Hi, Om Nathan!

Hi, Om Nathan!
Bab 32



Nathan


Tak ada yang kulakukan selain duduk tenang di dalam mobil sambil mengitari pemandangan di depanku.


Sebuah toko besar oleh-oleh yang dimaksud Milly berada di jalan Kemuning itu begitu ramai dipenuhi pengunjung. Bahkan, saat baru tiba aku butuh beberapa menit untuk menunggu salah satu mobil pengunjung keluar dari area parkir karena tak ada satupun space buatku untuk memarkirkan mobil.


Aku tak heran sih. Memang toko tersebut sudah terkenal cukup lama. Toko itu menyediakan hampir semua menu oleh-oleh yang dicari para pengunjung yang bertandang ke Bandung. Oleh-oleh yang tersedia banyak varias. Hampir terbilang lengkap. Rasanya juga terkenal enak.


Dari dalam mobil aku terdiam memantau ornag-orang berlalu lalang, sembari aku menunggu El, Milly dan Lyana yang sudah sedari tadi didalam untuk membeli oleh-oleh. Aku memutuskan untuk tidak ikut. Sudah bisa aku pastikan kalau didalam sana aku hanya akan berdiam diri sambil menemani orang-orang itu dan berdesakan.


Membayangkannya saja kepalaku mendadak pening. Jadi, memutuskan untuk di dalam mobil adalah keputusan yang tepat.


Tapi aku bosan juga duduk berlama-lama disini, jadi tanganku mulai bergerak untuk menekan beberapa tombol radio di dashboard. Suara serak dari penyiar radio menyeruak, membicarakan tentang ruas kemacetan di beberapa titik kota Bandung. Berita tersebut cukup membantuku yang kini mencari jalan alternatif tercepat untuk sampai ke pintu tol Bandung-Jakarta melalui ponsel. 


Kata penyiar itu benar, garis merah menggelap mulai memenuhi beberapa ruas jalan menuju pintu tol. Hanya ada dua ruas jalan yang bisa kulalui dan aku harus segera melaluinya sebelum tengah hari. Alasan utamanya adalah akhir pekan, pengunjung domestik mulai berdatangan untuk mengisi akhir waktu pekan mereka. Buru-buru aku mengirim pesan pada El agar mereka segera bergerak cepat. 


Dan tidak butuh waktu berapa lama, Lyana muncul dari pintu toko dan buru-buru melangkah menuju mobil dan membuka pintu depan dan duduk bersisian denganku.


Sejenak aku terkesiap melihatnya, cukup lama, karena awalnya yang duduk disampingku itu El.


Bukan peri cantik.


"Om lihat--Lyana habis beli ini. Kita makan sama-sama ya Om."


Gadis yang mengenakan kaos kebesaran berwarna hijau itu mengeluarkan sesuatu dari paperbag berlogo nama toko tersebut, satu bungkus besar berisi cemilan rambut nenek berwarna merah muda Lyana buka dengan cepat lalu potongan pertama ia memberikan padaku.


"Cobain Om, enak banget."


Sebenarnya aku bisa saja menolak pemberian Lyana. Rambut nenek bukanlah makanan yang aku suka. Terlalu manis. Dan terkadang serambut permen itu suka nyangkut disela gigiku. Juga menusuk tenggorokanku.


Namun karena Lyana yang memberikannya, aku merasa sungkan untuk menolak, jadi aku mengambil permen itu dan langsung menggigit kemudian melahapnya dengan ceapt. Sungguh. Terlalu manis. Aku tidak terlalu begitu suka.


Tapi aku berusaha berpura-pura suka demi peri kecilku.


Setelah buru-buru menghabiskan permen itu aku mengakhirinya dengan seulas senyum cerah layaknya cuaca saat ini. Tidak ada tanggapan dari gadis kecilku selain menatapku dengan lamat.


Apa senyumanku membuat hatinya terpanah sampai ia tak berkedip beberapa kali?


Kupikir tidak juga, sebab satu tangannya naik ke atas, menuju sudut bibirku yang rupanya ada sisa rambut nenek menempel di sana.


Begitu cepat jemari kecilnya mengusap sudut bibirku, kemudian Lyana menarik tanganya lalu mengarahkan jemarinya ke dalam mulutnya. Ia melahap sisa permen yang berada di sudut bibirku itu.


Di depanku.


Aku terpaku. Cukup lama. Sampai aku terasadr ketika Lyana melambaikan tangannya didepanku.


"Kenapa Om?"


Aku mengerjap berkali-kali sambil merutuk diriku yang telah memikirkan sesuatu yang jauh dan nggak-nggak. 


Nggak mungkin aku mengatakan hal yang sejujurnya bukan? Jadi, aku berbual saja.


"Rambut kamu berantakan sayang."


"Rambut Lyana berantakan?" gadis itu membuka laci dashboard dan menemukan cermin kecil didalam sana. Lalu ia mengamati rambut panjangnya yang masih terlihat rapih.


Aku masih terdiam, tidak melamun lagi, tapi masih terngiang-ngiang dengan ulahnya belum lama ini.  


"Rambut Lyana sudah rapih belum Om Nathan?" sambil merapihkan anak rambutnya Lyana fokus memandang cermin, tanpa tahu aku menatapnya kian lamat. Dalam. Seakan aku ingin menerkamnya. Rasanya tenggorokanku kering. Aku kehausan. Bukan haus karena aku butuh air. Tapi haus hasrat.


Bodoh! Ini masih siang! Aku mulai mengatur keinginan gilaku. 


"Rapih." Hanya itu yang bisa kukatakan sebelum Lyana memposisikan dirinya kembali dan menatap cermin sekali lagi. Baru Lyana membalas tatapanku yang mulai menggelap nakal dengan seulas senyuman. 


Iya, iya. Aku masih berusaha untuk tidak melewati batasanku. Tenang saja. Aku tidak mungkin nekat menerkam Lyana di tempat umum, dan posisinya El dan Milly mulai terlihat batang hidungnya dari toko. Segera aku memaksakan diri; aku mulai menghembuskan napas dan mengatur posisi dudukku serileks mungkin. Entah kenapa rasanya aku seperti terhimpit sesuatu yang membuatku ingin keluar. Sesak. Kepanasan. Padahal suhu pendingin mobil kencang.


Lyana mulai sibuk dengan ponselnya sementara aku bergerak gelisah. El semakin dekat tapi Lyana belum berniat ingin beranjak untuk pindah ke belakang. Antara peduli atau nggak, Lyana nggak merasa terganggu dengan gelagatku. Dadaku semakin sesak saat El dan Milly mulai mendekat.


"Oh--kamu duduk di depan Lyn?" Milly masuk dan melihat anak perempuannya sudah duduk anteng disampingku. Sementara El terkejut ketika ia membuka pintu mobil, tapi tak lama ia langsung menutup pintunya lagi dan pindah ke belakang bersama Milly.


Lyana menoleh, hanya sesaat lalu menoleh lagi padaku yang sedang menatapnya canggung. Lyana terdiam sejenak, sementara aku, Milly dan El terdiam menunggu jawaban Lyana.


"Lyana mau duduk didepan ya Pah, Mah." 


Apapun alasan Lyana ingin duduk disampingku, asalkan aku bisa menyetir mobil sampai kami tiba di Bekasi dengan selamat.


Itu sudah cukup.


Tak kusangka ternyata Bekasi bisa sepanas ini.


Setibanya kami dirumah El, baru saja keluar dari mobil aku terbirit-birit ke dapur dan segera meraih gelas kaca, membuka lemari es lalu menuangkan air dingin dan langsung aku meneguknya secepat kilat. 


Entah karena aku sudah lama nggak ke rumah El atau Bandung yang terlalu dingin. Keluar dari tol Bekasi terik matahari begitu menyengat sampai teriknya tampias di kaca mobil. Cukup menggangguku disaat menyetir mobil karena silau. Sampai aku keluar dari mobil bulir perbulir keringat bermunculan dari tubuhku dan buru-buru aku masuk ke dalam rumah.


Sungguh. Bekasi panas banget. Aku mengagumi El dan sekeluarga dalam hati, mereka bisa bertahan tinggal di sini.


"Gerah ya Om." Setelah aku memasuki sebuah kamar di lantai 1 yang menjadi kamarku untuk tinggal malam ini, Lyana tak lama menyusulku dan ikut duduk tepat disampingku di tempat tidur. Pakaian Lyana sekarang sudah berganti menjadi pakaian jumpsuit berbahan rayon sampai diatas lutut. Aku juga melihat ada beberapa bulir keluar dari dahi gadis itu. Dia juga tampak kegerahan, tapi dia tampak biasa saja. Pasti karena sudah terbiasa jadi Lyana nggak mengeluh sepertiku. 


"Iya, panas banget. Kamu kuat banget lho!" Keluhku memancing gelaknya. Aku yang sudah bercucuran keringat menatap aneh melihat Lyana tak terlihat ada peluh keringat dan tampak sedikitpun merasa terganggu dengan hawa panasnya.  


Lyana segera meraih remot dan mengecilkan suhu AC agar ruangan tambah dingin. "Sabar ya Om. Mau nambah air minum dingin lagi nggak? Lyana ambilin."


Belum lama Lyana duduk disampingku, gadis itu hendak berdiri namun aku langsung bergegas menariknya lagi sehingga Lyana spontan terduduk diatas pahaku. Lyana tampak terkejut dan salah tingkah. 


Mumpung El dan Milly masih di kamar, aku gunakan kesempatan ini untuk memeluk Lyana sembari mengecup pundaknya beberapa kali.


Yang kejadian di mobil belum selesai. Dan sampai saat ini kejadian itu tak berhenti terngiang-ngiang di kepalaku. 


Lyana harus tanggung jawab.


"Aku kangen." Gumamku tak selesai mengecup pundak Lyana. Disela kecupanku, aku mendengar Lyana bergumam lirih namun terdengar manja hingga meningkatkan gairahku. 


"Kangen?" Lyana kembali bergerak salah tingkah diatas pahaku. Geraknya seakan ingin menjauh bersamaan dengan tatapannya bergantian padaku lalu naik ke arah anak tangga. Aku tahu itu. Mungkin Lyana cemas kalau tiba-tiba El dan Milly muncul lalu kami kepergok lagi.


Aku juga bisa merasakan jantungku mulai berdebar kencang. Ditambah memandang wajah Lyana yang menuntut jawabanku membuatku segera untuk menarik tengkuk Lyana dan dengan cepat aku menyentuh bibirnya dengan bibirku.


Pelan, lalu mendalam. Rasa ini tak berubah saat terakhir aku mencium bibir Lyana; manis juga hangat. Rasanya kian pekat ketika bibir kami semakin panas bertautan. Hingga suara lenguh Lyana tertangkap olehku membuatku semakin gencar memperdalam ciuman kami. 


Tidak peduli jika El dan Milly benar-benar mempergoki kami. Begitulah kalau ***** sudah mulai merambat menguasaiku. Rasanya aku terus merasa haus dan ingin terus seperti ini. Yang diawal Lyana mencoba untuk menahanku dengan mendorong dadaku, aku bisa merasakan jika Lyana seakan menyerah, dia tak lagi mencoba untuk menjauh, justru Lyana mengikuti permainanku dan aku yakin Lyana sama tenggelamnya denganku oleh gairah. 


Kain pakaianku perlahan dicengkram Lyana, seakan aku tidak boleh membuat jarak walau hanya sejengkal pun. Lalu aku menurutinya; memeluknya semakin erat dan menarik tengkuknya lagi. 


Aku menyukainya. Sangat. Sampai aku tak mau melepaskannya barang sedetikpun.


Sekarang hasratku menuntut lebih dari ciuman panas ini. Satu tanganku terangkat, bergerak menurunkan pakaiannya di antara tungkai bahunya.


Perlahan, sampai pakaian itu mulai turun sampai ke lengan. Aku agak kesulitan karena Lyana menggunakan jumpsuit. Coba kalau bukan jumpsuit, sedari tadi pakaian itu akan terlepas dalam hitungan detik.


Sembari aku masih berusaha menurunkan pakaiannya, aku melepaska ciuman kami dan tatapan kami bertemu. Tatapan hasratku bertabrakan dengan tatapan Lyana yang menggelap. Seolah dia menginginkan apa yang kupikirkan sedari tadi.


Namun Lyana menangkup tanganku.


"Om, takut ada Papah."


Terus kenapa?


Aku sudah tidak tahan lagi.


Aku begitu menginginkanmu.


Aku tidak peduli ketahuan pria tua itu. 


Ingin sekali aku mengatakan itu, tapi bibirku sulit bergerak. Kalau dipikir-pikir aku nggak bisa juga mengatakannya seperti itu. Lyana masih naif. Jadi sekarang aku harus mencari alasan yang tepat agar dia kembali membiarkanku membuka semua pakaiannya dan pakaianku dengan cepat.


"Aku sayang kamu Lyana."


Aku teringat dengan kata-kata Ken. Cara untuk meluluhkan hati seorang perempuan hanya dengan satu kalimat itu. Kalimat simpel namun terkesan yang amat teramat dalam.


Jadi aku menggunakan jurus itu dan Lyana tampak luluh.


Sepertinya nasehat Ken benar berhasil. Nggak sia-sia aku mendengar pepatah tuah darinya.


"Lyana juga sayang sama Om Nathan."


Kembali dengan gerakan lembut namun pelan, sembari menatap matanya untuk meyakinkan Lyana jika semua akan baik-baik saja, aku menurunkan pakaiannya hingga dua bukit kembar yang masih terbungkus rapih menyeruak dihadapanku, meminta untuk dimanja.


"Boleh aku pegang?" Bisikku menuntut jawabannya. Dengan nakal jemariku bermain di dua bukit itu. Menggodanya. Tak perlu menunggu lama aku mendapatkan persetujuan Lyana. Gadis kecilku mengangguk pelan sambil menggigit bibir bawahnya. Balik menggodaku. Dan aku terpancing.


Karena hal ini akan menjadi momen pertama kami, aku harus melakukannya dengan lembut dan membuatnya merasa melayang di setiap sentuhanku.


...-o- ...