Hi, Om Nathan!

Hi, Om Nathan!
Bab 44



Dari banyaknya rasa sakit yang pernah Lyana alami selama hidupnya, sakit hati adalah hal yang tidak ia sukai. 


Lyana kira ia tidak akan pernah mengalaminya, karena Lyana pikir Lyana telah jatuh cinta dengan orang yang tepat. 


Seorang pria dewasa memperlakukan Lyana dengan hati-hati dan lembut. Sama seperti sang Ayah.


Namanya akan terdengar manis di saat pria itu memanggilnya. Seperti permen kapas. Kesukaan Lyana. 


Akan terasa aman jika berada didekatnya. Aroma tubuh yang menenangkan akan selalu Lyana ingat ketika pria itu memeluknya. Rasa hangat pun ikut menyelimuti. Betapa nyamannya Lyana jika berada dipelukannya. 


Tatapan tulus akan selalu terpancar saat menatap Lyana. 


Dan begitu banyak hal-hal yang Lyana sukai di saat ia di dekat Nathan, karena Lyana begitu mencintainya. 


Semakin dalam rasa cinta itu menguasainya, tak disangka hal itu akan menimbulkan luka yang dapat membuat Lyana menangis di sebuah taman kota. 


Ternyata kata teman-teman sekolah yang pernah Lyana dengar itu benar. Sakit hati itu terasa menyiksa. Rasa sakit itu seakan menghantam dada Lyana sangat kuat, hingga Lyana sulit mengatur napasnya. Bahkan air mata belum bisa menyembuhkan rasa sakitnya.


Kepalanya terus memutar adegan yang tidak pernah ingin ia lihat sekalipun. Mengingat dirinya hanya terpaku memandangi Nathan dengan seorang wanita cantik di sebuah Apartemen.


Tak hanya itu saja yang membuat Lyana tercengang di tempat, wanita cantik yang bersama Nathan ternyata adalah wanita yang pernah Lyana temui ketika Lyana tak sengaja menumpahkan kopi beberapa waktu yang lalu. Saat itu Lyana hanya tahu bahwa wanita cantik itu adalah rekan kerja Nathan. 


Seingat Lyana, namanya Zahra.


Tak jauh dari posisinya berdiri memandangi dua orang yang hendak menuju lift, obrolan mereka terlihat mengasyikan sampai-sampai mereka tak sadar jika banyak pasang mata diam-diam ikut menyaksikan kegiatan mereka. 


Termasuk Lyana.


Ketika kehadirannya terlihat Nathan, Lyana hanya ingin berbalik dan melesat pergi begitu saja. Tak peduli panggilan Nathan dan pasang mata orang-orang di sana mulai penasaran dengan kegiatan mereka.


Yang hanya Lyana inginkan saat itu adalah pergi sejauh mungkin dan meminta sang sopir taksi untuk mempercepat lajunya. Saat dirinya sadar jika sang sopir sudah membawanya kabur ke Kota, Lyana meminta sang sopir taksi menurunkannya di sebuah taman yang tampak cukup sepi.


Dengan itu Lyana bisa mengeluarkan kesedihannya yang sedari tadi ia tahan sekuat tenaga karena ia tak mau sang sopir taksi mencemaskannya.


Dari sekian banyaknya alasan, kenapa harus Zahra yang menjadi alasan akan rasa sakit yang menyerang Lyana saat ini?


Dan kenapa Nathan harus bersama wanita cantik itu? 


Bukan Ken, atau pria lain. 


Kenapa harus Nathan?


Apa karena wanita itu Nathan tidak mengacuhkannya? 


Apa karena wanita cantik itu, Nathan lebih memilihnya ketimbang Lyana yang sudah lama menunggunya? 


Lyana sengaja datang ke Bandung untuk menemui Nathan. Mungkin dengan kehadirannya Nathan akan senang. Sekaligus menghapus praduga buruk yang sebelumnya menghantui Lyana beberapa hari ini.


Lyana mencoba untuk mengerti di posisi Nathan. Mungkin Lyana berlebihan saja selama ini.


Lalu Lyana bertemu dengan Bi Idah yang saat itu sedang membersihkan ruang tengah. Bi Idah terkejut dan memberitahu Lyana kalau pagi-pagi Nathan sudah pergi. Namun Bi Idah tidak tahu ke mana Nathan pergi.


Mendengar itu Lyana cemas. Apa mungkin Nathan pergi ke Bekasi untuk menemuinya, namun Nathan tidak mengabarinya sama sekali.


Saat Lyana menanyakan apakah Nathan ada di rumahnya ke Mamahnya, Mamahnya bilang tidak ada Nathan di sana.


Sebuah ide muncul, tapi Lyana merasa ragu. Lyana meminta Bi Idah untuk menelepon Ken.


Cukup lama Bi Idah dan Ken mengobrol melalui telepon, Bi Idah mengatakan jika Nathan menjemput seseorang yang tinggal di sebuah Apartemen yang berada di dekat kota untuk mengunjungi Dokter Kandungan.


Kaki Lyana terasa lemas seketika. Bahkan bibirnya hanya bisa terkatup rapat.


Tidak. Lyana yakin Ken berbohong. Nathan tidak mungkin pergi bersama wanita lain tanpa memberitahu Lyana terlebih dahulu.


Lyana menyangkal itu di dalam benaknya.


Nathan tidak mungkin melakukan itu. 


Iya, Lyana yakin.


Lyana memantapkan hatinya untuk percaya dengan Nathan.


Lyana berusaha mempercayai Nathan.


Maka dari itu Lyana mencoba mendatangi Apartemen yang disebutkan Ken tadi. Lyana menunggu di sebuah minimarket yang menyediakan tempat duduk untuk menunggu.


Lyana menunggu di sana sambil mengitari situasi.


Lyana yakin omongan Ken tidaklah benar.


Nathan tidak mungkin ke Apartemen itu bersama wanita lain.


Iya, Lyana percaya sama Nathan. Ken pasti berbohong.


Cukup lama Lyana menunggu namun hal itu membuat Lyana merasa cukup yakin omongan Ken memanglah salah besar.


Lyana hendak bangkit untuk kembali ke rumah Nathan.


Sampai langkahnya terhenti ketika sebuah mobil memasuki area parkir Apartemen. Seorang wanita keluar dari sisi mobil dan berjalan pelan memasuki Apartemen. Disusul seorang pria yang leluar dsri sisi mobil lain.


Dan pria itu adalah Nathan.


Lyana percaya dengan Nathan.


Hingga akhirnya Lyana menyerah menguatkan hatinya di saat ia menyaksikan sendiri bahwa kekasih yang sangat amat ia cintai tertawa bersama Zahra.


Zahra, mantan kekasih Nathan. Lyana mengetahui hal itu dari Bi Idah sebelum Lyana ke Apartemen.


Tertohok. Lyana nggak habis pikir kenapa ia bisa mengetahui kenyataan pahit itu dari mulut orang kain. Bukan Nathan.


Nathan baru saja menemani mantan kekasihnya ke Dokter Kandungan.


Kenyataan yang menyakitkan bukan?


Sekarang bagaimana? Apakah Lyana harus menuntut Nathan mengungkapkan siapa Ayah dari calon bayi mantan kekasihnya itu?


Oh tidak! Lyana merasa sudah tidak sanggup. Sudah cukup ia menguatkan hatinya untuk berpikir positif untuk mempercayai Nathan.


Dengan kemungkinan besar kenyataan buruk lainnya akan membuatnya semakin terguncang.


Lyana tidak mau kembali lagi. Sudah cukup ia menangis seperti orang bodoh yang tak punya asa.


Kedua kakinya menariknya untuk melangkah. Sambil mengusap wajahnya yang memerah dan sembab Lyana mengitari sekeliling.


Tak hanya hatinya, awan pun perlahan mulai menggelapi kota. Seakan mendukung perasaan kalut Lyana.


...-o- ...


Nathan mengerang kesal.


Ia tak berhenti memaki ponselnya yang terus gagal menghubungi Lyana, meski Nathan tahu itu akan percuma karena yang ada itu akan menguras energinya.


Hari sudah semakin gelap, dan Nathan semakin kelimpungan mencari Lyana.


Mengelilingi kota, taman, dan ke tempat-tempat lainnya Nathan sudah telusuri, berharap ia menemukan Lyana. Tapi hasilnya nihil.


Nathan belum menyerah. Kemanapun akan Nathan cari. Asalkan ia menemukan gadis kecilnya.


Tapi sampai sekarang ini Nathan masih belum berhasil menemukan keberadaan gadis kecilnya.


Kenyataan itu seakan mencekiknya perlahan.


"Lyana sudah di perjalanan pulang ke Bekasi. Susulah!" Ucap Ken langsung disaat Nathan mengangkat teleponnya setelah Nathan menepikan mobilnya sejenak. Rasa sesak Nathan yang memenuhi rongga dadanya lenyap sementara.


"Benarkah? Lo tahu dari mana kalau Lyana balik ke Bekasi?"


"Lebih baik lo cepat-cepat ke Bekasi Nat sebelum terlambat." Ken mengalihkan pembicaraan dengan mendesak Nathan menyusul Lyana secepatnya. 


Tapi Ken ada benarnya juga. Nathan harus segera menyusul Lyana untuk menyelesaikan masalah mereka.


Sebelum masalah lain yang lebih buruk mendatanginya.


"Lyana pulang naik kendaraan apa?" Tanya Nathan.


"Travel. Di KM 72B. Cepat susul!"


Nathan langsung menuruti perintah Ken. Kekuatan di dalam diri Nathan langsung menyerbunya untuk menerjang ruas jalan. Dengan kecepatan diatas enam puluh kilometer perjam Nathan melewati berbagai macam kendaraan menuju Bekasi sambil berharap penuh dibenaknya agar ia berhasil menyusul Lyana.


Hampir dua jam lamanya di perjalanan, walau di beberapa titik pintu keluar tol sempat mengalami kemacetan akhirnya Nathan keluar pintu tol Bekasi.


"Lyana naik taksi. 5 km dari posisi lo. B 2323 OKT. Warna putih."


Nathan mempercepat lajunya lagi setelah mendengar penjelasan Ken melalui earphone-nya.


Ketemu. Mobil putih dengan plat nomor yang tertera sesuai ucapan Ken terlihat Nathan. Nathan kembali melajukan mobilnya lebih cepat.


Saat mobil Nathan hampir dekat, sepertinya sang sopir taksi mengetahui jika Nathan sedang mengejarnya, sehingga mobil tersebut mulai mempercepat lajunya.


Sementara itu Lyana mempererat sabuk pengamannya saat sang sopir menambah kecepatannya. Atas ijin Lyana sang sopir begitu fokus melaju mobilnya sambil menyalip kendaraan lain.


Sebelumnya sang sopir mengatakan pada Lyana jika mereka diikuti sebuah mobil. Lyana menoleh ke belakang dan melihat mobil Nathan menyusulnya. Lyana terkejut bukan main. Lantas ia meminta sang sopir untuk menjauh dari mobil Nathan dengan dalih kemungkinan mereka diikuti mobil seorang penjahat yang ingin menyerang mereka.


Tanpa dipaksa sang sopir begitu siap dan senang hati ingin menyelamatkan diri dan penumpangnya.


Mobil Lyana melaju kencang dan cepat. Menyalip ke kiri dan ke kanan disaat sang sopir menemukan kesempatannya. Begitu juga dengan mobil Nathan. Nathan nggak mau kalah.


Sampai dimana mobil Lyana menuju perempatan yang dimana sebentar lagi lampu hijau akan berubah warna menjadi lampu merah.


Dalam sisa hitungan waktu yang ke 3, mobil Lyana berhasil melewati perempatan itu dengan kecepatan tinggi. Sedangkan Nathan terpaksa memberhentikan mobilnya karena ia terjebak di lampu merah.


"Wah, akhirnya kita berhasil lolos mbak." Desah kelegaan lolos dari mulut sang sopir. Begitupun Lyana. Rasanya jantung Lyana mau lepas dari rongganya. Ada rasa senang dan cemas bercampur menjadi satu. Lyana mulai memikirkan keadaan Nathan yang kini terjebak di lampu merah.


Namun Lyana langsung mengenyahkan pikirannya. Untuk apa ia memikirkan Nathan lagi padahal Nathan belum tentu memikirkannya.


Nathan memukul stir rodanya. Meluapkan kekesalannya karena terjebak di lampur merah. Ia gagal mengejar Lyana.


Setelah ini Nathan tidak akan melepaskan Lyana lagi.


Tidak akan.