
Ting!
Ting!!
Ting!!!
"Makan yang benar Nat!" Aku berdecak dihadiahi tatapan jengkel El setelah aku akhirnya berhasil memotong daging di piring dengan penuh tenaga karena sulit terpotong menggunakan pisau.
Cukup lama aku beradu dengan potongan daging steak buatan Milly yang dibalur saus jamur serta taburan sayuran segar. Tampak lezat saat baru dihidangkan tepat di depanku, tapi ekspektasiku meleset saat aku tahu aku membutuhkan waktu cukup lama hanya untuk memotong daging itu.
"Steak buatan Mamah enak banget!" Kini terdengar pujian Lyana kepada Milly. Pipinya penuh dengan makanan dan melahapnya senang, lalu tersenyum setelah Milly memberikan senyumannya lebih dulu.
Begitu juga dengan El. El juga memuji masakan Milly. Tampak santai dan terlihat tidak memiliki kesulitan saat dia memotong daging itu menjadi kecil. Dipotong satu persatu lalu El lahap dengan nikmat.
Tapi kenapa hanya aku saja yang sibuk sendiri dengan daging ini? Sangat sulit dicacah oleh gigi gerahamku, seperti aku mengunyah karet. Terlalu kenyal dan juga keras.
Rasanya mau kumuntahkan.
Apes banget.
"Kenapa Om Nathan?" Rupanya keterdiamanku diamati Lyana yang duduk di sampingku. Dia tampak bingung melihat makananku belum terlihat berkurang di atas piring, lalu pandangannya berganti menatapku yang kembali berusaha keras mengunyah daging.
Sesukanya aku makan steak dan tidak pernah aku sisakan sedikitpun, baru kali ini aku berniat untuk tidak menghabiskannya. Bahkan aku ingin membuangnya ke temoat sampah. Tapi kalau tidak kuhabiskan, mubazir. Aku juga tidak enak hati sama Milly, segan mengatakan sejujurnya kalau aku sudah tidak sanggup untuk mengunyah daging itu lagi.
"Steak-nya nggak enak Om?"
Aku menghela napas, kayaknya Lyana tahu kalau aku mulai tidak minat memakan makananku lagi setelah aku menaru alat makan di atas piring. Tanda aku benar benar menyudahinya. Tanpa kusadari Milly juga tengah melihatku dan Lyana lalu melihat makananku yang terlihat masih utuh.
Segera aku menggeleng, "Enak kok."
"Tapi kok belum habis? Lyana saja sudah habis." Dengan wajah polosnya Lyana menunjukan piringnya. Habis. Tak ada tersisa daging secuilpun di sana. Hanya ada sisa beberapa batang buncis yang kutahu Lyana tidak suka memakan sayur itu.
Sesaat aku memandangi piring kotor Lyana, lalu mataku beralih ke arah kerah pakaian Lyana yang sedikit menurun. Menunjukan belahan dadanya yang terselip bercak merah di sana.
Melihat itu suasana hatiku berubah senang karena bercak merah itu adalah hasil perbuatanku. Tidak hanya di tengah antara dua bukit kembar Lyana. Itu baru satu yang terlihat. Karyaku lainnya masih tersimpan baik dibalik kaos kebesaran yang dipakai Lyana.
Sebelum karyaku tercipta di sana, tentu aku sudah ijin sama si empunya. Setelah aku memainkan dua bukit kembarnya menggunakan satu tanganku.
"Boleh aku cium?" Permintaanku lainnya langsung diangguki Lyana. Aku tersenyum senang, rupanya tidak sulit aku meminta ijin pada gadis kecilku. Sebelum Lyana berubah pikiran aku langsung melancarkan niatku.
Satu tanganku kembali naik, memainkan satu bukitnya yang terasa kenyal digenggamanku. Yang satu lagi aku kulum dengan bibirku. Mengecupnya lalu memainkannya dengan lidahku.
Lyana menggeliat dan meremang di atasku. Wajah memerah itu menikmatinya. Dan Lyana tentu menyukainya, karena Lyana mendorong kepalaku, tidak membiarkan aku melepaskannya. Walau sedetikpun.
Setelah puas memanjakan yang satu, aku pindah ke satunya lagi. Dengan cara yang sama. Mengecup dan memainkannya dengan lidahku. Sesekali aku menghisapnya tapi kuusahakan untuk tidak terlalu kuat. Nalarku masih bisa diajak bekerja sama, aku nggak mau Lyana merasa kesakitan.
Semakin lama aku memanjakannya, secara bergantian dan kulakukan dengan lembut, Lyana semakian menggeliat di atasku.
Terutama ketika aku menarik ujungnya menggunakan bibirku. Lyana mendesah. Dan hal itu membuatku semakin ingin menerkamnya.
"Kamu suka?" Bisikku setelah aku melepaskannya lalu memeluknya. Wajah memerah itu malu-malu mengangguk. Dan aku suka melihatnya.
"Kalau suka, aku akan melakukannya lagi. Dan lebih lama."
"Tapi, Lyana takut ketahuan Papah dan Mamah." Lirihnya. Dahinya tampak berkerut. Lyana sungguh takut kalau kegelisahannya sampai terjadi.
Jangankan Lyana, aku pun juga takut kalau sewaktu-waktu El dan Milly mempergoki kami.
Tapi ***** sudah menguasaiku. Jadi, aku lebih memilih menuntaskannya dulu.
Ketahuan atau tidak, akan aku pikirkan belakangan.
Kini tanpa aku meminta ijin padanya aku menariknya lagi, membawanya agar kami berada di tengah kasur. Berbaring bersama. Lalu aku melakukannya lagi seperti tadi.
Semakin dekat hingga kulit kami semakin menempel satu sama lain. Tak ada lagi jarak antara aku dan Lyana. Hingga hanya terdengar deru napas kami yang memburu karena saling menginginkan.
Kucium Lyana pelan namun menuntut, dari wajah, leher, bahu, kemudian aku hisap di beberapa titik di bagian dadanya.
Tak hanya bibir, kedua tanganku juga bekerja keras. Membelainya, menyusuri kulitnya dengan lembut, dan kembali memainkan dua bukitnya. Kali ini gerakanku menuntut, karena dada itu semakin menarikku untuk memainkannya lebih kencang.
"Om.." Lyana melirihkan namaku. Saat aku mendongak kami sama-sama melihat hasil karyaku yang terlihat indah dan penuh di dadanya.
"Lihat sayang," aku mencium bibir Lyana sekilas. "Mereka sangat indah di tubuhmu."
Begitulah kejadiannya. Hanya sampai disitu, sampai akhirnya aku benar benar menghentikan aksiku setelah mendengar derap langkah kaki menuruni anak tangga dibalik pintu. Aku langsung menarik Lyana saat itu juga untuk segera bangkit dan membantunya mengenakan pakaiannya.
Jika mengingat kejadian itu, aku mendadak gamang. Kecemasan mulai melingkupiku, dimana sekarang Lyana tak tinggal di rumahku lagi. Nantinya baik aku dan Lyana akan menjalani kehidupan kami semula, seperti sebelum Lyana bertandang ke rumahku. Lyana akan sibuk sekolah sedangkan aku akan sibuk bekerja.
Aku hanya bisa mengunjungi Lyana di akhir pekan. Itu pun jika waktuku sudah dipastikan kosong.
Selama aku menjalin hubungan, sekalipun aku belum pernah menjalin hubungan jarak jauh. Jadi aku mulai bingung sendiri bagaimana aku menjalani hubunganku dengan Lyana ke depan.
Kalau kayak gini, aku butuh nasehat dari sang dewa cinta yang ilmunya diakui hingga ketujuh generasi. Kenny Park.
Tapi tuh anak kan belum aku kasih tahu tentang hubunganku yang sebenarnya.
Yang ada leherku akan digorok lebih dulu sebelum aku mendapat wejangannya.
Dan juga, aku belum tahu apa yang Lyana pikirkan tentang hubungan kami setelah ini. Sampai saat ini Lyana belum menceritakan apapun padaku bagaimana kisah cintanya. Jadi aku belum punya gambaran secara jelas apa Lyana akan betah dengan hubungan jarak jauh ini atau sebaliknya.
"Sini Om, Lyana bantu potongin ya." Lamunanku buyar setelah Lyana menawarkan diri untuk memotong daging karet itu. Sama sepertiku, Lyana agak kewalahan memotong daging itu.
Sampai gadis kecilku mengganti pisauku dengan pisau bekas Lyanaa pakai, tapi hasilnya sama.
Akhirnya Lyana mendengus menyerah dan meletakan alat makanku diatas piring.
...-o- ...
Tapi sekarang malam mingguku harus menemani El yang kembali mengajakku minum. Minum wine lagi, tapi beda label.
El mengajakku ke ruang kerjanya setelah kami sempat menghabiskan waktu menonton tv sebentar, bersama Milly dan Lyana. Lalu El langsung mengajakku ke ruang kerjanya. Aku langsung menduga jika El akan mengajakku minum dan begadang lagi seperti kemarin. Dan dugaanku tepat.
Aku duduk di depan El, dalam diam aku memperhatikan El membungkuk untuk membuka laci bawah meja kerjanya. Dua gelas kaca untukku dan untuknya dia keluarkan.
Aku sempat terkesiap melihat itu semua. Setelah kupikir ulang lalu mengingat kami minum bersama kemarin, sepertinya El membuka kembali kebiasaan lamanya yang suka minum. Entah dia akan minum disaat berada di ruangan ini. Atau dalam situasi lain yang membuatnya ingin minum.
"Apa kamu jadi peminum lagi setelah sekian lama?" Aku menggoyangkan gelasku dengan pelan. Lalu menyesapnya. Begitu pula dengan El. Dia menjawab setelah menyesapnya beberapa kali.
"Aku memang masih minum walau sudah menikah. Hanya saja aku akan minum setelah Milly tertidur lebih awal. Atau disaat aku bekerja di sini."
"Bukan karena ada masalah?"
"Itu bisa jadi salah satu alasanku juga." El tidak menepisnya. Dia tersenyum singkat. "Apalagi disaat aku tahu Lyana suka di-bully dan Mikael mendapat masalah di sekolah. Bagiku minuman adalah pelampiasanku."
"Kamu sudah tua El. Jangan terlalu banyak minum." Mendengar nasehatku, El justru tertawa. Seakan dia baru saja mendengar gurauan singkat dariku.
"Kamu juga sudah tua. Tapi sampai sekarang kamu belum ada pasangan yang menemani hari tuamu."
Aku mendadak terdiam dengan perasaaan yang berubah campur aduk. Agak tersinggung. Tapi aku nggak bisa berkata apapun. Apa aku sudah dipengaruhi alkohol? Padahal aku belum menghabiskan minuman pertamaku.
Aku harus terjaga malam ini.
"Nanti akan ada saatnya aku bertemu dengan jodohku. Kamu nggak perlu khawatir. But thanks anyway sudah mengingatkanku."
"Nope," El melambaikan tangan pelan, menandakan ia tidak setuju dengan ucapanku barusan. "Ayahmu selalu memintaku membujukmu untuk segera menikah. Nathan, asal kamu tahu aku mulai lelah mendengarnya. Apa kamu nggak memikirkan perasaan Ayahmu? Kamu anaknya satu-satunya."
"Kamu juga anaknya."
El menyesap minumannya lalu menggeleng. "Bukan begitu maksudku. Setelah kamu putus sama mantanmu yang terakhir--siapa namanya? Aku lupa."
"Zahra."
"Nah iya, itu! Setelah sama dia, kamu tak lagi memperkenalkan seseorang kepada kami. Terutama Ayah. Bahkan aku belum mendengar kamu memiliki seseorang untuk didekati."
"Memang," Aku mengangguk. "Aku pasti akan mengatakannya pada kalian jika ada seseorang yang perlu aku kenalkan ke kalian."
"Pastinya tuh kapan?"
"Ya nggak tahu." Nadaku mulai meninggi. Sering ditanya itu membuatku jengkel.
"Masak tidak ada perempuan yang dekatin kamu?"
"Kalau itu ada."
El melotot antusias, "Siapa dia?"
"Diana."
"Admin kantor lo?"
"Iya."
"Lo lagi dekat sama Diana? Serius Nat??"
"Lah iya dekat. Kan satu kantor. Kalau kantor kenapa kenapa Diana butuh gue. Gimana sih lo?"
"Ya Tuhan bukan itu Nathaniel Salim!" Aku mendengus geli, kalau nama lengkapku sudah El lontarkan sudah pasti El jengkel banget sama aku.
"Seseorang yang dekat sama lo, Nat? Masak beneran nggak ada sih?"
"Ada kok El."
"Siapa??"
"Ken."
"Lah lo homo?"
"Lah kagak br*ngs*k?!" Aku reflek mengambil koran diatas meja El lalu kulempar kesal ke arah El. El mengaduh sakit dan tertawa remeh.
"Serius Nat. Beneran nggak ada perempuan asing yang deketin lo buat pacaran? Pacaran Nat?!"
Aku hendak mau menjawab, tapi El memotong.
"Apa jangan jangan lo masih terbayang sama masa lalu lo? Siapa tadi nama mantan lo gue lupa, Zahra ya?"
Aku langsung menepis. "Dia hanya masa lalu gue, bukan masa depan gue."
"Ah yang bener?" Goda El dengan kerlinangan nakal. Aku kembali melemparnya lembaran kertas lalu kutimpuk El lagi.
"Ya sudah lah terserah lo saja. Pokoknya pesan dari gue jangan lama lama sendiriannya. Gue nggak jamin bisa nemenin lo terus sampai diantara kita ada yang mati lebih dulu. Kalau sudah ketemu seseorang yang buat lo yakin ke jenjang yang lebih serius, cepat cepat kenalkan ke gue dan Ayah."
Kali ini aku terdiam. Pikiranku berkelana atas semua ucapan El padaku.
El ada benarnya. Walau aku merasa dan selalu mengatakan pada mereka bahwa aku baik-baik saja menjalani hidupku seperti ini, El dan Ayah justru tetap khawatir padaku. Hal itu membuatku merasa cemas.
Walau begitu, memberitahu mereka tentang hubunganku dan Lyana yang sebenarnya, aku masih belum siap.
"Iya, aku akan kenalkan ke kalian jika aku sudah siap."
Iya. Aku hanya butuh waktu. Menunggu takdir memihak padaku.
...-o- ...