
Nathan
Mobil baru saja kuparkir di carport sebelah Rumahku. Aku baru keluar dari mobil setelah Lyana keluar dan mematung di depan halaman Rumah.
Wajah polos itu terlihat seksama memandangi setiap sudut Rumahku berlantai dua meski lampu redup. Tampak menilai dari atas sampai bawah. Bisa kulihat dengan jelas bagaimana Lyana memandangi Rumahku dengan kepalanya berayun ke kanan dan ke kiri.
Lalu ia berjalan menuju jendela, satu tangannya ia tarik bersamaan dengan wajahnya yang mendekat ke kaca jendela. Melalui sisi yang terlihat ia mengintip keadaan Rumahku dari luar yang juga terlihat gelap dari dalam sana, seperti mengharapkan akan menemukan sesuatu.
"Rumah Om sepi banget,"
Tentu Rumahku sepi. Karena hanya aku yang tinggal disini.
"Ayo masuk," Aku menarik koper Lyana dari mobil sembari kakiku menaiki dua anak tangga. Lalu segera menempelkan ibu jariku ke smart key door handle sehingga pintu Rumah terbuka dan aku melangkah masuk. Aku melirik Lyana yang terkesiap mendapati lampu Rumah yang tiba-tiba menyala sendiri tanpa aku menekan saklar.
Sebagai seorang pengembang tanah dan bangunan yang baru berkembang, aku menerapkan sistem smart home ramah lingkungan. Salah satunya memasang lampu otomatis untuk Rumah pribadiku. Dengan sinar deteksi transparan yang mengelilingi setiap sudut Rumah lampu akan hidup jika sinar menangkap kehadiran seseorang atau saat malam hari menjelang pukul enam sore. Dan jika Rumah tak ada orang dan hari sudah menjelang pukul enam pagi, otomatis juga lampu akan redup dengan sendirinya.
"Ternyata Rumah Om bagus banget,"
Lyana memilih sebuah sofa kecil untuk ia duduki sementara matanya tak lepas menatap setiap sudut Rumahku yang berdominasi hitam, krim dan putih.
Lyana tampak kagum melihat seisi Rumah sehingga ia harus melongo menatap langit-langit.
Mungkin karena baru pertama kali Lyana bertandang ke Rumahku. Biasanya aku yang lebih suka mampir ke Rumah El dan Milly karena Ayah dan Mama Risma sering kesana mengunjungi cucu-cucunya.
"Kamar tidur kamu disana ya." Aku menunjuk sebuah pintu kamar di lantai satu setelah aku memasukan kopernya disana. Kamar yang kubuat khusus untuk Ayah dan Mama Risma jika singgah ke Rumahku. Namun karena ada Lyana disini jadi kamar itu akan ditempati Lyana.
Lyana mengangguk pelan padaku dan kembali memperhatikan seisi Rumah dengan binaran kagum. Di sisi ruang tamu aku membuat spot dinding khusus dengan belasan figuran foto, souvenir pigura, lukisan klasik dan pernak-pernik lainnya yang terpajang disana.
Sembari Lyana memperhatikan kumpulan figura itu aku beralih ke dapur untuk menyiapkan minuman dan beberapa bungkus snack untuknya. Tak lama aku memapahnya dengan nampan dan kuletakan di atas meja depan TV.
"Ini foto Mamah Papah dan Lyana pas lahir kan ya Om?"
Lyana menunjuk sebuah figura kayu. Momen yang kubidik ketika Milly melahirkan Lyana di Rumah Sakit. Foto itu menggambarkan saat Milly tersenyum bahagia sembari ia menggendong baby Lyana di tempat tidur, disampingnya ada El yang juga tersenyum senang disana.
Aku langsung mendekati gadis kecil itu dan mengangguk setuju.
"Iya,"
Lyana menatap foto itu dengan tatapan dalam. Sudut bibirnya mengembang dan tak lama ia kembali memandangi deretan figura yang menurutnya sangat menarik perhatian.
Kini tatapan Lyana mulai memperhatikan beberapa figura yang kubuat khusus ketika aku sehabis melakukan perjalanan ke luar negeri. Aku suka mengumpulkan robekan tiket pesawat, koin mata uang dan foto diriku yang berada di negara tersebut lalu kukumpulkan jadi satu ke dalam figura itu. Sisi figura tersebut juga aku ukir nama negaranya.
Aku sengaja membuatnya sebagai bentuk apresiasi sekaligus bentuk kenangan pribadi karena kupikir aku belum tentu bisa bertandang ke sana lagi. Semakin kesini waktuku semakin tersita dengan beberapa hal keinginan dan pekerjaan yang ingin segera kurealisasikan.
Aku kembali memperhatikan Lyana yang masih memandangi figura lainnya. Lalu tatapannya terpaku memandangi dua orang pria sedang tertawa bahagia di acara kelulusan sarjana.
"Ini Om Nathan kan ya sama Papah?"
Aku kembali mengangguk dan ikut memandangi figura yang Lyana lihat sekarang. Foto itu diambil ketika aku lulus kuliah di Aussie. Saat itu El menyempatkan diri untuk datang ke Aussie menghadiri acara kelulusanku. Aku sangat senang ketika El datang dan Ayahlah yang membidik gambar itu disaat aku sedang mengobrol dan tertawa bersama El.
Hanya dua hari di Aussie El langsung kembali ke Indonesia karena El nggak bisa meninggalkan Milly yang sibuk mengurus baby Lyana dan juga sedang hamil muda Mikael.
"Ini dimana Om?" Lyana meraih figura itu dari dinding dan menunjukannya padaku.
"Itu di Aussie. Pas Om lulus kuliah dulu." sahutku.
"Ternyata Om Nathan benar-benar hebat ya. Lulus kuliah di luar negeri dan bisa liburan ke beberapa negara juga. Lyana kagum sama Om."
Sebenarnya pujian Lyana terdengar biasa untukku. Nggak hanya Lyana, beberapa orang lainnya yang melihat atau mendengar penggalan ceritaku juga mengatakan hal yang sama. Mereka kagum dengan apa yang telah kujalani.
Tapi entah kenapa mendengar Lyana yang memuji hatiku tersirat hangat. Sontak aku tersipu.
"Bukannya kamu juga suka ke Inggris ke tempat Kakek?"
Lyana mengangguk sembari ia mengingat-ingat sesuatu hal, "Iya. Tapi aku lebih suka berdiam di Rumah Kakek. Kadang kalau ditanya teman, Lyana bingung tempat apa saja yang menarik di Inggris. Paling kalau diajak keluar aku hanya tau ke Menara Big Ben sama Kebun Binatang saja."
Entah ini hanya perasaanku saja atau memang Lyana tiba-tiba melamun. Sepertinya Lyana tidak bersemangat menceritakan pengalamannya selama di Inggris.
"Kalau ini siapa Om?"
Pikiranku teralihkan saat Lyana kembali meraih sebuah figura seorang wanita cantik. Wanita yang selalu kujadikan pacuan semangat di setiap harinya.
"Itu Mama Om."
Ya, foto yang sedang dilihat Lyana adalah Ibu Kandungku. Ibuku meninggal dunia ketika aku masih duduk di sekolah dasar. Kemudian Ayah menikah lagi dengan Ibu Kandung El yang kini menjadi Mamaku.
"Maksudnya ini Nenek?" Kedua matanya membola menatapku. Entah kenapa aku mendengus geli. Apa karena Lyana menunjukan wajah bingung namun terlihat menggemaskan?
Aku hanya mengangguk tanpa memberikan penjelasan yang sebenarnya. Aku membiarkan Lyana menganggapnya demikian.
Sepertinya Lyana mulai lelah memandangi deretan foto-foto itu. Karena saat ini pandangannya mulai beralih menatap snack yang sudah kuletakan di atas meja dekat TV.
Sontak aku berbalik memperhatikan Lyana yang berjalan mendekati meja dan duduk di sofa sana sembari ia meraih snack tersebut. Melihat Lyana begitu lahap memakannya, aku buru-buru menuju ke dapur dan menyiapkan makanan berat yang cepat disaji. Lyana terlihat lapar dan seharusnya aku tidak memberikannya snack. Pasti gadis kecil itu kelaparan karena lelah di perjalanan tadi.
"Lyn, aku buatkan sosis dan kentang ya."
Aku langsung memasukan beberapa potong sosis dan kentang ke dalam Pemanggang.
Lyana tak menanggapi sahutanku. Lebih memilih melahap snack yang sepertinya sudah habis oleh Lyana sendiri.
Ketika sosis dan kentang matang, aku langsung menyiapkan dan membawakannya untuk Lyana. Lyana langsung menyambut makanan itu dengan tangan terbuka dan kembali ia melahap makanan itu dengan cepat.
"Pelan-pelan makannya, nanti tersedak."
Baru saja aku memperingatkannya, Lyana sudah terbatuk-batuk dan aku segera meraih gelas yang sudah terisi air dan kuberikan kepada Lyana. Lyana meletakan piring ke meja terlebih dahulu dan ia langsung meraih dan meneguk airnya.
"Pelan-pelan." satu tanganku beralih menepuk punggung Lyana perlahan sementara satu tanganku lainnya meraih lembaran tisu di atas meja dan langsung menyeka bibir Lyana setelah Lyana menjauhkan gelas itu darinya.
Seperti ada magnet yang menarikku saat Lyana mendongak menatapku. Saat aku balas tatapannya Lyana menyunggingkan senyuman yang makin membuatku terpaku memandangi wajah polosnya.
Kami saling menatap satu sama lain dengan dalam dan lekat. Tanpa kusadari tisu untuk menyeka bibirnya yang basah tiba-tiba menghilang digenggamanku dan digantikan dengan jemariku yang perlahan menyentuh bibirnya.
Keheningan menyelimuti kami yang sedang beradu pandang. Mataku yang menatap mata gelap Lyana turun ke hidung mungil dan berakhir memandangi bibir yang terasa lembut di jemariku.
Alarm di dalam diriku memperingatkanku, memintaku untuk menjauh dari Lyana segera. Memintaku untuk segera melepaskan jemariku dari bibir lembut yang terasa hangat.
"Om Nathan,"
Aku menaikan pandanganku tepat menatap kedua matanya lagi ketika Lyana memanggilku. Lirihnya terdengar ada sirat yang dalam, menimbulkan desiran aneh yang menggelayar di seluruh tubuhku hingga ke pori-pori kulit. Seringai bulu mendadak kaku, bahkan aku merasakan ada sesuatu yang melatup-latup di dalam perutku.
"Om Nathan,"
Sial. Suara serak manja Lyana kini membuat kepalaku mendadak nyeri sekarang. Aku jadi kelimpungan sendiri bagaimana caraku menyahut panggilannya.
Pandanganku kembali menatap bibir plum itu. Muncul rasa penasaran yang mulai menyeruak.
Bagaimana jika bibirku bersentuhan dengan bibirnya?
Oh Tuhan, kenapa aku bisa memikirkan seperti ini kepada keponakanku sendiri?
"Om Nathan, Lyana udah ngantuk. Lyana boleh tidur duluan?"
Gadis itu mengerjap pelan. Begitupun aku setelah kesadaranku kembali normal.
Lyana berdiri dan aku sontak memundurkan badanku bersender sofa agar Lyana bisa leluasa berjalan menuju kamarnya.
"Selamat malam Om. Mimpi indah," Lyana menghilang dari pandanganku setelah ia menutup pintu.
Sepertinya aku juga harus tidur. Sebelum itu aku akan pergi mandi agar menyurutkan pikiran anehku mengenai bibir kenyal Lyana.
Otakku mulai nggak beres.
...-o- ...