
"Terima kasih sudah mau mengantarku, Nathan. Aku benar-benar terbantu karenamu."
Aku dan Zahra duduk santai di bawah pohon rimbun taman Rumah Sakit. Hari ini Zahra mendapat jadwal kontrol pertama diawal trisemesternya.
Aku dan Zahra mengunjungi Dokter Kandungan yang diarahkan oleh Dokter Yogi. Masih di Rumah Sakit yang sama saat Zahra dirawat sebelumnya. Karena ini kontrol pertama, aku tak luput menrmani Zahra yang sudah merasa gugup sejak kami berangkat ke Rumah Sakit.
"Maaf juga untuk yang tadi. Aku nggak sengaja bohong sama Dokter Kandungan tadi kalau aku bilang kamu adalah suamiku." Zahra memberi dua jari sebagai tanda perdamaiannya padaku. Dengan alasan gugup juga, saat Dokter Kandungan bertanya akan statusku yang datang bersama Zahra, gelagapan Zahra mengatakan jika aku suaminya.
Mau nggak mau aku hanya terdiam dan membiarkan Dokter Kandungan itu memberikan wejangan yang sangat amat terperinci padaku. Karena yang ia tahu aku adalah suami Zahra.
"Mau bagaimana lagi. Sudah terlanjur kamu mengatakannya begitu." Jawabku seadanya.
Cukup sekian lama, akhirnya Zahra memberanikan diri untuk menceritakan semuanya padaku tentang kehamilannya. Aku sempat terkejut mendengar ceritanya. Tapi aku hanya diam menyimaknya dan tak berkomentar apapun sampai Zahra selesai menceritakannya.
"Aku sudah melakukan banyak kesalahan, jadi aku tidak mau melakukan kesalahan yang jauh lebih buruk. Anakku nggak salah. Dia justru adalah anugerah untukku."
"Aku senang kamu memutuskan untuk merawat calon anakmu. Aku bangga padamu."
Aku mengutarakan perasaanku atas keputusan Zahra. Saat kutahu kehadiran anak itu awalnya tak diinginkan Zahra, aku cemas. Tapi akhirnya aku lega Zahra akan mempertanggung jawabkan dan akan merawat anaknya setelah cukup lama Zahra meratapi keadaannya. Zahra tersenyum mendengar pujianku.
Setelah sekian lama aku menjaga Zahra, baru hari ini aku terharu melihat kebinaran Zahra tak luput di wajahnya. Saat Dokter Kandungan menjelaskan kondisi calon anaknya dalam keadaan sehat, Zahra tak berhenti tersenyum senang sampai saat ini.
Terkadang ia mengelus perutnya dengan tatapan sayang sambil mengajaknya berbicara. Itu juga membuatku tersentuh.
"Dia adalah separuh jiwaku sekarang. Aku tidak akan menyia-nyiakannya."
"Baguslah kalau begitu." Balasku.
Kami sama-sama tersenyum dan Zahra mengelus perutnya lagi.
"Nathan, jika aku memiliki kesempatan terakhir, boleh aku mengatakan sejujurnya padamu?"
Zahra mulai mengganti topik percakapan kami.
"Apa?"
Zahra berdeham dan kembali mengelus perutnya. "Aku ingin kamu tahu apa alasanku meninggalkanmu saat itu."
Aku terdiam sejenak. Percakapan ini di luar ekspektasiku. Niatnya aku cuma ingin menemaninya kontrol setelah itu aku harus pergi.
Hari ini aku juga berencana untuk berangkat ke Bekasi. Hari ini adalah jadwalku bertemu gadis kecilku. Sedari tadi pikiranku berkelana memikirkan Lyana. Apalagi aku sudah memiliki banyak kesalahan padanya. Aku harus segera menebusnya dengan bertemu dengannya hari ini.
Bahkan rencananya aku meliburkan diri sampai 4 hari ke depan agar aku memiliki banyak waktu bersama Lyana di sana.
Tapi aku sudah menjanjikan diriku sebelumnya untuk bersedia menemani Zahra kontrol pertamanya hari ini. Jadi pagi-pagi tadi aku buru-buru berangkat menjemput Zahra dulu.
"Itu sudah tidak penting lagi untukku. Kurasa.."
"Mungkin kamu tidak menganggapnya penting lagi, tapi aku tidak. Aku nggak bermaksud mengingatkan luka itu lagi, tapi aku hanya ingin kamu tahu. Setidaknya, aku akan merasa lega karena aku tak harus menyembunyikannya darimu lagi."
Zahra menghela napas setelah memotong ucapanku.
Apa harus aku mendengarkan alasannya sekarang walau aku sudah tidak membutuhkannya lagi?
Dulu, di saat hatiku masih ada Zahra di sana aku memang menuntut jawabannya darinya kenapa ia pergi meninggalkanku tanpa menjelaskan apapun padaku.
Dan saat itu aku ingin sekali memakinya karena hatiku begitu terluka.
Tapi aku tidak membutuhkannya lagi karena aku sadar kehadiran Lyana mampu menyembuhkan hatiku.
Posisi Zahra sudah tergantikan penuh oleh Lyana.
"Apapun alasanmu di masa lalu, itu akan tetap menjadi masa lalu yang tidak akan bisa kita ubah lagi. Jadi, aku sudah tidak perlu mendengar alasanmu." Aku berhasil mengatakannya tanpa memikirkan perasaan Zahra akan terluka.
Aku tidak peduli jika aku dikatakan jahat. Di satu sisi itu bukanlah kemauanku. Masa lalu yang membuatku seperti ini. Dan itu ada campur tangan Zahra. Zahra harus memahami itu.
Aku tidak akan meminta maaf jika Zahra tersinggung.
"Iya Nathan. Kamu benar. Sepanjang apapun alasanku meninggalkanmu, itu tidak akan merubah masa lalu kita. Tapi aku tetap merasa menyesal sampai saat ini. Jika aku mengingat masa lalu kita, seharusnya aku malu berhadapan denganmu lagi. Dan aku terlihat memalukan lagi saat ini karena kamu membantuku memikul bebanku."
"Sudah kukatakan diawal kalau aku tidak keberatan membantumu." Sanggahku tak terima. Aku sudah pernah mengatakannya diawal jika aku tulus membantunya. Aku hanya ingin mendengar keadaan Zahra sudah jauh lebih baik, itu sudah cukup bagiku.
"Iya aku tahu itu." Zahra tersenyum. Lalu ia kembali melanjutkan. "Meski aku malu, tapi aku beruntung bertemu denganmu lagi. Ditambah ada dia di perutku, aku semakin sadar atas semua perbuatanku. Jika kamu tidak memaafkanku atas semua yang telah kulakukan, aku tidak akan menuntutmu. Aku menyadarinya, aku menyesalinya, dan aku akan menerima semua ini dengan lapang dada."
Kehidupan adalah pembelajaran untuk membangun kepribadian setiap orang.
Tinggal orang itu sudah merasa siap untuk menjalaninya atau tidak. Karena kehidupan nggak selalu berjalan baik. Terkadang harus melewati kesesatan sesaat agar dapat membangun kepribadian yang lebih kokoh dan pondasi diri yang semakin kuat menuju akhir yang baik.
"Terima kasih sudah mau menjelaskannya padaku, Zahra." Ucapku tulus.
"Tidak Nathan, justru aku lah yang sangat berterima kasih padamu atas segalanya. Segala perbuatanku yang menyakitkan buatmu selama ini kamu masih tetap baik padaku. Terima kasih. Maaf aku menyia-nyiakanmu Nathan. Sekali lagi maaf. Walau aku pun tahu permohonan maafku tidak cukup dengan apa yang telah kulakukan padamu." Zahra mendongak menatap langit. Aku menemukan ketulusan dan penyesalan di wajahnya.
"Tenanglah. Kamu nggak perlu khawatir lagi. Fokus saja dengan kehamilanmu dan masa depanmu. Berjanjilah untuk menjalani kehidupan barumu yang lebih baik. Bagiku itu sudah cukup."
"Aku janji Nathan. Aku janji. Aku akan membahagiakan diriku dan anak ini. Aku akan belajar untuk menjalani kehidupanku yang lebih baik lagi." Ucapnya penuh penekanan dengan rasa semangat. Aku tak kuasa untuk tersenyum.
"Aku juga tidak akan lupa mengenalkanmu pada anakku saat anakku sudah besar. Ia harus tahu siapa orang yang berjasa untukku."
"Kamu tidak perlu repot-repot melakukan itu." Tukasku.
"Tidak Nathan." Zahra menggeleng. "Aku akan tetap mengenalkannya padamu walau nanti kita tidak akan bertemu lagi. Aku ingin anakku tahu pria bernama Nathaniel Salim adalah orang yang paling baik yang pernah kutemui."
"Kamu berlebihan."
Kami tertawa bersama hingga tak terasa posisi matahari mulai tinggi. Aku langsung mengajak Zahra pulang ke Apartemennya karena aku harus cepat-cepat ke Bekasi.
Cukup lama kami di perjalanan karena beberapa titik ruas jalan terkena macet. Memakan waktu yang cukup lama juga sampai aku tak sadar jika aku membawa mobil tergesa-gesa.
"Apa ada seseorang yang sedang menunggumu?" Aku membantu Zahra menenteng tas jinjingnya ketika kami sudah sampai di Apartemen Zahra. Mula-mula aku harus mengantarkan ke unit Apartemennya dulu. Baru aku bisa melarikan diri ke Bekasi.
"Ya begitulah. Dia sangat penting untukku." Tiba-tiba saja mulutku mengeluarkan kata-kata itu tanpa kusadari. Zahra tampak sumringah mendengar penuturanku.
"Ah--dia adalah perempuan yang sangat beruntung." Godanya menatapku.
"Kalau gitu kamu antar aku sampai sini saja. Aku bisa naik lift sendiri kok." Zahra menahanku agar aku tidak pergi bersamanya memasuki lift.
"Nggak masalah, aku--"
"Nggak apa-apa Nat." Zahra menahanku lagi sambil mengelus perutnya lagi. Sepertinya hal itu akan menjadi kebiasaan barunya.
"Katanya terima kasih sudah menemaninya dan mentraktirnya makan hari ini."
Lagi-lagi aku tersenyum karena tersentuh mendengar kata-kata Zahra yang seolah anaknya lah yang mengatakannya.
"Pergilah! Hati-hati dijalan."
Sebelum pergi aku mengelus puncak kepala Zahra. Sebagai tanda aku berterima kasih padanya dan aku langsung melesat pergi.
Baru beberapa langkah kakiku terhenti. Aku tercengang di tempat seolah melihat hantu siang bolong saat tatapanku hanya tertuju menatap kehadiran Lyana yang tengah berdiri tak jauh dariku.
Gadis kecil yang sangat kurindukan menatapku begitu lurus, lalu berganti menatap ke arah sisiku yang dimana masih ada Zahra di sana yang juga mengamati keterdiaman kami.
Pikiranku langsung memaksaku untuk berlari mengejar Lyana sebelum ketidak inginanku terjadi. Tapi sesaat kemudian hal itu terjadi karena Lyana juga berbalik dan langsung berlari menjauhiku.
Sekuat tenaga aku mengejar gadisku, sampai aku melihat Lyana melambaikan tangan ke arah taksi dan saat itu juga sang sopir memberhentikan mobil taksinya.
"Lyana!! Tunggu aku!! Jangan pergi!!"
Panggilanku sama sekali tak diindahkan. Justru Lyana cepat-cepat memasuki taksi dan taksi tersebut melesat pergi sebelum aku berhasil mengejarnya.
"LYANA!!! LYANA!!!"
Buru-buru aku merogoh ponselku dan berniat untuk menelepon Lyana. Namun aku kembali tercengang melihat belasan notifikasi telepon tak terjawab dan pesan masuk yang tak kubaca.
Dan bodohnya lagi ponselku belum kuubah ke mode dering karena saat bertemu Dokter tadi aku memang sengaja mengubahnya ke mode diam.
Sial!!
Saat aku ingin membuka notifikasi itu, nama Ken langsung muncul di layar ponselku dan aku segera mengangkat teleponnya.
"Ken, gue--"
"Lo kenapa baru angkat telepon gue brengsek?? Tadi Bi Idah telepon gue nanyain lo lagi dimana. Pas gue jelasin tahunya Bi Idah jelasin ulang ke seseorang dan ternyata itu Lyana. Lo tahu Lyana ada di rumah lo nggak?? Masalahnya gue nggak tahu dan gue sudah jelasin semuanya ke Bi Idah kalau lo mau jemput Zahra ke Apartemen mau kontrol ke Dokter Kandungan!! Lo kok nggak ngomong sama gue kalau Lyana di rumah lo??"
Ken menjelaskan panjang lebar padaku tanpa tahu keadaanku kini nggak bisa berbuat apapun selain menjatuhkan diri di tepi jalan dengan tatapan kosong.