Hi, Om Nathan!

Hi, Om Nathan!
Bab 16



Nathan


Suara alarm yang bergetar di tempat tidur memaksaku untuk membuka mata.


Satu tanganku bergerak mencari sumber suara itu. Setelah tanganku sibuk menelusuri tempat tidur, mencari sumber suara yang mengganggu ku, akhirnya aku menemukannya dibawah bantal tepat di sebelah ku dan segera aku mematikannya.


Sejenak aku terdiam, aku mulai mengangkat badan ku terduduk sambil menyenderkan punggung ke senderan kasur dan terdiam lesu sambil mengumpulkan nyawaku yang masih tersangkut entah kemana karena masih mengantuk.


Beberapa saat kemudian pandangan ku yang sempat mengabur mulai terlihat jelas. Aku mulai mengitari ruangan yang tampak asing bagiku, namun aku langsung tersadar saat itu juga.


Rupanya aku tertidur di kamar Lyana.


Aku kembali mencari sesuatu di sekitar tempat tidur, tidak menemukannya di tempat tidur aku mulai bergerak menatap meja nakas. Rupanya ponsel ku kuletakan diatas meja nakas dan aku memeriksa jam yang sudah menunjukan pukul 7 pagi. 


Aku kembali tersadar, alarm ponsel yang kumatikan tadi rupanya bukan ponsel ku. Melainkan ponsel Lyana.


Pantas nada alarm-nya sempat terdengar asing di telingaku.


Melihat jam yang sudah pukul 7 pagi, aku langsung menyibakan selimut dari badan ku dan bergegas memakai sandal dan kembali ke Kamar.


Aku teringat dengan jadwal padat ku hari ini. Jam 8 aku sudah harus berada di Kantor. Rencananya mulai hari ini timku akan menyebarkan brosur dan banner ke beberapa Kantor Agen Properti yang sudah bekerja sama dengan Kantor ku.


Lalu aku juga harus menemui tim pelaksana dan tim marketing lainnya, yang dimana siang nanti mereka akan mengkoordinir  acara Product Knowledge perdana kami sekaligus open house di lokasi pembangunan Cluster.


Mengingat jadwal tersebut kepalaku mendadak pening. Sudah kupastikan seharian ini aku akan menghabiskan waktu di luar Kantor, atau sibuk membantu tim di lokasi PK sambil memantau kegiatan promosi di sana.


Belum lagi aku juga harus ke Kantor Ken untuk memberikan beberapa rim brosur dan banner ke Kantornya. Aku sudah janji untuk menyerahkan semua itu sendiri ke Kantornya.


Hendak keluar kamar menuju anak tangga, aku juga baru tersadar. Sejak aku bangun aku tidak menampaki Lyana sedari tadi. 


Seingat ku, semalam aku ke Kamar Lyana setelah gadis kecil itu pergi bersama Ken. Lalu aku tiduran di tempat tidurnya sambil menyimak cerita Lyana. Dan setelah itu aku tidak ingat lagi sampai tadi aku terbangun di Kamar Lyana dan aku tidak melihat Lyana di sana. 


Kemana gadis kecil itu pergi?


Apa gadis kecil itu pindah ke kamar lain?


Apa jangan-jangan semalam tidurku terlalu lasak* dan tidak sengaja aku mengganggu tidurnya? Apa mungkin semalam aku tertidur sambil mendengkur keras sehingga Lyana tidak nyaman dan memilih pindah Kamar? 


"Ternyata Om Nathan kalau tidur ngorok. Berisik banget. Lyana sama sekali nggak bisa tidur."


"Om Nathan tidurnya juga ngiler. Lyana geli."


"Kaki Om Nathan juga nggak bisa diam. Badan Lyana sakit karena ketendang Om Nathan."


"Mulai hari ini Lyana nggak mau tidur lagi sama Om Nathan!"


Kepala ku kembali pening saat membayangkan wajah polos gadis kecil itu berubah masam menatap ku sambil ia menceritakan praduga yang kemungkinan besar terjadi semalam.


Walau aku yakin, aku bukan orang yang lasak saat tidur. Aku terbilang jarang banget mengeluarkan air liur ketika tidur. Dan aku yakin aku tidak pernah mendengkur selama aku tertidur. 


Tapi saat aku tahu Lyana menghilang di Kamarnya, dugaan buruk di kepala ku berputar dan menghantam keyakinan ku. 


Aku kembali fokus ke tujuanku menuju kamar ku di lantai atas. Buru-buru aku melangkah dengan cepat dan hendak ingin menaiki anak tangga pertama, namun terhenti ketika aku melihat Bi Ida sudah datang dan Lyana bersamanya. 


Aku memperhatikan punggung mereka yang tengah sibuk di Dapur.


Lebih tepatnya aku tengah memperhatikan Lyana. 


Lyana terlihat polos dengan kemeja panjang putih yang hanya sampai menutupi paha. Rambutnya digulung ke atas kepala hingga beberapa anak rambutnya jatuh menutupi sebagian lehernya yang putih.


Disini aku bisa melihat dengan jelas dengan kedua mataku sendiri, kemeja putih yang Lyana kenakan itu ternyata berbahan agak tipis. Memunculkan sekelebat bayangan tali bra berwarna hitam dan ****** ***** berwarna senada. 


Tanpa sadar aku terus memperhatikan Lyana dengan tatapan mendalam. Semakin jelas penampakan pakaian mini itu terlihat olehku, sekujur tubuh ku mendadak terasa panas. 


Hingga akhirnya tatapan ku dan tatapan Lyana bertemu. 


Hal itu justru membuat ku semakin lamat dan dalam memandangi Lyana. 


"Oh—Om Nathan sudah bangun,"


Sapa Lyana setelah melihatku membuatku tersadar dan buru-buru aku membalikan badan sambil satu tanganku menyentuh dadaku yang tiba-tiba bergemuruh kencang tak karuan. 


Namun aku mulai merasa aneh dan sadar sesaat, kenapa aku memalingkan muka dengan wajah yang terasa panas? 


Bukankah seharusnya aku membalas sapaan Lyana seperti biasanya?


Menyadari sikapku yang seperti ini justru aku seakan seperti pria mesum yang baru saja kepergok mengintip perempuan mandi di Sungai.


Tapi kenapa gadis kecil itu harus memakai kemeja yang terlihat transparan seperti itu?


Bagaimana jika disini ada Ken yang menginap di Rumah ku dan melihat Lyana seperti saat ini?


"Pagi Om Nathan,"


Belum selesai aku mencerna otak ku atas kejadian yang kulihat barusan, sekarang gadis kecil ini tiba-tiba datang memeluk ku dari belakang. 


Tubuh ku langsung menegang seketika. Pelukan eratnya membuat saraf tubuh ku mendadak kaku. 


Ditambah adanya dua gundukan lembut yang diam-diam malu menggesek punggung ku secara lembut membuat sekujur tubuh ku menggigil hasrat. 


Sial! Aku mendadak keras.


"Om, Lyana baru saja buatin Om sarapan pagi. Spaghetti Carbonara dan Omelette sayur. Kata Bi Ida, Om Nathan suka makan Spaghetti Carbonara jadi Bi Ida bantu Lyana buatin itu. Lyana juga buatin lebih banyak supaya Om bisa bawa makanannya ke Kantor. Jadi Om nggak perlu beli makan di luar lagi,"


Lyana makin erat memeluk ku. Pelukannya membuat ku tak tahan lagi menahan erangan lirih yang sudah kuusahakan untuk tidak keluar dari mulut ku.


"Kok Om diam saja? Om Nathan kenapa?" 


Apa gadis kecil ini memang sangat polos? Atau Lyana tidak sadar jika sekarang aku mulai merasa tersiksa setelah mendengar suara lembut Lyana yang mendadak berubah merdu dan seksi di telinga ku?


Tidak sampai disitu, gesekan lembut kembali terjadi disaat Lyana menggeser badannya agar ia bisa menatap wajah ku secara dekat. Pelukannya tidak ada sedikitpun ia longgarkan. Betah dikalungkan diantara pinggang ku hingga aku seketika menggigil lagi. 


Sejenak ia memandangi wajah ku hingga tatapan kami bersinggungan, kupikir ia akan menanyakan keadaan ku sambil melepaskan pelukannya.


Tapi nyatanya Lyana tak kunjung melepaskan ku. Lagi-lagi wajah polos tak berdosa itu tersenyum manis menatap ku. Memancing ku agar aku terbuai dengannya.


Dan ulahnya saat ini membuat ku semakin tersiksa. Pelukannya kembali ia eratkan, karena hal itu pandangan ku secara tidak sengaja mengarah ke arah kerah kemeja Lyana. Aku tertegun disaat kedua mata ku melihat pemandangan indah dibalik belahan kerah kemeja Lyana. 


Punggung gundukan lembut itu terlihat dan memancing hasrat ku. 


Seketika aku menelan air liur ku, melewati tenggorokan ku yang mendadak kering melompom.


Pikiran kotor ku berputar memenuhi kepala ku.


"....."


"Sudah jam 7 lewat Om. Om harus mandi. Nanti Om telat ke Kantor."


Akhirnya pelukan Lyana terlepas.


Lyana ada benarnya. Aku harus ke kamar mandi untuk menuntaskan ketersiksaan ini.


...-o-...


Setelah kepenatan dan ketersiksaan ku lenyap berkat kerja keras sesaat dan guyuran air hangat membasahi sekujur tubuh ku, aku mulai bersiap-siap.


Sambil memasang jam tangan di pergelangan tangan, kaki ku melangkah cepat menuruni anak tangga lalu melangkah ke meja makan.


Aku melihat Lyana sudah menunggu ku disana, dengan beberapa piring yang terisi menu sarapan pagi yang cukup menggugah selera.


Menatap spaghetti carbonara dan omellete di atas meja sejenak, kini aku memandangi Lyana yang tengah menyiapkan makanan ke piring ku.


Gadis kecil itu sudah tidak lagi memakai kemeja putih sialan itu. Berganti dengan kaos putih kebesaran dengan celana legging hitam selutut.


Seketika aku mendengus napas lega. Beban ku serasa lenyap.


Meski ada terbesit perasaan seperti "ck!"


Sial! Baru juga otak ku insaf. Malah berulah lagi.


"Om, Lyana sudah siapin kotak bekal makan siang untuk Om. Nanti jangan lupa dihabisin ya." Lyana kini merapihkan kotak bekal berwarna biru dengan sendok dan garpu. Lalu ia masukan ke dalam tas kecil dan ia letakan di samping tas laptop ku di atas meja.


Aku hanya mengangguk sekilas dan mulai sibuk mengunyah makanan.


Spaghetti-nya enak. Kagum ku dalam hati.


"Hari ini agenda kerja Om apa aja?" Tanya Lyana sambil mengunyah makanan di mulut.


"Hari ini Om akan lebih banyak kerja di luar Kantor. Nanti Om juga mau ketemu Ken di Kantornya." Jawabku.


Lyana hanya manggut-manggut menanggapi ku.


"Kalau kamu gimana?"


Aku berbalik nanya meski aku tahu Lyana hanya akan menonton film di Rumah.


Tapi Lyana terdiam sambil menatap ku, seakan ia sedang mempertimbangkan sesuatu.


Apa gadis kecil ini memiliki rencana sesuatu?


"Om, Lyana boleh keluar nggak?" Tanya Lyana hati-hati.


Aku menimang pertanyaan.


"Mau kemana? Ngapain?" Tanyaku.


"Lyana mau ketemu Fanya, Om. Fanya lagi main ke tempat Tantenya di daerah Lembang." Terangnya.


"Kamu mau nyusul teman mu ke Lembang?"


"Nggak kok Om. Lyana diajak ketemuan sama Fanya di Cihampelas Walk."


Aku kembali menimbang ucapan Lyana. Sebenarnya aku nggak keberatan mau Lyana pergi main ke luar atau mengurung diri di Rumah. Asalkan Lyana ijin padaku.


Namun sebelum aku mengangguk setuju, Lyana kembali berbicara.


"Lyana cuma main sebentar kok Om. Kata Fanya, di sana ada buka Kedai kopi enak Om. Jadi Fanya ngajakin Lyana ke sana buat nyobain main."


"Fanya itu siapa?" Tanyaku dengan tatapan mendelik.


Lyana tampak ragu ingin mengatakannya padaku, walau aku nggak berniat menakutinya dengan tatapan delik ku.


Aku hanya ingin tahu dengan siapa Lyana pergi.


"Fanya iti teman SMA Lyana, Om. Aku pernah ceritain Fanya sama Om Nathan. Belum lama ini. Fanya diajak Tantenya buat nginap di Lembang. Karena Fanya tahu Lyana juga di Bandung, jadi Fanya ajakin Lyana ketemuan."


Aku pernah mendengar cerita beberapa teman Kantor ku yang sudah memiliki anak remaja. Kurang lebih usianya sama dengan Lyana.


Teman Kantor ku bilang, anak remaja jaman sekarang pertemanannya memang lebih luas. Sebagai orang tua, mereka harus cari cara supaya anak-anak mereka selalu aman tanpa harus mengekangnya.


Salah satunya harus mengetahui siapa nama teman-temannya dan asal usulnya.


Jadi, saat ini aku memperlakukan Lyana layaknya orang tua dan anak. Aku menerapkan cara teman Kantor ku seperti yang aku dengar dari mereka.


Nggak sia-sia aku mendengar curahan hati mereka disaat jam makan siang.


"Tapi kalau Om nggak ijinin Lyana, nggak apa-apa. Lyana nggak akan pergi." Meski Lyana mengatakan itu, namun aku tahu pasti Lyana ingin sekali pergi.


Terlihat dari ekspresinya berubah murung dan pandangannya sedikit menunduk. Lyana tampak sedih karena ia pikir aku tidak akan mengijinkannya.


Akan tetapi nggak ada salahnya juga Lyana pergi main. Aku juga kasihan melihat Lyana hanya mengurung di Rumah sampai aku tiba di Rumah sehabis pulang kerja.


Aku nggak berniat mengurungnya di Rumah. Ia ke sini bukan untuk itu. Walau El meminta ku untuk menjaga gadis kecil ini di Rumah ku.


"Iya, kamu boleh pergi,"


Lyana mendongak. Wajahnya langsung berseri menatap ku.


"Asal aku ingin kamu terus mengabari ku selama kamu pergi. Mulai dari kamu memesan pesan taksi online, kamu harus screenshoots data pengemudinya. Juga kamu harus share lokasi mu jika kamu sudah sampai. Jika kamu pindah tempat atau kamu berniat ingin berkeliling Cihampelas, kamu juga harus share live ke aku posisi kamu. Kemanapun kamu pergi harus share. Kalau bisa kamu juga kirimkan foto mu bersama teman mu itu."


Kami sama-sama terdiam dan memandangi satu sama lain. Tatapan Lyana tampak tertegun mendengar rentetan permintaan ku.


Mau tidak mau, suka nggak suka Lyana harus melakukan itu. Jika tidak, aku tidak akan mengijinkannya pergi.


Aku melakukan itu demi keselamatannya. Lyana berada dibawah pengawasan ku. Aku tidak mau mendengar atau melihat Lyana lecet segarispun.


Namun tak lama Lyana mengangguk setuju. Ia bangkit berdiri, menghampiri ku lalu ia memeluk ku sambil mengecup sisi pipi ku dan mengucapkan terima kasih dengan sukacita.


Sialan! Aku keras lagi.


...-o-...


*lasak \= banyak gerak.