
Nathan
"Lo ketemuan sama Zahra?"
"Bukan ketemuan. Ketemu."
"Ya sama aja. Kok bisa kalian ketemu lagi setelah sekian lama?"
Pukul 5 sore, setelah aku mengantar Lyana pulang aku langsung melesat ke Kantor Ken dan kini aku mengistirahatkan diri dengan duduk di sofa tepat di depan meja kerjanya.
Karena Kantor Ken juga sudah sepi, aku memberanikan diri mengangkat kedua kaki ku dan menyilakannya di atas meja kerja Ken.
"Luar biasa Bapak Nathaniel Salim ini. Untung lo teman gue." Ken meracau melihat ulahku sambil menggelengkan kepalanya. Aku hanya menyengir tak bersalah.
"Gue nggak mau bahas dia." Aku membenarkan posisi punggung ku ke senderan sofa. Lalu aku memejamkan mata.
Sofanya terasa nyaman di badan ku. Aku jadi mengantuk.
"Dia datang ke acara PK yang lo gelar?" Ken belum mau berhenti membicarakan Zahra. Itu bisa kurasakan dari nada bicaranya.
"Dan dia dapat posisi *Lead Agent. Biar lo tahu."
Ken menganga, terkejut mendengar ucapan ku.
"Serius?! Jadi Lead Agent? Kok bisa?"
"Sebentar lagi Doi bakal hubungi lo."
Sesuai dengan ucapan ku, beberapa saat kemudian ponsel Ken berdering. Menandakan ada pesan masuk. Ken makin menganga saat membaca pesan masuk lalu ia langsung menunjukannya padaku.
"Gila. Dia whatsapp gue katanya dia bakal ke Kantor gue dan dimonitoring sama dia." Ken membanting asal ponselnya ke atas meja lalu mendengus.
Sebenarnya aku dan Ken sudah tahu sejak awal kalau Zahra mulai terjun ke dunia properti sebagai Marketing Properti. Passion-nya dalam dunia Sales membawa namanya semakin melambung tinggi ketika ia mendaftarkan diri sebagai Property Consultant di salah satu Kantor Broker Asing terkenal di Bandung dan menghasil cukup banyak closing selama ini.
Aku akui keterampilannya memang patut diacungi jempol.
Namun aku tak mengira ketika Product Knowledge berlangsung tadi siang, tim pelaksana langsung menentukan beberapa Marketing terpercaya dan handal yang akan menjadi Lead Agent untuk memonitoring beberapa Kantor Agen yang sudsh bekerja sama dengan Perusahaan ku.
Selama acara berpangsung tim ku sudah menunjukan 5 orang yang menjadi kandidat, namun karena unit nggak terlalu banyak untuk dipasarkan akhirnya tim ku memilih 3 orang yang diberi mandat menjadi Lead Agent.
2 pria berpengalaman dan seorang wanita yang namanya sedang naik daun.
Wanita itu adalah Zahra.
Dan tim langsung memberikan arahan kepada 3 Lead Agent Kantor mana saja yang akan mereka bantu pantau selama penjualan berlangsung.
Berdasarkan zonasi, Kantor Ken akan di-lead langsung oleh Zahra.
"Sorry to say, Ken. Gue nggak berniat nunjuk Zahra buat lead Kantor lo. Ini sudah keputusan tim gue. Di luar kuasa gue. Saat mereka sibuk mengelola tim Lead Agent, gue nggak ada. Gue sibuk sama Lyana."
Selain tahu sejarah percintaan antara aku dan Zahra, Ken memang tidak suka sama sosok wanita itu.
Kami bertiga bisa saling kenal setelah masuk ke dalam grup pecinta sepeda. Karena aku punya rasa sama Zahra saat itu, Ken membantu ku untuk lebih dekat dengannya sampai akhirnya aku dan Zahra berpacaran.
Setelah kandasnya hubungan ku dan Zahra, tak lama kemudian grup pecinta sepeda pun juga bubar. Hal itu terjadi karena ada kesalah pahaman disaat grup kami sedang mengadakan acara amal untuk korban bencana alam yang sedang terjadi saat itu.
Kejadian itu cukup berat untuk Ken. Dimana saat itu Ken menjadi ketua panitia. Sebagian dana galangan untuk anak-anak hilang. Dan saat itu orang-orang menuduh Ken yang telah mengambil dana tersebut. Tuduhan itu semakin kuat karena kondisi Ken sedang jatuh.
Akan tetapi kesalah pahaman tersebut cepat terselesaikan. Laporan dana galangan dimanipulasi oleh Si pemegang kas. Ken langsung memberinya tindakan hingga acara tersebut selesai dilakukan grup pecinta sepeda langsung dibubarkan.
Setelah bubar, Ken tidak ingin membahas masalah tersebut. Sampai akhirnya aku dan Ken bertemu dengan salah satu teman kami alumni pecinta sepeda dan ia menceritakan jika Zahra mengkambing hitamkan Ken untuk melindungi si pemegang kas.
Aku dan Ken tidak mengerti kenapa Zahra harus melakukan hal itu, tapi yang aku tahu sejak saat itu Ken tidak ingin lagi bertemu atau mengenal dengan orang bernama Zahra Andita. Karenanya, nama Ken menjadi jelek untuk sebagian orang yang masih mempercayai kesalah pahaman itu.
"Memangnya Lyana kenapa?" Ken mulai duduk di kursinya. Lalu meneguk sebotol Kopi kemasan yang bertengger dial atas meja.
"Nggak sengaja Lyana numpahin Kopi ke baju salah satu pengunjung Kedai Kopi." Jelasku.
"Kok bisa? Lyana nggak apa-apa? Yang ketumpahan Kopi gimana?"
"Lyana sama Zahra baik-baik aja kok."
"Hah--Zahra?"
Aku membuka mata ku menatap Ken, lalu menurunkan kaki ku menapak lantai.
"Orang yang kena tumpahan Kopi Lyana itu Zahra."
Ken sontak tertawa, padahal cerita ku nggak ada unsur lucu-lucunya.
"Oh--jadi awal pertemuan mu sama Zahra berkat Lyana rupanya."
Kali ini aku mendengus, namun ucapan Ken benar.
Andai kalau saja Lyana nggak numpahin Kopi ke Zahra, aku tidak akan bertemu dengan wanita itu lagi.
...-o-...
Pihak Ketiga
Lyana pikir susu coklat akan membantu rasa kantuk nya datang. Namun setelah susunya dihabiskan, Lyana belum juga merasa mengantuk.
Kejadian tadi siang selalu berputar di dalam kepalanya. Seperti kaset rusak. Seolah kejadian tersebut baru terjadi beberapa menit yang lalu.
Selain masih merasa bersalah, Lyana menemukan ada ganjalan setelah kejadian tersebut.
Rupanya Nathan kenal dengan seorang wanita yang kena tumpahan Kopi Lyana. Yang Lyana dengar bernama Zahra.
Melihat interaksi antara Nathan dan Zahra, Lyana menganggap bahwa mereka terlihat sudah cukup lama saling mengenal.
Tapi bagi Lyana terasa aneh, sebab Nathan jadi lebih banyak diam setelah mereka bertemu di Kedai.
Mula dari Nathan yang membantu Lyana untuk meminta maaf, hingga berinisiatif mengantarkan Zahra serta temannya ke suatu tempat, Nathan jadi pelit bicara.
Bahkan disaat Zahra berusaha mengajaknya berbicara selama di mobil, Nathan hanya lebih banyak tersenyum dan mengangguk. Terkadang menggeleng.
Lyana jadi memikirkannya lagi, apa Nathan sungguh marah padanya. Namun seketika Lyana menggeleng. Terakhir ia bertanya kepada Nathan dan menjawab bahwa ia tidak marah pada Lyana.
Tapi lagi-lagi Lyana merasa bersalah pada Nathan. Lyana merasa menyusahkan Nathan yang sedang sibuk-sibuknya bekerja.
Lyana mengutuk dirinya karena ulahnya hari ini. Ia merasa sangat amat ceroboh.
Terus berkutat pada pikirannya yang cukup kalut, Lyana mendadak tersadar setelah ponselnya terus berdering. Berkat suara getar antara ponsel dengan meja nakas, Lyana yang sedang merebahkan di atas tempat tidur mulai menggerakan badannya untuk bangun, satu tangannya meraih ponsel untuk mengangkat telepon dari Fanya.
Lyana sontak menepuk dahinya. Ia lupa. Seharusnya Lyana menghubungi Fanya lebih cepat. Ia terlalu pusing memikirkan kejadian tadi siang.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Fanya langsung setelah Lyana mengangkat teleponnya.
"Iya."
"Kenapa kamu nggak telepon aku, minimal kirim pesan? Aku cemas."
"Maafkan aku," Lyana menghela napas, "Aku terlalu memikirkan kejadian tadi siang sampai aku lupa menghubungimu."
Sebelumnya Fanya memang pamit pulang lebih dulu karena Tantenya sudah menelepon Fanya untuk segera pulang.
"Nggak masalah kok," sahut Lyana. Lalu Lyana mulai mengayunkan kedua kakinya sambil menjawab telepon Fanya lagi.
"Mbak-mbak itu baik, dia mau memaafkan ku. Lalu Om Nathan mengantarnya ke tempat kerjanya. Habis itu Om Nathan mengajak ku beli Es Gelato." Lyana jadi tersenyum ketika mengingat Nathan membelikannya Es Gelato Cone rasa coklat.
Ditambah dengan sikap manis Nathan yang begitu mendadak bagi Lyana.
Pria berumur itu tiba-tiba memegang tangan nya, mengusapnya dengan lembut seolah Lyana adalah sesuatu yang mudah rapuh. Lalu pria itu perlahan menarik tangan gadis itu lalu mengecup punggung tangannya dengan tatapan lembut.
Lalu disaat mereka memilih taman sebagai tempat untuk menghabiskan es krim mereka, mereka tampak santai berjalan mengelilingi taman. Bercanda gurau menikmati suasana sore serta memandangi betapa ramainya taman dipenuhi beberapa pengunjung.
Ditambah sikap Nathan yang membuat Lyana sedikit kelabakan. Tiba-tiba saja jemari Nathan menyentuh sudut bibir Lyana, lalu bergerak untuk menyeka sisa-sisa es krim yang menempel. Sisa es krim yang berpindah diantara jemari langsung Nathan kulum dengan mulutnya.
Mengingat itu wajah Lyana berubah terasa panas.
"Wah enaknya. Kapan-kapan ajak aku ke sana ya. Aku juga mau cobain es krimnya."
Lyana mengangguk malu walau Fanya tak dapat melihatnya.
Sementara itu Nathan dan Ken menghadiri acara PK selanjutnya di gelar di sebuah Hotel ternama di Kota Bandung.
Nathan yang sudah rapih menggunakan setelan jas yang cukup menyiksanya melangkah lebar menuju sebuah Ballroom. Di dalam sana sudah terlihat ramai dihadiri beberapa Agen, Investor dan juga klien lainnya.
Karena di acara pertama PK Nathan sudah melewatkannya, malam ini Nathan tidak ingin bolos lagi.
Dengan kepercayaan diri dan semangat penuh, Nathan mulai membawakan acara PK dengan cukup baik.
Selama Nathan memeprkenalkan unitnya yang baru saja launching hari ini, ia dapat menangkap reaksi positif dari para Agen dan Investor.
Setelah cukup lama Nathan memperkenalkan unitnya, tim Nathan lainnya mengambil alih untuk membahas rincian harga serta bonus yang didapat jika melakukan booking fee agar bisa segera menentukan *NUP malam ini.
Malam semakin larut, makanan pun mulai berdatangan. Sambil para tamu menikmati hidangan yang disediakan, Nathan mulai sibuk mendatangi para tamunya satu persatu.
Nathan yakin. Hampir 80% ia akan mendapat komentar positif dari semua tamunya.
Akhirnya Nathan memilih duduk di samping Ken setelah lelah berkeliling.
"Menarik," ucap Ken setelah ia mengiris pipihan daging steak yang tampak lembut lalu ia melahapnya dengan ekspresi penuh sukacita.
Entah penilaiannya tersebut mengacu pada unit yang kupresentasikan atau daging di mulutnya.
Sebelum Nathan berkomentar, ia melihat ada siluet bayangan seseorang yang tengah berjalan ke arahnya.
Belum sepenuhnya siluet itu semakin terlihat jelas, Nathan menghela napas berat.
"Nathan, disini kamu rupanya." Sapa seorang wanita cantik begitu hangat. Tak lupa menyapa seseorang di samping Nathan yang masih berkutat memotong steak-nya menjadi kecil.
"Ah--Kenny ya? Sudah lama nggak bertemu."
Ken langsung menegakan badannya lalu menyeka bibirnya dengan tisu.
Dari wajahnya Nathan bisa menilai bahwa Ken mendadak nggak nafsu makan setelah melihat Zahra.
"Acara mu tadi sangat hebat. Penyampaian mu mudah dicerna dan diterima oleh banyak orang. Sampai-sampai Investor yang kubawa malam ini sangat suka dengan setiap penjabaran dan presentasi yang kamu bawakan. Mereka tak henti memujimu."
Bagi Nathan, Zahra tidak berubah. Ketika wanita itu sedang berbicara pembawaannya selalu terlihat tenang dan santai, membuat lawan bicaranya merasa nyaman jika berada di dekatnya.
Namun hal tersebut sama sekali tidak berlaku lagi untuk Nathan. Pria itu hanya tersenyum sekilas setelah Zahra berbicara cukup panjang.
"Kalau gitu kamu mau nggak menemui para Investor ku untuk berkenalan? Aku ingin sekali kamu bisa berkenalan dengan mereka."
Nathan melirik Ken, begitupun sebaliknya. Melihat Ken tengah memberikan isyarat untuk ikut dengan Zahra, Nathan kembali menghela napas dalam.
Demi closing, Nathan terpaksa mengikuti arahan Zahra untuk menemui Investor yang ia undang.
Ketika Nathan melangkah mendekati posisi Investor Zahra, ia terkesiap. Rupanya Investor yang Zahra undang merupakaan Investor yang cukup terkenal di kalangan para Developer.
Suatu kehormatan untuk Nathan bisa mengobrol langsung dengan Investor tersebut.
Ternyata koneksi Zahra lumayan juga.
Cukup lama mereka asik mengobrol, ponsel Nathan berdering. Nathan merogoh ponselnya di balik saku jas lalu melihat nama Lyana di layar ponsel.
Bersamaan pula Nathan menatap jam di sudut layar ponsel. Hari sudah cukup malam. Mungkin Lyana meneleponnya untuk menanyakan keberadaan Nathan.
"Nathan, Investor ku masih ingin mengobrol dengan mu."
Nathan mendongak dan melihat Investor Zahra sedang memperhatikannya, sontak Nathan memasukan ponselnya lagi ke dalam saku.
Selama Nathan mengobrol lagi dengan Investor tersebut, tanpa pria itu sadari ponselnya diserbu pesan masuk dari Lyana.
From : Lyana
Om Nathan, di Rumah mati lampu. Lyana takut Om.
Om Nathan cepat pulang.
Di sisi lain, Lyana sedang berusaha keras untuk melawan rasa takutnya.
Beberspa menit yang lalu Lyana masih santai menonton tv di ruang tengah. Lalu tiba-tiba saja semua listrik padam.
Lyana sontak berteriak. Buru-buru ia membungkukan badannya di atas sofa ruang tengah lalu menelepon Nathan.
Mengandalkan sebuah lilin yang ia temukan di Dapur, Lyana kembali mencoba menelepon Nathan lagi. Namun Nathan belum kunjung mengangkatnya.
Jadi sementara Lyana mengirimkan pesan pada Nathan. Cukup banyak. Berharap jika Nathan segera baca dan membalasnya.
...-o-...
*Lead Agent \= posisi yang membantu beberapa Agen Properti untuk memasarkan unit.
*NUP \= nomor urut pemesanan.
Pihak ketiga itu maksudnya aku ya wkwk
Just info
Aku akan update cerita ini sesuai mood ku. Mau aku update lama atau cepet atau bisa double up seperti hari ini, itu tergantung mood..
jadi aku sangat berterima kasih untuk kamu dan kamu yang setia menunggu ku update..
percayalah padaku kakak kakak, nulis itu sulit. walau kayaknya keliatan mudah cuma ngetik doang. tapi nyusun alur, ide, klimaks, itu beneran sulit kakak. gak bisa asal ketik :')
dan aku nulis karena aku suka, hobi, gak sekedar cari viewers. jadi aku gak terlalu peduli kalo viewersnya dikit..
kalian suka sama ceritanya, aku senang :)
terima kasih untuk kamu dan kamu yang like, vote dan suka kasih comment positif..