerewet sekali, cepatlah!"
Susi tak sabar.
Beberapa saat berlalu dengan khidmat.
"Kurang kerjaan banget sih kamu Sus, mau maunya ngajari anak itu ."
Sahut anak perempuan dengan wajah sinis berrambut pendek berkacamata gaya bentuk oval besar.
Gayanya udah seperti dipantai.
Aku yang sudah bisa mengayuh sepeda tak begitu memperhatikan mereka. Lalu aku datang mendekati keenam anak yang sedang bergerombol bersama Susi.
"Gimana mudahkan, nanti pulang kerumah kamu minta deh , pit sama mamamu yaa ?" selorohnya.
Aku mengangguk dengan senyum lebar bersama dengan peluh yang mengucur deras.
"Ayo ah langsung pulang. Nanti keburu siang, aku tadi cuma sarapan dikit"
"Eh... ehh sebentar"
Tanpa mengubris susi langsung mendorong boncengan belakang menjauhi teman temannya.
"Sus, aku ingin berkenalan dengan mereka . Kenapa kamu langsung mengajakku pergi." Gerutuku
"Memangnya mereka mau berkenalan denganmu." Jawabnya ketus.
Susi membawaku berjalan kesungai. Disungai ada lebih banyak anak anak bermain mencari kepiting sungai.
"Nah kali ini aku ijinin kamu berkenalan dengan mereka"
"Lah katanya pulang Sus , bukannya kamu udah lapar ya.. "
"Aku cuma menghindari mereka , agar kamu tidak diejek , seperti waktu waktu lalu "
Susi betul betul menjaga perasaanku. Padahal aku ingin menyapa mereka saja.
"Hai semua" Sapaku riang pada beberapa anak laki laki yang sedang membawa ayaman bambu, yang entah apa namanya. Berbentuk seperti labu putih yang biasanya buat sayur bening.
"Kenalke cah, iki kancaku. Warga negara baru kampung kene" sambung Susi memperkenalkanku.
"Doni!" jawab anak yang membawa anyaman bambu paling besar.
"Bram," uluran tangan lelaki kedua.
"Hallah gayamu, Bram Bram. Aslinya dia bernama Brahim," celetus anjas laki laki ketiga.
Diiringi gelak tawa semua anak anak, karena kenarsisan si Brahim.
"Nah kalau anak perempuan itu namanya Husna, tunggu aja dia pasti nyamperin kesini." Susi melambaikan tangannya memberi isyarat pada Husna dari kejahuan.
"Lagi ngapain dia disana Sus? " tanyaku penasaran.
"BOKER" serentak mereka menjawab bersamaan dengan gelak tawa yang luar biasa riuh.
"Boker apaan sih?" sambil kupicingkan mataku.
Seketika mereka terjungkal mendengar umpan balik pertanyaaanku.
Merasa tak dapat jawaban aku hanya tersenyum melihat ulah mereka, yang menertawakan aku.
"Ada apa sih kok kalian heboh ketawanya " sahut Husna mendatangi mereka.
"Haii ... Husnaa. Aku Ayunina " uluran tanganku bersambut
"Hai jugaa, kalau boleh tau , nama panjangmu siapa? " Husna balik bertanya padaku
Dengan polosku aku menjawab " Ayunina Priscanara Wignya , kamu bisa panggil aku apa aja, sesukamu ."
"HAH!!" Aku melongo.
"Udah kayak bang Huang aja, kasih nama dan panggilan yang beda jauh. Udah gesrek kayak si teteh Imut Gallon Wijaya Fernandes . Hihihihi" batinku menyuarakan isi hati terdalam.
••••••••••
Setahun lebih berlalu setelah perkenalan hebohku di tepi sungai, kami berenam selalu bersama setiap hari libur ataupun ketemu nongkrong dirumahku.
Karena mama tak mengijinkanku keluar tapi memberi kebebasan buat teman temanku bermain kerumahku.
Susi dan aku satu tingkat sekolah. Tapi mereka berempat berada diatas kami satu tingkat. Jadi kalau disekolah mereka adalah kakak kelas kami.
"Kalian nanti mau mendaftar disekolah menengah mana? " tanya Brahim.
"Paling juga disekolah yang sama dengan kalian , iyakan Nin? "
"Iyalah, sekolah negeri terdekat kan itu aja! kalau untuk alternatif kedua aku akan mendaftar disekolah swata PGRI aja "
"Yah... itu jauh Nin, kalau aku g masuk di negeri, aku daftar di Mts tepi sungai aja. Kamu daftar disitu juga dong Nin?" wajah memelas sebagai andalan.
"PLETAK"
"Aoooow.. sakit dodol," Susi mengaduh sambil mengelus keningnya yang mulai memerah.
"Kamu mau buat Anin sekarat sekolah di Mts," herdikkan Doni.
"O.. iya lupa hahaha" Susi tertawa lebar.
Untung malam hari g ada lalat, pikirku melihat kelakuan Susi.
" PLUK "
Brahim melempar cabe rawit , bekas gigitannya kemulut Susi. Dan hebatnya seperti lemparan bola pada keranjang basket.
''UHUK UHUK"
Suara Susi terbatuk batuk , dan mengeluarkan cabe dari mulutnya. Seketika hujan bara api mengguyur teras rumahku. Dengan perpaduan yang apik , munculah gelak tawa dari kami semua.
Susi melotot sampai bola matanya mau copot. Tapi Brahim cuek , kelakuan absurd yang biasa Brahim lakukan pada kami.
●●●●●●
Ujian nasional tiba , tiga hari kedepan aku dan Susi disibukkan dengan Evaluasi Tahap Belajar Nasional (EBTANAS).
~Yang seumuran ane pasti tahu kira kira ini tahun berapa ~
Setiap murid duduk sendiri sendiri sesuai nomor ujian. Tiap kelas dijaga oleh dua guru pengawas.
Hening dan mencekam , hanya terdengar suara sol sepatu yang bertemu dengan lantai batu. Hentakan langkahnya pelan dan teratur .
"Jangan lupa kolom tanda tangan , ditanda tangani yaa!
Waktu uji coba EBTA kemarin banyak yang tidak mendatangani. "
"Kamu Ayunin?" tiba tiba pengawas berada didepanku .
Aku anggukkan kepala dengan menatap pupil mata sayunya.
"Nanti keruang Guru ya, jam istirahat. Kepala Sekolah ingin berbicara denganmu! " perintahnya halus.
"Baik bu," jawabku lalu melanjutkan kutatap lembar jawaban dan lembar soal dihadapanku.
Tok Tok Tok
"Masuk masuk, langsung keruangan itu yaa " tunjuk guru pengawas yang tadi berbicara padaku.
"Siang pak, maaf mengganggu, " sapaku sopan.
"Masuk Ayu, silahkan duduk. Tidak perlu tegang gitu,"
"Baik pak," sambil kuseret kursi yang berada didepan meja kepala sekolah.
"Begini, bapak panggil Ayu kesini mau membicarakan masalah nilai Agamamu. Karena selama bersekolah disini, kami tidak bisa memanggil pengajar beragama sesuai kemapuanmu, maaf yaa. Bukan kami tak mampu tapi, karena hanya kamu saja yang non muslim. Tidak memenuhi syarat pengajuan ke Dinas Pendidikan "
"Iya pak, hal ini sudah dijelaskan dari awal saya masuk sekolah ." jawabku dengan senyum.
"Jadi nilai agamamu minus, karena nilai ujian prakteknya nol,"
Deg
Dadaku bergemuruh.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_Bersambung
●●●●●●
Menerima dengan ikhlas disetiap keadaan adalah hal terbaik. Dari pada menuntut sesuatu namun menyusahkan banyak orang .
"Keikhlasan adalah rahasia antara Allah dengan hamba-Nya. Bahkan sang malaikat pencatat tidak mengetahui sedikit pun mengenai itu untuk bisa dituliskannya dalam catatan amal. Setan juga tidak mengetahui sehingga dia tidak bisa merusaknya, nafsu pun tidak menyadari sehingga ia tidak bisa memengaruhinya." - Junayd al-Baghdadi
Jangan lupa like dan koment yaaa 😘😘😘