
Nathan
Aku menepati janjiku. Dengan langkah tergesa-gesa aku melangkah memasuki rumah El bersama Ken. Pandangan pertama yang kudapati adalah suasana yang sepi di area ruang tamu. Bahkan di meja makan dan dapur, tidak ada satu orangpun yang terlihat selain deru kesunyian.
Aku menatap sekelilingku heran. Kembali teringat dengan ucapan El yang memintaku datang saat jam sarapan berlangsung.
Ini masih pukul tujuh pagi, tapi tidak ada satupun orang yang memenuhi area meja makan.
Apa El sedang mengerjaiku?
"Sepi. Dimana kakak lo?"
Itulah pertanyaan yang sedari tadi berputar di kepalaku. Merasa cemas, aku mencoba untuk memanggil El dengan nada tinggi. Tak kusangka aku melihat siluet seseorang di lantai dua dan hendak menuruni anak tangga.
Seseorang yang kucari selama ini kini berdiri dideretan anak tangga dengan ekspresi tercengangnya menatapku dan Ken.
"Om Nathan.."
Kecemasanku lenyap dengan siasat nakalku untuk mencari kesempatan sebelum hal itu juga lenyap. Aku menarik Lyana hingga ia berada dalam dekapanku.
Aroma tubuhnya, lembutnya setiap surai rambut panjangnya, deru napasnya yang menyapa permukaan kulitku hingga detak jantung yang dapat kurasakan. Aku tak perlu lagi bersusah payah membayangkannya lagi, karena sekarang hal itu sudah bisa kunikmati kembali hanya dengan memeluknya erat.
Dan kupastikan ini bukanlah mimpi, karena sekarang aku pun dapat menatap wajah cantiknya dengan pipi bersemu merah menatapku. Netra hitam pekatnya menatapku dalam, menghipnotisku agar aku tak berpaling kemana pun.
"Lyana.."
Hanya beberapa saat kami saling memandangi satu sama lain. Aku yakin Lyana sama takjubnya denganku karena sudah lama kami tidak saling bertemu sejak saat itu.
Kini aku tidak perlu bersusah payah meminta waktu Lyana melalui El. Lyana sudah ada dihadapanku. Aku akan menggunakan kesempatan ini untuk menyelesaikan masalah kami terlebih dahulu.
Aku membawa Lyana ke halaman belakang. Kupikir tempat itu cukup bagus untuk membicarakan permasalahan kami.
"Om Nathan.."
"Boleh aku yang berbicara lebih dulu, Lyana?"
Tanpa berpikir panjang, aku memotong ucapan Lyana. Aku ingin Lyana mendengarkan penjelasanku sebelum ia menjabarkan spekulasinya.
"Tapi Om Nathan—"
"Lyn,"
Aku menekukkan lututku, bersimpuh dihadapan Lyana dengan satu tanganku menggenggam erat satu tangan Lyana. Dengan sorot mataku, aku menyampaikan sirat rasa bersalah dan kesedihanku padanya.
"Tolong, maafkan aku Lyana. Maafkan aku yang sempat tidak menghiraukanmu. Maafkan aku yang telah membiarkanmu menunggu kabar dariku. Maafkan aku yang telah membuatmu mencemaskanku. Maafkan aku yang telah membuatmu berbohong pada Papah dan nekat ke Bandung mencariku. Maafkan aku yang telah merusak kepercayaanmu.
Aku mohon, maafkan aku Lyana." Kepalaku tertunduk dengan rasa penyesalan. Sungguh, mendongak untuk menatapnya aku merasa berat. Aku merasa tak mampu sebelum Lyana memberi maafnya padaku.
Aku jadi teringat disaat Lyana bercerita padaku ketika ia masih tinggal di rumahku di Bandung. Lyana cerita kalau ia merasa tersentuh dengan salah satu kisah film romantis yang Lyana tonton di sebuah kaset untuk pertama kalinya.
"Meski pria itu sudah meninggalkannya cukup lama, sampai ceweknya depresi gitu, tapi ceweknya masih mau memaafkan cowoknya lho Om. Lyana merinding pas nonton filmnya."
Ujarnya antusias dengan arah pandangnya ke atas langit saat itu. Mengingat-ngingat penggalan kisah cerita tersebut seingatnya Lyana. Lyana lupa nama tokohnya siapa, yang ia ingat cowoknya seorang vampir dan ceweknya seorang manusia.
"Sepertinya aku tahu film yang kamu maksud."
"Benarkah?" wajahnya berseri senang.
"Berarti Lyana nggak salah cerita ya Om. Lyana suka banget sama tokoh ceweknya, terlihat tangguh dan begitu mencintai cowoknya. Padahal Lyana kesal sekali pas cowoknya ninggalin ceweknya. Cowoknya pengecut. Nggak mau berjuang sama ceweknya. Tapi ceweknya masih baik banget sama dia sampai rela mau digigit jadi vampir biar status cowoknya nggak ketahuan. Lyana suka banget sama kisah mereka."
Mengingat celoteh kekanak-kanakannya, hal itu membuatku sadar jika tokoh cowok pengecut itu seperti aku yang sekarang. Sedang bersimpuh di depan Lyana memohon maaf darinya.
Dan aku berharap, Lyana adalah si cewek dalam tokoh film tersebut, mau memaafkan aku yang pengecut ini dan mau bergandengan tangan denganku untuk memperjuangkan hubungan kami di hadapan El.
"Om Nathan, Lyana sedih banget Om Nathan nggak balas-balas pesan Lyana. Telepon Lyana jarang Om angkat, bahkan Om tolak." Lyana mengungkapkan kekecewaannya padaku. Mungkin orang lain akan menganggapnya sepele, tapi Lyana tidak.
Apalagi aku sudah tahu Lyana belum pernah menjalin hubungan jarak jauh, dan dengan mudahnya aku merusak kepercayaannya.
"Pas Lyana ke Bandung, Lyana malah lihat Om Nathan sama wanita lain. Lyana sedih banget Om. Lyana berusaha buat nggak mau percaya sama Bi Idah dan Om Ken kalau Om Nathan nggak mungkin ke Apartemen wanita itu karena Om Nathan nggak ada bilang-bilang sama Lyana. Tapi nyatanya apa yang mereka bilang benar dan hati Lyana sakit. Apa Om takut aku akan marah marah seperti anak kecil?"
"Nggak Lyana, aku nggak bermaksud—"
"Nggak. Lyana memang masih kecil, Lyana memang belum dewasa. Jadi wajar Om Nathan nggak mau kasih tahu Lyana." Tuduhnya untuk dirinya sendiri membuatku sulit berbicara.
"Lyn.."
"Dan yang membuat Lyana semakin sakit hati disaat Lyana tahu kalau wanita yang pernah ketumpahan kopi Lyana bukan sekedar rekan kerja Om Nathan. Lucunya, Lyana tahunya dari Bi Idah. Bukan dari Om Nathan sendiri."
Mendengar itu dan melihat air mata Lyana turun membuatku semakin terpojok dan terpukul.
"Maafkan aku.."
"Lyn, mau dia adalah mantanku atau rekan kerjaku—yang aku cintai sekarang cuma kamu. Nggak ada yang lain."
"Tapi nggak ada salahnya kan Om kasih tahu Lyana kalau wanita itu mantan Om Nathan? Lyana nggak bakal cakar atau jambak wanita itu kok.."
Aku menggeleng pelan lalu menghela napas.
"Kalau Om cerita sama Lyana, Lyana senang Om Nathan terbuka sama Lyana."
"Maafkan aku Lyn.."
"Kalau Om ada diposisi Lyana, apa tanggapan Om jika Om tahu salah satu rekan kerja Lyana adalah mantan Lyana tapi Lyana nggak ada bilang? Apa tanggapan Om Nathan jika Om tahu Lyana masih suka ketemu mantan Lyana? Terus Lyana bilang sama Om Nathan—"kami tidak ada hubungan lain selain rekan kerja, Lyana hanya mencintai Om Nathan"—tapi Om Nathan mempergoki Lyana berduaan di Apartemen dan Lyana nggak ada kabari Om Nathan sebelumnya. Apa tanggapan Om?"
Aku tertohok ditempat.
"Aku—juga akan marah dan sakit hati. Persis seperti yang kamu rasakan sekarang. Maafkan aku Lyn.." Ucapku putus asa. Padahal Lyana hanya menanyakan tanggapanku, tapi justru aku membayangkannya jika Lyana melakukan apa yang ia katakan padaku.
Dan itu mampu menyentil setengah emosiku.
"Lyana, aku sangat menyesal. Sungguh, aku menyesal. Aku benar-benar minta maaf. Aku tak akan mengulanginya lagi. Aku janji akan lebih terbuka padamu. Akan aku pastikan tidak ada rahasia lagi diantara kita. Kumohon beri aku kesempatan sekali lagi. Kehilanganmu membuatku merasa gila, Lyn. Maafkan aku." Ucapku dengan penuh penyesalan.
"Beri aku kesempatan sekali lagi Lyana. Aku benar-benar mencintaimu." Kedua tanganku mulai menggenggam satu tangan Lyana.
"Lyana juga cinta sama Om Nathan, tapi—dada Lyana masih sakit Om." Lyana membalas genggamanku. Tapi genggamannya membuatku kian kalut.
"Gimana caranya agar aku bisa menyembuhkan sakitmu? Beritahu aku, sayang. Katakan padaku. Aku akan melakukannya, asalkan kamu nggak sakit lagi."
Kami terdiam sejenak, lalu aku mendongak ketika Lyana menurunkan tubuhnya agar setara denganku. Ia ikut duduk didepanku dengan mata berkaca-kaca.
"Om Nathan.."
"Iya sayang.." lirihku pelan.
"Lyana mau ke Inggris, Om."
Aku terpaku menatap Lyana.
"Inggris?"
"Iya Om. Menurut Om gimana?"
Aku terdiam. Pasti ini karena El yang meminta Lyana untuk melanjutkan sekolahnya ke Inggris. Sebelumnya aku sudah tahu kalau saat ini Lyana lagi di-skorsing pihak sekolah karena Lyana terlibat perkelahian dengan teman sekolahnya. Sama halnya dengan Mikael, agar anak-anaknya dapat mengenyam pendidikan yang lebih baik, El akan membawa anak-anaknya sekolah ke Inggris.
Tapi, aku nggak mau Lyana pergi. Itu akan memakan waktu cukup lama.
Mencoba untuk membuang keegoisanku, aku menekan perasaan itu dan membayangkan masa depannya.
Lyana berhak mengatur masa depannya lebih baik. Lyana berhak mengatur hidupnya mau diarahkan ke mana.
Tapi, apa aku mampu menunggunya?
Tidak! Ini bukan membahas tentang umurku yang terlalu tua untuk menunggunya. Aku lebih takut jika Lyana menemukan sosok yang jauh lebih baik dariku. Entah pria itu seumuran dengan Lyana, atau lebih tua dari Lyana lima tahun atau sebaliknya.
Apalagi pergaulan di sana begitu bebas, berbeda di Indonesia.
Lalu pria itu berhasil mengambil hati Lyana dan Lyana tidak mau kembali kepadaku.
Aku menggeleng keras. "Tidak. Kamu tetap di sini. Kamu nggak boleh pergi ke Inggris. Aku akan mengatakan pada El kalau kamu nggak perlu melanjutkan sekolah ke Inggris, atau ke manapun selain di sini. Aku nggak akan biarkan kamu ninggalin aku, Lyana."
Iya, aku tidak mau hal itu terjadi. Lyana milikku. Hanya milikku.
"Tapi Om Nathan—"
"Kalau kamu mau pindah sekolah, aku akan bantu carikan sekolah yang paling terbaik buatmu sampai ke jenjang master. Intinya kamu tetap di sini. Nggak keluar negeri atau keluar pulau. Kamu tetap di sini, bersamaku. Aku nggak akan biarkan kamu ke mana-mana."
"Tapi kata Papah—"
"Aku yang akan bilang sama Papahmu! Kamu nggak boleh pergi ke manapun Lyana. Please, Lyana, jangan tinggalkan aku lagi." Aku menempelkan keningku ke keningnya. Menyalurkan rasa ketakutanku yang amat dalam agar Lyana tahu aku takut kehilangannya lagi.
Hingga aku dan Lyana saling melepaskan diri setelah namaku dipanggil oleh seseorang.
"Nathan!"
Aku berbalik, menatap kehadiran El dan Adit yang sedang berjalan menghampiri kami. Disusul Karmila dan Milly. Mereka tampak terkesiap melihatku mendekap Lyana.
"Kamu hanya mau bicara sama aku?"
Aku mengernyit bingung menatap El, tapi tak lama aku terpaku horor menatapnya.
"Kita bicarakan hal ini di dalam."