Hi, Om Nathan!

Hi, Om Nathan!
Bab 47



Ternyata aku salah.


Aku pikir aku bisa menggapai keinginanku sesuai rencanaku.


Aku pikir aku dapat berlari untuk mengejar apa yang aku inginkan saat itu juga.


Dua hari, tiga hari, seminggu, lalu berlalu melewati dua minggu.


Tak sekalipun aku bisa bertemu Lyana.


Wajahnya. Rambut panjangnya. Senyumnya. Tawanya. Juga suaranya yang merdu ketika namaku terlantun indah melalui bibirnya.


Aku tidak dapat menemukan hal itu lagi.


Lyana bagaikan tertelan bumi, menghilang dari pandanganku.


Ancaman El tidak main-main. Aku salah meremehkannya.


Sudah berbagai cara telah aku lakukan agar aku bisa bertemu Lyana. Tapi lagi dan lagi aku harus terhalang oleh sikap keras El yang juga berusaha menggagalkan niatku.


Aku seperti hama yang harus disingkirkan.


Aku seakan sesuatu yang tak kasat mata. Kehadiranku saat bertandang ke rumahnya sama sekali tidak dihiraukan El.


Putus asa kian menumpuk diriku.


Rasanya aku mulai enggan menghadapi kehidupanku lagi.


Anggap aku lemah. Aku sudah tidak peduli dengan penilaian seperti itu.


Seandainya El tahu kalau Lyana adalah sumber energiku, jika aku tidak bertemu Lyana, energiku seakan terkuras habis.


Tapi aku masih belum mau menyerah untuk berusaha. Dengan sisa keinginan yang kupunya aku masih terus mencari jalan lain.


Lalu aku mencoba lagi dengan datang ke sekolah Lyana. Berdiam diri di dalam mobil tanpa mengalihkan pandanganku selain menatap gerbang sekolah Lyana.


Aku mengamati murid-murid berlalu lalang memasuki sekolah. Hingga tatapanku berakhir di sebuah mobil sedan hitam yang sangat kukenali berhenti tak jauh dari gerbang sekolah. Itu mobil El. Tak lama Lyana keluar dari mobil.


Aku tak kuasa untuk tersenyum ketika aku menemukan gadis kecilku yang tampak menggemaskan mengenakan seragam sekolah dengan tas di punggungnya. Rambut yang sudah memanjang dikepang dua dengan lilitan kunciran terang.


Sungguh, hanya melihat Lyana dari mobil saja aku senang bukan main. Rasanya aku ingin segera keluar dan berlari menghampiri Lyana dan memeluk gadis kecilku ke dalam dekapanku.  


Kalau tidak ada El di sana, mungkin aku benar akan berlari dan keinginanku untuk memeluk Lyana akan terwujud.


Setidaknya, aku merasa bersyukur. Melihat Lyana dari jauh saja, aku cukup merasa lega. Walau benakku masih terasa sesak karena aku harus menahan diri lagi.


Iya, menurutku begini sudah cukup.


Karena yang kulakukan berhasil, aku terus melakukannya lagi. Setiap pagi dari senin sampai jumat disaat Lyana ada jadwal pergi ke sekolah. Lalu aku akan menunggunya sampai Lyana pulang sekolah.


Namun semakin lama aku terus melakukan ini, aku mulai merasa tidak sanggup.


Aku tidak bisa melihat Lyana dari jauh seperti ini terus menerus.


Kewarasanku kembali menuntutku untuk mendekati gadis kecilku.


Keinginanku semakin tak bisa kubendung lagi; aku benar-benar ingin memeluknya, mendekapnya dengan kuat, meluapkan kerinduanku yang sudah menumpuk setelah sekian lama.


Aku sudah tidak tahu lagi apa aku masih bisa menahan perasaan ini terus.


Sampai akhirnya aku memutuskan untuk nekat mengikuti Lyana dari jarak jauh. Dengan berpakian serba hitam, masker, topi baseball dan sarung tangan. Penampilanku seperti penguntit. Sudahlah, aku sudah tidak peduli lagi dengan label baruku.


Ke manapun Lyana pergi, aku tsk lelah mengikutinya.


Ketika aku melangkah pelan mengikuti Lyana menuju rumahnya, langkahku mendadak terhenti dan langsung bersembunyi dibalik tembok ketika langkah Lyana berhenti di depan sana.


Jantungku langsung berdegup kencang dengan benakku yang bertanya-tanya kenapa Lyana berhenti melangkah.


Berniat ingin mengintip, aku sudah terkejut lebih dulu ketika pandanganku menemukan sosok yang sedari tadi kuikuti.


Lyana..


Lyana tepat di depanku.


"Om Nathan.."


Ternyata Lyana tahu aku mengikutinya.


Sekarang aku tidak bisa menutupinya lagi. Aku juga tidak bisa mengelak kewarasanku lagi. Aku langsung menarik Lyana ke dalam pelukanku. Mendekapnya kuat hingga aku dapat mencium aroma tubuh Lyana yang sangat aku rindukan.


Perlahan aku mengelus rambutnya yang semakin memanjang. Rambut yang terasa lembut di kulitku membuatku meremang karena luapan rindu.


"Lyana-ku.."


Kami terdiam beberapa saat. Aku begitu terhanyut dengan pelukan hangat ini.


"Aku merindukanmu sayang.. Aku merindukanmu.." aku berbisik tepat di telinga Lyana. Begitu kuat aku memeluknya sampai aku tidak sadar jika Lyana menepuk lenganku karena sulit bergerak.


"Om.."


Aku langsung melonggarkan pelukanku mendengar suara melemah Lyana. Aku langsung memandanginya cemas. Takut Lyana kenapa-napa. Tapi gadis kecilku mengukir senyuman, walau sekilas tapi aku sangat senang melihatnya.


Sungguh aku benar-benar tidak sedang bermimpi. Sungguh, Lyana benar ada didepanku, ia nyata. Aku benar-benar bertemu Lyana-ku lagi. 


Aku yakin pasti Lyana akan kembali padaku.


Karena Lyana adalah milikku.


"Om Nathan, lagi sakit?" Lagi-lagi aku tersenyum mendengar mendengar perhatian Lyana. Lyana memperhatikan keadaanku. Tangan kecilnya meraba wajahku yang kuyakini terlihat kusut dan lusu. Bahkan aku belum mencukur bulu halus di sekitar wajahku karena terlalu sibuk memikirkan Lyana.


Dengan cepat aku menggeleng. "Awalnya iya. Tapi sekarang aku tidak sakit lagi. Aku sudah menemukan obatku, yaitu kamu." 


Aku kembali memeluknya lagi lalu mengecup puncak kepalanya. Pelukan ini bagaikan menaikan energiku yang sempat hilang entah ke mana. Aku benar-benar tidak bisa berkata apapun selain menikmati pelukan ini sebaik mungkin.


"Om Nathan.."


"Iya sayang?" Balasku tanpa melonggarkan lilitanku.


Namun hanya untuk beberapa saat, aku terpaksa menguraikannya dan menatapnya sungguh-sungguh.


Belum lama aku menikmati keharuan ini, dadaku seakan terhantam kuat mendengar ucapan Lyana.


"Putus?" Tanyaku memastikan ulang. Mungkin tadi aku salah dengar. Iya, mungkin saja.


Tapi, aku terpaku melihat Lyana mengangguk lemah.


"Iya Om. Kita putus."


Lyana menurunkan kedua tanganku yang bertengger di bahunya agar aku tak lagi menyentuhnya.


Tidak.


Rencana awalku bukan seperti ini.


Rencana awalku ingin bertemu Lyana, lalu menjelaskan kepadanya tentang semuanya kalau selama ini Lyana salah paham.


Tak ada terlintas kata putus di dalam benakku.


Karena aku tidak menginginkannya.


Aku ingin sekali berteriak. Meminta Lyana untuk menarik kalimat tak berguna itu. Kami hanya salah paham. Tinggal meluruskannya saja. Beres. Tidak perlu ada drama lagi diantara kami. Terakhir aku akan mengurus masalahku dengan El.


El..


Apa El menyuruh Lyana memutuskanku?


Iya..


Pasti ini semua disuruh El.


Nggak akan mungkin gadis kecilku memutuskan hubungan ini kalau bukan karena paksaan.


Kami saling mencintai. Kami saling menginginkan.


Lyana nggak mungkin tega memutuskanku.


Iya. Aku yakin Lyana terpaksa melakukan ini.


Ini semua pasti ulah El.


"Apa Papah yang memaksamu untuk melakukan ini padaku?" Sudutku menatap Lyana yang menundukan kepala. Lihat! Gadis kecilku seakan menyembunyikan sesuatu agar aku tidak menemukannya.


Setelah ini aku ingin menghajar El habis-habisan.


"Nggak Om.. Lyana.. Lyana yang mau. Kita harus putus." Elaknya.


"Hanya karena kamu melihatku bersama Zahra kamu minta putus? Kamu saja belum mendengarkan penjelasanku kenapa aku bisa bersama Zahra tempo lalu. Kamu nggak bisa seenaknya memutuskanku Lyana. Aku yakin kamu disuruh Papahmu, kan?" Amukku tak terima.


"Bukan Om.. Ini benar kemauan Lyana." Elaknya lagi. Kali ini Lyana mulai berani menatapku. Tatapannya bergetar. Lyana tampak takut, cemas, sedih, namun serius.


"Apa alasan kamu putusin aku kalau bukan karena Zahra atau Papahmu?"


"Seharusnya, dari awal kita nggak pacaran Om." Jawabannya membuatku membelalak seketika.


"Apa katamu?!"


"Maafin Lyana sebelumnya Om Nathan. Seharusnya, Lyana nggak menyatakan perasaan Lyana sama Om Nathan waktu itu. Seharusnya, Lyana lebih keras memendamnya. Seharusnya, dari awal Lyana nggak punya perasaan sama Om Nathan."


Aku tak bisa berkata apapun selain terperangah mendengar pemjelasannya yang terdengar kalut.


Lucu. Wajahnya bergurat sendu tapi ucapannya seakan ia menyesal telah mencintaiku.


"Kalau saja Lyana nggak menyatakan perasaan Lyana saat itu, pasti kita nggak akan kayak gini. Kalau saja Lyana nggak egois, Om Nathan dan Papah nggak bertengkar kayak gini."


"....."


"Lyana baru sadar kalau selama ini Lyana salah. Maaf ya Om Nathan, gara-gara Lyana Om Nathan jadi begini."


"....."


"Lyana sudah nggak bisa jalanin hubungan ini sama Om Nathan lagi. Lyana nggak mau merepotkan Om Nathan lagi."


"Kamu nggak bisa putusin aku kayak gini, Lyana. Bukankah kita saling mencintai?" Ucapku nggak terima. Aku marah. Aku ingin sekali menemui El sekarang juga lalu aku layangkan tinjuanku tepat ke wajahnya.


"Kita nggak boleh saling mencintai lagi Om Nathan.."


"Kenapaa?!" Tanyaku geram.


"Om Nathan itu Om Lyana. Kita saudara. Kita nggak boleh pacaran. Kita nggak boleh saling cinta lagi."


"Kenapa kamu baru peduli dengan status sialan itu!! Kita nggak bersaudara, Lyana!! Kita saling mencintai!!" Tak kuasa aku meluapkan emosiku di depan Lyana. Ia tampak terkejut dengan apa yang kukatakan. Matanya mulai berkaca-kaca. Tampak ia menahan diri untuk tidak menjatuhkan air matanya.


"Maafin Lyana ya Om Nathan. Maafin Lyana. Tapi Lyana nggak mau egois lagi sama Om Nathan. Om Nathan sekarang sudah bebas. Om Nathan nggak perlu mengikuti Lyana lagi. Lyana nggak mau melihat Om Nathan dan Papah bertengkar lama-lama. Baikan ya Om sama Papah." Pinta Lyana.


"Lyana?!"


"Lyana akan menjadi keponakan Om Nathan yang lebih baik lagi. Lyana janji Om."


"Lyn, aku cinta kamu!! Kamu nggak bisa putusin aku kayak gini!! Aku nggak terima!!" Ucapku lantang. Tapi Lyana berbalik dan melangkah pergi meninggalkanku, seolah ia tidak ingin mempedulikanku lagi.


Berkali-kali aku berteriak memanggil namanya, saat itu juga Lyana semakin melebarkan langkahnya agar ia semakin jauh dariku.


"LYN!!"


"...."


"LYANA!!"


"....."


"LYN, AKU CINTA KAMU LYANAAA!!"


"....."


"LYANAAAAA!!!" 


Lyana kembali lenyap dari pandanganku.