
Lyana tertunduk lesu.
Nasi goreng buatan Milly baru dua kali suap Lyana makan, setelah itu hanya ia mainkan di atas piring hingga tanpa sadar beberapa butir Nasi Goreng berserakan keluar dari piringnya.
Lyana kesal karena semalam Nathan hanya sekali membalas pesan Lyana.
From : Om Nathan 🖤
Maaf sayang aku baru pulang. Pasti kamu sudah tidur ya? Selamat malam.
Hanya itu saja Nathan membalasnya.
Dari belasan pesan dan hampir puluhan telepon yang belum direspon Nathan, Nathan hanya membalas pesan Lyana seperti itu.
Lyana kesal setengah hati membacanya.
Karena kekesalannya membuat napsu makannya hilang sekejap.
"Kamu kenapa Lyn? Kok nasinya nggak dimakan?" Sejak tadi El mengamati anak perempuannya. Hanya terdiam dan tak minat menghabiskan sarapannya.
Lyana tersadar mendengar pertanyaan El. Lyana lantas menggeleng. "Nggak, Pah. Ini Lyana mau makan."
Lyana mulai menyuapi Nasi goreng itu. Tapi hanya sesuap. Sehabis itu ia kembali memainkannya lagi.
El masih mengamati Lyana dengan tatapan penuh tanya. Sebentar lagi El dan Lyana akan berangkat bersama pagi ini, tapi Lyana belum kunjung menghabiskan makanannya juga.Â
Benak El bertanya-tanya apa Lyana sedang ada masalah di sekolahnya? Sebab kemarin-kemarin Lyana tidak semurung ini.
"Apa kamu ada masalah di sekolah?" Akhirnya pertanyaan itu keluar. El ingin tahu apa anak gadisnya sedang berada didalam kesulitan. Jika ada, dengan segenap hati El akan mendengarkan keluh kesah Lyana. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mendekatkan dirinya ke anak gadis kesayangannya itu.
Lagi-lagi Lyana menggeleng. "Nggak ada masalah kok, Pah."
Akhirnya Lyana meletakan alat makannya. Lalu meraih tas sekolahnya yang ia letakan disamping kursinya kemudian berdiri.
"Ayo, Pah, berangkat. Nanti Papah telat ke kantor."
Milly yang baru ingin bergabung di meja makan menatap Lyana dan El heran.
"Lho, udah mau berangkat? Kok makanannya belum dihabisin?"
"Lyana udah kenyang Mah." Kilah Lyana sambil berlalu meninggalkan El yang baru saja bangkit setelah menghabiskan segelas susu.
"Anak gadismu kenapa?" Milly bertanya kepada El.
"Jangan khawatir! Aku akan membuatnya tersenyum lagi hari ini." El mengecup kening Milly. Lalu ia menyusul Lyana keluar rumah.
Milly hanya mengangguk dan menatap kepergian suaminya.
...-o- ...
"Kamu beneran nggak mau cerita sama Papah?"
El masih berusaha untuk mencari tahu alasan Lyana murung pagi ini. Tapi Lyana tidak menjawab. Ia hanya duduk termenung menatap ruas jalan yang padat karena kendaraan umum.
Di satu sisi Lyana ingin cerita sama El. Sungguh. Rasanya mulut Lyana gatal. Ia ingin mencurahkan semua kekesalannya. Tapi El bukan orang yang tepat.
Karena Nathan adalah jawabannya.
Lyana masih mengingat dengan jelas akan janji yang telah ia teguhkan bersama Nathan. Lyana masih harus merahasiakan hubungannya dengan Nathan kepada El. Walau Lyana sedikit ingkar karena tak tahan ingin bercerita kepada Fanya dan Sammy. Itupun Lyana mengancam Fanya dan Sammy untuk tidak menceritakannya lagi kepada orang lain.
Hanya mereka berdua yang Lyana percaya saat ini. Tapi bukan berarti Lyana tidak percaya sama El.
Ternyata merahasiakan hubungannya kepada orang yang ia sayang sungguh berat.
Tapi apa jadinya jika El dan Milly tahu kalau Lyana dan Nathan berpacaran?
Dugaan buruk mulai menggerayangi Lyana.
"Atau kamu lagi marah sama Papah?" El mencoba menanyakan hal lain. Mungkin tanpa ia sadari El melakukan kesalahan yang membuat Lyana murung.
Tapi itu bukan alasannya, sehingga Lyana menggeleng. "Nggak, Pah. 'Kan Papah nggak salah apa-apa."
"Lalu kamu kenapa kayak cemberut gitu?" El mencoba menanyakan lagi. "Apa ada sesuatu yang membuat kamu takut cerita sama Papah?"
Takut? Nggak. Lyana nggak takut. Tapi Lyana nggak bisa cerita sama El. Karena teringat janji itu Lyana terpaksa menggeleng lagi.
Maafin Lyana ya Pah.
"Nggak Pah. Mungkin Lyana mau dapet jadinya kayak lagi nggak mood."
Lyana mengulas senyum. Berharap jika El mempercayai ucapannya.
Melihat El membalas senyumannya, usaha Lyana tampak berhasil.
Waktu itu El belum menjalin hubungan dengan Milly, karena saat itu El masih merahasiakan perasaannya kepada Milly karena tuntutan Adit.
Kalau diingat-ingat, Lyana persis dengan Milly saat muda dulu.
"Pah!"
Panggilan Lyana membuyarkan lamunan El.
"Iya sayang?"
"Papah kok malah jadi melamun pagi-pagi?" Protes Lyana. El tertawa singkat.
"Iya, maaf ya. Papah jadi keinget Mamah di rumah."
"Memang Mamah kenapa Pah?" Tanya Lyana.
El menggeleng. "Nggak ada kok. Ya sudah Papah berangkat dulu. Semangat sekolahnya ya!"
El tak lupa memberikan kecupan singkat di kening Lyana. Hal yang selalu El lakukan kepada Milly dan anak-anaknya jika berpamitan.
"Papah juga semangat kerjanya!"
Lyana melambaikan tangan lalu keluar dari mobil menuju gerbang sekolah.
...-o- ...
Kepala Lyana bertumpuh diatas lipatan tangan diatas meja. Lyana terdiam di sana tanpa melakukan apapun. Nggak peduli dengan suara gaduh teman sekelasnya yang mengudara seisi ruang kelas.
Di satu sisi Fanya diam-diam memperhatikan teman sebangkunya yang sedari tadi terdiam lesu sejak bel sekolah berbunyi hingga pergantian mata pelajaran.
Begitu juga Sammy. Ia baru saja berbalik dari bangkunya, berniat ingin mengajak ngobrol Lyana dan Fanya. Tapi Sammy urungkan sejenak saat ia melihat Lyana dan Fanya sibuk dengan kebisuan mereka.
"Bisa kutebak, pasti kamu kayak gini karena "Ayang Mbeb"."
Lyana mendongak datar mendengar ucapan Sammy padanya.
"Dia belum balas pesanmu pagi ini?"
Lyana bangkit dan mengeluarkan ponselnya asal. Sammy dan Fanya tertarik meraih ponsel Lyana yang sudah tidak terkunci. Mereka mulai bergantian membuka dan membaca isi pesan Lyana dan Nathan di sana.
Lyana :
Kok Om baru balas pesan Lyana sih? Kemarin Om sibuk apa aja sampai Om baru balas tengah malam? Kan Lyana nungguin Om, tahu!
Nathan :
Maaf ya sayang, aku baru sempat balas pesanmu semalam. Maafin aku. Kali ini aku tidak akan melewatkan pesan dan teleponmu lagi.
Lyana :
Memangnya kemarin Om ngapain aja sih sampai Om nggak sempat balas pesan Lyana?
Hanya sampai di situ saja isi pesan antara Lyana dan Nathan. Sampai saat ini Nathan belum ada lagi membalas pesan Lyana.
Fanya dan Sammy kini menatap Lyana yang tertunduk lesu.
"Sabar ya Lyn." Sammy menyampaikan rasa simpatinya. "Mungkin Om Nathan banyak pekerjaan di luar. Kata Papahku, properti yang Om Nathan garap saat ini memang lagi diminati banyak orang."
Papah Sammy seorang Pebisnis yang sedang tertarik dalam dunia properti. Akhir-akhir ini Papah Sammy suka membicarakan tentang properti kepada Sammy jika mereka sedang mengobrol. Salah satunya properti garapan Nathan di Bandung. Berkat pembicaraan tersebut Sammy mengetahui sedikit-sedikit tentang properti.
"Sampai Om Nathan nggak balas pesanku lagi? Sesibuk itukah?" Lyana menundukan badannya lagi dengan kepala diletakan diatas meja.
Lyana sudah malas membicarakan Nathan. Hingga hari berganti Nathan masih mengulangi hal yang sama.
Hari ini lebih parah. Sejak pagi sampai malam ini Lyana masih berusaha untuk menunggunya.
Tapi hasilnya membuat Lyana tak bisa berkata-kata lagi.
Tidak ada sapaan selamat pagi seperti biasanya.
Tidak ada kalimat Nathan menanyakan kabar Lyana hari ini.
Tidak ada permohonan maaf darinya karena kesalahan yang selalu ia lakukan.
Nathan keterlaluan.
Lyana lelah harus menunggunya lagi.
Secepat kilat Lyana bangkit dari tempat tidurnya. Lalu mengambil ponsel diatas meja dan mengetik sesuatu.
Kali ini Lyana tidak akan tinggal diam lagi.