
Nathan
Aku tidak pernah segugup ini.
Sumpah, rasanya aku ingin sekali tenggelam ke dalam samudera agar orang lain tidak bisa menarikku ke permukaan.
Kerongkonganku naik turun. Terasa pahit dan perih bersamaan.
Tak lupa bulir keringatku malu-malu keluar disela telingaku.
Tuhan, jika aku tahu aku harus menghadapi kenyataan ini, sungguh--aku belum siap.
Di depanku, El duduk terdiam menghadapku dengan gaya arogannya; tangan terlipat di depan dadan dengan satu kakinya bersila menopong satu kakinya. Tatapannya hanya berpusat padaku, dari atas kepala hingga ujung sepatuku.
Perhatiannya tak sedikitpun terlewatkan. Tatapannya bagaikan pisau yang siap mencincangku kapanpun.
Di samping El ada Adit. Kakak ipar El yang juga tampak menilaiku dari ujung kepala sampai ujung kakiku. Lalu juga ada Karmila, istri Adit duduk di samping Milly dan Lyana.
Aku grogi karena tatapan delik mereka menatap hunus padaku? Maaf, kalian salah. Ini yang membuatku keringat dingin.
Papahku dan Mamah Risma juga duduk tenang diantara kami. Berbeda dengan El, Papah dan Mamah Risma menatapku penuh tanda tanya.
Ternyata El menjemput Papah dan Mamah ke Bandara tanpa sepengetahuanku. Aku juga menatap heran, biasanya Papah dan Mamah akan mengabariku jika mereka akan bertandang ke Bekasi dan mereka akan memintaku untuk menyusul ke Bekasi.
Tapi ini tidak. Papah dan Mamah tidak ada yang menghubungiku. Bahkan tidak ada satupun pesan singkat dari mereka yang mengatakan kalau mereka di Bandara.
Pun El demikian. El hanya memintaku datang disaat jam sarapan dan--
Sial!! El ternyata mengerjaiku.
Dibalik maksud terselubungnya, aku memikirkannya dengan teliti. Kalaupun ia ingin aku mengutarakannya di depan Papah dan Mamah--jujur saja--nyaliku belum diambang kata siap.
Apa ia tidak mengerti posisiku?
Aku berhasil mengutarakan hubunganku dengan Lyana ke El saja, aku butuh perjuangan yang luar biasa diawal.
Dan sekarang El mengujiku lagi dengan menghadirkan keluarga besar di rumahnya. Dimana awalnya aku dan Lyana baru kembali bertatap muka, saling mengadu kesedihan dan aku dipergoki mereka yang langsung dihadiahi tatapan heran.
Sampai saat ini kami semua terdiam, saling melayangkan tatapan satu sama lain. Hanya tinggal menunggu siapa lebih dulu membuka pembicaraan kami.
Ken melirikku sambil menyenggol kakiku dengan kakinya. Mengisyaratkanku untuk membuka obrolan lebih dulu. Tapi isyarat Ken sia-sia karena bibirku masih terkatup rapat. Otak dan bibirku serempak kelu. Tidak tahu apa yang harus kukatakan selain diam dan menunggu siapa yang berhasil memancingku berbicara.
"Aku lapar.." Akhirnya Adit bersuara. Sebelum berdiri, ia menyapu tangannya diatas paha.
"Sayang, aku bantu pindahin makanan ke piring. Dimana kamu taru makanannya tadi?"
Alihkan Adit dan Karmila yang menuju dapur. Sengaja meninggalkan kami yang masih berada di dalam ketegangan ini.
Begitu juga Ken. Kalau ia pergi, aku tidak akan menahannya. Karena kalaupun aku jadi Ken, aku akan melakukan hal yang sama.
Jadi Ken melangkah ke luar. Membiarkan aku sendiri di sini menghadapi masalahku.
"Aku.. aku ingin menyampaikan sesuatu.."
Mau tidak mau, aku harus siap menghadapinya.
"Pah, Mah, Kak El.. aku mencintai Lyana,"
Sesuai dengan bayanganku, Papah dan Mamah serempak membelalak terkejut mendengar pernyataanku.
"Aku.. ingin mendapatkan restu kalian."
Seketika suasana semakin pelik.
El masih terdiam di sana. Menatapku penuh selidik. Seolah sedang menatap buronan kelas kakap yang baru saja kepergok melarikan diri dari sel tahanan.
Begitu juga Papah. Sirat heran dan tak percaya berpadupadan diantara kedua matanya. "Apa kau bergurau, nak?"
Aku membalas tatapan Papah dengan serius dan mengucapkannya dengan lantang. "Aku serius Pah. Aku mencintai Lyana."
"Tapi--Lyana itu keponakanmu, Nathan?"
Itu benar. Dari awal aku tidak menepis kenyataan itu.
"Aku tahu. Tapi rasa cintaku nggak berkurang, bahkan semakin menjadi. Begitu pun sebaliknya."
Mereka serempak menatap Lyana yang tertunduk diam. Milly mencoba menenangkan Lyana dengan mengusap punggungnya dengan kasih sayang.
Kami kembali terdiam. Entah apa yang mereka pikirkan setelah mendengar pengakuanku. Aku menyelami pikiranku dengan perasaan gundah.
Ketakutan menggerogotiku lagi.
Mencoba untuk berharap agar kesempatan memihak padaku, namun pikiran burukku justru menghantuiku.
Kekecewaan Papah dan Mamah, renggangnya hubungan kami, dinginnya El padaku.
Lalu kehilangan Lyana lagi, untuk selamanya.
Terkekeh dalam hati, menertawakan diriku yang pengecut ini. Mulut berkoar kata berjuang, tapi aku justru lempeng dengan spekulasi orang.
Kutatap Lyana yang masih setia menunduk. Entah karena ia takut, atau karena ia tidak mau menatapku.
Gadis ceria yang selalu aku rindukan, hari ini tidak ada keceriaan di hadapanku. Gadis kecil yang biasa tersenyum sumringah itu hanya tertunduk membisu. Itu semua karena rasa sakit yang kutanam di hatinya dan kini tumbuh dengan baik.
Iya. Itu semua berkat pria brengsek yang sedang menatapnya ini. Berharap tak tahu diri agar gadis kecilnya menatapnya dan menerbitkan senyum khasnya.
Aku meringis frustasi.
"Masalahmu, sudah kamu selesaikan?" Kini semua arah pandang berpusat pada El. Ia mencoba untuk merilekskan badannya dengan menyenderkan punggung. Tapi tatapannya tak berubah tajam menatapku.
Aku tak mengangguk, tapi tak menggeleng juga. Aku bahkan tidak tahu apakah masalahku dan Lyana bisa dikatakan sudah selesai atau belum.
Sebab percakapan kami berakhir menggantung karena kedatangan El dan orang tuaku tiba-tiba.
"Aku sudah menjelaskannya." Hanya itu yang bisa kukatakan.
"Lalu, hasilnya bagaimana? Apa Lyana memaafkanmu?"
Aku menghela napas dan kembali menatap Lyana. Tapi subjek pandangku tak mendongak maupun berbicara.
"Lyana dan Nathan sedang bertengkar?" Itu suara serak nan lembut Mamah Risma. Ia tampak iba melihatku dan Lyana bergantian.
Tapi si sumbu api ini akan mencari derit masalah sebelum ia merasa puas.
"Tapi tampaknya Lyana belum memaafkanmu."
Sekuat tenaga aku menahan diri untuk tidak terpancing emosi. Aku menyalurkannya dengan mengeratkan genggaman tanganku.
"Seperti yang aku bilang, Nathan. Kamu hanya kuberi satu kesempatan lagi. Tapi sepertinya aku sudah melihat hasilnya."
Genggamanku semakin bertaut kencang. Sementara bibirku menipis ke dalam.
"Menyerahlah."
Aku terkekeh sinis.
Aku teringat kembali dengan pertemuan pertamaku dengan Lyana di Bandara setelah sekian lama. Tinggal bersama di rumahku dengan penuh sorak tawa. Banyak hal kecil hingga besar telah kami lalui bersama. Berbagai macam hal yang telah kami ceritakan di setiap harinya. Hingga sirat dan gejolak rasa yang selalu kutepis dengan susah payah, tapi perlahan tumbuh semena-menanya di dalam diriku seiring berjalannya waktu.
Disaat aku sempat menyerah karena keadaan--tapi dengan cepat aku kembali berjuang untukku dan Lyana--dengan mudahnya orang lain mengatakan bahwa aku harus menyerah lagi begitu saja.
Aku bangkit dengan wajah mengeras. Menatap El yang juga ikut bangkit dengan ekspresi serupa.
"Tidak akan lagi sebelum Lyana sendiri yang memintaku untuk menyerah."
Kelantanganku membuat El terdiam sekilas. Lalu ia berdecak pongah.
"Aku akan membuatnya mengatakan itu sekarang juga."
Beruntung Ken dan Adit berhasil menengahi kami. Coba kalau tidak, adu tinju akan kembali memenuhi ruang tengah.
"Tenangkan diri kalian! Di sini ada anak dibawah umur." Peringatan Papah membuyarkan emosiku. Sskilas aku melihat Lyana dan sepupu Lyana yang tak jauh dari posisi kami. Zoya. Ia bersembunyi di punggung Karmila saat tatapan kami bertemu.
Zoya dan Lyana seumuran, by the way.
"Nathan, Papah mengapresiasi pengakuanmu. Tapi.. apa kamu nggak mau berpikir ulang lagi? Lyana adalah keponakanmu, anak dari kakakmu. Dan umur kalian terpaut sangat jauh. Apa nantinya kamu tidak akan merasa kerepotan mengimbangi Lyana?"
Sebelum Papah mengatakan itu, aku sudah lama memikirkannya.
Aku tahu, Lyana memiliki masa depan yang sangat panjang untuk menggali dunianya yang begitu luas. Hanya dengan tambahan bimbingan yang lebih baik, Lyana dapat melangkah bebas ke dunia yang ia mau.
Nggak hanya Lyana, semua orang berhak menentukan nasibnya. Termasuk aku.
Jika Lyana masih harus mencari dunianya, bolehkah aku yang egois ini berdiri disampingnya dan menemaninya?
Setidaknya aku ingin sebagai rumahnya untuk tempat ia berteduh.
Atau sebagai air agar ia tetap bertahan hidup.
Atau sebagai kadar oksigen agar ia tetap bernapas.
Aku melangkah gontai, tepat dimana Lyana duduk dan aku kembali bersimpuh di depannya. Mengambil kedua tangannya yang terasa gemetar halus dan tersentak sesaat ketika aku menggenggamnya. Kugenggam begitu kuat hingga gemetarnya tersalurkan padaku.
Sungguh. Aku begitu mencintainya. Sampai aku tidak sanggup berpikir, atau membayangkannya, apa jadinya nanti jika Lyana tidak ada di hidupku.
"I'm in love with her, Papah."
Hanya itu yang bisa kukatakan sambil menatap wajahnya yang memerah.
Entah karena haru atau menahan isak tangis. Tapi aku melihat matanya berkaca-kaca.
"I'm so fucking loving you, Lyana."
Bisikku dengan sirat yang paling dalam.
"Tidakkah kau mencari seorang wanita yang lebih.. dewasa? Yang lebih paham dan mengerti akan kondisimu?"
Kepalaku menggeleng kuat diatas genggamanku di tangan Lyana.
Ini bukan soal kesetaraan umur, atau tingkat kedewasaan seseorang akan menentukan masa depan.
Kalaupun itu memang ada, dari dulu aku sudah menikah dengan orang lain.
Tapi kebahagiaanlah yang kucari. Dan pilihanku jatuh kepada seorang gadis kecil dibawah umur delapan belas tahun. Gadis yang belum dikatakan dewasa tapi dapat mengendalikan hatiku sepenuhnya hingga tidak bisa berpaling ke manapun selain dirinya.
Untuk apa aku mencari lagi kalau kebahagiaanku sudah ada di depanku sekarang?
Akhirnya tatapanku kembali bertemu dengan tatapan pekat Lyana yang tampak sayu dan sendu. Hidungnya tampak memerah. Ia seperti menahan isaknya, membuatku merasa sedih dan gemas di waktu bersamaan. Ia sangat lucu dengan rona merah di hidungnya itu. Seperti boneka hidup.
Kuurungkan niatku untuk mencubit pipinya dengan mengelus jemarinya yang lentik. Jemarinya terasa kecil digenggamanku. Tapi terasa hangat.
Lihat, melihat ukuran tangan kami saja kami sudah terlihat sangat cocok.
Cinta? Nggak usah ditanya lagi. Itu sudah jelas dari sorot mata kami. Terutama Lyana. Tatapannya bergetar, begitu dalam seakan ia tidak ingin aku pergi ke manapun.
Apa lagi yang harus diragukan?
Suara El mengudara, membuat perhatian Lyana teralihkan karena El baru saja memanggilnya. El kembali mendominasi pembicaraan kami dengan sebuah pertanyaan yang kembali membuatku kelimpungan.
"Lyn, apa kamu memaafkan Om Nathan?"
Aku kembali mengeratkan genggamanku di tangan Lyana.
Teringat kembali ia mengatakan rasa sedih daan sakit hatinya atas semua yang telah kulakukan padanya.
Kesalahanku memang tidak bisa ditolerir lagi. Benakku akan terus mengingatnya untuk tidak akan mengulanginya lagi.
Tapi sekarang aku ketir karena El menuntut jawaban Lyana, apa Lyana mau memaafkanku atau tidak.
Karena hanya jawaban itu yang dapat menentukan Lyana kembali padaku.
Atau tidak.
"Papah nggak lupa kan sama janji Papah sama Lyana?"
Aku mengernyit heran mendengar pertanyaan balik Lyana. Tapi saat berbalik menuntut jawaban, El hanya diam mengangguk.
Kemudian aku tercengang beberapa saat melihat Lyana mengembangkan sudut bibirnya.
Ia tersenyum padaku.
"Om Nathan, kita ke Inggris yuk!"