
Wanita bisa sekali membuat rumah menjadi surga, dan sebaliknya ia pun sangat bisa mengubahnya menjadi neraka.
โDonโt ask yourself what the world needs, ask yourself what makes you come alive. And then go and to that. Because what the world needs is people who have come aliveโ - Harold Whitman
๐๐๐๐๐๐๐
Setelah magrib Doni dan Susi datang lebih dulu lalu disusul yang lain. Anjas membawa sekarung tanggung jagung muda masih berkulit, Doni mengambil sebagian untuk dibawa ke dapur.
Mereka semua membuat bara api dari arang bercampur dengan kayu tebal yang Anin dapatkan dari belakang rumah. Api sudah mulai membesar, dengan segera mereka mengipasi agar menjadi bara.
Beberapa saat kemudian, ada mobil sedan hitam parkir didepan halaman. Sontak mereka semua terkejut melihat Rendi melangkah memasuki halaman rumah.
Yunar dan Mama yang juga ikut berkumpul diteras samping pun ikut melihat dan penasaran. Siapa gerangan tamu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Tanpa basa basi Rendi menyalami Mama dan Yunar yang sedang memangku Bima. Dia pun memperkenalkan dirinya sebagai teman Anin, dan teman Doni Brahim satu angkatan beda kelas.
Tanpa rasa malu, Rendi pun duduk dikuursi kayu pendek dekat Anin yang sedang sibuk mengipasi jagung.
"Hai, maaf yaa. Tadi aku cuma iseng lewat sini. Aku lihat rame banget jadi aku mampir. Oh ya aku bawakan sesuatu, tunggu ya aku ambil dimobil." Ucapnya kemudian berlalu menuju mobilnya.
Ditentenganya dua plastik hitam besar, satu plastik Rendi meletakannya didekat Mama. Dan yang satunya dia bawa kepada kami yang sedang sibuk membakar.
Beberapa cemilan dan minuman kaleng, setelah Rendi berbasa basi kepada Brahim. Tanpa disuruh dua kali Brahim langsung mengambil sekaleng minuman dingin.
Saat sedang menyeruput minuman bersoda tiba tiba Brahim menyemburkan minumannya hingga mengenai muka Anjas.
"Bakalan seru nih malam ini, tengoklah kebelakang!" Brahim berucapnya sambil mengangkat dagunya.
"Berkumpullah para pengejar hati yang hatinya tak mau dikejar." Sindir Brahim dengan santai menggerakkan tangannya kekanan dan kekiri mengipasi sang api.
Semua menoleh kearah yang ditunjuk Brahim. Semua tercengang melihat Carens berjalan bersama wanita separuh baya.
Ibu dan anak itu berjalan mendekatiย Yunar dan Yunar pun membawanya masuk menemui Mamanya yang sudah masuk kedalam rumah.
Carens dengan pedenya berjongkok disebelah Aniin.
"Kita bisa bicara sebentar?"
"Bicara aja, disini banyak tamu yang datang sebelum Kakak. Rasanya kok tidak sopan jika aku harus meningglkan mereka.!" jawab Anin sedikit ketus.
"Katanya malam ini mau pergi sama Bang Tito, tapi kok malah bakar bakaran jagung?" cerca Carens yang merasa dibohongi
"Bang Ito sibuk, ada kasus!"ย jawab Anin ketus.
"Rend, ayo makan jagungnya. Mumpung masih hangat! Ini Anin yang buat bumbunya. Tinggal oles oles aja," suara brahim memecahkan tegangnya suasana.
Carens pun iku mengambil jagung bakar yangv telah siap untuk dioles dan dimakan. Dengan cekatam seperti takut tak kebagian, Carens mengoles mentega pedas manis sampai menutupi jangungnya.
Gank enam Anin cuek bebek dengan kelakuan Carens. Sedangkan Rendi yang tidak tau apa apa hanya bisa menyimak dan menikmati hidangan yang ada didepan mereka.
Sesaat kemudian Carens masuk kedalam rumah dan duduk mendampingi ibunya. Mereka berbincang bincang didalam sana, entah apa yang mereka bahas.
"Dia siapa Nin, kok kayak marah sama kita kita?" tanya Rendi lirih sambil melirik kearah laki laki yang baru dia lihatnya.
"Oh dia, orang tuanya temen ayah waktu didinas dulu. Dan juga kami satu Pepanthan dirumah ibadah minggu," jelas Anin.
"Kayaknya dia suka sama kamu?"
"Biarin, akunya nggak suka kok," jawabnya sarkas.
Mendengar jawaban Anin membuat Rendi tersenyum.
"Kenapa Kakak tersenyum, aku juga nggak suka kok sama Kakak. Gak suka dalam artian menaruh hati, maaf ya Kak,"ย imbuh Anin menjelaskan.
"Dih, suka hatilah. Aku lebih suka berteman nggak lebih," ucap Anin dengan bersungut sungut.
"Nin, kok nggak masuk nyalami tamu?" tanya Yunar.
"Uh, males aku Kak. Lagian juga ngapain sih mereka kesini?"
"Mau melamar kamu," cetus Yunar terkekeh.
Anin pun melotot tak percaya dengan ucapan Yunar.
Tak lama kemudian ibu dan anak itu keluar, mereka berpamitan. Dengan langkah malas Anin pun menghampiri dan menyalamiย Ibu Carens.
"Main kerumah ya? Nanti biar dijemput sama Carens," ajak Ibu Carens.
"Kalau ada waktu ya Tan, masih sibuk banget beberapa minggu kedepan." Jawabnya sambil mencium tangan sang wanita itu.
Mama dan Yunar mengantar ibu dan anak itu sampai kedepan. Sedangkan Anin berlalu kedapur untuk mengambil nampan.
Bergejolak dalam benak Anin, ada apa gerangan Carens sampai membawa ibunya kerumah. Dengan cara seperti ini bukan membuat Anin bersimpati malah benci yang bertambah.
Hingga hampir pukul sepuluh malam,ย semua jagung sudah terbakar abis. Bahkan bara api sudah mati tertumpul dengan batang jagung.
Cemilan yang dibawa Rendi pun sudah terbuka semua bahkan nyaris habis.
"Nin, aku pulang yaa." Ucap Rendi dengan beranjak berdiri.
"Mama udah istirahat,ย Kak Yunar juga udah tidur,"ย kata Anin menjelaskan.
"Ya udahlah, aku langsung cabut ya!ย Semua ! aku balik dulu ya. Kapan kapan kita ngumpul kayak gini lagi," pamit Rendi.
Sebagai tuan rumah, Anin mengantarkan Rendi sampai ke mobilanya. Setelah berada didalam, Rendi membuka kaca samping kirinya.
"Nin, ini buat kamu. Jangan dibagi bagi!" Pintanya sambil menyodorkan bungkusan kecil paper back.
Tanpa basa basi, Anin menerima dan berucap terima kasih. Berharap Rendi cepat berlalu dari hadapannya. Baru Rendi menyalakan mobilnya, Anin sudah kembali keteras samping.
"Enaknya sebagai tamu, nggak ikut beres beres eh.. malah langsung nyelonong pulang. Mana makan jagung paling banyak." Cerocos Brahim dengam tanganya bergerak memungutti kulit jagung dan sampah lainnya.
"Cemilan dari Rendi juga kamu makan paling banyak," pangkas Anjas tak mau kalah.
"Udah nggak usah cerewet, kita bereskan ini semua. Sisa makanan kita bawa pulang. Anin udah menang banyak. Dikasi apa Nin, bawa kertas bungkusan cantik," tanya Susi penasaran.
"Oh coklat, katanya nggak boleh dibagi bagikan suruh makan sendiri," jawab Anin polos.
"Eh, jangan jangan itu coklat dari dukun. Biar kita Liat Nin, agar nanti bukan kamu aja yang kena pelet," saut Brahim.
Anin pun menumpahkan semua isi dari dalam bungkusan kecil itu diatas kursi panjang bambu tempat mereka duduk.
Ada 6 batang coklat kacang mente. Semua kesukaan Anin, tapi Anin menjadi takut dengan prediksi tak masuk akal dari Brahim. Akhirnya Anin membagikan coklat itu kepada merek semua.
"Keputusan yang bagus Nin, jadi nanti kamu nggak akan gila sendiri,"ย ujar Brahim tanpaย malu.
๐๐๐๐คญ๐๐๐๐๐๐๐๐
Tetep semangat menjalani hari yaa
โ Jangan tanyakan pada diri Anda apa yang dibutuhkan dunia. Bertanyalah apa yang membuat Anda hidup, kemudian kerjakan. Karena yang dibutuhkan dunia adalah orang yang antusiasโ - Harold Whitman
Sadari kekuatan, talenta, dan minat dalam dirimu dan jangan tergoda untuk mengurusi kelebihan dan kekuatan orang lain. Fokuskan energi untuk menjadi yang terbaik di bidangmu. Telusuri minat dan lakukan hal-hal yang kamu sukai dengan ikhlas dan terus belajar. Bila perlu tanyakan pendapat orang-orang terdekatmu karena mungkin mereka mengetahui kekuatan yang mungkin tidak kamu sadari.
Happy membaca ๐ค๐ค๐ค๐ค๐ค๐ค