
Wajah cantik itu sempat berbinar cerah, tapi meredup ketika sosok pria jangkung dengan kemeja putih dan celana bahan panjang berwarna coklat tua melangkah penuh percaya diri menuju posisi Lyana.
Wajah tampannya dihiasi oleh senyuman yang dapat melelehkan beberapa orang yang tengah mengamatinya sambil membawa seikat bunga tercantik digenggamannya.
"Kekasihku!"
Lyana melongo ditempat. Tak percaya dengan apa yang Ken katakan barusan padanya dihadapan teman-temannya yang menatap ke arahnya dengan tatapan penuh tanya dan tak percaya.
Ken berhasil memancing tatapan anak-anak sekolah. Ia memang sengaja melakukan itu demi mendapatkan perhatian secara khusus.
Terutama Lyana.
"Kok Om Ken yang datang?" Lyana celingak-celinguk ke arah belakang Ken tanpa mengindahkan panggilan Ken. Sebenarnya Lyana kesal mendengar panggilan itu, namun ia lebih kesal karena sosok yang ia tunggu sedari tadi justru tidak menampaki diri. "Om Nathan ke mana? Belum selesai ya?"
"Jadi, aku capek-capek datang ke sini untuk menjemputmu tapi kamu mencari orang lain? Bagus. Kamu menyebalkan sejak berpacaran dengan pria tua itu." Ken langsung cemberut dan menyodorkan bunga itu dengan paksa, membuat Lyana terpaksa menerimanya.
Lyana memutar matanya malas. Semakin ke sini, Lyana sudah mulai terbiasa dengan sikap Ken yang suka berubah-ubah. Terkadang pria itu suka bersikap konyol, terkadang menyebalkan, terkadang baik dan penurut, dan terkadang bisa menyeramkan disaat tak menentu.
Lyana jadi kepikiran siapa jodohnya yang bisa menanganinya nanti.
Kini Lyana mengikuti langkah Ken yang lebih dulu berjalan menuju parkir mobilnya. Ken langsung membukakan pintu untuk Lyana masuk ke dalam mobil kemudian menutupnya lagi. Hal itu sudah menjadi kebiasaan Ken sejak lama jika ia berhadapan dengan seorang wanita.
Hanya tinggal mengitung hari lagi, perempuan kecil berpakaian sekolah yang duduk disamping Ken akan menikah dengan sahabatnya. Dengan senang hati Ken bersedia membantu Nathan menjemput Lyana ke sekolah selagi sahabatnya sedang sibuk mengukur baju pernikahannya.
Karena terlalu bahagia menyambut pernikahannya, badan Nathan terlihat mulai membengkak. Tak ada waktu lagi untuk mengecilkan badannya, sehingga Nathan harus fitting ulang.
"Bagaimana kabarmu?" Ken berbasa-basi sambil mengemudikan mobilnya. Lyana mengangguk semangat.
"Sangat baik." Balasnya antusias.
Tanpa perlu ditanyakan lagi--melihat Lyana menggerakan kedua kakinya antusias di tempat duduknya--seharusnya Ken tahu bahwa gadis kecil itu baik-baik saja. Melebihi itu, gadis itu tampak ceria seperti matahari yang menyengatkan sinarnya saat ini.
Tak lama mobil mereka tiba di sebuah tempat jasa wedding organizer. Lyana langsung keluar dari mobil layaknya anak kecil memasuki tempat tersebut dan langsung menuju sebuah kubikel yang dimana itu adalah sebuah ruangan dan Nathan ada di sana bersama beberapa pegawai.
Nathan langsung menoleh ketika mendengar derap langkah sepatu yang mengudara. Itu pasti Lyana. Pria itu langsung tersenyum menyambut kedatangan calon isterinya itu.
Lyana berjalan cepat sambil merentangkan tangannya. Nathan menyambutnya dengan baik. Memancing pasang mata hanya tertuju pada mereka.
"Wah, ini anaknya ya Pak? Cantik sekali!" Puji salah satu pegawai toko di sana. Mereka yang menyaksikan itu semua hanya terdiam sejenak saling melempar pandangan. Sementara Ken tertawa mendengar itu.
Salah satu pegawai lainnya yang mengetahui status Lyana meminta pegawai itu untuk menangani kerjaan lain. Setelah pergi, ia menunduk sambil memohon maaf kepada Nathan.
"Maaf, Pak Nathan, pegawai saya yang itu tidak tahu kalau ia adalah calon pengantin perempuannya."
Nathan hanya bisa mengangguk pasrah. Sejak awal kedatangannya ke wedding organizer ini, ia harus memasang wajah temboknya karena setiap kali pegawai melihat Lyana selalu menganggap bahwa Lyana adalah anak perempuan Nathan.
Lyana hanya tersenyum salah tingkah.
Private-wedding adalah pernikahan yang diidamkan dua sejoli itu. Terutama Lyana. Sejak kecil, ia ingin pernikahannya dirayakan di sebuah outdoor yang teduh. Hanya dihadiri oleh orang-orang yang Lyana kenal saja, karena acara akan terasa istimewa jika Lyana menikmatinya tanpa harus sungkan kepada orang lain.
Pernikahan tersebut dikabulkan pihak keluarga. Hanya dihadiri oleh keluarga besar dan kerabat dekat, meski awalnya El agak keberatan.
"Gue balik ya." Pamit Ken setelah memastikan gadis itu audah bersama prianya.
"Nggak mau nungguin gue dulu? Sebentar lagi gue selesai kok. Gue traktir lo makan setelah ini." Ucap Nathan. Sebagai tanda terima kasihnya telah mau menjemput Lyana ke sekolah, Nathan akan membelikan apapun makanan yang Ken mau.
Namun Ken menggeleng. "Nggak Nat. Gue masih harus urus urusan lain."
"Tumben lo. Ini gue mau traktir lo makan lho." Nathan menatap Ken nggak percaya. Baru kali ini Ken menolak ajakannya untuk makan bersama. Biasanya kalau Nathan mau traktir makan, Ken bersemangat empat lima.
"Nggak nolak kok. Gue bakal tagih janji lo setelah urusan gue selesai. Bye."
Ken cekikikan lalu meninggalkan Nathan dan Lyana di sana. Nathan berdecih kesal. Memang, Ken nggak sebaik itu.
Nathan kembali melanjutkan memilih baju yang akan ia gunakan dalam pernikahannya nanti. Ada tiga set baju tergantung rapih, bertema hitam dengan model yang berbeda. Tak butuh berapa lama Nathan langsung memilih bajunya dan langsung dirapihkan oleh pegawai.
"Kenapa nggak pilih yang tengah aja? Menurutku itu lebih bagus."
Lyana mengoreksi pilihan Nathan yang lebih memilih model tuxedo bergaya modern dengan jas luar memanjang sampai pangkal paha. Sedangkan Lyana memilih model tuxedo pada umumnya dengan dasi kupu-kupu. Dasi kupu-kupu itu berkesan maskulin dibayangan Lyana jika Nathan mengenakannya.
"Nggak ada bedanya sayang. Aku hanya memakainya dalam beberapa jam saja. Acara kita nggak sampai berhari-hari kan?" Nathan kembali merapihkan pakaiannya setelah pengukuran ulang. Kali ini Nathan meminta ukuran dengan space dua senti. Siapa tahu ia khilaf lagi dengan badan yang nambah membengkak. Tapi, Nathan akan mencoba untuk menjaga makannya mulai sekarang.
"Mbaknya--mau sekalian pengukuran ulang?" kini Pegawai menawarkan pada Lyana untuk pengukuran ulang. Sejenak Nathan memperhatikan Lyana.
"Tidak usah kayaknya." tukas Nathan cepat.
Pegawai itu kemudian pergi meninggalkan Nathan dan Lyana di ruangan setelah Nathan memilih. Sebelum mereka pun pergi, Lyana ingin melihat-lihat gaun pengantin yang bergantung rapih di sana. Satu persatu ia mengamati gaun itu dengan seksama. Deretan baju menggantung itu memiliki corak dan hiasan begitu banyak. Payet-payetnya rapih dan detail. Bahannya juga bagus.
Termasuk dengan baju pengantin Lyana yang akan dikenakannya nanti. Baju yang telah dipilihnya memiliki ratusan payet yang menempel serta ekor yang begitu panjang. Saat ia mencoba untuk memakainya beberapa hari yang lalu, Lyana butuh tenaga lebih agar ia tidak terjatuh. Karena gaun yang dipilih cukup berat. Belum lagi dengan hiasan kepalanya nanti. Membayangkannya saja Lyana sudah merasa lelah. Bagaimana nanti disaat ia benar-benar mengenakannya nanti dalam beberapa jam di acara tersebut?
"Kamu sudah makan?" Nathan mendekati Lyana dan mengalungkan kedua tangannya ke pinggang Lyana.
Lyana menoleh lalu mengangguk. "Sudah."
"Makan apa tadi?"
Lyana terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Ayam goreng. Tadi Sammy bawakan makanan untukku."
"Sammy?" Nathan mengulang nama temannya, lalu ia ingat. Lyana pernah mengenalkan Sammy padanya ketika Nathan menjemput Lyana ke sekolah.
Laki-laki berambut ikal itu memperkenalkan dirinya percaya diri. Tingginya belum semampai Nathan dan tidak dikatakan tampan, tapi ia cukup menarik untuk teman seusianya.
"Iya, Sammy. Kamu sudah tahu Sammy kan? Yang waktu itu aku pernah kenalin kamu di sekolah."
"Iya, aku ingat dia." Balas Nathan.
"Kenapa tiba-tiba Sammy bawain makanan buat kamu?"
"Sammy lagi ulang tahun ini hari ini. Jadi Sammy ingin traktir makan di kantin. Tapi aku dan Fanya malas ke kantin, jadinya Sammy bawakan makanannya ke kelas, Sammy beliin aku nasi ayam kalau Fanya bakso malang Pak Kumis." Terang Lyana sambil mengelus lengan Nathan.
Sentuhan Lyana terasa hangat, menghantarkan Nathan untuk mengeratkan pelukannya. Lyana tahu, pria yang memeluknya ini sedang dalam mode "cowok posesif".
Sejak hubungan mereka semakin serius, Nathan semakin leluasa menunjukan sisi kekanak-kanakan yang terkadang membuat Lyana terpaku tak percaya.
Karena sudah memgerti akan sikap dan sifat tunangannya itu, Lyana pun juga mulai terbiasa dengan menerapkan dirinya dalam mode "siaga". Bisa dibilang Nathan menjadi lebih "agresif" kalau Lyana menceritakan keintensitasnya bersama Sammy.
Hal itu membuat Lyana lebih berhati-hati jika mereka sedang membahas tentang hari-hari mereka. Apalagi Lyana lebih suka menceritakan kisahnya tentang di sekolah, otomatis Sammy ikut terlibat di dalamnya.
Namun, Lyana dan Sammy murni berteman. Tidak ada perasaan terselubung diantara mereka. Mereka saling sayang murni karena berteman. Kecuali terhadap Fanya, Sammy memiliki perasaan itu. Hanya saja waktu belum bisa mempersiapkannya untuk menyatakan isi hatinya.
"Nggak ada sayurnya?"
Lyana berdeham sejenak. "Hanya selada. Tapi aku nggak makan. Aku nggak suka."
"Kenapa kamu nggak makan yang lain aja, kayak gado-gado, atau makanan lainnya yang ada sayuran?" Tanya Nathan lagi.
"Aku mau makan nasi ayam, sayang. Gado-gado aku bosan. Kemarin aku sudah makan bakso."
"Bukankah aku sudah bilang sama kamu--" perlahan Nathan mengusap perut Lyana yang terasa kencang di telapak tangannya.
"--kamu nggak boleh melewatkan makan sayurnya. Di tubuhmu sekarang ada dua nyawa yang paling berharga untukku."
Kesalahan terbesar menjadi hadiah terindah untuk Nathan dan Lyana--sosok janin yang hidup dengan tentram di perut Lyana menjadi sebuah alasan besar jadwal pernikahan mereka harus digelar secepat mungkin.
Terutama El. Ia adalah orang paling pertama yang paling antusias setelah mengetahui Lyana hamil, sampai-sampai Adit hampir putus asa menghadapi antusias El.
Antusias memukul Nathan.
Setelah berhasil mengesampingkan ego, rencana pernikahan akan segera terealisasikan sesuai dengan ekspektasi mereka. Pernikahan akan digelar beberapa minggu lagi. Dan sebentar lagi Lyana akan menjadi Nyonya Nathaniel.
"Iya sayang."
"Jangan jangan kamu juga belum minum vitamin yang aku kasih ya?"
Lagi-lagi Lyana menggeleng pelan.
"Vitaminnya nggak aku bawa. Ditinggal di rumah."
Nathan menghela napasnya pelan.
"Kamu mulai nggak mau dengerin aku ya? Gimana caranya supaya kamu mengerti aku khawatir padamu?"
"Aku nggak bermaksud begitu.." Lyana menampik. "Aku bosan makan sayuran. Kamu tahu aku nggak terbiasa makan sayur setiap hari."
"Justru kamu harus mulai terbiasa, sayang. Kamu sudah janji sama aku, kamu nggak lupa kan?"
Lyana mengangguk. "Aku nggak lupa kok. Please, jangan marah sama aku. Nanti malam aku minta Mamah buatin sayuran."
"Aku nggak marah." Nathan mengeratkan pelukannya lagi. Sambil mengelus perut Lyana lagi.
"Kalian harus sehat, jangan sampai sakit. Aku mencemaskan kalian, karena kalian sangat berharga."
Menjelang hari pernikahan yang semakin dekat, justru Nathan mengalami kecemasan. Ia cemas, pernikahannya nggak sesuai ekspektasi. Ia cemas, pernikahannya nanti akan mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Ditambah Lyana sedang hamil, Nathan cemas di hari pernikahannya nanti akan menguras energi Lyana dan Lyana akan jatuh sakit.
Namun kecemasannya itu membuat Nathan menjadi pria siaga. Bagaimanapun ia akan selalu mencari cara supaya ia bisa menyaksikan bagaimana sosok nyawa kecil itu berkembang baik di dalam perut Lyana.