
Aku terdiam sejenak menatap kamarku yang terlihat kapal pecah.
Tak kusangka, cukup lama aku menelantarkan kamarku beberapa hari ini, aku baru sadar jika barang-barang berserakan serta sprei kasur tidak sesuai pada tempatnya.
Ya aku sadar aku meninggalkan kamarku dalam keadaan berantakan. Tapi aku nggak nyangka saja bisa seberantakan ini. Bahkan lantai kamarku terasa lengket di telapak kakiku walau hanya beberapa kali melangkah.
Awalnya Bi Idah menawarkan diri untuk membersihkan kamarku. Beliau tahu kalau aku lagi jarang membersihkan kamar akhir-akhir ini. Tapi aku segan, nggak enak juga jika teritoriku dilihat orang lain. Apalagi perempuan paruh baya.
Tanpa berpikir panjang aku menolak tawaran Bi Idah. Akan tetapi melihat keadaan kamarku yang ternyata seperti ini, aku agak sedikit.. menyesal.
Dengan gontai aku mulai membungkuk dan tanganku bergerak memunguti lembar perlembar kertas yang bertebaran di area kasur, barang-barang perintilan seperti bulpoint kupungut, juga botol minum kosong kubuang ke tempat sampah. Sprei aku tarik dan kugulung, lalu mengganti sprei lama dengan sprei baru.
Setelah itu, aku mulai mengambil peralatan pembersih lainnya seperti sapu, penyemprot dan alat pel. Pelan-pelan aku memulainya dengan membersihkan debu di lemari dan seriap sudut yang terlihat. Lalu aku menyapu kamarku dan diakhiri dengan mengepel lantai.
Bersih dan wangi. Sesuai yang kumau. Aku buru-buru ke kamar mandi karena tubuhku butuh dibersihkan juga. Tapi setelah itu aku nggak langsung berbaring tempat tidur, tempat dimana aku sudah merindukannya sejak tadi siang. Tempat terbaik untuk tubuhku yang mulai terasa rontok ini. Tapi tidak bisa sekarang. Karena aku harus kembali pergi.
Kaos polo putih dengan celana panjang abu-abu sudah melekat di tubuh dan aku langsung keluar lagi menuju mobil.
Kembali aku menempuh perjalanan selama dua puluh kilometer menuju Rumah Sakit. Dimana Zahra sudah menungguku di sana dan aku akan mengantarnya ke Apartemen.
Sebelumnya pulang aku ke Rumah Sakit, saat itu Dokter Yogi mengunjungi ruangan Zahra untuk pengecekan rutin. Dokter Yogi mengatakan jika Zahra sudah dinyatakan pulih dan besok Zahra sudah bisa pulang. Tapi mendengar itu Zahra langsung memohon ke Dokter Yogi untuk pulang malam ini namun Dokter Yogi bergeming.
Tidak melihat ada secerca harapan dari Dokter Yogi, Zahra memintaku untuk membawanya pulang. Kalau tidak, dia mengancam untuk tidak makan dan minum obat sampai Dokter mengijinkannya.
Terpaksa aku dan Dokter mengiyakannya.
"Gue lagi di perjalanan." Ucapku sambil menjepit ponselku menggunakan sebelah bahuku. Ken meneleponku saat aku berada di lampu merah.
"Lo antar Zahra pulang malam ini?"
Sudah kupastikan Ken mengetahuinya dari Dokter Yogi. Aku memang belum sempat mengabari Ken kalau Zahra sudah bisa pulang malam ini.
"Dia merengek minta pulang. Kalau nggak, dia nggak mau makan." Keluhku mengingat Zahra mengancam seperti itu.
Terdengar Ken tertawa singkat di sana.
"Iya Nat. Lebih baik dia di Apartemen saja."
Aku mengangguk walau Ken tidak dapat melihatnya.
"Ya sudah hati-hati di jalan."
Kalimat terakhir Ken memaksaku untuk berpikir.
"Lo nggak mau temani gue antar Zahra ke Apartemennya?" Tanyaku dengan dahi berkerut.
"Untuk apa gue mengantarnya kalau dia minta lo yang antar dia?" Ken tanya balik membuatku bergeming sesaat.
"Ya temani gue lah. Masa gue sendirian antar Zahra ke Apartemennya?"
Ken terdiam sesaat di sana. Kupikir dia akan menemaniku, tapi..
"Hati-hati di jalan, Nat."
Sial! Baru aku ingin memakinya telepon terputus begitu saja. Suara klakson dari belakang mengurungkan aku untuk menguap emosi. Ternyata lampu merah sudah berganti dan langsung kukemudi mobilku dengan cepat hingga akhirnya tibalah mobilku di area parkir Rumah Sakit.
Saat aku memasuki ruang rawat Zahra, Zahra sudah berdiri menunggu di dekat jendela. Dia tampak sudah siap dengan tas jinjingnya.
"Kamu kenapa? Datang-datang cemberut." Zahra memperhatikan wajahku dengan seksama. Apakah kekesalanku begitu terlihat jelas?
"Tidak kenapa-napa. Ayo pulang." Kilahku sambil menarik tas jinjingnya. Tak butuh waktu berapa lama kami langsung menuju mobil setelah berpamitan dengan para perawat.
Menempuh selama setengah jam di perjalanan dari Rumah Sakit, akhirnya kami tiba di Apartemen Zahra. Beberapa orang yang mengenal Zahra menyapanya dengan hangat. Ada juga yang mendekati Zahra dan menanyakan kondisinya dengan raut khawatir.
Ada juga diantara mereka menyapaku setelah mereka mendapatiku bersama Zahra. Saat aku berpacaran dengan Zahra dulu, aku cukup mengenal mereka walau terkadang aku lupa nama-namanya.
Bisa kubilang Zahra beruntung mendapat tetangga yang baik dan perhatian padanya. Jika aku datang ke Apartemen Zahra, mereka akan lebih dulu menyapaku.
Di saat itu setelah aku putus, aku tidak ada lagi mampir ke sini. Walau begitu, mereka yang masih mengenaliku tak sungkan menyapaku dengan hangat. Aku agak takjub, padahal sudah lebih dari dua tahun aku nggak ke sini lagi tapi mereka masih mengingatku.
"Sebenarnya mereka masih suka menanyakanmu kenapa kamu nggak main ke sini lagi." Zahra menjawab pertanyaan yang sedari tadi terus berputar di kepalaku. Dia seperti seorang cenayang yang tahu isi pikiranku.
"Lalu kamu menjawab apa jika mereka menanyakanku?"
Zahra memutar kenop pintu Apartemen. "Aku mengatakan pada mereka jika kita sudah berakhir. Jujur, mereka menyayangkan hal itu. Katanya kamu baik. Mereka bilang kita cocok, bahkan mereka berharap dan mendoakan kita kembali bersama." Zahra mempersilahkan aku masuk.
Aku melangkah ragu. Bukan segan ingin masuk. Tapi mencerna kalimat terakhir Zahra.
Zahra tertawa kecil atas ucapanku barusan yang terdengar lucu olehnya. Tapi aku bersungguh-sungguh mengatakannya.
Kembali bersama? Itu tidak akan mungkin terjadi.
"Apa kamu dendam padaku setelah aku meninggalkanmu waktu itu? Kalau gitu, aku cuma bisa mengatakan permohonan maafku."
Ucapan Zahra tak aku indahkan karena sibuk mengitari isi area Apartemen bertipe studio ini. Ternyata ruangan ini belum berubah. Sejak dulu Zahra memang pintar menata barang-barangnya. Siapapun yang bertandang ke tempatnya, mereka akan disuguhkan dengan perintilan pernak-pernik barang unik memenuhi Apartemennya.
Walau demikian, mereka nggak akan kesulitan melangkah masuk sambil memandang lama seisi Apartemen yang didominasi kuning dan putih.
"Maaf aku belum sempat mengganti wallpapernya." Zahra sadar dengan tatapanku yang mengarah ke wallpaper putih yang terlihat agak pudar. Dulu wallpaper tersebut dipasang oleh aku dan Zahra. Saat itu Zahra sibuk mencari tukang yang dapat mengganti wallpaper karena sebelumnya sudah kotor. Lalu aku menawarkan diri untuk membantunya dan akhirnya kami memutuskan untuk memasangnya bersama.
"Kenapa harus meminta maaf? Kamu telah mengganti wallpaper ataupun tidak, itu bukan urusanku lagi." Aku mengendikan bahu tidak peduli. Memang apa urusanku lagi dengan wallpaper itu? Mau Zahra tidak memakainya lagi, apa peduliku?
Tatapanku kini beralih ke tiga bantal sofa dengan corak unik. Yang satu bertulis "mine" background white, yang dua lagi bercorak tribal biru kuning.
Bantal-bantal itu adalah pemberianku di saat Zahra berulang tahun. Saat itu aku bingung hadiah apa yang ingin kuberikan, karena dulu aku selalu memberikan hampir semua barang yang Zahra butuhkan.
Lalu aku teringat dengan sofa yang belum lama Zahra beli. Namun nggak termasuk bantal. Jadi kupikir, custom bantal adalah hadiah yang unik menurutku.
Ternyata ekspektasiku sesuai realita. Zahra menyukai hadiahku dan langsung meletakan bantal-bantal itu ke sofanya. Menjadikan bantal-bantal itu menjadi barang kesayangannya sampai-sampai dia rela mencucinya empat kali dalam seminggu agar tidak kotor dan berjamur. Selalu dia pastikan jika aku datang, bantal-bantal itu harus lembut dan wangi.
"Ini juga belum sempat aku cuci. Aku akan mencucinya setelah ini. Maaf ya." Zahra merapihkan posisi bantal-bantal itu yang awalnya dalam posisi tertidur menjadi berdiri di sandaran sofa.
Seketika lamunanku langsung buyar.
"Kenapa minta maaf terus sih?" Protesku. Lama-lama mendengarnya meminta maaf terus membuat kepalaku pening.
"Kamu kan tamuku. Kayaknya nggak enak aja pas tamu datang Apartemenku lagi nggak bersih." Jelasnya.
"Nggak perlu sungkan. Aku hanya membantumu membawakan barang-barangmu saja," aku meletakan tas jinjing ke atas sofa. "Kalau gitu, aku pulang dulu."
Aku hendak ingin melenggang pergi, tapi tanganku ditarik Zahra. Seakan dia tidak ingin aku pergi.
Kami terdiam canggung beberapa saat. "Ada apa?" Tanyaku untuk memecahkan kecanggungan ini.
"Aku lapar." Lirihnya.
"Terus?" Alisku bertaut.
"Apa kamu tidak lapar? Bagaimana jika aku membuatkan sesuatu untukmu? Pasti kamu lapar juga kan?"
"Tidak usah," tolakku sehalus mungkin. "Kamu istirahat saja. Kalau lapar, aku akan pesankan makanan cepat saji buatmu. Aku pulang dulu."
Tapi lagi-lagi Zahra menahanku. Hingga ia menggunakan badannya untuk menghalangiku mendekati pintu.
"Setidaknya makanlah dulu. Aku yakin kamu tidak akan sempat makan karena kamu akan memilih tidur. Aku akan membuatkan roti panggang."
Aku hanya bisa terdiam memandangi punggungnya berlalu menuju mini kitchen. Tangannya luwes meletakan teflon ke kompor. Dengan cepat ia mengambil beberapa butir telur dan memecahkannya ke wadah. Diaduk bersamaaan dengan bumbu penyedap sambil menunggu teflon panas yang sudah dilumuri butter.
Sikapnya padaku barusan mengingatkanku kembali ke masa lalu. Lagi-lagi Zahra selalu tahu apa yang aku pikirkan, seperti "apa yang akan Nathan lakukan setelah ini?" Atau "apa yang ada dipikiran Nathan saat ini?"
Dan sialnya Zahra benar. Diawal aku akan melupakan rasa laparku dengan merebahkan badanku ke tempat tidur secepat mungkin. Karena aku cuma butuh tidur. Nggak butuh yang lain.
Sementara waktu.
Tapi apa boleh buat, aku mulai mendudukan diriku di sofa sambil menunggu Zahra siap menyajikan roti panggang yang harum itu. Aromanya berhasil menggelitik perutku.
"Aku buatkan kamu dua potong. Habiskan ya! Tak lupa aku memberinya slice keju dan tomat. Kamu sangat suka itu."
Aku tak mengindahkan Zahra lagi dan memilih untuk melahap makananku secepat kilat.
"Aku sudah menghabiskan makananku, jadi aku pulang dulu."
Aku berdiri dan tidak lupa mengucapkan terima kasihku pada Zahra dan mulai melangkah menuju pintu. Setelah melirik jam tangan di pergelanganku dan aku teringat sesuatu hal yang penting, langkahku terhenti.
"Ada apa Nat?" Zahra sudah menyusulku yang masih di ambang pintu. Aku yakin Zahra dapat melihat wajahku yang mendadak kaku.
Buru-buru aku mengecek ponselku. Tatapanku melebar kuat seakan baru saja melihat penampakan yang menakutkan.
Ada puluhan pesan masuk dan belasan telepon tidak terjawab dari Lyana. Dan aku baru sadar, jika ponselku berubah menjadi mode diam.
Sial! Aku lupa menghubunginya lagi.