Hi, Om Nathan!

Hi, Om Nathan!
Bab 18



Nathan


"Terima kasih sudah mau mengantar kami ke sini."


Aku hanya terdiam sambil menghela napas ku. Untuk kesian kalinya.


Namun aku cukup merasa lega. Lega karena aku tidak perlu lagi tenggelam dalam keheningan yang sangat amat tidak kusukai.


Bagaimana tidak, aku seperti seorang sopir yang mengantar 2 wanita hedon ke suatu tempat. Aku hanya duduk diam di kursi kemudi dengan kedua tangan ku yang bergerak memutar roda stir ke kanan dan ke kiri.


Sesekali aku hanya berdeham, atau berusaha keras untuk menyunggingkan senyuman sebisa ku. Apalagi disaat salah satu wanita berkemeja kuning duduk di kursi belakang, tak henti mengoceh membicarakan apapun. Entah menilai cuaca hari ini, atau membicarakan seseorang dengan keburukan yang ia nilai di satu sisi.


Tak sampai disitu, tatapan delik dengan senyuman genit yang sengaja ia tunjukan padaku melalui kaca spion seketika membuat mood ku rusak.


Tapi sekarang itu sudah berlalu. Aku tidak akan mendengar ocehan nya lagi.


Dan kuharap aku tidak akan bertemu dengan wanita itu.


Termasuk temannya ini.


Sejak awal aku bertemu dengan mereka berdua, benak ku langsung berdoa supaya pertemuan ini segera berakhir.


Tapi disaat aku memberhentikan mobil ku di sebuah Gedung elit ternama yang tampak ramai dengan beberapa Banner yang terpasang di Beranda Gedung aku terpaku sejenak sambil melirik ID Card yang menggantung di leher wanita berkemeja kuning.


Rupanya mereka Agen.


Aku langsung berencana untuk segera pergi dari sini. Namun salah satu tim ku melihat ku dan menyapa ku.


"Bukankah mereka tim Developer? Apakah tadi mereka memanggilmu?" Ucap wanita berkemeja kuning itu dengan satu tangannya yang menunjuk padaku lalu pindah ke arah tim ku.


"Mereka timku." Balasku sekenanya dengan wajah masam.


"Sungguh? Jadi kamu Marketing in-house juga? Atau jangan-jangan kamu Agen Properti? Agen Properti mana? Aku jarang melihat mu kalau ada acara Product Knowledge."


Temannya menoleh dan menyenggolkan sikunya, hingga wanita berkemeja kuning itu spontan membungkam mulut.


"Jaga sikapmu. Dia ini Nathaniel Salim. Pendiri Developer Bojongloa Residence." Terang wanita itu membuat temannya menganga tak percaya.


"Serius? Wah, aku benar-benar nggak tahu kamu. Maafkan aku,"


"Jadi," wanita itu beralih menatap ku lagi.


"Bagaimana kabar orang tuamu? Apa mereka baik-baik saja?"


"Wah--Zahra, aku tidak menyangka kamu bisa mengenal sosok Nathaniel Salim secara dekat." Wanita itu menatap kami bergantian dengan tatapan kagum. Lalu ia berbalik menyenggol lengannya, menggoda.


Berbeda dengan ku yang memutar netra ku malas.


"Kami kenal karena pernah bergabung dalam grup pecinta sepeda." Jawabnya lagi.


"Jadi kalian benar-benar sudah kenal lama ya? Aku jadi iri." Wajah wanita berkemeja kuning itu pura-pura cemberut. Namun seketika berubah ceria seolah adaa matahari tepat di wajahnya ketika tatapan ku bertemu dengan tatapannya.


Sekali lagi aku menghela napas ku.


Ah, kurasa aku benar-benar harus pergi dari sini.


Aku hendak pamit kepada 2 wanita itu. Tapi lengan ku ditarik. Aku spontan menoleh dan tatapan ku dengan wanita yang ingin kuhindari bersinggungan.


"Bukankah seharusnya kamu masuk, bukan pergi?"


Menatap wanita itu, aku jadi teringat dengan kejadian sebelum aku tiba di Gedung ini. Disaat aku berada di dalam perjalanan menuju Gedung pertemuan ini, ponsel ku berdering, aku langsung mengangkat telepon masuk yang rupanya dari Lyana.


"Halo,"


"Om, tolong Lyana. Lyana nggak sengaja tumpahin minuman ke orang lain. Bajunya jadi kotor karena Lyana. Lyana bingung Om." 


Mendengar suara panik Lyana, aku ikutan panik. Fokus ku menyetir langsung buyar. Buru-buru aku menepikan mobil dan kembali melanjutkan pembicaraan ku.


"Kamu masih di Kedai Kopi?"


"Masih Om."


"Om ke sana. Kamu jangan ke mana-mana sebelum Om datang."


Aku mematikan telepon dan langsung membuka pesan whatsapp Lyana. Beberapa pesan masuk Lyana yang belum kubaca ku hiraukan dan mencari alamat yang sudah Lyana kirimkan padaku tadi pagi.


Beruntung aku berada di jalur menuju Cihampelas. Aku langsung mengaktifkan GPS ku dan segera menuju lokasi Lyana.


Sambil di perjalanan, aku menghubungi Ken. Aku mengatakan padanya jika kemungkinan aku telat datang ke Kantornya.


Ketika mobil ku terparkir di Kedai Kopi, aku langsung melangkah cepat memasuki Kedai. Buru-buru aku mendekati Lyana yang tengah bersama seorang gadis seumurannya yang kuduga adalah teman Sekolah Lyana.


Lalu pandangan ku beralih menatap 2 wanita cukup dewasa di dekat Lyana. Seketika langkah ku terhenti. Aku terpaku menatap kehadiran 2 wanita itu yang juga tengah menatap ku.


Terutama seorang wanita berkemeja abu-abu yang ketumpahan Kopi Lyana.


Wanita berambut panjang itu tampak tidak pernah berubah di mata ku. Hanya dengan kemeja abu-abu dan celana palazzo hitam, rambut panjangnya hanya diikat seadanya dengan riasan make up natural.


Tak melunturkan aura cantik dan anggunnya walau kami sudah tidak bertemu hampir 5 tahun lamanya.


Wanita dihadapan ku adalah wanita yang dulu sangat aku puja. Sampai aku dikira orang gila oleh kakak ku sendiri sangking aku mengagumi wanita ini.


Mencintainya hampir selama 3 tahun membuat ku dinilai bodoh oleh orang-orang. Dan semakin lama omongan orang terhadap ku menjadi jelas disaat aku hanya bisa terdiam tak bisa berbuat apa-apa mengenai hubungan ku.


Suatu hari aku mengajaknya makan malam, dengan pakaian rapih, sekuntum Bunga dan juga sebuah kotak bludru merah yang berisi sebuah cincin.


Aku berniat ingin melamarnya malam itu.


Ketika aku menjalankan aksiku, aku duduk bersimpuh tepat di depannya dengan kedua tangan ku membuka kotak cincin. Dengan perasaan yang tulus dan senyuman hangat aku mengajaknya untuk hidup bersama ku. Membina sebuah hubungan yang lebih serius.


Akan tetapi ia berdiri tegak. Tanpa menatap ku, ia langsung menolak ku. Lalu ia pergi meninggalkan aku begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi padaku kemudian menghilang.


Kira-kira begitulah akhir kenangan ku bersama wanita di depan ku ini.


Zahra Andita, ialah namanya.


Mantan kekasih ku.


"Apa kamu akan lama di sini, maksudku--ini acara lauching unit terbaru mu. Kira-kira,"


Cengkraman Zahra di lengan ku cukup erat. Seakan ia tidak ingin aku pergi.


Tapi aku segera menepisnya. Selain menjadi bahan tontonan beberapa orang yang berlalu lalang di area Gedung, dari kejauhan aku bisa melihat Lyana yang juga tengah memperhatikan kami.


Sedari tadi gadis kecil itu hanya terdiam membisu. Sejak di Kedai Kopi beberapa waktu yang lalu, aku hanya melihat Lyana berubah murung.


Selama di mobil, hanya Zahra dan temannya mengajak ku ngobrol. Lyana tak sedikitpun bersuara.


Hingga tiba di Gedung pertemuan, Lyana tak mau bergerak sedikitpun untuk menemani ku di depan Gedung. Ia hanya duduk di dalam mobil sambil memperhatikan kami di sini.


"Mula-mula aku turut senang atas launching Cluster baru mu. Di Kantor ku proyek mu selalu hangat untuk dibicarakan. Kantor ku juga memprediksi jika unit baru mu akan memperoleh closing yang besar dalam tahun ini." Zahra membicarakan itu dengan tatapan menerawang ke langit. Senyumannya terpatri di wajah chubby-nya.


Temannya juga ikut nimbrung berbicara. "Benar."


Kami terdiam sejenak, hingga Zahra kembali berbicara.


"Jadi benar ya dia Lyana. Keponakan mu yang selalu kamu bicarakan itu."


Dulu, aku selalu menceritakan tentang ku padanya. Termasuk Lyana. Aku akan selalu menunjukan foto Lyana yang menggemaskan padanya jika aku sedang merindukan gadis kecil ku.


Baru ini untuk pertama kalinya Zahra melihat Lyana secara langsung.


Namun mereka memiliki kesan pertama yang kurang mengenakan.


"Oh iya. Katakan pada keponakan mu bahwa aku baik-baik saja. Aku sungguh nggak marah sama dia. Aku tahu dia nggak sengaja." Zahra mendongak menatap ku setelah ia mengikuti pandangan ku yang tengah melihat Lyana di dalam mobil.


Namun aku tidak merespon ucapan Zahra, melainkan aku pamit dan langsung pergi menuju mobil.


Aku juga menghiraukan panggilan teman Zahra itu yang terdengar menggelikan di telinga ku. Aku tidak mau pedulikan mereka.


Yang aku pedulikan sekarang adalah gadis kecil yang masih menatap ku kejauhan. Kulebarkan kaki ku supaya aku dapat segera menjangkau mobil. Tatapan ku tak beralih menatap manapun selain memandangi Lyana.


Tiba aku di mobil, aku langsung masuk ke dalam mobil. Mengenakan sabuk pengaman ku, menyalakan starter mobil lalu segera meninggalkan Gedung pertemuan.


Terpaksa aku mangkir dari acara penting hari ini. Aku menghubungi tim pelaksana agar mereka tak lupa mendokumentasikan acara tersebut.


"Om Nathan maafin Lyana ya," Akhirnya gadis kecil ku mengeluarkan suaranya.


"Maaf Lyana ngerepotin Om Nathan lagi. Padahal Om Nathan harus kerja. Jangan marah sama Lyana ya Om."


Marah? Tidak. Aku tidak punya alasan untuk marah sama gadis kecil yang begitu menggemaskan di mata ku.


Justru gadis kecil ini membuat ku khawatir dari tadi.


Aku nggak mau melihatnya murung. Jadi aku raih satu tangannya, aku genggam sebentar lalu kuusap tangannya di sebelah pipi ku. Terakhir ku kecup pelan dan menatapnya sebentar.


"Kamu sama sekali nggak ngerepotin aku. Justru aku khawatir sama kamu. Besok-besok suruh teman mu main ke Rumah aja. Nggak usah keluar lagi! Kalau kalian mau beli makanan atau minuman diluar, pesan online aja. Atau biar aku yang sediakan, asalkan kamu betah di Rumah."


Apa ucapanku terdengar seperti ingin mengurungnya?


Ah, aku tidak peduli.


Aku hanya ingin Lyana dalam keadaan baik-baik saja.


Lyana tampak mengangguk, menuruti ucapan ku. Aku langsung lega.


Berniat ingin menyenangkan hati Lyana dengan pergi ke suatu tempat. Mungkin siang-siang seperti sekarang ini sangat cocok makan Es Krim Gelato. Aku langsung mengajaknya ke tempat Es Gelato yang terkenal di Bandung.


Melihat Lyana tersenyum senang saat tahu aku akan membawanya membeli Es Krim, senyumku lenyap ketika aku mendapat sebuah pesan whatsapp dengan nomor yang belum kukenali.


From : +628.....


Hi Nathan. Ini aku, Zahra.


Mulai hari ini aku akan menjadi Lead Agent, mohon bimbingannya ya.


Sepertinya aku akan sering bertemu dengan wanita itu.


...-o- ...