
Nathan
Tubuhku lunglai, memaksakan diri untuk bergerak di tempat tidur berkat alarm berdering. Berarti sekarang sudah menunjukan pukul tujuh pagi, dan ini hari akhir pekan, jadi aku nggak perlu bersusah payah membuka semua mataku untuk bergegas bangkit karena hari ini aku libur dan tidak ada jadwal ketemu klien. Tanpa berpikir panjang aku mematikan alarm di ponselku secepat mungkin lalu aku melanjutkan tidurku.
Satu tanganku mulai mengelus sesuatu yang empuk dan hangat. Rasa nyamannya mengantarkanku ke mimpi.
Semakin lama terasa nyaman, aku merasakan sesuatu itu berubah menajdi terasa kenyal. Tanpa sadar tanganku merabanya. Rasanya aneh. Sesuatu yang kenyal itu membuat kesadaranku terkumpul dan sontak aku membuka mataku seratus persen dan melihat sesuatu yang seketika membuat aku tercengang di tempat.
Ternyata tanganku tertimpa tubuh El dan telapak tanganku memegang sesuatu yang seharusnya tak kusentuh sedari tadi.
Sial. Aku langsung menjauhi tanganku, tidak peduli jika pria tua itu terbangun. Tapi dia pun terlihat tidak terganggu setelah aku menarik paksa tanganku dan bergerak gusar menjauh darinya. Aku mulai ingat, semalam kami sudah menghabiskan satu botol wine dalam satu malam lalu kami mabuk. Terakhir aku mengantuk karena terpengaruh alkohol dan tidur duluan, mungkin setelah aku tertidur El menyusul dan tidur di tempat tidurku.
Perlahan aku mengusap mataku, sekali lagi melirik ponsel yang sudah menunjukan pukul tujuh lewat sepuluh menit. Lalu aku bangkit untuk mencuci muka dan melangkah menuju dapur. Mendadak perutku merintih lapar setelah mencium aroma masakan.
Tampak Bi Ida sudah sibuk di dapur bersama Milly. Dari anak tangga yang kupijaki aku melihat mereka sudah saling berkenalan, sebab mereka tengah asik mengobrol dan kompak membuat nasi goreng dengan tambahan lain untuk dihidangkan ke meja makan.
"Oh—pagi Nathan, kamu sudah bangun." Milly tampak terkesiap melihatku yang sudah tiba di meja makan sambil memperhatikannya membawa sebuah piring besar berisi nasi goreng yang baru saja matang dan ia letakan hati-hati di atas meja.
"Lyana belum bangun?" tanyaku sambil mengitari sekitar. Tidak mendapati sosok gadis kecil yang kuharapkan kehadirannya.
"Belum. Masih tidur di kamar." Ucapnya sambil membereskan alat makan di atas meja.
Tanpa aku mengatakan apapun lagi dan melihat Milly membantu Bi Ida membereskan dapur, aku langsung beranjak ke kamar Lyana. Melalui celah kamar yang terbuka, aku mengintip gadis kecilku yang masih tidur memunggungiku di sana. Perlahan aku masuk ke kamar, lalu mendekati tempat tidur dan duduk di samping punggung Lyana.
Helaian rambut panjangnya menutupi wajah cantiknya, tanganku langsung berinisiatif untuk menarik helai demi helai rambut itu ke daun telinga Lyana. Aku tersenyum. Lyana benar-benar sangat cantik di mataku walau sedang tertidur.
Sengaja melupakan status Lyana sebagai keponakanku, kini yang aku pandangi adalah sosok perempuan cantik yang berhasil menguasai hati dan pikiranku. Rasanya aku ingin sekali mengabadikan wajah cantik ini di ponselku dan aku simpan sebagai wallpaper. Masa bodoh dengan pikiran kekanak-kanakanku ini. Tapi sayang aku lagi tidak membawa ponselku. Kalau aku bawa, pasti aku sudah merealisasikan niatku dan langsung aku pajang untuk memamerkannya pada Ken.
Sudah bisa kubayangkan wajah kesalnya karena iri ketika dia tahu Lyana-lah kekasihku. Aku terkekeh pelan.
Tapi, pada kenyataannya aku masih belum siap memberitahu Ken kalau Lyana kekasihku.
"Om Nathan, pagi." aku terkesiap ketika Lyana bergerak dan menyapaku. Tapi aku langsung membalas sapa hangatnya lalu membungkukan badanku agar aku bisa mengecup pipinya.
Sial! Pipinya lembut banget.
"Pagi juga sayang."
Disambut senyum cerianya membuatku tak kuasa untuk menghamburkan diri dan ingin memberi tanda ucapan selamat pagi, seperti kecupan hangat dan singkat dari bibirku ke bibirnya.
Tapi aku urungkan, berkat nalarku yang dapat menyelamatkanku dari ***** bejatku. Jadi aku mengalihkannya dengan memeluk gadis kecilku ini. Pelukan ini terasa hangat. Sampai-sampai kedua tanganku senantiasa bergerak untuk membawa Lyana semakin berada didalam dekapan beberapa saat. Mengeratkan pelukanku padanya hingga aku tidak peduli apakah Lyana nyaman dengan apa yang kulakukan saat ini.
Tapi pertanyaan Lyana membuatku melonggarkan pelukanku secara otomatis. "Papah sama Mamah mana Om?"
Aku berdeham singkat lalu menjawab, "Mamah ada di dapur, lagi siapin sarapan. Kalau Papah masih tidur kayaknya, belum bangun."
"Papah tidur di kamar Om?" Gadis kecilku mendongak agar ia bisa menatapku. Walau tanganku tidak melilitnya lagi, tapi Lyana tampak belum mau melepaskan lilitannya memelukku.
"Iya sayang."
Gadis kecilku tersenyum lalu mengangguk. Lyana sudah tidak ingin menanyakan apapun lagi padaku, sampai aku menoleh cepat setelah mendengar suara berat El yang memanggil Lyana. Suara itu bergema dan terasa semakin dekat, mengarah ke kamar dimana aku dan Lyana masih terduduk di tempat tidur dan Lyana belum mau melepaskanku.
"Kalian ada di sini." Derit pintu menandakan pintu terbuka lebar dan muncul tubuh tegap El yang melayangkan tatapan padaku dan Lyana. Aku langsung melesat bangkit dan bergerak menjauh. Belum selesai dengan pertanyaanku tentang El yang mempergokiku semalam, sekarang lagi-lagi aku ketar ketir karena tatapan El yang bergantian menatapku dan Lyana.
Lyana tersenyum dan menyapa El begitu hangat. Persis seperti sapaannya padaku sebelumnya. Lyana langsung beranjak dan memeluk El, begitupun sebaliknya.
Melihat interaksi mereka saat ini; Lyana memeluk El lalu mengecup pipinya, aku tidak menangkap ada gelagat yang dimana Lyana tampak menjauh atau menjaga jarak pada El seperti apa yang dikatakan pria tua itu semalam.
Apa mungkin semalam aku mabuk jadi obrolan kami semalam tidak tertangkap olehku keseluruhan? Atau semalam aku bermimpi sedang mengobrol dengan El cukup lama?
Kurasa tidak. Aku yakin semalam aku dan El banyak mengobrol hingga berjam-jam. Aku memang bukan peminum handal seperti El ataupun Ken, tapi aku masih bisa tahu apa yang telah kulakukan disaat aku mabuk berat. Meski, hanya beberapa penggalan saja yang kuingat sebelum aku tumbang.
Aku juga masih ingat dengan jelas bagaimana ekspresi El berubah murung saat dia menceritakan tentang Lyana dan Mikael.
Tidak mungkin El berbohong padaku. Dan aku yakin semalam aku tidak berhalusinasi.
"Ayo kita sarapan!" ajakan El membuyarkan lamunanku. Bergegas kakiku melangkah menyusul El dan Lyana menuju meja makan. Di sana sudah ada Milly yang sedang sibuk menyendokan nasi goreng ke piring satu persatu lalu ia letakan di atas meja.
Aku duduk diantara El dan Lyana. Sementara Milly disebrangku sambil menyendokan telur dadar diatas piringku.
"Kita jadi pulang hari ini?" pertanyaan Milly menjadi topik utama setelah beberapa saat kami terdiam karena sibuk mengunyah makanan kami.
"Kenapa buru-buru? Ini baru hari Sabtu. Gimana kalau kita jalan-jalan dulu saja? Besok saja pulangnya." selaku langsung. Terkadang aku suka bingung sama El yang suka terburu-buru. Mereka baru saja tiba di Indonesia dan langsung ke Bandung semalam. Bahkan semalam El tidak langsung beristirahat, justru dia sibuk menenteng paperbag berisi beberapa botol wine lalu memamerkan dan mengajakku minum sampai dini hari. Dan sekarang dia ingin langsung pulang ke Bekasi padahal jam tidurnya semalam nggak sampai enam jam.
"Nggak usah buru-buru pulang, ajak Milly dan Lyana jalan-jalan dulu! Toh kalian sudah lama nggak main ke sini. Mumpung di sini sbelum kamu tahu kapan lagi kamu bisa bawa Milly dan Lyana ke Bandung lagi." Tambahku mengundang tatapan El. Ucapanku mendapat anggukan singkat dari Milly.
"Masih ada yang harus kuurus—"
"Urus kerjaannya besok saja. Hari ini ajak mereka jalan-jalan."
Lihat! Istri El sekaligus teman semasa SMA ku dulu ini tampak antusias dan mendukung selaku. Sejak berkeluarga Milly jadi suka menjajah wisata kuliner, pasti Milly sudah mengincar beberapa menu makanan di pedagang kaki lima yang terkenal di pusat kota.
Tatapan El berubah sinis. Aku tahu itu tatapan cemburu. Sudah jelas. Kalau menyangkut Milly, sampai saat ini aku akan selalu membela atau mendukungnya. Dan aku senang El masih suka cemburu padaku kalau menyangkut Milly.
Setelah menjadi adik tiri El dan Milly menjadi kakak iparku, hubunganku dengan Milly tidak berubah. Dari sejak kami sekolah bersama sampai saat ini, aku dan Milly selalu dekat. Tidak ada yang berubah diantara kami selain berbeda pendapat dalam segi beberapa hal. Salah satunya tentang kuliner.
Semakin kami bertambah usia, hobi kami pun juga sama. Bermula dari bermusik hingga sekarang kami suka membicarakan tentang kuliner yang sedang trending topik di sosial media. Makanan atau minuman yang belum kami coba akan kami cari tahu sampai kami telah mencicipinya.
Tapi bedanya aku tidak terlalu mendalami hobi baruku ini. Sedangkan Milly sebaliknya. Milly lebih up-to-date ketimbang aku. Karena hobi kami sama, Milly lebih sering berbagi ceritanya padaku ketimbang pada El.
Karena hal itu juga, tak jarang aku ditatap sinis oleh El. Tapi tenang, aku tahu batasan. Jika bertanya tentang perasaanku pada Milly, perasaanku tidak berubah. Milly akan selalu menjadi sosok wanita yang selalu berhasil menarik perhatianku dan aku tak akan ragu melakukan apapun untuknya jika Milly membutuhkan aku. Seperti dulu.
Hanya saja posisi Milly dihatiku berpindah dan berubah menjadi ada sosok gadis yang sedang sarapan dengan kedua kaki diayunkan tepat duduk disampingku.
"Kudengar ada toko oleh-oleh khas Bandung yang baru buka. Katanya kue pia di sana jadi best seller. Sering sold-out. Aku mau coba beli. Kalau memang mau pulang hari ini, kita mampir ke toko itu sebentar ya?" bujuk Milly setelah dia merapihkan alat makannya dan alat makan El setelah selesai makan.
"Iya Pah. Semalam aku juga sudah lihat di sosial media kalau toko yang Mamah sebut itu memang suka ramai. Suka cepat habis. Kita ke sana yuk Pah!" Kini gadis kecilku mulai bersuara. Setelah menghabiskan makannya, dia langsung menimbrung percakapan kami. Tampaknya Lyana juga ingin berjalan-jalan dulu sebelum pulang.
Aku terdiam dan menunggu El menjawab. Lalu El menghela napas. Sepertinya bujukan Milly dan Lyana tampak berhasil.
"Baiklah. Nanti kita pergi ke sana. Lebih baik kalian siap-siap sekarang karena Papah nggak mau pulang kesorean. Pasti nanti kena macet."
Aku tersenyum, senang mendengarnya.
"Om Nathan juga ikut jalan-jalan kan?" Tanya Lyana membuat semua pandangan tertuju padaku.
"Iya. Aku ikut kok." Aku tersenyum.
"Kalau gitu Om Nathan ikut ke Bekasi juga ya. Minggu baru pulang ke Bandung."
Aku mengerjap singkat, bingung. "Hah?"
"Iya Nat. Kamu juga sudah lama nggak main ke Bekasi. Menginap saja sehari. Minggu siang pulang." Kini Milly membujukku.
"Iya Om. Ikut ke Bekasi ya?"
Belum sempat aku bersuara Lyana memeluk tanganku dengan binaran penuh harapan. Sontak aku terdiam sambil melirik ke arah Milly dan El yang tengah menatap kami.
Terutama El. Tatapan penuh tanya dan bingung itu rasanya ingin menembus kepalaku. Lalu turun merusak pernapasanku dan mengganggu pencernaanku sampai perutku terasa sakit sekarang.
"Aa—aku.."
"Ya, ayo kita siap-siap sebelum matahari meninggi."
Terdengar santai, tapi aku menangkap ucapan El padaku agak terasa sedikit—dingin. Ditambah reaksi Lyana yang berteriak antuasias, bersemangat, lalu gadis ini mengeratkan tanganku dipelukannya membuat darahku terasa membeku. Takut-takut aku kembali melirik El yang ternyata masih setia memandangi kelakukan anak gadisnya yang bergelayut manja padaku.
Oh—apakah hari ini cuacanya sedang cerah-cerahnya?! Aku merasa berkeringat sekali. Panas.
"Berarti Om Nathan jadi ikut ke Bekasi, kan Pah?"
El berdeham, berpura-pura mikir. Sedangkan aku berusaha serileks mungkin tapi nyatanya tubuhku kembali lemas tak bertenaga.
"Kamu tidak ada rencana apapun kan, Nat?"
Aku menelan salivaku gugup, "Tidak ada."
"Kalau gitu kamu juga harus siap-siap! Bawa perlengkapanmu seadanya, terutama pakaian dalammu—sepertinya ukuranku tidak akan pas denganmu."
Jadi, aku memaksakan diri untuk tersenyum dan langsung bergegas tanpa berpikir panjang.
...-o- ...