
Lyana
Suara merdu jangkrik malam yang merdu menandakan bahwa malam sudah semakin larut. Seharusnya sekarang aku sudah tidur nyenyak sambil memeluk guling. Mungkin saja saat ini aku sudah berada di alam mimpi, mengenakan pakaian indah layaknya seorang putri kerajaan yang sedang di mabuk cinta oleh seorang pangeran tampan di sebuah kastil megah.
Akan tetapi, justru mataku tak terpejam. Badanku berbaring ke samping. Terdiam sambil memandangi Om Nathan yang tertidur pulas tepat disampingku.
Sudah beberapa hari ini aku tinggal di Rumah Om Nathan. Hampir satu minggu. Dan selama aku disini, baru kali ini lagi aku bisa leluasa memandangi Om Nathan secara langsung tepat di depanku, tepat di depan wajahku, pria gagah ini sedang tertidur pulas tanpa tersadar aku sudah memperhatikannya sesaat setelah aku terbangun karena ingin ke toilet.
Melihat Om Nathan seperti ini, aku seakan kembali ke masa lalu.
Saat aku berusia 10 tahun.
Saat itu aku baru tiba di Rumah saat semburat senja sore sudah meredup. Masih mengenakan pakaian sekolah putih-merah sambil aku memeluk sebuah trofi penghargaan.
Aku pulang setelah memenangkan perlombaan sebagai juara harapan dalam perlombaan memainkan Angkluk dengan melantunkan lagu daerah Ampar-ampar Pisang. Aku mendapat juara harapan pertama, mengalahkan beberapa peserta dari sekolah-sekolah terbaik se-Jabodetabek.
Mengikuti perlombaan tersebut membuat hampir semua tenagaku terkuras.
Dari yang mula-mula aku harus bangun pagi-pagi buta dan buru-buru berangkat ke tempat perlombaan, tiba disana aku harus menunggu giliran dipanggil untuk memainkan Angklung dan menunggu lagi akan penilai juri mengenai hasil lomba. Baru sore harinya aku baru bisa pulang ke Rumah sambil membawa trofi yang cukup berat kugendong.
Masih mengenakan pakaian seragam lengkap dengan sepatuku, aku menuju sebuah sofa di ruang tengah lalu aku merebahkan diri disana. Aku benar-benar sangat lelah. Padahal Mamah sudah mengingatkanku untuk segera pergi mandi namun aku masih belum mau beranjak juga.
Tanpa sadar kelelahanku membawaku ke dalam sebuah mimpi indah. Namun aku tersadar jika aku masih berpakaian seragam, aku takut Mamah memarahiku, jadi aku mendadak terbangun dan langsung tercengang melihat aku sudah berada di atas tempat tidurku.
Tak hanya itu, aku juga terkejut melihat ada seseorang yang tertidur disebelahku. Seorang pria yang hangat dan murah senyum yang sangat kukenali. Pria yang selalu membelikanku mainan dan hadiah lainnya jika berkunjung ke Rumah. Pria yang terkadang suka memanggilku cherry. Karena dulu kami memiliki nama panggilan unik dan Om Nathan menyebutku dengan cherry. Katanya pipiku bulat dan ada garis semburat merah di kedua pipiku seperti cherry.
Om Nathan begitu pulas tertidur disebelahku, ia pun tertidur dengan berpakaian kerja yang lengkap. Sama sepertiku.
Dasi berwarna merah garis-garis putih masih bertengger di lehernya. Kemeja putih dan celana licin berwarna hitam, ditambah kaos kaki berwarna hitam masih melekat di tubuh Om Nathan.
Di dekatnya aku juga dapat mencium aroma tubuh Om Nathan yang khas. Saat itu aku belum bisa mendeskripsikan bagaimana aroma menenangkan yang menguar dari tubuhnya. Yang kuingat, hanya aroma menyegarkan seperti rasa buah, lautan dan ada sedikit aroma bunga.
Dan sampai saat ini, aroma tersebut masih tetap menguar dari tubuhnya.
Aku menyukai aroma ini.
Kembali lagi ke masa lalu. Sebenarnya ini bukan kali pertama aku melihat Om Nathan tertidur pulas. Baik di ruang kerja, sofa, atau di kamar tamu aku akan menemukan Om Nathan beristirahat disana.
Namun hanya dengan jarak sejengkal saja aku dapat memandangi wajah Om Nathan, ia tertidur dengan tenang tanpa sedikitpun aku menangkap suara dengkurnya.
Berbeda dengan Papah yang suka mendengkur. Terkadang aku suka kesal jika tak sengaja aku mendengarnya walau terdengar dari jarak jauh sekalipun.
Begitu lamat aku memandangi wajah Om Nathan. Pria bertubuh tegap itu tak merasa terganggu dengan kegiatanku yang mulai menyentuh hidung mancungnya. Sebenarnya hidung Om Nathan tidak terlalu mancung, namun aku tertarik mengganggu hidungnya yang cukup besar di mataku.
Niat jahilku muncul, tanganku mulai bergerak nakal memainkan alis matanya yang tebal. Terakhir, aku mulai memainkan ujung rambut Om Nathan tepat diatas dahinya.
Takut-takut aku memilin helai rambut Om Nathan. Rambut hitam legam itu begitu halus diantara jemariku. Jemariku ketagihan, semakin semangat aku memainkan helaian rambut itu.
Hingga tiba-tiba saja pandangan ku bertabrakan dengan mata Om Nathan. Aku terjerembab sendiri karena Om Nathan terbangun dan memandangiku dengan pandangan kabut kantuknya.
"Kamu sudah bangun," suara serak sehabis bangun tidur itu menggelitik telingaku. Satu tangannya bergerak untuk mengucek satu matanya.
Tetapi aku suka mendengar suaranya.
"Maaf ya Om ketiduran disini. Niatnya cuma mau bopong kamu ke kamar malah Om ikutan tidur disini,"
Aku belum berniat menjawab. Hanya terdiam memperhatikan Om Nathan yang berusaha beranjak dan menggeser punggungnya ke senderan tempat tidur.
"Jadi Om yang bawa Lyana ke kamar?" aku bertanya ketika satu tangannya mulai membelai kepalaku. Lalu turun memainkan rambut panjangku sebahu.
Om Nathan hanya mengangguk lalu kembali memainkan ujung rambutku. Cukup lama ia memutar-mutar jemarinya di helai rambutku sampai rambutku sedikit kusut di jemarinya.
Kupikir ia sedang berbalas dendam karena tadi aku juga sibuk memainkan rambutnya.
Saat itu kami terus bergurau ria di tempat tidur. Sampai-sampai Mamah datang ke kamar dan memarahi kami. Akhirnya aku dan Om Nathan segera beranjak dan membersihkan diri masing-masing, dan setelah itu kami makan bersama di ruang makan.
Mengingat hal itu, aku jadi ingin mengganggu tidurnya lagi.
Namun karena Om Nathan tidak bergerak atau tidak merasa terganggu, jadi aku kembali melanjutkan aksiku.
Aku memulainya dengan mengitari area hidungnya dengan jari telunjukku. Lalu bergerak perlahan menyusuri alis matanya.
Jika diingat-ingat dan kupandang terus wajahnya, wajah Om Nathan tidak ada yang berubah sejak dulu. Hanya ditambah dengan tumbuhnya rambut halus tipis di sekitar dagu dan bawah hidung.
Alis matanya juga masih tebal seperti dulu. Masih terasa halus saat aku menyibaknya.
Kalau diperhatikan, apakah Om Nathan sering melakukan perawatan di wajahnya? Wajahnya begitu terasa halus, lembab, cerah dan kenyal saat jemariku menyentuhnya.
Aku langsung merasa tidak percaya diri saat aku membandingkannya dengan wajahku.
Wajahnya jauh lebih terawat.
Apa jangan-jangan Om Nathan memiliki puluhan botol skincare-nya melebihi punyaku?
Aku jadi penasaran apa saja isi kotak khusus yang berada di kamar mandi pribadinya.
Lupakan wajah maskulin berkulit bayi ini. Aku ingin kembali mengganggunya.
Tapi aku nggak tahu mau melakukan apa lagi.
Apa aku harus kembali memandangi wajah bayi itu sampai aku ketiduran?
Atau aku lebih baik tidur lagi saja? Besok pagi aku berencana untuk menyiapkan bekal Om Nathan lagi.
Kata Om Nathan, makanan yang kubuatkan terakhir untuknya rasanya enak. Mendengar itu aku jadi sangat semangat untuk membuatkannya lagi.
Aku mulai berpikir, menu apa yang akan aku buat untuknya nanti?
Sosis dan nugget lagi, tidak! Nanti yang ada Om Nathan bosan dan nggak mau makan.
Menimbang-nimbang menu lain yang ingin kubuat, spaghetti kayaknya ide yang bagus. Praktis juga pembuatannya.
Ditambah gulungan omelette dan potongan salad buah. Itu akan menjadi menu bekal yang disukai Om Nathan.
Benar. Aku akan membuatkannya besok dan harus segera tidur lagi. Aku nggak mau terlambat bangun.
Aku jadi tidak sabar menjelang pagi.
Ketika aku membenarkan posisiku dan mulai memejamkan mata, aku mendengar racauan Om Nathan.
Racauannya tidak terdengar dengan jelas. Mungkin Om Nathan sedang berpetualang di bunga tidurnya.
Jadi kuhiraukan racauan itu dan kembali memejamkan mataku.
Namun racauannya terdengar lagi, jadi aku kembali membuka mata. Saat aku ingin mendengarnya secara seksama Om Nathan berhenti meracau sampai situ.
Aku pikir Om Nathan meracau tidak jelas karena ia kelelahan. Pasti hari ini Om Nathan sangat sibuk bekerja sampai-sampai ia ketiduran.
Setelah aku menghela napas dan melihat Om Nathan kembali tenang, satu tanganku terangkat lagi, mengusap dahinya dengan lembut dan aku mendekatkan wajahku ke wajahnya sehingga hidung kami saling menempel.
"Om Nathan.." bisikku memanggilnya dengan lembut sebelum aku memejamkan mata lagi.
"Om Nathan sudah bekerja keras hari ini.."
Iya. Pria ini sudah berusaha keras dan berjerih payah.
Kecupan singkat di pipinya menjadi hadiah untuknya.
Untuk pria yang paling aku sayangi setelah Papah dan El.
"Tidur yang nyenyak Om Nathan. Mimpi yang indah." bisikku lagi dan kembali mengelus dahinya singkat lalu aku langsung memejamkan mataku.
...-o-...