
Ribuan bintang di langit tak henti menerangi langit dengan kilauannya yang indah. Serta sinar rembulan yang menemani para bintang sebagai pemanis.
Malu-malu angin datang dan berhembus. Begitu pelan, namun mampu menggelitik penghuni bumi.
Tapi hal itu tak mampu menggelitik Lyana.
Kehadirannya mengganggu helaian rambut panjang Lyana sehingga bergerak dayu perlahan, membuat wajah cantik itu tertutup sebagian.
Walau demikian, Lyana tampak tak terganggu.
Sebab kini Lyana sedang berada di fase canggung. Getaran halus karena rasa gugupnya mengelilingi sekujur tubuhnya.
Peluh keringat pun juga mulai bercucuran di antara dahi lalu jatuh ke pangkal leher. Dinginnya angin yang menerpa tak mampu memangkas rasa gugup yang dialami Lyana saat ini.
Melainkan, rasa gugup itu tandas setelah keinginan hati yang kini kian menggebu.
Kedua tangannya terkepal, mengingat akan dimana ia akan bertindak diluar nalarnya. Tindakannya nanti pula akan mengubah hidupnya dalam sekejap.
Ininsemuankarena keinginan hatinya, Lyana bertekad untuk mengungkapkan sesuatu hal yang tak pernah ingin ia lakukan.
Sadar akan konsekuensi yang ia terima. Ketakutannya akan hal itu langsung sirna setelah sekelebat kekuatan yang tak tahu dari mana asalnya datang menghinggapi niat Lyana.
Apapun yang akan terjadi setelah ini, Lyana siap menerima pikulan dengan lapang dada.
"Lyana cinta sama Om Nathan."
Satu kalimat tersebut membuat gadis berambut sebahu itu mendesah lega.
Namun di detik kemudian, Lyana merasa ragu akan keputusannya ini.
Seorang pria yang masih mengenakan pakaian kantor dengan kemeja berlengan dan celana bahan panjang berwarna hitam itu termangu menatap Lyana. Membeku di tempat.
Begitu tercengang menatap Lyana dengan mata bergetar.
Lyana sontak menundukan kepala.
Tak mampu memandangi pria itu sambil meratapi apa yang baru saja ia lakukan.
Kemudian bayangan masa lalu Lyana kembali hadir mengisi kepalanya.
Kurang lebih 5 tahun yang lalu. Lyana tak ingat persis tepatnya.
Tapi Lyana tak bisa melupakan kejadian yang dimana perasaan yang seharusnya tak hadir itu perlahan tumbuh di hatinya.
Persis seperti saat ini, ketika langit gelap malam menyelimuti bumi.
Saat itu, Lyana menampaki Nathan yang tertidur di ruang tengah rumahnya. Pria itu terlihat berantakan dengan kemeja kusut dan sepatu masih melekat di kedua kakinya.
Niatnya Lyana ingin membangunkan Nathan untuk pindah ke kamar.
Nathan memang langsung terbangun ketika Lyana menggoyangkan tubuhnya.
Saat Nathan mulai mendudukan badannya dan menatap Lyana beberapa saat, pria itu langsung menarik Lyana dan mencium bibir gadis itu.
Saat itu Lyana hanya bisa tercengang, tak mampu mendorong badan tegap Nathan karena pria itu semakin mendekatkan tubuh Lyana ke dekapannya.
Hangatnya bibir Nathan yang bergerak untuk bermain di bibir Lyana terasa aneh bagi Lyana, tapi tak lama keanehan yang dirasakan Lyana berubah menjadi kenikmatan.
Gerakan lembut yang perlahan lambat mulai terasa menggebu sungguh terasa candu. Degup jantungnya berdetak sangat kencang hingga membuatnya pusing. Untuk beberapa saat efeknya seolah membelenggu akal sehat Lyana cukup lama.
Setelah ciuman mereka terhenti dan Nathan tertidur lagi, Lyana langsung pergi meninggalkan Nathan.
Setelah kejadian itu Lyana menghindari Nathan. Bahkan sampai pria itu pamit pergi, Lyana tak mau menemuinya.
Kemudian Lyana mengatur pola pikirnya, menganggap bahwa kejadian itu hanyalah ketidak sengajaan.
Esok harinya Mikael bercerita pada Lyana kalau semalam Nathan sedang berada dalam masalah, lalu kabur ke rumah dalam keadaan tak sadarkan diri. Mikael tidak paham kenapa Nathan datang dalam keadaan seperti itu. Yang Mikael ingat malam itu, Mikael menyambut Nathan yang bertingkah seperti orang gila lalu mengamuk hingga El dan Milly datang untuk menenangkannya.
Begitupun Lyana, setelah mendengar penjelasan adiknya Lyana hanya menghela napas karena merasa iba.
Lyana membenarkan anggapannya, mungkin Nathan benar tidak sengaja melakukan itu. Setelah beberapa hari sejak insiden tersebut, bahkan ia tidak mendengar Nathan ada singgung kejadian itu.
Jadi, Lyana memutuskan untuk melupakannya.
Sampai Lyana tumbuh menjadi remaja yang mulai disenangi kaum laki-laki seusianya. Lyana ingin mencoba untuk membuka hati dan ingin mengenal apa itu cinta monyet yang banyak ia dengar dari teman-temannya.
Ketika Lyana menemukan laki-laki yang membuatnya nyaman, bayangan Nathan yang mencium bibir Lyana langsung terlintas di pikiran Lyana.
Tak hanya sekali atau dua kali, setiap kali Lyana sedang dekat dengan teman laki-laki, bayangan Nathan akan muncul sampai Lyana mengurungkan niatnya untuk menjalin hubungan.
Seperti kutukan yang menghantui Lyana setiap saat.
Lyana merasa ada kesalahan di dalam dirinya.
Hingga Lyana tersadar akan perasaannya setelah ia mendengarkan cerita singkat dari teman-temannya.
"Terkadang cinta itu bisa datang secara tidak sengaja. Tidak sengaja kalian bertemu, tak sengaja kalian terjebak ke suatu masalah, atau kondisi apapun yang tanpa kalian sadari perasaan itu tak sengaja tumbuh."
"Ketidak sengajaan bisa berubah menjadi sesuatu hal yang berbuah manis."
Namun Lyana mencoba untuk tak menghiraukan kalimat itu.
Lalu kembali melupakannya.
Suatu ketika Elkana, ayah Lyana, berniat bertandang ke Inggris bersama Milly dan Mikael, El menghampiri Lyana dan mengatakan padanya jika El akan mengantarkan Lyana ke rumah Nathan selama mereka pergi.
Seperti biasanya, gadis itu akan menuruti apa yang El katakan.
Lalu ketika Lyana sedang menunggu sosok Nathan untuk menjemputnya di Bandara, tak lama ia menangkap sosok pria yang buru-buru menuju pintu masuk.
Bukannya ia melambaikan tangan agar Nathan bisa melihat kehadirannya, justru Lyana terpaku memandangi pria yang pernah mengambil ciuman pertamanya itu.
Walau mereka baru bertemu lagi sejak terakhir Lyana menatapnya, degup jantung Lyana yang pernah Lyana rasakan kembali hadir dan kian tak terkendali hanya dengan menatap wajah tampan Nathan.
Sontak gadis kecil itu melarikan diri lalu bersembunyi ke suatu tempat. Sembari itu Lyana mengatur degup jantungnya yang kian tak menentu, Lyana mengintip melihat Nathan kelimpungan mencarinya hingga Lyana mulai merasa iba menatap pria itu terduduk di kursi tunggu.
Meski degupnya belum kunjung reda, namun Lyana tak bisa berlama-lama bersembunyi. Orang-orang akan mempertanyakan sikapnya yang terlihat mencurigakan.
Beberapa kali Lyana menghela napas, mengatur detak jantungnya yang masih menggebu, kemudian ia mengatur penampilannya lalu melangkah menghampiri Nathan.
"Hai, Om Nathan!"
Lyana pikir hanya saat itu ia akan merasa kelimpungan jika berhadapan dengan Nathan.
Berharap penuh jika hatinya mulai sadar secara perlahan kalau ia tak bisa larut terlalu lama akan perasaannya terhadap Nathan.
Namun lagi dan lagi Lyana salah, semakin lama mereka tinggal bersama, semakin sering Nathan memperhatikannya dan memperlakukannya dengan lembut, semakin lama ia berada di sisi pria itu, perasaannya tak mampu ia bendung lagi.
"Lyana.."
Nathan ingin melanjutkan, namun bibirnya belum mampu mengucapkan sepatah katapun.
Antara senang dan bingung, perasaannya bercampur jadi satu.
Saat ini Nathan tidak tahu musti bersikap apa.
Berbeda dengan Lyana. Gadis berhoodie putih itu mengumpulkan keberaniannya lagi untuk mengungkapkan segala isi hati yang belum selesai diutarakan.
Lyana tak bisa menyembunyikannya lagi.
Sejenak ia berpikir apakah ia telah melakukan kesalahan besar pada pria bertubuh tinggi tegap itu.
Jika benar, sekalian saja Lyana mengungkap isi hatinya.
Lyana siap menanggung resiko.
Walau ia harus kembali tak diacuhkan Nathan.
"Maaf kalau Lyana lancang. Lyana hanya ingin mengutarakan perasaan Lyana sama Om,"
Dan siap menatap kekecewaan Nathan padanya.
"Sebentar lagi Lyana akan pulang ke Bekasi. Kembali ke rumah Lyana, kembali pulang bersama Papah dan Mamah,"
"Dengan sisa waktu yang Lyana punya saat ini, Lyana bertekad untuk mengungkapkan perasaan ini. Karena Lyana nggak tahu apakah Lyana akan bisa bertemu Om Nathan lagi dalam waktu dekat, atau mungkin tak bisa lagi bertemu dengan Om Nathan."
Mereka terdiam sejenak, menikmati perasaan yang tak menentu masing-masing.
"Sekali lagi maafin Lyana Om. Maaf sudah membuat Om kecewa dengan kelancangan Lyana," Lyana kembali berucap panjang lebar.
"Mungkin setelah ini kita akan semakin canggung. Ditambah Om Nathan seperti sedang menghindar dari Lyana."
"Lyana nggak tahu apa alasan Om menghindari Lyana. Apa Lyana nggak sengaja melakukan kesalahan? Kalau iya, Lyana minta maaf ya Om. Lyana janji tidak akan mengulangi kesalahan lagi,"
"Lyana harap Om mau memaafkan Lyana. Juga memaafkan kelancangan Lyana yang tak patut memiliki perasaan lebih sama Om,"
"Lyana sadar Lyana salah. Om pantas merasa kecewa. Om berhak menghindari Lyana,"
"Namun setidaknya, Lyana lega menyampaikan perasaan ini. Tapi Om nggak perlu khawatir, Lyana tetap akan bersikap hormat dan sopan santun pada Om seperti biasanya."
"Lyana akan berusaha keras untuk mengubur perasaan Lyana,"
"Lyana janji Om. Lyana nggak mau mengecewakan Om lagi."
Akhirnya Lyana mengungkap semua isi hatinya.
Lyana berhasil.
Walau begitu Lyana makin tak sanggup menatap Nathan, ia menundukan kepalanya lagi.
Keberaniannya sudah sirna seketika.
Ketakutan mulai menghantui Lyana. Membayangkan hubungannya dengan Nathan tidak akan sama lagi seperti dulu.
Nathan tidak akan mau lagi menatapnya dengan kasih sayang.
Nathan tidak akan mau lagi memeluknya dengan lembut.
Nathan tidak akan mau lagi berbicara dengannya secara halus.
Nathan tidak akan mau lagi menemui Lyana dan berakhir meninggalkannya dengan perasaan terluka.
Membayangkan itu, Lyana tak kuasa merintikan air mata.
"Lyana.."
Kini Nathan kembali mengucapkan sesuatu. Tapi rasanya Lyana tidak ingin mendengarnya.
Ia tidak sanggup.
Mampu menanggung segala resiko?
Omong kosong.
Lyana belum siap menerima semua itu.
Benaknya merutuki diri, kenapa bisa ia harus mengalami kisah cinta yang sangat rumit dan dramatis seperti ini?
Kenapa kisahnya tidak seperti Sammy dan Fanya?
Atau seperti teman-teman sebayanya yang memiliki kisah percintaan yang terlihat lucu?
Kenapa ia harus mendapatkan kisah cinta yang terlihat sangat sulit diterima oleh akal sehat?
Kenyataan ini terlalu pahit, Lyana kian terisak. Hingga tubuhnya merasa limbung, sebelum Nathan berhasil memeluknya dengan erat.
"Maafin Lyana Om.." kesedihan Lyana dapat dirasakan Nathan.
Sakit dan putus asa.
Nathan mengeratkan pelukannya agar gadis itu merasa tenang. Disaat isakan Lyana perlahan mereda, Nathan kembali melanjutkan pembicaraan yang sempat ia tunda.
"Lyana, dengarkan aku.."
Bisikan Nathan membuat nyali Lyana ciut.
Bahkan Lyana tak sanggup mendengar suara Nathan lagi.
Rasanya ia ingin mengubur dirinya agar Nathan tak bisa lagi melihatnya.
"Lyana, kamu tidak pernah melakukan kesalahan apapun padaku. Aku juga tidak marah sama kamu. Kamu nggak perlu minta maaf,"
Sejenak Nathan menghela napas.
"Akulah yang harus meminta maaf karena aku sempat menghindarimu. Tapi asal kamu tahu, aku terpaksa melakukan itu untuk meyakinkan diriku Lyana."
Perlahan Nathan menguraikan pelukannya, kedua tangan Nathan bergerak untuk membekap wajah Lyana yang basah lalu seksama menatapnya penuh arti.
Awalnya Lyana tidak mau membalas tatapan Nathan. Namun usapan jemarin Nathan di kedua pipinya membuat Lyana turut memandanginya.
Ia melihat mata pria itu bergetar memandanginya.
"Terakhir, jangan lagi kamu menyalahkan dirimu karena perasaanmu padaku."
"Tidak Om, Lyana.." sanggah Lyana, namun Nathan memotongnya.
"Perasaan yang sepatutnya tidak hadir itu, aku juga merasakannya Lyana."
Lyana kembali terpaku.
Apa aku salah dengar?
"Aku tidak butuh alasan lagi kenapa perasaan kita bisa tumbuh. Yang aku tahu, kita sama-sama memiliki perasaan yang sama.."
Nathan kembali menghembuskan napas.
"Jadi, apa kamu mau tetap tinggal di sisiku dan menjalani hubungan denganku?"
Lyana hendak ingin menyanggah kalimat Nathan, namun Nathan lebih dulu menggerakan lehernya untuk membungkam bibir Lyana dengan bibirnya.
Saling berpagut lembut menyalurkan perasaan mereka satu sama lain.
Kini alam semesta menjadi saksi bahwa malam ini akan menjadi awal mula kisah perjalanan cinta mereka.
...-o- ...