
Nathan
"Lyana nggak marah sama Om Nathan. Beneran."
Lyana menunduk lesu. Tak kunjung ia mendongak walau aku memintanya untuk menatapku.
Setelah Lyana membeli buku novel yang ia cari. Aku langsung menarik Lyana dan pamit pulang pada Ken. Ken sadar diantara aku dan Lyana ada yang tidak beres. Tapi Ken bungkam dan membiarkan aku dan Lyana pergi lebih dulu.
Melihat Lyana belum lelah menundukan kepala, justru itu tidak baik buatku. Disini aku sadar aku salah. Meski diawal aku nggak berniat untuk membentak Lyana tapi tetap saja aku merasa nggak enak hati.
"Kalau kamu nggak marah, kenapa kamu nggak mau tatap Om?" Kini aku bersidekap dan menunduk miring agar aku bisa menatap Lyana dan Lyana mau menatapku.
"Lyana kan yang salah." Lirihnya.
"Om sudah bilang kamu sama sekali nggak salah. Om yang--"
Aku mendadak bisu. Apa aku harus mengaku kalau aku nggak suka mendengar Lyana tak henti membicarakan Ken?
Tapi alasannya apa jika Lyana bertanya padaku?
Kalau aku bilang alasannya Ken itu pemain, apa terdengar masuk akal?
Kalau aku ingat-ingat, pertanyaan Lyana mengenai Ken hanya sebatas bagaimana hubunganku dengan Ken. Berapa lama dan sejauh mana pertemanan kami selama ini. Dan Lyana hanya memuji Ken pria yang baik.
Hanya pertanyaan umum yang mudah kujawab seharusnya.
Hanya itu.
Duh, kepalaku mendadak pening.
"Intinya aku mau minta maaf karena tadi aku agak kasar sama kamu. Kamu sama sekali nggak salah. Jadi tolong Lyana lihat aku, tatap aku. Kalau kamu memang nggak marah sama aku, seharusnya kamu mau tatap aku bukan? Aku belum bisa percaya kalau kamu nggak marah sama aku tapi kamu nggak mau tatap aku."
Secara perlahan dan baik-baik aku membujuknya lagi. Berusaha keras aku tidak memaksanya menuruti kemauanku. Tapi sepertinya aku berhasil membuatnya luluh, perlahan Lyana mulai mendongak hingga aku bisa menatapnya sepenuhnya.
Aku tersenyum lega.
"Tapi Lyana beneran nggak marah sama Om Nathan." Lirihnya lagi dan aku menariknya ke dalam pelukanku.
Aroma floral menguar dari tubuh Lyana. Aku suka wanginya. Sehingga aku mengerat pelukan. Berharap aku bisa terus menghirup aroma menenangkan ini.
Tapi aku sadar kalau kami masih di area umum. Aku nggak mau menyelesaikan masalah ini pas kami sampai di Rumah, jadi aku menarik Lyana di dekat pintu Basement, dimana mobilku terparkir disana.
Karena banyak pengunjung berlalu lalang memperhatikan kami, aku segera menguraikan pelukan.
"Jadi kita sudah baikan?" Tanyaku dan Lyana mengangguk.
Tapi seketika ia menggeleng.
"Kita kan nggak berantem Om." Jelasnya.
"Hanya salah paham. Dan itu sudah selesai."
Akhirnya Lyana kembali tersenyum. Rasanya jauh lebih melegakan untukku.
Sebelum kami ke parkiran mobil, aku mengajak Lyana untuk mampir membeli es krim di outlet cukup terkenal. Selain beli es krim cone, aku juga borong dua cup besar es krim dengan rasa berbeda-beda agar kami bisa menikmatinya di Rumah.
Lyana sangat senang ketika aku membeli banyak es krim.
"Kalau Papah tahu Om beli banyak es krim, pasti Papah marah." Lyana menerawang, bagaimana ekspresi El jika tahu kalau aku membelinya banyak es krim.
"Om nggak akan bilang ke Papahmu." Janjiku pada Lyana.
"Mau Om nggak bilang pun, pasti Papah akan tahu."
"Kok bisa?"
Aku membuka pintu belakang dan meletakan es krim itu di atas kursi. Sebelum aku mengemudi, aku mengecek sabuk pengaman Lyana. Memastikan jika sabuk tersebut sudah terpasang dengan benar.
"Lyana nggak ngerti Om. Kalau kata Mikael, Papah tuh kayak punya radar super canggih. Apapun kalau Lyana dan Mikael habis berbuat salah atau sedang menutupi sesuatu, pasti Papah akan tahu."
Aku mendengus geli. Protektif sekali pria tua itu.
Tapi kalaupun aku memiliki anak, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Memastikan anak-anakku akan selalu merasa aman dan terlindungi.
Sepanjang perjalanan, Lyana tak henti mengoceh. Lyana mulai menceritakan tentang teman Sekolahnya yang bernama Sammy. Lyana ceritakan bagaimana persahabatan mereka di Sekolah.
"Sammy itu suka sama Fanya, Om. Tapi kata Sammy belum saatnya Sammy kasih tahu perasaannya ke Fanya. Sammy nggak mau kasih tahu dulu soalnya kami ini sudah sahabatan cukup lama. Kalau Sammy nekat kasih tahu, Sammy takut kalau persahabatan kami jadi nggak sedekat biasanya. Pasti diantara Sammy dan Fanya akan menjadi canggung. Dan Sammy memikirkan Lyana yang mungkin Lyana sendiri yang akan canggung sendiri,"
"Dari sisi Lyana sih sebenarnya nggak masalah kalau mereka pacaran. Tapi melihat Sammy hanya bisa diam-diam menyukai Fanya, Lyana malah nggak enak hati sama Sammy. Sammy harus berusaha keras memendam perasaannya. Apalagi Fanya itu cukup terkenal karena Fanya anak OSIS, jadi banyak adik kelas bahkan seangkatan yang juga suka sama Fanya diam-diam."
"Wah pasti Fanya itu populer banget ya di Sekolah."
"Iya Om. Sangat populer. Sammy juga populer karena Sammy pemain Basket. Banyak adik kelas yang juga suka sama Sammy. Tapi Sammy tolak karena Sammy kan sukanya sama Fanya."
Aku bisa melihat bagaimana reaksinya Lyana membicarakan sosok sahabatnya itu. Matanya berbinar dan wajahnya berseri. Lyana begitu semangat kalau menceritakan sosok Sammy dan Fanya.
"Tapi banyak yang salah paham melihat kedekatan Lyana dan Sammy. Teman Sekolah Lyana pada mengira Sammy dan Lyana pacaran. Padahal kami memang berteman dari kecil. Mamah juga kenal sama Mamah Sammy. Karena udah kenal jadinya sudah dianggap seperti keluarga."
"Bagus dong kalau gitu." Sahutku.
"Iya. Karena itu kadang Lyana mencoba menjauhi Sammy. Jaga jarak giru. Lyana beneran nggak enak sama Sammy karena Sammy suka jadi bahan omongan. Lyana juga nggak mau Fanya berpikir sama seperti teman-teman walau Fanya selalu membela Lyana."
"Bukankah persahabatan memang harus saling membela satu sama lain?" Aku memandangi Lyana sekilas dan tersenyum. Lalu aku memutar kemudi ke kanan setelah melewati lampu merah.
"Tapi mereka jadi dikucilkan karena selalu membela Lyana?"
"Memangnya kamu kenapa?" Dahiku berkerut.
Ucapan Lyana terhenti begitu saja. Aku menengok dan melihat Lyana terdiam dengan menggigit bibir bawahnya.
"Apa ada sesuatu?"
Aku menangkap Lyana melirikku sekilas.
"Tidak ada."
"Benarkah?" Tanyaku lagi. Kali ini Lyana mengangguk.
"Iya."
Lyana terlihat menyembunyikan sesuatu. Tapi aku nggak mau memaksanya untuk cerita.
Tapi aku penasaran.
Jadi aku cari cara agar Lyana mau cerita padaku.
"Gimana kalau kita membuat suatu permainan?"
"Permainan?" Ulang Lyana.
"Iya. Permainan ini hanya bisa dilakukan oleh kita berdua saja."
Lyana terdiam menimbang ajakanku.
"Permainannya bagaimana Om?"
"Mudah kok. Permainan ini dilakukan maksimal satu kali dalam sehari. Permainan ini berupa tebak-tebakan lucu atau bermain suit. Kalau diantara kita ada yang kalah, entah nggak bisa menjawab atau kalah suit, yang kalah harus memenuhi permintaan si pemenang. Apapun itu." Jelasku.
"Apa kita harus bermain seperti itu Om?"
"Iya. Selama kamu bersamaku. Yang kalah harus ikhlas memenuhi permintaan pemenang,"
"Untuk tebak-tebakan jawabnya harus spontanitas. Nggak boleh cek ponsel atau bertanya ke orang lain."
Lyana kembali berpikir. Tak lama Lyana mengangguk. Sehingga permainan ini baru mulai ketika aku mengulurkan tangan dan Lyana meraih tanganku.
"Baiklah." Lyana menghela napas.
"Oke, mula-mula kita pemanasan dulu. Ini percobaan pertama jadi rileks aja. Aku akan memulai lebih dulu dan memberimu tebak-tebakan."
Aku dan Lyana memulai permainan.
"Penyanyi cantik yang suka bersepeda?"
Lyana membelalak, "Hah?"
"Salah!" Sahutku membuatnya sesikit tersentak.
"Ih ulang Om. Lyana nggak mudeng." Lyana meronta di kursinya.
"Makanya dengerin pertanyaanku baik-baik!"
Lyana membenarkan posisi duduknya. Lalu bersiap menatapku dan mendengarku dengan sungguh-sungguh.
"Kenapa buah durian kulitnya berduri?"
Lyana terdiam sesaat.
"Oh--ya namanya juga buah durian." Jawabnya dengan lantang menyebut nama durian.
Shit, dia berhasil menjawab.
Kenapa lagi main tebak-tebakan begini Lyana nggak lemot kayak tadi?
"Yeay menang." Lyana menyombongkan diri dengan menepuk dada percaya diri.
"Itu kan baru percobaan pertama."
Tak lama kami tiba di Rumah. Kami melanjutkan permainan kami di dalam. Awalnya Lyana terbirit-birit ke kamar. Aku yakin dia mau kabur. Untung aku berhasil menariknya dan membawanya kembali ke ruang tengah.
"Permainan kita belum selesai."
Lyana mendesah lesu. "Lyana ngantuk Om."
"A--a--tidak. Permainan kita harus dilanjutkan karena tadi baru percobaan. Sekarang ini baru benerannya. Jadi bersiaplah!"
Seketika aku mengelus puncak kepala Lyana saat Lyana memanyunkan bibirnya.
"Sekarang kita suit gunting batu kertas."
Aku dan Lyana mulai bersiap. Diam-diam kami memasang ancang-ancang dan aku mulai berseru gunting batu kertas.
Satu kali kami seri karena sama-sama mengeluarkan batu. Dan untuk kedua kalinya Lyana menang lagi karena mengeluarkan gunting sedangkan aku mengeluarkan kertas.
Lyana kembali bersorak dan buru-buru masuk ke dalam kamar. Tak lupa ia mengucapkan selamat tidur padaku sebelum menutup pintu.
Sial, aku gagal kali ini.
...-o- ...
**maaf ya aku lagi slow update karena aku mengalami cedera di bahuku, jadi agak kesulitan buat ngetik. Semoga aku cepat sembuh dan kembali menghibur kalian sesegera mungkin**