
Nathan
Baik. Mendadak keadaan awkward karena kebodohanku.
Aku bodoh karena menuangkan sebuah pertanyaan yang bodoh pula kepada gadis kecil di hadapanku yang memasang wajah polosnya.
Lyana terkesiap menatapku, hingga kedua matanya beberapa berkedip seperti 'ini serius Om Nathan nanya hal itu?'
Aku melihat Lyana menggeleng setelah Bi Ida menggodanya dan bertanya apakah Lyana memiliki pacar atau nggak. Seharusnya itu sudah menjadi sebuah jawaban bukan?
Tapi kenapa saraf di kepalaku mendesak mulutku untuk menanyakan pertanyaan itu?
Dan mulut ini langsung sinkron dengan perintah otak dan mendadak patuh.
"Kamu udah punya pacar?"
Rasanya aku ingin menutup wajahku dengan serbet sekarang juga.
"Nggak Om."
Satu kata yang keluar dari mulut Lyana terasa melegakan benakku.
Iya aku lega dan itu aneh.
Iya.
Aneh.
Aku aneh.
Lyana punya pacar atau tidak seharusnya aku tidak perlu memusingkannya.
Wajar saja bukan jika Lyana punya pacar diumurnya saat ini?
Lagi jaman merajut cinta monyet untuk seumuran Lyana.
Harusnya aku memaklumi.
Tapi kenapa justru aku tidak suka mendengarnya?
"Kalau Om udah punya pacar?"
Lyana kembali bertanya setelah aku menarik napas.
"Om--"
"Nggak punya juga ya? Sama dong Om." Celetuk Lyana dan terkekeh jenaka.
"Sok tahu kamu." Aku mendengus.
Lyana berdecak, "Kalau Om punya pacar, Om nggak mungkin ketiduran di ruang kerja karena bekerja."
"Loh kamu tahu aku ketiduran?" Aku mulai meraih roti goreng dengan isian kacang ijo. Aku menggigitnya dan alisku terangkat sambil kepalaku manggut-manggut.
Enak.
"Tadi pagi Lyana ke kamar Om tapi Om nggak ada. Pas Lyana nengok ruang kerja Om ternyata Om tidur disitu. Lyana nggak tega bangunin Om."
"Memangnya kamu mau ngapain ke kamar aku?"
"Lyana mau bangunin Om buat sarapan bareng." Jawabnya.
"Terus kenapa kamu nggak bangunin aku?"
"Lyana nggak tega bangunin Om. Kayaknya Om lelah banget. Jadi Lyana makan sendiri aja."
Aku jadi nggak enak hati mendengarnya. Entahlah. Dua hari ini aku sudah melewatkan sarapan pagi bersamanya. Sepertinya El dan Milly membiasakan anak-anaknya untuk bisa sarapan bersama, mungkin karena itu saat aku tidak bisa sarapan bersamanya wajah Lyana menunjukan raut sedih.
Seperti saat ini. Wajah sendu itu tertangkap olehku meski Lyana berusaha untuk menerbitkan seulas senyum.
"Maafin Om ya. Om memang suka bangun kesiangan. Besok Om akan bangun lebih pagi biar kita bisa sarapan bersama." Putusku setelah aku mengunyah suapan terakhir roti pertamaku.
"Nggak apa-apa kok Om. Lyana ngerti pasti Om lelah bekerja."
Aku hanya menggeleng dan mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Seingatku kami lagi bahas tentang Lyana punya pacar atau nggak. Kenapa tiba-tiba jadi bahas kebiasaan burukku?
"Nanti sore kita jadi makan seafood ya." Aku mengingatkannya dan Lyana tampak berbinar. Pengalihan topik.
Lyana mengangguk. "Iya Om."
Aku menyuruhnya untuk bersiap. Sebelum ke Resto seafood, aku ingin mengajak Lyana jalan-jalan mengelilingi kota Bandung.
Tentu Lyana langsung mengiyakan dan buru-buru ia ke kamar dan bersiap-siap.
Aku juga segera bersiap-siap. Mandi lagi dan berganti pakaian. Hanya mengenakan kaos dan celana jeans pendek. Sisir rambut sebentar, menyemprotkan parfum ke bagian titik di tubuhku baru aku bergegas menuruni anak tangga.
Kini aku menunggu Lyana di mobil, aku berteriak dari luar kamar jika aku menunggunya di mobil sembari aku memanaskan mobil.
Tak lama Lyana keluar dengan pakaian panjang selutut berwarna lilac. Rambutnya dikuncir seadanya dan mengenakan sepatu kets berwarna putih dan tas selempang berwarna senada.
Aku langsung mengemudikan mobil, membawa Lyana mengelilingi Kota Bandung yang terik dan ramai karena padat kendaraan.
Pertama-tama aku melewati Taman Kota, Gedung Sate, lalu berputar-putar di area Kota melihat ada peraga mengenakan kostum tokoh kartun, superhero, dan ada juga yang berdandan jadi sosok hantu.
Lalu akhirnya aku dan Lyana memutuskan untuk langsung ke Resto karena waktu sudah mendekati sore. Kami tiba tepat disaat Resto baru buka.
Kami langsung memesan beberapa menu dan mengobrol ria sembari kami menunggu makanan datang.
Tapi Lyana melarangnya bukan karena hal kesehatan, tapi Mikael sangat suka mengerjai guru Sekolah dengan menempelkan permen karet ke kursi guru sehingga siapapun guru yang duduk akan tertempel permen karet.
Lalu Lyana juga menceritakan bagaimana kisah sekolah Milly saat SMA dulu. Dan Milly juga cerita pada Lyana jika dulu aku dan El pernah bertengkar. Tapi Milly tidak cerita kenapa aku dan El bisa bertengkar, karena itu Lyana bertanya padaku.
"Aku dan Papahmu hanya salah paham waktu itu. Tapi kami sudah selesaikan."
Aku hanya menjawab itu dan Lyana memanggutkan kepala.
Kan nggak lucu jika aku cerita kalau aku bertengkar dengan El karena kami sedang memperebutkan Milly waktu itu.
Dan saat itu aku dinyatakan kalah.
Tapi kalau diingat-ingat lucu juga ya menceritakan masa lalu. Ternyata masa SMA ku penuh tantangan juga.
Lalu Lyana mendapat panggilan telepon dari Milly, disaat Lyana menerima telepon tersebut aku juga mendapat panggilan telepon dari nomor yang belum tersimpan dari galeri kontakku.
Tapi aku terpaku ketika aku menelaah nomor itu baik-baik. Nomor itu memang tidak tersimpan tapi aku tahu siapa pemilik nomor tersebut.
Dering pertama tidak aku respon. Aku mematikan layar dan menyimak pembicaraan Lyana yang tengah asik menceritakan kegiatannya hari ini bersamaku. Lyana mengatakan jika aku membawanya ke Resto seafood dan sedang menunggu makanan datang.
Aku bisa mendengar suara Milly samar-samar walau Lyana tidak mengaktifkan speaker-nya.
"Jangan terlalu banyak makan kerang ya sayang! Kamu alergi. Bawa obatnya kan kalau alergimu kambuh?"
"Bawa kok Mah." Jawab Lyana sambil tersenyum.
Aku ikut tersenyum, namun langsung memudar ketika ponselku kembali berdering dengan nomor yang sama. Aku kembali menonaktifkan layarku segera dan kembali menyimak pembicaraan Lyana.
"Kenapa nggak diangkat teleponnya Om?" Lyana mematikan teleponnya dan melihatku tidak menjawab panggilan telepon itu.
Aku mengendikan bahu.
"Telepon nggak penting."
Memang nggak penting. Selain telepon dari rekan kerja, klien, kerabat aku tidak perlu meresponnya.
Sampai ponselku kembali berdering ketiga kalinya. Aku mulai jengah. Jadi aku langsung menonaktifkan ponselku tanpa berpikir panjang.
Lyana tampak ingin bertanya atas ulahku barusan. Namun pelayan resto datang membawa makanan membuat Lyana mengurungkan diri dan menyambut makanan tersebut dengan sukacita.
Aku dan Lyana mulai menikmati makanan kami. Diiringi dengan putaran lagu hits dan ramainya pengunjung membuat suasana begitu hidup namun kami tidak terganggu sama sekali.
"Habis makan minum obatnya ya!" Ingatku saat aku melihat Lyana puas menghabiskan satu piring kerang dara seorang diri. Saat Lyana memakan kerang dara itu Lyana cerita padaku bahwa sebenarnya Lyana sangat suka makan kerang dara.
Sangking sukanya setiap minggu El akan membawakan kerang dara untuknya hingga akhirnya timbul ruam merah dari satu titik tubuh ke titik tubuh lainnya dan ruam itu menyebabkan hawa panas yang menjalar lalu merembet menjadi terasa gatal.
Lyana langsung didiagnosa oleh Dokter memiliki alergi dengan kerang dara karena terlalu banyak mengonsumsi. Oleh karena itu mau tidak mau setiap Lyana mau makan seafood, Lyana harus membawa obat alerginya kemanapun ia pergi. Kalau Lyana lupa membawanya, Lyana harus menghindari makanan laut tersebut.
Apalagi sekarang Lyana sudah menghabiskan satu piring kerang dara beserta makanan laut lainnya seperti ikan gurame dan beberapa potong cumi dan udang. Bahkan makanan kami masih banyak tersisa dan belum tersentuh lagi karena kami sudah kenyang.
Lyana langsung nurut setelah aku mengingatkannya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi obat di dalam tas tenteng, lalu mengeluarkan beberapa butir obat kemudian Lyana meminumnya dibantu dengan air mineral.
Karena kami sudah kenyang aku berinisiatif untuk membawa pulang semua makanan sisa. Mubazir kalau ditinggal begitu. Pasti pelayan akan membuang semua makanan tersebut. Jadi aku panggil pelayan Resto untuk membungkuskan sisa makanan kami yang masih dalam keadaan baik. Dan aku memesan satu ikan gurame asam manis dan udang telur asin lagi untuk Bi Ida bawa pulang.
Aku menuju meja kasir untuk membayar. Saat aku kembali ke tempat duduk, Lyana tampak menundukan kepala dan terlihat murung. Tapi seketika itu hilang saat ia mendongak dan Lyana tersenyum melihatku datang.
"Kamu kenapa?"
Dahiku mengernyit. Apa Lyana sakit karena kebanyakan makan seafood?
Tapi aku tidak menampak ada ruam merah di badan Lyana.
Lalu Lyana bangkit, ia mendekat padaku dan tiba-tiba saja Lyana memeluk lenganku. Membuatku tersentak dan mendadak canggung.
Kenapa gadis kecil ini mendadak seperti ini?
Dan kenapa tanganku yang dipeluk Lyana mendadak kesemutan?
"Tadi mereka ngedipin mata gitu ke arah Lyana Om. Lyana takut."
Lyyana berbisik sambil menunjuk ke arah samping. Tepat dimana ada dua pria tua tengah duduk menatap kami.
Lebih tepatnya mereka menatap Lyana dengan tatapan genit yang terlihat menjijikan bagiku.
Sialan tuh pria tua sempat-sempatnya mengusik gadis kecilku.
Ketika pelayan datang menyerahkan bungkusan makanan, aku meraih bungkusan itu dan satu tanganku lainnya langsung merengkuh pinggang Lyana dengan erat.
"Ya ampun aku baru ninggalin kamu sebentar aja aku udah kangen banget sama kamu."
Sontak Lyana mendongak menatapku saat aku menangkup kedua pipinya. Dengan gemas aku memutar pipinya peelahan, lalu aku cium pipinya dari kiri dan ke kanan sampai Lyana tersentak sesaat karena ulahku ini.
Terakhir aku cium keningnya cukup lama lalu kurangkul pinggangnya agar Lyana semakin dekat padaku.
"Ayo sayangku kita pulang."
Aku sengaja meninggikan suaraku hingga dua pria tua itu tampak terkejut saat aku menoleh ke arah mereka dengan tatapan nyalang. Kemudian aku menarik Lyana yang masih berada di dalam dekapanku untuk melangkah keluar dengan gaya angkuhku meninggalkan Resto itu.
Dasar pria tua mesum nggak tahu diri.
...-o- ...
Selamat menunaikan ibadah puasa untuk kamu-kamu yang menjalaninya.
Sudah masuk Bab 7, gimana kesan dan pesan kalian membaca cerita ini?
Greget atau kurang menarik? wkwk