Hi, Om Nathan!

Hi, Om Nathan!
Bab 30



Halooo... 


Hihi maaf ya aku baru muncul lagi. Entah kenapa jadwalku kian padat akhir2 ini, juga aku lg byk mencuri waktu untuk memyenangkan diriku.


Jadi aku baru nulis lagi hehe..


So, enjoyed!


.......


.......


.......


Nathan


Hujan turun deras di tengah malam. Hawa dingin berkat hujan bersamaan dengan hawa dingin yang melingkupiku bercampur aduk, meningkatkan rasa gugupku yang berusaha menelan kesadaranku.


Sejenak aku mengatur napasku yang terasa kosong sesaat di paru-paruku. Dengan perasaan gelisah satu tanganku mengibaskan kerah kaosku, perlahan beberapa peluh keringat bercucuran area leher dan dahi, walau hawa dingin ingin membekukan seluruh ragaku.


Tubuhku panas karena perasaan nggak karuan, kehadiran Elkana di sini mendadak membuat suasana kamarku seperti neraka.


Seharusnya besok siang Elkana dan Milly baru akan landing dari Inggris menuju Indonesia. Karena Milly sudah merindukan anak perempuan satu-satunya, akhirnya mereka memutuskan untuk mengganti jadwal penerbangan mereka menjadi lebih awal dan langsung bertandang ke Bandung tanpa memberi kabar padaku.


Katanya, mereka ingin memberikan kejutan.


Dan kejutan mereka berhasil.


Lyana tentu sangat senang melihat Milly dan Elkana pulang. Cukup lama Milly dan Elkana memeluk Lyana untuk mengikis rasa rindu mereka di awal, kini Milly dan Lyana tertidur di ruang tengah setelah mereka menghabiskan waktu menonton film.


Sedangkan aku, justru sedang ketar-ketir dihadapan Elkana yang kini sedang menuangkan minuman wine yang kesekian kalinya. Elkana sengaja membawa oleh-oleh itu sambil menuangkan dan mengatakan "Ini adalah wine homemade terenak yang pernah gue minum. Cobalah pasti lo suka,"


Perlahan ia menuangkan minuman berwarna merah pekat itu, ke satu gelas untuknya dan gelas lainnya untukku. Kemudian ia memberikannya padaku lalu El meneguk minumannya.


Beberapa saat aku hanya menatap diam ke arah gelas wine yang sudah bertengger di satu tanganku. Sesekali aku goyangkan minuman itu. Belum berniat meneguknya karena ketakutanku masih menguasaiku.


Pikiranku gamang, bertanya-tanya; apa El tadi sempat melihatku dan Lyana di meja makan, atau dia tadi sudah melihatku dan Lyana berpelukan, atau mungkin dia melihatku mendorong Lyana agar menjauh dariku, atau apapun itu yang membuat El kini menatapku tajam setelah meneguk minumannya.


"Lo sakit?" aku langsung menggeleng. Masih terdiam menatap wine yang belum juga kuminum.


"Atau lagi banyak pikiran?" pandanganku naik lalu turun, bergantian menatap El dan minumanku dengan rasa gugup. Aku hanya bisa terdiam sambil tersenyum kecut lalu mengendikan bahu. Diam-diam menyetujui apa yang ia pikirkan tentangku.


"Ini di rumah, bukan di kantor. Kerjaan bisa lo pikirkan besok."


El menyesap minumannya lagi. Tersisa setengah gelas. Sedangkan aku masih belum mau meminumnya. Mungkin nanti setelah aku memastikan apa El melihatku bersama Lyana tadi atau tidak.


"Lyana nggak aneh-aneh 'kan selama dia tinggal di sini?" El memulai percakapan lagi lalu ia bangkit dari meja kerjaku menuju pembatas kayu. Dari sana El berdiri sambil mengamati Milly dan Lyana yang sedang tertidur. El tampak tidak khawatir memandangi mereka, melainkan ia menghela napas dan kembali menatapku.


Aku masih terduduk di tempat tidurku, satu tanganku masih sibuk menggoyangkan wine tanpa minat.


"Lo nggak perlu khawatir," aku akhirnya membuka suara, membuat El berpaling melihatku. Sejak dia datang, aku lebih banyak diam. Menjaga sikap.


"Lyana adalah gadis yang penurut dan sangat baik. Gue suka."


El melayangkan lirikan tajam membuat seluruh tubuhku langsung membeku. Sepertinya ucapanku barusan memancing kecurigaannya.


"Bagus deh kalau Lyana nggak aneh-aneh selama tinggal di sini. Gue sempat cemas kalau Lyana akan membuat lo nggak nyaman di sini."


"You're wrong. She is a good girl who i said." Tepisku langsung. Justru aku tidak nyaman mendengar El mengatakan seperti itu. Sehingga aku mulai menyesap minumanku. Seteguk lalu dua teguk sampai tiga teguk. Aroma dan rasa wine yang melewati tenggorkanku membuatku semakin ingin menyesapnya lagi. Sampai minuman di genggamanku itu tersisa sedikit.


"Don't say it again! Lo sudah mengatakan Lyana merepotkan ke gue beberapa kali. Gue nggak suka dengar kalimat itu." Mendadak emosiku naik sampai memenuhi isi kepalaku. Ucapan Elkana terasa memukulku secara tak kasat mata. Aku jadi ingat, saat pria dihadapanku ini meneleponku tempo lalu ketika ia menanyakan kabar Lyana, dia mengatakan Lyana merepotkanku dan sekarang dia mengatakannya lagi.


Aku jadi mulai berpikir buruk, kenapa bisa El mengatakan tentang anaknya seperti itu padaku. Setahuku, El adalah seorang Ayah yang selalu membanggakan anak-anaknya. Kepadaku, pada Papa dan Bunda, juga kepada orang-orang yang mengenalnya.


Kenapa sosok itu tidak lagi seperti itu dihadapanku ini? Lihat! Sekarang pria itu mendadak murung. Padahal seharusnya aku yang murung karena gelagapan melihat kedatangannya.


"Nggak ada maksud apa-apa Nat. Lyana gadis yang sedang dalam mass puber. Gue cuma nggak mau sikapnya di sini membuat lo kewalahan."


"Gue tidak bermaksud—"


"Memang tidak. Tapi bahasa lo yang dorong gue untuk berpikir ke sana." Ingatku dengan nada keras.


"Nat—"


"Sstt.. diam! Dengerin lo malah buat gue pengen mukul lo!" Desis aku sambil melayangkan tangan, memintanya untuk berhenti.


Kami terdiam beberapa saat dengan gejolak emosi masing-masing. Sepertinya alkohol merambat menguasai kami.


El tak lagi berbicara. Tatapannya berubah kosong. Seperti ada suatu perasaan kesedihan yang mendalam menggerayanginya. Aku belum paham kenapa El menunjukannya padaku. Atau mungkin karena alkohol yang mulai mengganggu kesadaranku sehingga aku menilai El seperti itu.


Tapi ternyata dugaan awalku benar. El semakin murung. Apa jangan-jangan kata-kataku tadi terdengar keterlaluan sampai El tersinggung?


Tapi hal itu pantas aku katakan. Aku tidak suka El membicarakan Lyana seperti itu. Ucapannya seperti kaset rusak yang terus berputar di kepalaku, membuat emosiku kian melatup.


Tatapanku tak bergerak mengamati El yang kembali ke tempat duduknya di dekatku. Gelasnya juga ia letakan tepat di samping gelasku. Ia tampak tidak ingin menambah minumannya. Kini ia terlihat—sedikit kalut.


Aku mulai bingung, menerka-nerka ada apa dengannya, dan tampaknya El tahu aku menuntut sesuatu hal yang harus dia jelaskan padaku. El menghela napas panjang sebelum dia memulai kisahnya. 


"Dulu gue pernah datang ke sekolah Lyana. Saat itu Lyana SD. Gue buru-buru datang karena ada panggilan dari guru sekolah Lyana. Saat itu Milly nggak bisa hadir karena Mikael sakit dan Mikael nggak bisa ditinggal jadi gue yang datang ke sekolah dan masuk ke ruang guru bimbingan konseling,"


"Gue langsung lihat ada Lyana duduk sendirian di samping guru. Lyana murung, sedih, kepalanya tertunduk, bahkan dia nggak girang lihat gue seperti biasanya. Lalu gue lihat ada seorang anak seusia Lyana dan orang tuanya di sana, anak itu menangis di pelukan orang tuanya dengan beberapa luka di dahi dan lutut, lalu orang tuanya langsung memaki gue karena gue nggak becus didik anak gue. Singkat cerita guru bimbingan itu bilang kalau Lyana sengaja mendorong anak itu sampai terluka,"


"Anak gue dorong anak itu karena dia habis di-bully, Nat. Anak gue di-bully. Otomatis gue langsung marah saat itu. Bukan gue marah karena Lyana mendorong anak itu, tapi guru-guru di sana justru nggak ada yang bela anak gue. Mereka justru minta gue buat mengarahkan Lyana menjadi anak yang baik dan nggak boleh mengulangi perbuatannya lagi. Gue yang dengar itu marah Nat. Gue maki mereka semua. Tapi kemarahan gue nggak diterima sama orang-orang itu termasuk orang tua si anak itu. Ternyata orang tua anak itu punya pengaruh besar di sekolah,"


"Gara-gara kejadian itu anak gue malah makin di-bully, mereka bilang anak gue nakal, nggak baik, mereka juga nyuruh buat jauhin Lyana dan jangan berteman lagi. Sakit hati gue Nat. Setelah itu gue putuskan untuk pindahin anak gue ke sekolah lain. Dan saat itu gue beri arahan sama anak-anak gue, cukup keras, sampai Lyana yang gue kenal ceria perlahan berubah jadi pendiam. Memang Lyana jadi penurut, apapun nasehat gue didengar sama dia, tapi gue berhasil buat Lyana makin tertutup sama gue. Interaksi kami jadi terbatas, seakan ada pembatas diantara gue sama Lyana,"


"Sampai Lyana berani bohong sekali sama gue hanya karena Lyana nggak mau gue marah. Dan gue malah bentak Lyana didepan Milly dan Mikael. Saat itu harapan gue buat dekat lagi sama Lyana buram. Lyana malah makin jaga jarak sama gue."


El menghela napasnya panjang lagi, kembali melanjutkan ceritanya. "Semakin Lyana sudah besar dan remaja seperti sekarang, gue tambah takut lagi. Lingkup pertemanan Lyana sangat luas dan terlihat bebas. Apalagi mereka sudah tidak asing mendengar hal-hal berbau dewasa; minuman alkohol, pacaran, ****, apapun itu, gue malah makin menuntut Lyana, secara tidak langsung gue mengurung Lyana sama keegoisan gue. Dan setelah gue sadar hal itu justru tidak akan menjamin Lyana selamat sesuai keinginan gue,"


"Sorry Nat gue baru cerita sama lo. Kejadian itu membuat gue merasa kalau gue kayak gagal didik anak gue. Ditambah kasus Mikael terakhir yang membuat gue memutuskan untuk bawa Mikael sekolah di Inggris. Gue kayak makin nggak layak dipanggil 'Ayah' sama mereka. Gue malu sama diri gue sendiri,"


"Jujur gue pun juga nggak sadar saat sebelum lo maki gue lewat telepon pas gue nanyain keadaan Lyana tempo lalu. Gue langsung mikir dan nyalahin diri gue. Gue salah. Secara nggak langsung gue malah menilai anak gue 'menyusahkan' padahal gue nggak mau anak gue dinilai 'menyusahkan' sama orang lain."


Aku hanya terdiam, menyimak semua penjelasan El tanpa terlewatkan sedikitpun. Aku mulai mengerti, selama ini El hanya bermaksud dan memiliki tujuan yang baik sebagaimana seorang Ayah ingin mendidik anaknya. Dia hanya ingin menjadi sosok Ayah yang 'baik' dan 'dapat dipercaya' di mata anak-anaknya dan juga orang lain. 


Akan tetapi El justru terjebak dengan label itu, hal itu membuat El mengatur anak-anaknya tanpa dia tahu apakah anak-anaknya nyaman dengan semua keinginan El. Secara sadar dan tidak sadar El mengekang Lyana dan Mikael. Padahal, El ingin anak-anaknya hidup sebagaimana seorang anak yang bebas dan menggali dunia mereka.


Aku memang belum merasakan menjadi sosok pria yang sudah memiliki anak, tapi perasaan El saat ini cukup menusuk relung hatiku. El benar-benar sedih.


"Jadi sekarang lo maunya gimana?"


"Gue ingin memperbaiki diri gue dulu, baru gue perlahan memperbaiki hubungan gue sama Lyana. Gue mau Lyana balik kayak dulu; kembali ceria dan nggak takut cerita apapun sama gue. Gue mau pecahin pondasi yang Lyana buat tentang gue. Gue ingin Lyana nggak ragu lagi mencurahkan apapun ke gue kalau dia butuh sesuatu." El begitu lantang mengungkapkan keinginannya yang seakan itu sudah lama dia idamkan. Sorot matanya kini berubah; berbinar sendu karena haru dan semangat. Pasti El sedang membayangkan Lyana yang tak ragu lagi tersenyum ceria kepada El.


Akan tetapi—


"Jadi kalau anak lo punya rahasia—"


"Ya gue harus tahu rahasia anak-anak gue sampai ke akar-akarnya. Gue pengen mereka kembali menaruh kepercayaan mereka sama gue. Mula-mula Lyana dulu. Baru Mikael. Jadi, lo harus bantu gue ya Nat. Lo  harus bantu gue dan menjadi pendukung gue jika gue butuh sesuatu."


Ucapanku dipotong dan seketika membuatku merasa lemas mendadak mendengarnya. Kedua kakiku juga mendadak tak bertenaga. Sulit digerakan.


Ekspresi El yang kalut berubah menjadi ceria. Bisa kulihat jika El akan melakukan apapun demi keinginannya untuk bisa kembali menjalin hubungan dengan Lyana.


Sedangkan aku, kini kembali ketar-ketir mencari cara supaya El tidak tahu rahasia yang dimiliki Lyana.


Jika Lyana berpacaran dengan Omnya sendiri.


Bisa habis aku sama El.


...-o-...