
Sudah berkali-kali ponselnya berdering di atas meja. Nathan hanya terdiam sambil memandangi layar ponselnya yang sempat berhenti dan kembali bergetar, dan muncul nama Ken di sana.
Baru pria itu bisa menghela napas lega setelah layarnya kembali gelap. Ken berhenti menghubunginya. Tapi Nathan memilih untuk mengirimnya satu pesan untuk Ken. Dari puluhan panggilan masuk, pasti Ken sedang mencemaskan Lyana karena dari awal Nathan belum mengatakan apapun padanya.
Maaf Ken gue harus bawa Lyana pergi. Tiba-tiba bokapnya Lyana kabarin gue kalau dia sudah pulang dan mau jalan ke rumah gue, jadi gue harus buru-buru bawa Lyana pulang. Kalau dia nggak lihat Lyana di rumah bisa-bisa rumah gue diberantakain. Bokapnya galak banget, lo tahu sendiri kan?!
Nanti gue kabarin lo lagi setelah urusan gue selesai. Sorry banget gue baru kabarin dan mendadak bawa Lyana pulang tanpa pamit dulu sama lo.
Nathan langsung melemparkan ponselnya di sofa, lalu ia kembali menghela napas. Merasa lega sesaat.
"Kenapa Om? Ada masalah?"
Sedari tadi Lyana hanya duduk terdiam sambil memperhatikan Nathan dengan ponselnya. Merasa aneh dan tidak mengerti dengan kegelisahan Nathan menatap layar ponsel.
Meski sudah merasa lega pria itu masih tampak cemas, bahkan Nathan kembali terdiam saat ini. Selama di perjalanan menuju rumah, tak ada pembicaraan apapun di antara Lyana dan Nathan walau hanya sekedar basa-basi.
Panggilan Lyana membuat pria itu mendongak setelah kepalanya menunduk untuk beberapa saat.
"Aku nggak apa-apa." Nathan tersenyum, lalu ia berdiri membuat pandangan Lyana ikut terangkat. Rupanya Nathan berjalan menghampiri Lyana yang duduk di sebrangnya, lalu ia duduk di samping Lyana dan tak ragu berbaring dan menaru kepalanya di antara kedua paha Lyana.
Lyana yang melihat Nathan seperti itu hanya bisa membelalak dan buru-buru mengalihkan pandangannya. Lyana membiarkan pria itu memejamkan matanya tanpa ia tahu Lyana sedang berusaha keras untuk menenangkan diri.
"Apa kamu gugup?"
Lyana kembali membelalak saat Nathan membuka matanya dan menatap Lyana. Gawat. Apa Nathan mendengar suara detak jantung Lyana yang berdetak nggak karuan? Atau karena wajah Lyana memerah dan Nathan melihat itu?
Lyana yakin sudah pasti pria itu melihat wajahnya memerah. Tanpa perlu Lyana melihatnya juga, wajahnya sudah terasa panas dan semakin panas akan ulahnya. Pasti karena itu.
"Kalau iya, berarti kita sama. Aku juga gugup."
Tak hanya bahu, kini pria itu kembali meraih satu tangan Lyana. Menyentuhnya dengan lembut dan menautkan jemari mereka sehingga saling menyatu. Lalu Nathan membawa tangan Lyana tepat di dadanya yang terasa bergetar karena detak jantung Nathan.
"Lihat! Sudah lama aku tidak merasakan perasaan ini setelah sekian lama. Dan sekarang aku bisa menikmatinya lagi, bersama kamu."
Mendengar itu Lyana tak kuasa tersenyum. Bagaimana tidak? Setelah banyak perkiraan buruk tentangnya di awal, dengan mudahnya Nathan berhasil mengambil hati Lyana lagi hingga hatinya kembali merasa teduh.
Tapi, Lyana masih butuh penjelasan dari kekasihnya ini.
"Om Nathan, boleh Lyana bertanya kenapa yang menjemputku Om Ken bukannya Om Nathan?"
Nathan tercengang sejenak, dan Lyana kembali melontarkan pertanyaan baru.
"Bukankah Lyana pacarnya Om Nathan?"
Nathan menghela napas. Sudah Nathan duga pasti Lyana akan bertanya seperti itu.
Dan ternyata pertanyaan Lyana justru membuat Nathan semakin sulit untuk menjawab ketimbang ia harus menjelaskan status barunya kepada Ken.
"Kamu memang pacarku. Tapi aku punya alasan kenapa Ken yang menjemputmu, bukan aku. Maaf ya sayang."
"Apa alasannya? Apa Om malu pacaran sama Lyana?" Nathan menggeleng pelan.
"Apa karena Lyana masih kecil? Nggak pantas buat Om Nathan yang sudah dewasa?"
"Apa pacaran sama Lyana membuat Om Nathan jadi beban? Kalau iya, Lyana minta maaf Om Nathan."
Nathan memutuskan bangkit, lalu duduk bersimpuh di depan Lyana dengan tatapan lembut. Sambil meyakinkan Lyana, Nathan kembali mengeratkan genggaman tangannya dengan tangan Lyana sembari ibu jarinya mengelus pelan punggung tangan Lyana.
"Kamu sama sekali tidak membebani aku."
Ucapan Nathan begitu tulus, tapi Lyana masih belum merasa puas.
"Itu..."
"Kenapa Om Ken bilang kalau Om Nathan sedang menjemput pacar Om padahal pacar Om itu Lyana—"
"Beri aku waktu, Lyn." Nathan langsung memotong ucapan Lyana. Lyana terdiam sejenak, mencerna ucapan Nathan.
"Waktu, untuk apa Om?"
Waktu? Kenapa Nathan menuntut Lyana menunggu lagi? Walau di awal Nathan tidak menuntut sebelumnya. Memang Lyana sengaja menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan isi hatinya.
Tapi kini Nathan meminta ia menunggu lagi. Jujur, Lyana sudah merasa lelah dan tidak tahu apakah ia masih sanggup jika harus disuruh menunggu lagi.
Ketimbang menunggu, Lyana akan mencoba berlapang dada jika alasan Nathan memang malu untuk mengakui hubungan mereka di depan orang lain.
Wajar saja bila Nathan malu, Lyana tahu dan sadar jika seharusnya hubungan mereka tidak lebih dari yang Lyana harapkan. Mereka itu saudara. Om dan adik keponakan. Walau Lyana tahu mereka tidak sedarah karena mengetahui sejarah hidup dari sang Ayah dan Paman nya itu.
Kakek Ferry yang merupakan Ayah kandung Nathan menikah lagi dengan Mamahnya Elkana yaitu Nenek Risma. Kakek Arkana yang menjadi Ayah kandung Papah Elkana berpisah dengan Nenek Risma dan memutuskan untuk menetap di Inggris.
Kurang lebih Lyana hanya tahu sampai di situ. Setelah ia mendengar fakta itu ketika ia masih kecil, Lyana bisa menyimpulkan bahwa Nathan bukanlah Om Kandung Lyana.
Walau bagaimana pun dan apapun cerita di masa lalu itu, kenyataannya Nathan dan Lyana tetaplah bersaudara. Terutama umur mereka terpaut sangat jauh. Bahkan seharusnya di umur Nathan yang hampir menginjak kepala empat sudah memiliki seorang anak yang seumuran dengan Lyana.
Namun dengan semua kenyataan itu, Lyana juga tidak ingin menggelapkan hatinya.
Seseorang yang tak henti membuat harinya berseri dan gugup adalah Om tampan yang tengah duduk di hadapannya kini. Pria yang berhasil membuat hatinya jatuh untuk pertama kalinya dan polosnya Lyana berharap bahwa Nathan adalah pria terakhir untuknya.
Seperti cerita dongeng indah yang selalu Lyana dengar ketika sang Mamah membacakan buku dongeng ketika Lyana masih kecil.
"Lyn, sepertinya kita sama-sama butuh waktu. Kamu dan aku. Bukannya aku malu pacaran sama kamu, tapi hubungan ini masih terbilang baru untuk kita berdua. Kamu yang baru pertama kali pacaran dan aku baru bisa kembali membuka hatiku dan menjalin hubungan ini."
Dahi Lyana berkerut, "Lyana nggak ngerti Om."
Nathan menganggukan kepala pelan, "Untuk itu kita sama-sama butuh waktu untuk saling mengerti. Jadi, sementara waktu kita tidak mengatakan apapun tentang hubungan kita kepada orang lain, termasuk Papah, Mamah, Mikael, Bi Ida dan Om Ken. Kamu paham kan maksudku?"
"Sampai kapan Om?"
"Sampai kita berdua sama-sama siap." Nathan mengeratkan genggamannya lagi. Berharap agar Lyana bisa percaya dan yakin dengannya.
Sesaat Lyana menunduk lalu kembali mendongakkan kepala.
"Begitu ya Om."
"Iya," Nathan mengangguk lagi, "Setelah kita sudah siap, kita baru bisa beri tahu hubungan kita kepada orang lain."
Cukup lama Lyana terdiam. Tatapannya tidak terputus menatap Nathan yang juga tengah menatapnya lekat. Memberi keyakinan melalui sorot matanya yang paling terdalam. Hingga akhirnya gadis kecilnya itu menganggukan kepala.
"Iya Om."
Senyuman manis terbit di wajah tampan itu. Begitu senang sehingga pria itu bangkit dan memeluk gadis kecilnya dengan perasaan sayang.
Begitu pula dengan Lyana, langsung gadis itu membalas pelukan pria itu. Cukup lama hingga Lyana hampir terlelap karena pelukan Nathan begitu nyaman. Ditambah aroma tubuh yang menjadi kesukaan Lyana akhir-akhir ini membuatnya tak rela melepaskan pelukannya.
Dan hal itu disadari Nathan. Sehingga pria itu langsung mengeratkan pelukannya dan mengangkat Lyana ke dalam gendongannya.
Lyana tersentak dan hampir berteriak ketika Nathan menggendongnya dan membawa Lyana ke dalam kamar.
"Sekarang kamu mandi dan dandan yang cantik! Aku akan memasak untuk makan malam kita berdua."
...-o-...