
Lyana
Aku menatap pantulanku di depan cermin. Perlahan aku mengayunkan badanku ke kiri dan ke kanan sehingga rumbai dres vintage terayun indah. Aku memastikan diri jika aku cocok mengenakan dres berlengan pendek selutut warna krim ini. Tapi aku jadi ragu, apakah pakaian ini cocok untukku pergi bersama Om Ken, atau aku akan terlihat berlebihan dan harus mengganti pakaian lain.
Aku takut kalau Om Ken lihat pakaianku, Om Ken malah malu atau menertawakanku. Meski Om Ken nggak akan seperti itu.
Aku pun juga nggak tahu kemana Om Ken mengajakku pergi. Ke Taman kah? Atau mengajakku ke Mall?
Daripada aku sibuk berpikir kemana Om Ken membawaku pergi, lebih baik aku buru-buru membuka lemari dan mencari pakaian yang lebih santai.
V-neck broken white dan rok kotak-kotak selutut berwarna merah. Aku pilih ini saja.
Rambut pendekku kugulung rapih ke belakang. Namun hanya sesaat aku mengurainya lagi dan melihat sebuah bando di atas meja rias.
Rambut kusisir asal lalu aku meraih bando itu dan kupakai. Bando bermotif pita kecil ini sangat lucu menghiasi kepalaku. Dan warnanya juga pas dengan warna roknya. Karena bandonya berwarna merah jadi aku mengenakan flatshoes dan tas selempangku berwarna senada.
Bando ini aku dapat dari Bi Ida. Sebetulnya bukan Bi Ida yang kasih. Bi Ida memberikan sebuah paperbag kecil berwarna merah muda, pas aku buka ternyata isinya bando dan kartu ucapan.
Hi, Lyana..
Gadis lucu yang pernah kutemui..
Kayaknya jika kamu pakai bando yang kuberikan ini, kamu akan makin menggemaskan..
Kuharap kamu mau pakai saat kita pergi nanti sore. Tunggu aku jemput kamu di Rumah..
Ken❤️
Aku meletakan kartu ucapan itu dan kembali menatap cermin.
Merasa sudah siap aku segera keluar dari kamar dan duduk dituang tengah sambil menunggu Om Ken datang. Tinggal setengah jam lagi Om Ken baru tiba menjemput, aku duduk disana dengan kaki terayun. Termenung sebentar sampai aku mulai merasa bosan. Aku melihat ada kue kering dan chips di dalam toples kaca di atas meja televisi. Jadi pingin makan. Tapi nanti pakaianku jadi kotor nanti.
Barusan aku mendengar suara kunci Rumah terbuka. Aku buru-buru menoleh dan beranjak terkejut melihat Om Ken muncul dengan senyuman hangatnya.
Om Ken tampak santai dengan celana jeans panjang hitam dan hoodie berwarna krim kecoklatan.
Om Ken terlihat seperti anak remaja. Tidak seperti Om Ken yang kutemui pertama kali di Mall yang mengenakan kemeja dan celana bahan panjang yang membalut kedua kakinya.
Tapi yang membuatku terpaku bukan karena melihat penampilannya saja, tapi bagaimana pria itu bisa membuka pintu Rumah selain Om Nathan dan Bi Ida?
Aku saja hanya bisa masuk-keluar melalui jendela di dekat pintu jika aku ingin mengambil pesanan makanan melalui delivery food.
"Bingung ya?"
Nggak ada 'say hello' untuk menyapaku lebih dulu. Mungkin karena aku melongo menatapnya karena kebingungan jadinya Om Ken menyahut begitu.
"Sidik jariku terdeteksi disitu. Jadi aku bisa buka pintu."
Om Ken menunjuk tuas pintu super canggih itu. Aku baru mengerti.
"Kok bisa Om?" Tanyaku polos sambil aku bergantian menatapnya dengan pintu Rumah.
"Aku suka main ke sini. Jadi aku mendaftarkan sidik jariku biar aku mudah masuk-keluar tanpa harus ada Nathan."
Aku kembali mengangguk mengerti.
Wah ternyata persahabatan mereka seerat itu.
"Lyana sudah siap? Langsung berangkat yuk!"
Aku langsung mengikuti Om Ken untuk keluar Rumah. Lalu aku kembali terkejut saat Om Ken yang membantuku membukakan pintu mobil dan mempersilahkan aku masuk. Tak lupa ia mengecek sabuk pengamanku apakah sudah terpasang dengan baik atau belum. Lalu ia mengingatkanku supaya kakiku tidak mengenai sisi pintu lalu ia menutupnya dan tersenyum padaku.
Mobil mulai melaju. Om Ken begitu santai mengendarai mobilnya. Nggak pelan tapi nggak ngebut juga.
Ketika sinar sore cukup menyilaukan, Om Ken langsung menurunkan sun vissor di depannya dan juga di depanku agar aku nggak kesilauan.
"Bandonya beneran cocok ya sama kamu. Aku nggak salah pilih. Aku senang kamu memakainya." Pujinya dan aku menunduk tersenyum. Tak lupa aku bilang terima kasih atas hadiah darinya.
Selama di perjalanan obrolanku bersama Om Ken sangat seru. Ternyata Om Ken jauh lebih 'rame' ketimbang saat kami bertemu pertama kali kemarin.
Ya memang sih kalau awal pertemuan pasti ada rasa canggungnya.
Ramainya Om Ken mengubah suasana canggung itu jadi lebih santai. Di sampingnya aku merasa leluasa dan nggak perlu merasa sungkan.
Dan obrolan Om Ken dapat aku mengerti. Rasanya seperti mengobrol dengan Sammy dan Fanya. Nyambung aja. Bahkan gurauan Om Ken berhasil mengocok perutku.
Sembari kami mengobrol, sesekali aku memperhatikan pemandangan Kota Bandung yang ramai. Bandung nggak jauh beda sama Jakarta, hanya saja aura disini terasa sejuk. Beda saja dengan Jakarta yang memiliki suhu panas yang cukup menyengat.
Setelah melewati persimpangan jalan, Om Ken memarkirkan mobilnya di sebuah Resto yang terletak di dataran tinggi daerah Dago.
Aku disambut dengan udara sejuk karena banyak tanaman rambat disini. Juga design Resto yang terlihat nyaman, bisa kubayangkan makanan disini pasti akan terasa sangat enak. Saat kami diantar ke dalam, suasana Resto tersebut terasa nyaman dan asri karena banyak tanaman dan pepohonaan disini.
Resto disini menyediakan saung-saung besar maupun kecil serta bangunan utama dengan fasilitas balkon maupun indoor. Om Ken langsung memilih saung sebagai tempat kami untuk singgah.
Setelah kami diberi buku menu oleh Pelayan, cukup lama aku membolak-balikan lembar menu untuk memilih makanan. Aku melongo melihat deretan menu makanan tradisional Indonesia disini ternyata cukup mahal bagiku.
"Udah pilih mau makan apa?" Aku mendongak dan agak tergagu karena tinggal aku yang belum selesai memilih makanan. Om Ken sudah lebih dulu menyebut menu makannya dan telah dicatat oleh si Pelayan.
"Kamu suka daging nggak? Cobain Sop Buntutnya deh. Aku udah beberapa kali kesini pesan itu. Rasanya enak. Kalau kamu mau, kamu bisa pesan itu."
Om Ken mendekat padaku lalu membuka buku menu dan menunjuk salah satu menu yang tadi Om Ken kasih tahu. Aku tidak bisa berkata apapun saat aku melihat harga yang tercantum disana.
Harganya nggak kira-kira.
Karena Om Ken bilang Sop Buntutnya enak, jadi aku pesan itu saja.
Buku menu diambil lagi oleh Pelayan dan kami kembali mengobrol santai sambil menunggu makanan kami datang.
Om Ken kembali melontarkan lelucon remehnya, sambil aku menikmati suasana Resto yang terbilang ramai dan hari mulai gelap.
Lalu aku menoleh, melihat pemandangan di belakangku. Pemandangan itu menunjukan arus ruas jalan tol dibawah Gunung. Arus itu terlihat padat karena kendaraan umum. Yang membuatku terkagum, ratusan kilauan lampu kendaraan imum bertebaran menyinari ruas tersebuat. Lampu-lampu itu seperti bintang kecil yang menyinari langit malam. Sangat cantik.
"Cantik ya,"
Aku menoleh ke samping, melihat Om Ken sudah berada di sampingku persis dan ikut memandangi pemandangan yang kulihat.
Aku setuju dengan pujian Om Ken. Pemandangannya sangat cantik. Tapi semakin lama suhu disini mulai terasa dingin.
Seharusnya aku bawa jaket.
Tak lama makanan kami datang. Perhatianku teralihkan dan langsung menyantap makananku. Aku beruntung memesan Sop Buntut, makanan ini membantuku mengikis hawa dingin di sekujur tubuhku.
Om Ken juga menyantap makanannya. Aku dengar Om Ken pesan Ayam Bakar Bali. Tak lama Pelayan datang lagi membawa makanan lain seperti dua mangkuk krim sup, dua mangkuk Banana Split dan seloyang Pizza homemade.
"Makan yang banyak Lyn. Kita nggak akan pulang kalau makanan nggak habis." Om Ken tersenyum dan aku menatap meja makan kami yang penuh dengan makanan.
Aku saja nggak yakin apa makananku akan habis olehku sendiri. Ternyata porsi Sop Buntutnya cukup besar.
Beberapa saat kami terdiam karena menikmati makanan kami, ponselku bergetar di dalam tasku. Aku langsung merogoh dan mengecek ponselku.
Rupanya Om Nathan yang mengirim pesan, menanyakan aku sedang dimana. Saat aku mulai mengetik untuk membalas, Om Ken memperhatikan kegiatanku.
"Siapa yang hubungi kamu?"
Aku baru mendongak menatap Om Ken setelah aku membalas pesan Om Nathan.
"Om Nathan, Om. Om Nathan nanyain Lyana lagi dimana."
Aku kembali melanjutkan makanku. Perlahan aku meniup dan menyeruput kuah Sop, rasanya sangat hangat di tubuhku. Semakin kesini hawa dinginnya mulai menyiksa kulitku hingga aku spontan meremang.
Om Ken tak henti menatapku hingga ia menangkap gelagat anehku yang kedinginan. Tanpa mengatakan apapun, Om Ken membuka hoodie-nya lalu ia sampirkan ke punggungku.
"Jangan Om Ken! Nanti Om Ken kedinginan. Lyana nggak mau Om Ken kedinginan." Aku menolaknya secara halus. Tapi tampaknya Om Ken nggak peduli dengan ucapanku.
Om Ken kembali melahap makanannya sedangkan aku terdiam memandangi Om Ken yang kini hanya mengenakan kaos putih. Kaos putih itu terlihat tipis. Aku langsung melepaskan hoodie-nya dan memberikannya lagi.
"Baju Om tipis. Om pakai lagi aja jaketnya."
Bukannya meraihnya, justru Om Ken terpaku menatapku. Lalu ia menyampirkan jaketnya lagi ke punggungku.
Namun aku terpaku disaat tatapan kami bertabrakan. Bisa kulihat dengan jelas bagaimana mata hitam Om Ken tak beralih kemanapun. Hanya memandangiku. Bahkan tatapannya membuatku nggak fokus dan aku kembali melanjutkan makanku dengan buru-buru.
Melalui ujung mataku, Om Ken masih bertahan menatapku. Ia seakan nggak peduli jika aku tak menghiraukannya.
Sampai makanku terhenti lagi saat Om Ken mengatakan sesuatu padaku.
"Lyn, aku boleh suka sama kamu nggak?"
...-o- ...