
Maaf ya lama nggak up. Belum dapat ilham buat nulis. Saya usahakan up seminggu dua kali. Paling buruk seminggu sekali ๐คญ
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Masa liburan Anin kali ini sungguh berbeda dari tahun sebelumnya. Anin sudah memiliki banyak teman disekitar rumahnya. Anak yang dulu memusuhinya sekarang tidak lagi sinis. Walau kadang masih acuh dan tak pernah membalas sapaan Anin.
Kali ini Anin bersama Susi berjalan menyusuri sawah, keluarga Susi panen padi. Susi bertugas mengantar sarapan untuk para petani yang menggarap panenan sawah.
Terlihat banyak orang lebih dari 10 orang. Didominasi para ibu-ibu. Mereka membawa sebuah alat ditiap tangannya.
Padi sudah dipotong dan sudah terkumpul berada tepat dibelakang alat perontok padi manual.
Tiga pria sudah siap merontokkan padi. Salah satu dari mereka adalah bapak Susi. Dua pria sudah siap dengan cakupan besar padi ditangannya. Mereka telah memulai pengerjaannya. Merontokkan padi dengan cara dihentakkan pada sebidang kayu bulat berdiameter 5 cm.
Kayu yang menyerupai bentuk segitiga tak beraturan. Saat padi dipertemukan dengan kayu bulat secara bersamaan padi itu roรฑtok dari cabangnya.
Setelah beberapa kali cakupan padi itu dihentakkan dengan dibolak balik dari bebagai sisi. Sisa cakupan itu dibuang ketengah-tengah tepat didepan para ibu-ibu.
Dan mereka yang sudah duduk rapi mengambil sisa cakupan itu. Mereka memukul mukulkan dengan alat yang mereka bawa. Membersihkan sisa padi dari cabangnya.
"Itu kenapa kok nggak dibersihkan Sus, kenapa malah dikasih kemereka?" tunjuk Anin dengan kode angakat dagu.
"Mereka datang untuk memulung Nin. Kalau bersih ya kasian mereka nggak dapet apa-apa," jawab Susi santai.
Tanpa bosan Anin terus memperhatikan setiap kegiatan yang mereka lakukan. Namun tak lama para pria duduk bersila dan menyantap sarapan yang kita bawa.
Anin dan Susi pun ikut menyendokkan nasi beralaskan daun pisang. Anin yang kolot dan belum pernah makan dengan tumpukan padi disebelahnya, tak membuatnya canggung.
Bahkan dia makan dengan lahap tanpa menoleh kanan dan kiri.
"Enak Nin," tanya Susi dan hanya dijawab anggukan saja oleh Anin.
Sampai hampir tengah hari Susi mengajak Anin pulang. Dengan membawa bakas tempat nasi dan sayur tadi, mereka berdua jalan menyusuri garis petakan sawah dalam keadaan panas terik serong matahari.
Perjalanan panjang yang ditempuh lebih dari tiga puluh menit tak membuat Anin mengeluh.
Dengan peluh didahi dan baju belakang telah basah. Anin terus berjalan sampai bertemu dengan sungai yang artinya sudah dekat dengan rumah Susi.
Susi berhenti disungai untuk membasuh muka dan mencuci bakas yang kosong.
Anin menatap heran karena Susi tidak mencucinya dengan sabun tapi hanya menggosok dengan pasir dan serabut kelapa yang tergelatak tak berdaya diatas batu padas sungai.
"Kok nggak pake sabun Sus. Emang bisa bersih?" tanyanya heran.
"Lebih bersih dari pake sabun, lihat nih sampai lecet plastiknya," jawab Susi dengan terkikik. Anin pun ikut tertawa riang melihat bakas plastik itu.
Sesampainya dirumah Susi, Anin langsung mengambil sepeda kayuhnya dan segera berpamitan pulang.
Matahari sudah hampir tegak saat Anin memasuki rumahnya. Bima sedang dalam posisi terlentang diatas kasur dengan mata terpejam begitupun dengan Mama Anin yang berada disampingnya.
Menjelang malam Yunar telah tiba dengan wajah lelahnya. Disambut oleh senyum manis Bima dalam gendongan Anin.
"Anak Mama udah hayum, sebentar Mama mandi dulu. Gendong sama Tate Anin ya," ucap Yunar pada bocah yang sudah merengek dan melorot dari gendongan Anin.
************
Dua puluh delapan hari sudah Anin lalui. Sekarang tiba saatnya untuk daftar ulang kenaikan kelas Dua. Dengan berpakaian seragam lengkap biru putih padahal ini adalah hari jumat, Anin sudah siap dengan menenteng tas kosong yang hanya berisi snack dan uang daftar ulang.
"Hari pertama berangkat berempat ya," sela Susi sambil mengayuh sepedanya
"Besok kita bocengan saja Sus, aku jemput kamu dirumah. Nanti pake sepeda sapa aja boleh." Ajak Anin dan Susi memberikan tanda acungan jempol.
Suasana sekolah sudah ramai anak anak yang mendaftar ulang. Ada pula wajah baru dengan seragam merah putih. Tapi tidak banyak.
Setelah mengantri didepan kantor Tata Usaha, Anin menyerahkan sejumlah uang dan Anin pun mendapat beberapa buku LKS untuk kelas lanjutan.
Setelah selesai semuanya, mereka pergi kekantin.
"Malik, ayo ngantin," Ajak Susi pada Malik yang sedang asik main gamebot Harvest Moon.
"Uangku abis nggak bersisa. Aku tunggu sini saja. Nanti kita pulang sama- sama ya ," keluhnya.
"Santai saja ada Anin yang traktir," seloroh Susi tanpa dosa. Anin pun hanya memberikan tatapan menyetujui.
Sesampai dikantin mereka memesan bakso andalan. Malik pun hanya bilang terserah saat Anin menawari pesanan.
Tak lama mereka berlima pun pulang beriringan bersama.
Seminggu lagi mereka aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Senin depan sampai hari rabu akan diisi MOS anak baru.
Esok hari sabtu waktunya Anin bermanja manja ria bersama keluarga. Karena Yunar hanya setengah hari bekerja.
Sesampainya dirumah Anin masuk kekamar dan meletakkan tas ranselnya. Terdengar suara dering gawai dari dalam tasnya.
" Hallo, kenapa kak" jawab Anin.
"Oke kami akan siap-siap sekarang" jawabnya lagi.
"Ma, Kak Yunar nelpon entar lagi ada kakaknya Bang Ito mau jemput Bima dan aku." Ucap Anin menyampaikan pesan.
"Mau kemana."
"Gak tau mau diajak kemana, nggak sempet nanya"
Tak lama mobil keluarga Tito datang menjemput Bima dan Anin.
Dengan sedikit basa basi mama dan kakak Tito pun berbincang bincang sedikit laluย mereka pun pergi meninggalkan rumah.
Mereka semua sampai dikediaman Tito, disana sudah menunggu beberapa kerabat yang lain. Yunar pun terlihat baru datang nampak dari wajahnya yang basah sehabis mencuci muka.
"Udah ayo jalan sekarang, Tito udah nunggu disana!" Ucap pak Bagus.
"Mau kemana sih kak" bisikku penasaran.
"Kepondok ada acara Haul. Pake kerudung ini ya. Ini cuma antara kita aja. Nanti kalau Mama tanya jawab aja dari acara keluarga besar mertua kak Santi." Jelas Yunar, bukan untuk mengajak kebohongan hanya saja tidak menjelaskan secara detail kegiatan mereka. Dan Mama Yunar pun tahu siapa mertua Santi.
Cara paltering ini adalah cara dimana seseorang mempermainkan kebenaran. Agar tidak menyakiti beberapa pihak. Sebenarnya cara ini lebih menguras tenaga.
Belum saatnya Yunar membawa Anin dalam keadaan masih dibawah naungan dan tanggung jawab Mama. Tapi salahnya mencoba memperkenalkan kebaikan kepada Anin mulai dari sekarang.
Bersambung...
Sampai bertemu dibab selanjutknya. Jangan lupa like dan komentnya yaaa. ๐๐๐