
...Nathaniel Salim...
...Lyana Bramawan
...
...Kenny Park...
... ....
... ....
... ....
...For your information, ...
...Visual karakter di sini adalah fiktif. Hanya karangan penulis saja. ...
...Tidak ada paksaan dalam visual. Kalian bebas memilih visual kalian masing-masing. ...
...Pics by pinterest...
...-o- ...
Lyana
Layaknya orang bodoh yang tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang ini.
Sudah hampir satu jam lamanya aku hanya duduk diam dan termenung di ruang tengah tanpa melakukan apapun. Seperti orang yang nggak punya semangat hidup, tapi aku bernapas.
Aku sulit mengungkapkan tentang diriku.
Hanya satu yang kuketahui dan sebenarnya ingin kuluapkan tapi aku terus menahan diri.
Rasa maluku.
Sejak aku terbangun dari tidur, menikmati sarapan yang seharusnya bukan lagi kusebut sarapan, lalu aku memilih duduk di ruang tengah di depan telivisi dengan layar gelap.
Setelah itu pikiranku melayang akan kejadian kemarin malam.
Kenekatan. Keberanian. Kejujuran. Itu kulakukan di dalam satu waktu dan rasanya saat itu waktu bergerak begitu lambat.
Aku jadi merasa menyesal setelah melakukan itu semua.
Tapi sedikit.
Ketimbang rasa menyesal, justru aku lebih sangat senang sekaligus lega. Akhirnya perjuanganku memendam perasaanku yang cukup lama kusimpan dan aku memutuskan untuk mengungkapkan semua kepada Om Nathan kemarin malam tidak dikatakan sia-sia juga.
Walau aku seperti itu setelah Om Nathan menghindariku beberapa hari sebelumnya. Ia menjaga jarak dariku. Dan hal itu cukup membuatku kelimpungan hingga aku bertekad ingin mengungkapkan isi hatiku padanya.
Pikiranku kembali melayang akan dugaan dugaan yang terpatri di pikiran Om Nathan. Tentang bagaimana penilaiannya padaku setelah aku lebih dulu mengungkap perasaanku padanya.
Aku jadi kepikiran.
Ditambah aku belum bertemu Om Nathan pagi ini karena ia sudah lebih dulu pergi dengan alasan berangkat bekerja. Tadi aku menanyakan tentang Om Nathan kepada Bi Ida ketika beliau di dapur, beliau mengatakan jika Om Nathan sudah berangkat ke kantor dan tampak buru-buru pergi.
Aku menutupi wajahku dengan kedua tanganku.
Sumpah, aku ingin sekali mengubur diriku di tanah.
Aku malu mengingatnya.
Apa jangan jangan Om Nathan kembali menghindariku karena kejadian kemarin?
Sudahlah. Aku mulai mencoba masa bodoh. Menduga-duga yang belum tentu sesuai ekspektasi akan percuma.
Tapi sekali lagi, kenekatan yang kulakukan berbuah manis.
Tindakanku membuatku menjadi tahu bagaimana perasaan Om Nathan padaku.
Dan rupanya ia membalas perasaanku.
Lalu kamu berakhir berciuman.
Aku kini speechless mengingat itu.
Mengingat itu aku kembali menutup wajahku. Sudah pasti wajahku sedang memerah padam. Walau aku tak melihatnya dan tidak ada orang lain yang melihatku. Hawa panas seakan berkumpul di area wajahku.
Mencoba untuk mengalihkan pikiranku, memikirkan kejadian itu membuat degup jantungku kembali berdetak kencang.
Bayangan Om Nathan tengah menciumku kian memenuhi isi kepalaku. Tanpa seijinku, adegan ciuman itu terus berputar hingga aku masih bisa mengingatnya secara jelas bagaimana bibir hangat itu bergerak lembut di antara bibirku. Begitu pelan hingga sebuah perasaan asing datang menggebu memintaku untuk terus membalas ciuman yang memabukan itu.
Tak lupa lidah ikut menyelinap masuk dan bermain nakal di dalam rongga mulutku.
Memikirkan itu kepalaku jadi pusing. Kedua lututku lemas.
Aku tidak menyangka jika efeknya akan seperti ini.
Masih tidak percaya dengan apa yang telah kulakukan dengan Om Nathan kemarin.
Aku menyentuh bibirku sambil menutup mata. Meresapi sentuhan bibir Om Nathan yang ternyata tak berbeda dengan 5 tahun yang lalu.
Iya, kemarin malam itu bukanlah ciuman pertamaku bersama Om Nathan.
Jauh sebelum itu, Om Nathan sudah merebutnya lebih dulu.
Jika kuingat lagi, kejadian itu terjadi ketika aku terbangun dari tidur karena haus di tengah malam. Lalu aku keluar dari kamar untuk mengambil air.
Perlahan aku menuruni anak tangga agar tidak membangunkan orang rumah, justru aku dikejutkan dengan kehadiran Om Nathan yang tertidur di sofa.
Pria itu tampak tertidur pulas, jadi aku memberanikan diri untuk menghampirinya dan duduk di sisinya.
Sebelum aku membangunkan Om Nathan untuk pindah ke kamar, aku terpaku sejenak, menatap heran akan penampilan Om Nathan.
Selama aku mengenal Om Nathan, baru kali ini aku tahu jika ia bisa tidur dengan mengenakan pakaian kantor yang masih lengkap; kemeja dan celana bahan panjang yang sudah tampak kusut, dasi masih bertengger di lehernya, juga sepatu hitam mengkilap juga masih melekat di kedua kakinya.
Untung saat itu Mamah tidak melihatnya. Kalau lihat, aku yakin pasti Mamah akan memaksa Om Nathan untuk melepaskan pakaian kantor itu dan menggantinya dengan pakaian lain. Atau mungkin Papah akan mengoceh panjang lebar layaknya penceramah memberi pencerahan.
Perlahan tapi pasti, aku menepuk-nepuk bahu Om Nathan agar ia terbangun. Rupanya usahaku berhasil, Om Nathan berdeham singkat lalu memaksakan tubuhnya untu terbangun walau matanya masih terpejam.
Sesaat kami terdiam masing-masing, aku kembali menepuk-nepuk bahunya agar ia membuka mata lalu perlahan Om Nathan membuka matanya. Bukannya segera untuk beranjak ke kamar seperti apa yang kuminta, Om Nathan justru menarikku lalu menempelkan bibirnya tepat di bibirku.
Cukup lama aku terdiam dan mencerna apa yang baru saja terjadi padaku, cukup lama aku berpikir hingga cukup lama juga aku dapat merasakan hangatnya bibir Om Nathan yang hanya menempel di bibirku.
Tanpa merasa bersalah atau terkejut atas perbuatannya, Om Nathan menjatuhkannya badannya lagi dan kembali menutup mata. Ia kembali tertidur dan tak perlu aku memikirkannya lagi aku langsung buru-buru menuju kamarku dengan langkah gusar.
Aku sampai lupa dengan tujuanku untuk mengambil minum. Tapi aku sudah tidak peduli lagi. Yang saat itu aku pikirkan adalah menyembunyikan diriku di balik selimut, lalu memaksakan diri untuk segera terlelap dalam mimpiku agar aku melupakan malam itu.
Sampai besok paginya aku memilih mengurung diri di kamar dan sarapan di sana, ketimbang aku berhadapan dengan Om Nathan.
Aku tidak siap bertemu dengannya.
Setelah kejadian itu, Om Nathan menjalani hari-harinya seperti biasa. Tidak ada ia memyinggung apapun atas kejadian tersebut. Atau apapun mengenai ciuman itu saat kami bersitatap lagi.
Jadi kupikir, Om Nathan tidak sadar melakukan itu atau mungkin ia tidak mengingatnya.
Mulai saat itu aku mencoba untuk tidak mengingatnya juga.
Ketika aku memiliki hubungan dekat dengan beberapa teman laki-laki yang mengatakan perasaannya padaku, justru aku suka terbayang dengan adegan ciuman singkat itu. Dan itu cukup mempengaruhiku dan mengusikku.
Seakan ada penghalang yang tidak kusadari, setiap ada laki-laki yang dekat aku malah teringat dengan Om Nathan. Hal itu akan terus terjadi sehingga perlahan aku yang mundur dari mereka.
Sampai aku sadar ternyata aku telah jatuh hati dengan Om Nathan sampai saat ini.
Terlalu mendalami kejadian tersebut, aku tersentak ketika Bi Ida mendekatiku untuk pamit pulang, ia mengatakan jika pekerjaannya sudah selesai.
Aku membiarkan Bi Ida pergi dan kembali melanjutkan kegiatanku memikirkan Om Nathan.
Ah! Aku jadi ingat akan surat yang kutemukan di atas meja makan.
Saat aku hendak ingin memulai makan tadi, lalu satu tanganku meraih piring yang berisi lauk sosis kecap, ada secarik surat terselip di piring tersebut dan aku langsung menyimpannya di saku piyama bergambar kelinci.
Memang aku tak langsung membacanya saat itu. Berniat untuk menghabiskan makananku lebih dulu.
Kini waktuku lenggang, merasa aman dan hanya ada aku seorang di rumah ini aku langsung mengeluarkan surat itu. Dengan degup jantung yang berdetak nggak karuan aku membaca isi surat itu dengan teliti dan antusias.
Maaf aku sudah pergi saat kamu terbangun. Jangan lupa makan ya, aku sudah minta Bi Ida menyiapkan makanan untuk kamu.
Tak kuasa aku tersenyum membaca surat yang ternyata dari Om Nathan. Hingga aku spontan memekik senang setelah membaca kalimat terakhir yang Om Nathan tulis.
I love you..
Aku kembali membaca surat itu, berkali-kali, dan berkali-kali juga aku berteriak histeris dengan perasaan yang begitu membuncah di dalam dada. Surat itu lantas kupeluk erat seakan suatu saat surat itu akan menghilang dalam genggamanku.
Benar, kini aku tidak berangan lagi seperti orang gila. Aku dan Om Nathan saling memiliki perasaan satu sama lain.
Terlalu senang, aku melompat-lompat kegirangan dan menjatuhkan diri di sofa lalu memeluk surat itu lagi.
Berarti apa hubunganku dengan Om Nathan sudah bisa dikatakan 'pasangan kekasih'?
Pasangan kekasih. Memikirkan itu rasanya tubuhku lemas. Lemas karena aku terlalu senang dengan kenyataan ini.
Apa sekarang aku boleh memanggilnya sayang? Oh--baby? Apa Om Nathan akan nyaman dengan panggilan itu?
Sepertinya tidak.
Ah--Honey? Bunny? Sweety?
Oh itu berlebihan. Aku akan mengulik Fanya setelah ini. Atau Sammy. Pasti mereka tahu nama panggilan sayang kepada sang kekasih yang uptodate dan nggak norak.
Setelah itu aku akan membicarakan hal ini kepada Om Nathan nanti setelah ia tiba.
Aku jadi tidak sabar menunggu.
Setelah rasa antusiasku memikirkan hubunganku dan Om Nathan, ponselku yang kuletakan di atas meja bergetar. Aku melirik dan muncul nomor tak dikenal di layar ponsel.
"Halo.." aku menyapanya sopan. Lalu terdengar suara pria yang tampak familiar di telingaku.
"Lyana.. it's me, Ken."
"Om Ken." Aku menggaruk leherku yang tak gatal. Bagaimana bisa Om Ken tahu nomor ponselku?
Apa Om Ken dapat dari Om Nathan?
"Aku menghubungimu karena Nathan memberikan nomormu padaku,"
Dugaanku benar.
"Apa kamu kesepian di rumah sendirian? Aku ingin mengajakmu nge-date?"
"Nge-date?" Ulangku. Siapa tahu aku salah dengar.
"Iya. Lebih tepatnya double date. Bersiaplah Lyana! Aku sudah di jalan menjemputmu, sebentar lagi aku akan sampai."
Dahiku berkerut.
Mendengar Om Ken mengatakan double date, perasaanku mulai terusik.
"Double date, sama siapa Om?"
"Ya siapa lagi kalau bukan Nathan. Shit! Pria itu sudah mencuri start duluan. Sekarang pria itu sedang menjemput kekasihnya dan memintaku untuk menjemputmu."
Bibirku mengatup seketika.
"Tapi untuk apa aku menanyakan itu, pasti kamu sudah lebih dulu tahu sebelum aku. Kalian curang. Terutama Nathan, pria itu harus mentraktirku makan sepuasnya."
Lanjut Om Ken sambil terkekeh tanpa ia ketahui aku membeku di tempat mendengar kekehannya.
"Bersiaplah cantik! Aku sudah tak sabar ingin menemuimu."
Om Ken mengakhiri telepon kami dengan nada antusias.
Namun aku tetap diam mematung atas semua yang telah kudengar dari Om Ken.
Om Nathan menjemput kekasihnya?
Bukankah kekasihnya itu aku?
Seharusnya Om Nathan yang meneleponku, lalu menyuruhku bersiap-siap sembari ia di perjalanan untuk menjemputku.
Tapi kenapa justru Om Ken yang menjemputku?
Kenapa bukan Om Nathan?
...-o- ...