Hi, Om Nathan!

Hi, Om Nathan!
Bab 5



Nathan


Aku nggak menyangka jika dalam sebulan kumis dan jenggotku semakin lebat tumbuh di area wajahku. Saat aku melihat wajahku di cermin setelah mandi, aku sempat terkejut karena belum lama aku baru mencukur dan sekarang aku akan mencukur lagi.


Sebenarnya kalau aku tidak mencukur itu tidak akan menjadi masalah. Pernah aku tidak mencukur hampir satu tahun dan teman-temanku mengatakan I was so fine dengan seringai bulu halus di wajahku.


Tapi karena aku lebih suka wajah yang bersih, dan saat itu aku hanya ingin mencoba hal-hal baru dan menurutku aku sudah mencobanya jadi aku memutuskan untuk mencukur habis. Dan aku mulai terbiasa lagi dengan mencukur saat seringai bulu mulai tumbuh.


Mula-mula aku mengambil alat cukur di laci rias. Lalu aku menuangkan gel di area sisi pipi, bawah hidung dan daguku. Baru aku menyalakan alat cukur elektrik dan perlahan aku mengarahkannya dimulai dari sisi pipi.


Secara perlahan dan berulang-ulang dari atas sampai bawah. Sekali cukur aku bilas mata pisau dengan air lalu kulakukan lagi mencukur di area yang belum tercukur.


Terakhir di bagian bawah hidung. Kucukur sampai bersih baru aku bilas seluruh wajahku.


Aku berencana untuk melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda. Ada revisi di bagian sketsa bangunan Rumah dimana aku ingin menambahkan sketsa gambar tanaman mudah dirawat di bagian halaman Rumah. Aku hanya akan membulatkan bagian mana yang perlu dimasukan dan direvisi sehingga para designer akan membuat sketsa ulang yang kumau.


Aku juga masih harus memilah-milah bentuk dan jenis lampu seperti apa yang cocok untuk Rumah tropical-minimalist. Bentuk lampu sudah ada sebelumnya, namun aku masih kurang puas dengan pilihanku jadi setelah berganti pakaian aku akan mencari referensi di internet.


Kaos oblong putih dan celana kaos panjang abu-abu menjadi pilihan bajuku saat ini. Aku segera mengenakannya dan berjalan menuju dapur untuk membuat secangkir Kopi dan membawa makanan ringan untukku makan sembari bekerja.


Sampainya di dapur aku menuju kulkas dan mengambil sisa biskuit gandum. Lalu aku mendekati kitchen set dan meraih gelas dan kopi kemasan untuk kuseduh.


Saat aku mengaduk kopi, aku mendengar suara ribut hairdryer dari arah kamar Lyana. Suara mesin pengering rambut itu terdengar tidak sinkron dengan pendengaranku. Mati-hidup. Apa mesin hairdyernya rusak?


Karena aku penasaran aku beralih sebentar ke kamar Lyana. Aku mengintip dibalik pintu dan melihat Lyana sedang duduk di depan meja rias, sudah mengenakan baju piyama berwarna merah muda bergambar kelinci yang sedang kesusahan mengeringkan rambutnya di bagian belakang kepala.


"Mau aku bantu?"


Lyana berbalik melihatku sudah berdiri di ambang pintu. Tawaranku langsung dihadiahi anggukan semangat dan seulas senyuman senang dari Lyana.


Aku mendekatinya dan mulai meraih hairdyer dan menyalakannya. Langsung aku arahkan hairdyernya ke rambut Lyana yang masih basah dan satu tanganku menguraikan rambut Lyana agar keringnya merata.


"Kalau Lyana habis keramas, biasanya Mamah yang bantu keringin rambut Lyana." Lyana bercerita jika Milly sering mengeringkan rambut Lyana sehabis keramas.


"Soalnya kulit kepala Lyana pernah melepuh gitu karena Lyana kesusahan arahin hairdyer Om."


"Kok bisa? Di bagian mana kulit kepalamu yang melepuh?"


Aku bisa merasakan jika Lyana sedang memperhatikan raut cemasku melalui pantulan cermin yang mencari-cari di bagian mana kulit kepala yang melepuh itu.


"Kalau nggak salah bagian sini Om. Tapi itu udah lama banget. Udah sembuh kok." Tangannya ditarik ke atas menunjukan sisi kepala bagian kanan atas.


"Makanya setelah itu Mamah yang sering bantuin Lyana buat keringin rambut."


"Kenapa kamu nggak minta Om buat keringin rambut kamu?" Tanyaku sembari menatapnya di depan cermin.


"Aku nggak mau nyusahin Om."


"Kamu nggak nyusahin Om." Tepisku. Semakin sering aku mendengar Lyana mengatakan dirinya 'menyusahkan', aku mulai gerah mendengarnya.


"Lyana nggak mau ngerepotin Om Nathan."


"Kamu nggak ngerepotin aku sama sekali." Tepisku lagi. Kali ini suaraku cukup meninggi hingga ia sungkan menatapku. Tapi itu hanya sesaat karena aku langsung memainkan pipinya dengan gemas dan Lyana langsung tersenyum karena ulahku.


Aku meletakan hairdyer ke atas meja sementara tanganku masih mengurai rambutnya. Dari pangkal hingga ujung rambut. Memastikan jika rambutnya benar-benar sudah kering semua.


"Om senang nggak jalan-jalan sama Lyana hari ini?"


Kami bertatapan sesaat melalui pantulan cermin.


"Tentu saja."


Lyana tersenyum.


"Lyana juga senang jalan-jalan sama Om."


Aku ikut tersenyum. Kemudian aku mulai mencari sisir di laci meja dan perlahan aku sisir rambut Lyana secara perlahan. Rambutnya licin dan lembut sehingga aku nggak kesulitan menyisir rambutnya.


"Apa besok kita bisa jalan-jalan seharian lagi Om?"


Aku terdiam sejenak. Mengingat besok aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku maka aku menawari Lyana jalan-jalan sore.


"Gimana kalau besok sore aja kita jalan-jalan lagi? Mau coba makan seafood langganan Om nggak? Di jalan Soka ada resto seafood enak disana."


Meski Lyana nggak tahu tempat seafood yang kumaksud, Lyana tetap mengangguk antusias. "Mau!"


"Berarti besok sore kita makan seafood sampai puas."


Lyana mengangguk lagi setelah aku selesai menyisir rambutnya.


"Ada pekerjaan yang harus Om kerjakan dulu. Kamu sendirian dulu nggak apa-apa kan?"


Lyana diam sejenak. Seperti memikirkan sesuatu.


"Lyana boleh nonton film Om?"


"Boleh."


Aku beranjak keluar dari kamar Lyana. Kembali menuju dapur dan membuang kopiku ke Sink karena sudah dingin. Aku nggak bisa minum kopi dingin jadi aku harus buat ulang.


"Lyana keluar dulu ya Om? Mau beli cemilan buat nonton." Pamitnya padaku setelah menengok isi kulkas yang sudah minim makanan ringan. Aku memang belum beli persediaan makanan lagi.


Lebih tepatnya aku malas.


Sebelum Lyana pergi, aku memperhatikan Lyana yang sedang menggulung rambutnya menggunakan jedai. Entah dari mana jedai itu sudah ada di tangan Lyana dan menjempit rambut itu, memperlihatkan area leher yang putih dan bersih.


Mengundangku untuk memperhatikannya.


"Lyana."


Lyana menoleh saat hendak menuju pintu.


Kembali aku meninggalkan dapur. Berjalan menuju pintu dimana Lyana berdiri memandangiku saat ini. Melihat ada jaket yang bertengger di sofa saat aku gunakan pas pergi tadi siang aku langsung meraihnya.


Satu tanganku terangkat dan melepaskan jedai itu dari rambut lembut Lyana kemudian kusampirkan jaketku ke badannya menutupi piyama bergambar kelinci.


"Diluar dingin."


Alibiku agar tidak ada satupun orang yang dapat memandangi leher indah itu.


Lyana terdiam dan mengerjap padaku sesaat.


"Oh-iya iya."


Lyana mengangguk canggung dan langsung pergi begitu saja meninggalkan aku yang kini terdiam memandangi punggungnya berlalu.


Apa aku membuatnya tidak nyaman?


Selama Lyana pergi ke minimarket menggunakan sekuter, aku kembali menyeduh kopi dan menuju ruang kerjaku yang bertepatan di sebelah kamarku.


Khusus di lantai dua aku membuat sebuah ruangan besar yang kujadikan sebagai kamar tidur dan ruang kerja yang hanya dibatasi menggunakan wardrobe kaca sebagai connecting door.


Setelah menaiki anak tangga akan langsung disuguhkan dengan sebuah kamar minimalis bernuansa abu-abu dan putih. Jika aku ingin ke ruang kerjaku, aku hanya menggeser sebuah pintu wardrobe dan ruang kerja minimalis akan terlihat.


Aku menarik kursi kerjaku dan meletakan cangkir kopi dan biskuit ke atas meja. Membuka laptop dan mulai memusatkan pandanganku ke layar laptop untuk menambahkan poin-poin dari skema gambar designer. Tak lupa aku mencari referensi lampu untuk design Rumah dan mencoba membuat model lampu ramah lingkungan buatanku untuk bangunaku nanti.


Setelah mengirim semua revisi dan permintaanku ke email designer, aku terkejut melirik jam yang sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Rasanya aku baru saja memulai bekerja tapi waktu sudah memakan konsentrasiku hampir dua jam.


Astaga. Aku melewatkan jam makan malam. Terakhir aku sudah makan dengan Lyana setelah kami pulang dari Farm House dan Lyana masih kenyang saat aku menanyakan mau makan malam lagi atau tidak setelah kami sampai Rumah.


Aku bangkit dan nengok ke bawah ke arah ruang tengah. Melihat Lyana tertidur di sofa dalam keadaan duduk dan TV masih menyala.


Segera aku ke bawah dan melihat Lyana lagi yang masih tertidur lelap disana.


Setelah aku mematikan TV aku terdiam beberapa saat memandangi Lyana dan sisa makanan di atas meja, mula-mula aku rapihkan sisa makanan dulu dan memungut sampah ke dalam plastik kosong. Sisa makanan aku masukan ke dalam kulkas dan sampah plastik kubuang ke tempat sampah.


Kini aku mulai beralih menatap Lyana. Aku membungkuk dan memeriksa kedua tangan Lyana yang kotor karena remahan makanan, maka aku ambil tisu basah di bawah meja TV dan aku bersihkan dulu kedua tangan Lyana. Setelah itu aku mengambil tisu basah baru untuk membersihkan sisa coklat yang tertempel di sudut bibirnya.


Aku seperti seorang Ayah yang memandangi anak perempuannya. Duduk di sampingnya dan memandangi wajah gadis kecil itu dengan lekat.


Melihat Lyana sekarang aku seperti memandangi Milly di masa lalu. Gadis kecil yang sangat kusuka berakhir menjadi cinta monyet. Karena dulu sampai sekarang cinta Milly hanya untuk El seorang. Apalagi saat itu aku mengetahui rahasia Mama Risma jika El adalah anak kandung Mama, dimana aku dan El ternyata menjadi kakak beradik.


Tapi aku sudah tidak mempermasalahkan hal itu. Sungguh. Aku turut senang melihat mereka berdua bahagia. Tumbuh menjadi sebuah keluarga harmonis dan mereka memiliki anak-anak yang lucu.


Salah satunya Lyana. Lyana yang tertidur di depan mataku. Melihat gerak tidurnya kurang nyaman, aku mulai menggendongnya menuju kamar. Meletakannya di atas tempat tidur lalu menyelimutinya sampai leher.


Sebelum aku pergi aku kembali memandangi wajah tenang Lyana. Begitu tenang hingga aku sulit mendengar deru napasnya yang teratur.


Terdengar lirih.


Hingga aku begitu terpaku memandangi Lyana. Sampai aku tidak sadar jika wajahku sudah dekat dengannya. Terasa cepat hingga bibirku merasakan sentuhan pipi lembut yang menimbulkan sensasi menyengat di tubuhku.


Seperti kesetrum aliran listrik. Tapi entah kenapa aku justru menikmatinya.


...-o- ...