Hi, Om Nathan!

Hi, Om Nathan!
Bab 54



Nathan


"Kau sungguh nggak bisa bermain catur?!"


Aku menghela napas panjang. Sudah kukatakan dari awal kalau aku tidak pandai bermain catur.


Belum ada lima menit kami bermain, tapi aku sudah kalah telak oleh permainan pria tua bermantel hitam bercorak keemasan ini.


"Aku sudah bilang kan dari awal, aku nggak bisa bermain Papah." Gerutuku ditampiknya.


"Ah! Kau payah!"


Lihat. Pria itu memanyunkan bibirnya kesal. Seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan yang ia temukan di sebuah toko.


Nggak El, nggak Bapaknya, sama sama menyebalkannya.


"Bagaimana bisa orang sepertimu nggak bisa bermain catur?"


Papah Arkana tak henti menyelaku, rautnya masih nggak percaya jika aku benar-benar nggak bisa bermain catur. Apa kurang jelas melihat cara mainku yang langsung mengeluarkan sang raja hanya untuk melawan pion-pion kecil itu?


Aku lebih suka bermain yang lain seperti kartu remi atau monopoli, e-games atau permainan olahraga lain ketimbang bermain papan hitam-putih yang rumit itu.


Cukup hidupku saja yang rumit.


"Kalau gitu, kita bermain yang lain saja." Akhirnya aku menghela napas lega mendengar Papah Arkana mulai mengganti permainan kami.


"Bagaimana kalau memancing di Danau lagi?"


Oh Tuhan. Apa ia sudah mati rasa dengan cuaca yang mulai memasuki musim dingin ini?


Kenapa ia sangat suka sekali memancing?


Atau mungkin, ia sedang mengerjaiku?


"Kakek, sudah kubilang diawal jangan ajak Nathan pergi memancing lagi!" Lyana baru saja datang dengan membawa nampan yang berisi avocado toast with scrambled egg. Tak lupa dengan chamomile tea sebagai pemanisnya.


"Aku hanya menawarinya untuk menemaniku saja. Tidak memintanya ikut memancing lagi." Ucap Papah Arkana sambil mencecap chamomile tea-nya.


"Sebenarnya aku malu mengajaknya, tapi aku butuh teman ngobrol selagi menunggu umpanku dimakan ikan. Hari ini Mikael sibuk mengerjakan tugas sekolah, jadi aku menawarinya untuk menemaniku." Imbuhnya lagi.


"Lebih baik Kakek beristirahat saja di kamar. Cuaca mulai dingin. Nanti siang biar aku saja dan Nathan yang ke supermarket untuk membeli kebutuhan dapur." Papah Arkana tak luput memberi senyumannya ketika cucunya begitu perhatian padanya.


"Tapi memancing adalah hal yang bagus saat ini. Dan memancing sendirian akan terasa membosankan. Makanya aku mengajak Nathan pergi bersamaku." terangnya lagi.


"Apa aku melewatkan sesuatu yang seru?" Mikael akhirnya ikut menimbrung bersama kami setelah ia mengurung diri di dalam kamarnya karena tugasnya menumpuk.


Dengan kaos oblong putih dan celana panjang berwarna senada, ia tampak santai seakan tidak terusik dengan hawa dingin yang mulai menggerogoti. Aku saja harus menggunakan baju tebal dan coat sepanjang paha. Tapi laki-laki bun itu melangkah dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku celananya.


"Ah--kau baru tiba cucuku." Papah Arkana menyambut Mikael. "Aku baru saja membully calon kakak iparmu." Ia tertawa remeh. "Kupikir Papah kalian adalah orang yang paling boring, ternyata ada lagi spesies-nya yang bahkan jauh lebih payah. Kemarin ia menunjukan bakatnya yang tidak bisa memancing, sekarang catur. Kekasihmu ini benar-benar payah." Pria tua itu berdecak ria setelah berhasil menyelaku pagi ini dengan baik dan membuatku tertohok di tempat.


Aku jadi kesulitan menyesap tehku dengan baik.


"Tapi Nathan selalu berhasil menghiburmu, Kakek." Lyana tak henti membelaku hingga membuatku tersipu. Diam-diam aku tersenyum.


"Iya, memang benar." Papah Arkana menyetujuinya lagi. "Buktinya kemarin aku sangat puas menertawakannya bersama Mikael karena umpannya tersangkut di coat-nya dan ia terlempar ke Danau."


Gelak tawa Papah Arkana dan Mikael tak bisa dicegah, seketika darahku memanas di area wajahku.


Ini sudah hari ketiga aku dan Lyana berada di wilayah Devon, Inggris. Rumah dengan lantai dua yang kuperkirakan luasnya melebihi sembilan puluh meret ini menjadi rumah singgah kami selama satu minggu.


Untuk pertama kalinya saat aku memasuki pekarangan rumah Papah Arkana, aku hanya bisa terdiam dengan sorot mata penuh takjub. Seperti bangunan kuno khas eropa kebanyakan, rumah dengan bebatuan merah kecoklatan yang menjadi material utama dibuat dengan gaya klasik ditengah pepohonan dan kebun. Menjadi rumah ternyaman yang kusinggahi.


Tidak terlalu banyak perabotan dan ukiran sebagai pemanis di dalam rumah, tampak minimalis dan sederhana, tapi bagiku tetap saja terlihat mewah dan artistik.


Bentuk atap yang tinggi dan cenderung curam. Ditambah dengan cerobong asap menimbulkan kesan kokoh dan megah.


Rumah luas yang disinggah Papah Arkana seorang diri selama ini bagiku terasa menakjubkan. Aku jadi membayangkan jika aku dan keluargaku tinggal di rumah sederhana ini. Aku akan merasa bahagia dan tentram.


Ketika beliau tahu aku dan Lyana bertandang ke rumahnya, kami disambut sangat baik. Papah Arkana memeluk Lyana, lalu padaku yang baru pertama kali singgah ke rumahnya.


Tak lama berselang setelah Papah Arkana menumpahkan rasa rindunya kepada cucunya, suasana berubah agak sedikit tegang atas beberapa pertanyaan yang dilayangkan Papah Arkana. Khususnya padaku mengenai hubunganku dan Lyana.


Aku jadi tahu alasannya mengapa Lyana mengajakku ke Inggris. Aku sempat berpikir jelek tentang El yang memaksa Lyana untuk melanjutkan sekolah bersama Mikael. Rupanya, Papah Arkana memintaku untuk datang ke tempat tinggalnya. Karena baginya, ia tidak puas setelah mendengar cerita El panjang lebar tentang hubungan kami. Beliau ingin mendengarnya secara langsung, dariku dan Lyana. Seakan beliau menantangku apa aku akan berani datang atau sebaliknya.


Kedatangan kami juga disambut sangat baik oleh Mikael. Apalagi ketika ia sudah tahu bahwa aku telah berhasil mengambil hati kakaknya, dengan penuh antusias Mikael tak kuasa membagi isi pikirannya padaku mengenai kakaknya.


Kami terlarut dalam obrolan kami layaknya sebagai sesama pria. Bukan sebagai Om dan keponakan. Walau demikian Mikael tetap menghormatiku, cara berbicara dan perilakunya masih ia jaga walau ia tidak dapat menyembunyikan raut tidak percayanya.


Aku teringat dengan nasehat Milly padaku sebelum berangkat. Katanya, selama di Inggris aku harus menyampaikan keinginanku dengan baik pada Mikael.


Selain El, Mikael akan berperan cukup penting jika hubunganku dengan Lyana ingin dilancarkan.


Aku sempat berpikir apa maksud dari ucapan Milly. Sampai ternyata aku sadar apa maksudnya.


Wajah manis Mikael yang sangat kukenali itu berubah tajam dan menggelap saat ia menanyakan keseriusanku. Sorot matanya begitu menghunus padaku, seakan ia ingin menemukan cela kebohongan dariku. Ia tidak akan menutupi ketidaksukaannya disaat ia menemukan hal yang tidak ia sukai dari ucapanku.


Bahkan ia tidak akan ragu menentang ucapanku. Apapun tentang Lyana, Mikael mencerna ucapanku dengan baik dan teliti. Bahkan Mikael tak mau kalah beradu argumen denganku. Tapi pada akhirnya aku berhasil meyakinkannya dengan keseriusanku.


Dan aku akui, ia dapat menyikapiku dengan dewasa tapi tetap dengan caranya sendiri yang terlihat santai dan sedikit kekanak-kanakan.


Baru satu hari aku bersamanya, Mikael membuatku merasa tercekat. Melebihi ketika aku bersama El.


"Kalau gitu aku akan mampir ke pekarangan Mrs. Lautner. Beliau memintaku untuk memperbaiki alat pemotong rumput. Sudah rusak katanya."


Papah Arkana berdiri lalu membenarkan mantel hitam keemasannya, kemudian menepakan kakinya sejenak sebelum ia melangkah pergi.


"Jadi, apa rencana kalian setelah ini?" Kini Mikael bergantian menatapku dan Lyana setelah Papah Arkana berlalu.


"Kami mau ke supermarket. Mau ikut?" Tawar Lyana.


Mikael mengangguk pelan.


...-o- ...


Teras balkon yang luas ini mengundangku untuk memandangi malamnya wilayah Devon.


Berbeda di Indonesia, aku bisa melihatnya dengan jelas ribuan bintang yang bertebaran di langit gelap hanya dengan mata telanjang.


Masih dengan hawa dingin yang mengusik kulitku, tapi kali ini aku bisa menahannya. Dibantu dengan coat-ku, aku menyembunyikan kedua tanganku ke dalam saku sambil mendongak menatap langit.


"Kamu di sini rupanya."


Aku berbalik, lalu tersenyum melihat Lyana menghampiriku.


Ia sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian panjang satin berwarna putih dibalut coat coklat. Sontak ia merentangkan tangan dan langsung memelukku erat ketika aku menyambutnya dengan senang hati.


"Kamu nggak kedinginan?" Tanyanya dibalik dekapanku. Aku menggeleng.


Berkat Lyana, aku nggak kedinginan lagi.


"Nggak sayang."


"Apa penghangat ruangan di kamarmu sudah kamu nyalakan?"


Aku mengangguk. "Sudah sayang."


Kami terdiam sejenak. Menikmati kehangatan satu sama lain.


"Kamu ngobrol apa saja sama Mikael tadi?"


Sebelumnya, aku mengobrol banyak lagi bersama Mikael di teras balkon. Membahas kembali tentang kelanjutan hubungan kami berdua.


"Aku tidak yakin Papah akan mengabulkan permintaan Om Nathan. Bisa kutebak, dua sampai lima tahun lagi Om Nathan baru bisa menikah sama Kakak."


Saat itu aku terkesiap melihat asap rokok mengebul keluar dari bibir tebal Mikael. Tapi aku tidak terusik dengan itu.


Aku terusik dengan ucapan Mikael yang terdengar sangat masuk akal.


Membayangkan aku harus menunggu Lyana selama itu, apa aku akan sanggup?


Ketakutanku yang dimana Lyana akan terbuai akan rayuan pria seumurannya kembali menghantuiku.


"Banyak." Balasku singkat. Aku kian mengeratkan pelukan kami. Hawa dingin mulai merayap dan mengusikku.


"Boleh aku tahu kalian membicarakan apa? Sejak kita di sini, kamu semakin dekat dengan Mikael."


"Apa kamu cemburu?" Tanyaku usil. Wajah Lyana berubah merona.


"Ti--tidak." Tukasnya sedikit gagap.


"Wah aku kecewa." Aku pura-pura mendesah kesal. Sedangkan Lyana memukul lenganku.


"Kamu pelit sekali, Om!"


Aku menaikan alisku. Lyana sekarang tertawa melihatku yang benar benar terlihat kesal.


"Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak memanggilku Om lagi?" Gerutuku.


"Memang iya. Kecuali jika kamu membuatku kesal." Lyana membuang mukanya ke arah lain. Sehingga aku tidak bisa melihat bibirnya yang manyun.


Sejak setelah kami mengumumkan hubungan kami, aku mengijinkan Lyana untuk memanggilku sesuka hatinya.


Tidak ada embel-embel Om lagi.


Kukira Lyana akan melabeliku dengan sebutan "Bee", atau "Honey", seperti diawal ia meminta ijin padaku sebelumnya.


Namun, ia memilih memanggil dengan namaku. Nathan. Dan entah kenapa caranya memanggil namaku begitu menggoda di indera pendengaranku.


Bernada manja, namun ada deram seksi yang membuatku tercekat sesaat.


Aku sangat menyukainya.


"Kalau gitu jangan kesal padaku lagi. Aku tidak mau. Aku tidak suka."


Aku mengeratkan pelukan lagi, hingga aku bisa merasakan Lyana sedang tersenyum di dekapanku.


"Tadi Kakek nanya, apa kita akan extend beberapa hari lagi di sini?" 


Seketika aku melonggarkan pelukanku. 


"Extend?" tanyaku lagi dengan raut terkejut.


Bukannya aku nggak mau berlama-lama di sini. Di sini sangat nyaman. Orang-orangnya juga sangat ramah untuk pendatang seperti kami. 


Tapi, aku sudah cukup lama meninggalkan kantorku. Aku tidak bisa mengandal orang kantorku terus. Aku juga tidak bisa terus menerus meminta Ken atau El memantau kantorku. Mereka juga punya kepentingan lain. 


Lagipula, aku tidak yakin apa aku akan bertahan dengan hawa dingin yang semakin lama terasa menusuk di sini. Aku suka musim di sini, walau bagaimanapun aku orang asli Indonesia yang mampu hidup hanya dengan dua musim. 


Dan, biaya hidup di sini tidak seramah di Indonesia.


"Aku mau tinggal lama di sini, tapi tidak untuk sekarang sekarang. Kamu harus sekolah dan aku harus bekerja. Kalau tidak, kali ini bisa bisa aku akan digorok Papahmu." 


Alasanku membuatnya tertawa. "Papah tidak akan mungkin melukaimu lagi." 


"Itu bisa terjadi jika menyangkut tentangmu. Perlu kuingatkan, Papahmu pernah memukulku karena aku telah membuatmu menangis." Aku menghela napas mengingat kejadian itu lagi. Sungguh. Saat itu El benar-benar menggunakan kekuatannya untuk memukulku. Pukulannya benar-benar membekas hingga rasa nyerinya pun masih bisa kuingat dengan jelas.


"Maaf. Gara gara aku, kamu dipukul Papah." Satu tangan Lyana mengusap pipiku dengan lembut. Ia terpaku memandangiku. "Apa rasa sakitnya masih membekas di sini?" 


Aku menggeleng lemah. Tatapan Lyana membuatku terhanyut seketika. "Nggak sayang. Rasa sakitku langsung sirna setelah kamu kembali padaku." 


"Kamu senang aku kembali lagi padamu?"


"Tentu saja." ucapku lantang dan penuh penekanan. "Kali ini aku tidak akan biarkan kamu pergi lagi dariku."


"Meski kamu harus melawan Papah lagi?" 


"Aku tidak perlu membuang tenaga untuk melawannya lagi." 


Aku mengambil satu tangan Lyana. Lalu mencari jemarinya yang tersemat oleh sebuah cincin putih dengan berlian kecil di sana. Cincin sederhana itu terlihat sangat manis di jemari Lyana. 


"Kamu benar benar sudah menjadi milikku sekarang." ucapku penuh percaya diri sambil memperlihatkan cincin itu padanya.


Berkat ketakutan yang terus membayangiku, aku memutuskan untuk mengikatnya dengan sebuah cincin yang kubeli dadakan ketika kami pergi ke supermarket tadi siang. Memang harganya tidak semahal yang kalian kira. Dengan kesungguhan hatiku aku langsung menyematkan cincin itu di jari manisnya tanpa perlu aku meminta ijin padanya. 


"Kamu nggak romantis banget sih!" Keluhnya saat itu dengan tatapan tak percaya. Tapi ia terkagum memandangi cincin itu dan langsung memamerkannya ke Papah Arkana dan Mikael. 


"Iya. Kamu benar." Lyana tersenyum lagi dan kembali mengalungkan kedua tangannya untuk memelukku lagi. 


Sejenak kami terdiam, saling mencari kehangatan lagi. Bukannya semakin hangat, hawa dingin ini semakin gencar menelusup tubuh kami.


"Masuk yuk. Aku sudah mulai kedinginan."


Lyana langsung menarikku ke dalam. Aku juga semakin kedinginan.


Buru-buru kami meninggalkan teras dan menutup pintu. Bukannya langsung menuju kamar masing-masing, aku beralih menarik Lyana dan mendorongnya perlahan ke dinding. 


Hawa dingin ini mengundangku untuk melakukan siasatku. 


Dibawah penerangan lampu malam, Lyana tampak terkejut atas apa yang kulakukan padanya. Nggak berlangsung lama, aku lebih dulu memulai dengan menurunkan wajahku untuk menemui bibirnya. Berpagut lembut untuk mencari kehangatan satu sama lain. Perlahan nan dalam. Namun tidak saling menuntut. 


"Aku mencintaimu."


Lyana berbisik disela ciuman kami. Bisa-bisanya ia membuatku semakin melayang hanya mendengar kalimat cintanya.


Aku tak perlu membalasnya, hanya perlu melanjutkan ciuman kami sampai hawa dingin tak lagi mengusik kami.


Karena Lyana sudah tahu apa yang kurasakan saat ini.


Aku begitu mencintanya, lebih dari apa yang kalian bayangkan.


.......


.......


.......


...*T A M A T* ...


.......


.......


.......


...Ditunggu extra chapternya...